Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 10 Maret 2026 | 02.14 WIB

8 Perilaku di Tempat Kerja yang Diam-Diam Menandakan Seseorang Mengalami Kelelahan Kerja Jangka Panjang (Burnout) Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang mengalami kelelahan kerja jangka panjang (Freepik) - Image

Ilustrasi seseorang yang mengalami kelelahan kerja jangka panjang (Freepik)

JawaPos.com - Di dunia kerja modern yang serba cepat, tuntutan untuk selalu produktif sering kali membuat banyak orang mengabaikan kondisi psikologisnya sendiri. Salah satu kondisi yang kerap muncul namun tidak langsung disadari adalah kelelahan kerja jangka panjang atau burnout. Dalam psikologi, burnout bukan sekadar rasa lelah biasa setelah bekerja keras, tetapi kondisi stres kronis yang terjadi akibat tekanan kerja berkepanjangan tanpa pemulihan yang cukup.

Yang menarik, burnout tidak selalu terlihat jelas. Banyak karyawan tetap datang ke kantor, menyelesaikan tugas, bahkan tampak “baik-baik saja”. Namun sebenarnya, ada sejumlah perilaku kecil yang sering muncul secara diam-diam dan menjadi sinyal bahwa seseorang sedang mengalami kelelahan psikologis yang mendalam.

Dilansir dari Silicon Canals pada Sabtu (7/3), terdapat delapan perilaku di tempat kerja yang menurut psikologi dapat menjadi tanda seseorang mengalami burnout jangka panjang.


1. Menjadi Lebih Sinis terhadap Pekerjaan


Salah satu tanda paling umum dari burnout adalah munculnya sikap sinis terhadap pekerjaan. Orang yang sebelumnya antusias bisa mulai menunjukkan komentar negatif seperti:

“Ah, percuma juga kerja keras.”

“Perusahaan tidak pernah peduli.”

Dalam psikologi kerja, sikap ini disebut cynicism, yaitu jarak emosional yang dibuat seseorang untuk melindungi dirinya dari stres yang berlebihan. Awalnya mungkin hanya berupa keluhan kecil, tetapi lama-kelamaan bisa berkembang menjadi ketidakpedulian terhadap pekerjaan maupun organisasi.

2. Produktivitas Menurun Meski Jam Kerja Tetap Sama


Seseorang yang mengalami burnout sering tetap datang tepat waktu dan menyelesaikan tugas, tetapi kualitas dan kecepatan kerjanya menurun.

Hal ini terjadi karena kelelahan mental membuat fungsi kognitif seperti:

konsentrasi

pengambilan keputusan

memori kerja

menjadi kurang optimal. Akibatnya, pekerjaan yang dulu bisa diselesaikan dalam satu jam bisa memakan waktu dua hingga tiga jam.

Menariknya, orang yang mengalami burnout sering merasa bersalah karena penurunan ini, sehingga mereka justru memaksakan diri bekerja lebih lama.

3. Menunda Pekerjaan yang Sebenarnya Penting


Prokrastinasi sering disalahartikan sebagai kemalasan. Padahal dalam banyak kasus burnout, menunda pekerjaan adalah bentuk kelelahan psikologis.

Ketika otak terus-menerus berada dalam tekanan, sistem motivasi menjadi melemah. Tugas yang sebelumnya terasa menantang dan menarik kini terasa berat bahkan sebelum dimulai.

Akibatnya seseorang lebih sering:

membuka media sosial

mengerjakan tugas kecil yang tidak penting

menunda pekerjaan utama hingga mendekati deadline

Ini bukan karena tidak peduli, tetapi karena energi mental yang sudah terkuras.

4. Menghindari Interaksi Sosial di Kantor


Orang yang sedang mengalami burnout sering mulai menarik diri dari lingkungan sosial di tempat kerja.

Perilaku ini bisa terlihat dari hal-hal kecil seperti:

lebih sering makan siang sendirian

menghindari diskusi tim

jarang ikut percakapan santai dengan rekan kerja

Secara psikologis, interaksi sosial membutuhkan energi emosional. Ketika seseorang sudah sangat lelah secara mental, ia cenderung menghemat energi dengan mengurangi interaksi tersebut.

Padahal ironisnya, dukungan sosial justru merupakan salah satu faktor yang dapat membantu mencegah burnout.

5. Mudah Tersinggung atau Lebih Sensitif


Burnout juga dapat memengaruhi regulasi emosi. Seseorang yang biasanya sabar bisa menjadi lebih sensitif terhadap hal-hal kecil.

Contohnya:

kritik ringan terasa seperti serangan pribadi

perubahan kecil dalam pekerjaan memicu frustrasi

kesalahan kecil memicu kemarahan berlebihan

Hal ini terjadi karena stres kronis membuat sistem saraf berada dalam kondisi overload. Akibatnya, kemampuan untuk mengendalikan emosi menjadi menurun.

6. Terlihat Sibuk, Tapi Sebenarnya Kehilangan Arah


Beberapa orang yang mengalami burnout justru tampak sangat sibuk. Mereka menghadiri banyak rapat, mengerjakan berbagai tugas, dan selalu terlihat aktif.

Namun jika diperhatikan lebih jauh, aktivitas tersebut sering kali tidak benar-benar produktif.

Ini disebut sebagai busy but ineffective behavior, yaitu kondisi ketika seseorang bekerja terus-menerus tetapi kehilangan kejelasan tujuan.

Burnout membuat seseorang sulit memprioritaskan tugas, sehingga energi habis untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.

7. Kesulitan Melepaskan Diri dari Pekerjaan


Paradoksnya, burnout tidak selalu membuat seseorang malas bekerja. Justru banyak orang yang mengalami burnout tidak bisa berhenti memikirkan pekerjaan bahkan saat di luar jam kerja.

Tandanya antara lain:

terus mengecek email kantor di malam hari

merasa bersalah saat tidak bekerja

sulit menikmati waktu istirahat

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan work rumination, yaitu kebiasaan memikirkan pekerjaan secara terus-menerus. Tanpa pemulihan mental yang cukup, stres kerja akan terus menumpuk.

8. Kehilangan Rasa Pencapaian


Tanda terakhir yang sering muncul adalah menurunnya rasa percaya diri terhadap kemampuan kerja.

Seseorang yang mengalami burnout mungkin mulai berpikir:

“Aku tidak cukup kompeten.”

“Pekerjaanku tidak ada artinya.”

“Apa pun yang aku lakukan tidak pernah cukup.”

Dalam penelitian psikologi kerja, kondisi ini dikenal sebagai reduced personal accomplishment. Meskipun seseorang sebenarnya tetap kompeten, kelelahan mental membuatnya merasa tidak efektif dan tidak berharga.

Penutup


Burnout bukanlah tanda kelemahan, melainkan respons psikologis terhadap tekanan kerja yang berlangsung terlalu lama tanpa dukungan atau pemulihan yang memadai. Karena gejalanya sering muncul secara halus, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalaminya.

Memahami perilaku-perilaku kecil di atas penting agar kita dapat:

lebih peka terhadap kondisi diri sendiri

mengenali tanda burnout pada rekan kerja

mengambil langkah pencegahan lebih awal

Lingkungan kerja yang sehat bukan hanya soal produktivitas, tetapi juga tentang menjaga kesejahteraan mental setiap individu di dalamnya. Ketika kesehatan psikologis diperhatikan, kinerja dan kreativitas pun akan tumbuh secara lebih berkelanjutan.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore