Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 11 Maret 2026 | 03.19 WIB

Orang yang Menggunakan Media Sosial untuk Mengatur Emosi, Biasanya Menunjukkan 7 Kepribadian yang Sering Ditemukan Ini Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang menggunakan media sosial untuk mengatur emosi / Freepik - Image

Ilustrasi seseorang yang menggunakan media sosial untuk mengatur emosi / Freepik

JawaPos.com - Di era digital saat ini, media sosial bukan lagi sekadar tempat berbagi foto atau berkomunikasi dengan teman. Bagi banyak orang, media sosial telah menjadi alat untuk mengatur dan menenangkan keadaan emosional. Ketika seseorang merasa sedih, kesepian, stres, atau bosan, mereka sering membuka aplikasi media sosial untuk mencari distraksi, hiburan, atau bahkan validasi dari orang lain.

Fenomena ini dalam psikologi dikenal sebagai emotional regulation through digital behavior, yaitu upaya seseorang mengelola emosinya melalui aktivitas online. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang menggunakan media sosial sebagai alat pengatur emosi sering memiliki pola kepribadian tertentu. Meski tidak selalu negatif, kebiasaan ini bisa menunjukkan kebutuhan psikologis yang lebih dalam.

Dilansir dari Silicon Canlas pada Minggu (8/3), terdapat tujuh tipe kepribadian yang sering ditemukan pada orang yang menggunakan media sosial untuk mengatur keadaan emosional mereka.


1. Kepribadian Pencari Validasi (Validation Seeker)


Tipe ini sangat sensitif terhadap penerimaan sosial. Mereka sering memposting sesuatu di media sosial dengan harapan mendapatkan likes, komentar, atau reaksi positif dari orang lain.

Bagi mereka, respon dari orang lain berfungsi sebagai penguat emosional. Ketika mendapatkan banyak respon positif, mereka merasa dihargai, diperhatikan, dan lebih percaya diri. Sebaliknya, jika postingan tidak mendapat perhatian, mereka bisa merasa cemas atau tidak cukup dihargai.

Dalam psikologi, perilaku ini berkaitan dengan kebutuhan akan pengakuan sosial dan terkadang juga dengan harga diri yang bergantung pada opini orang lain.

2. Kepribadian Pelarian Emosi (Emotional Escapist)


Orang dengan tipe ini menggunakan media sosial sebagai bentuk pelarian dari stres atau masalah kehidupan nyata. Ketika merasa tertekan oleh pekerjaan, konflik hubungan, atau tekanan hidup, mereka akan menghabiskan waktu berjam-jam scrolling.

Konten hiburan, video lucu, atau cerita orang lain membantu mereka mengalihkan pikiran dari masalah yang sedang dihadapi.

Meskipun sesekali hal ini bisa membantu menenangkan pikiran, jika dilakukan terus-menerus, pelarian digital ini bisa membuat seseorang menunda penyelesaian masalah sebenarnya.

3. Kepribadian Pengamat Sosial (Social Observer)

Tidak semua pengguna media sosial aktif memposting. Beberapa orang lebih suka hanya mengamati kehidupan orang lain.

Mereka menggunakan media sosial untuk memahami bagaimana orang lain menjalani hidup, membandingkan pengalaman, atau sekadar merasa terhubung dengan dunia luar.

Bagi tipe ini, melihat aktivitas orang lain dapat membantu mereka merasa tidak sendirian. Namun dalam beberapa kasus, kebiasaan ini juga dapat memicu perbandingan sosial yang membuat seseorang merasa kurang puas dengan kehidupannya sendiri.

4. Kepribadian Ekspresif Emosional (Emotional Expressor)


Beberapa orang menggunakan media sosial sebagai tempat mengekspresikan emosi secara terbuka. Mereka mungkin menulis status tentang perasaan sedih, kecewa, bahagia, atau marah.

Bagi mereka, menulis atau membagikan perasaan di media sosial memiliki efek seperti katarsis, yaitu pelepasan emosi yang menumpuk.

Dalam psikologi, mengekspresikan emosi memang dapat membantu mengurangi tekanan mental. Namun, jika dilakukan secara berlebihan atau tanpa batasan privasi, hal ini bisa membuat seseorang terlalu bergantung pada ruang publik untuk memproses perasaan pribadi.

5. Kepribadian Pencari Distraksi (Distraction Seeker)


Tipe ini menggunakan media sosial terutama ketika mereka merasa bosan, cemas, atau tidak nyaman secara emosional.

Scrolling cepat, berpindah dari satu konten ke konten lain, memberikan sensasi stimulasi mental yang singkat namun terus-menerus. Hal ini membantu otak mengalihkan perhatian dari emosi negatif.

Namun karena sifatnya instan, distraksi ini sering hanya memberikan ketenangan sementara. Setelah berhenti menggunakan media sosial, emosi yang sama sering kembali muncul.

6. Kepribadian Kurator Identitas (Identity Curator)


Orang dengan tipe ini sangat memperhatikan bagaimana mereka terlihat di media sosial. Mereka secara sadar membangun citra diri tertentu melalui postingan, foto, atau cerita yang dibagikan.

Tujuannya bukan hanya untuk terlihat menarik, tetapi juga untuk memperkuat identitas diri. Ketika orang lain merespon positif terhadap citra tersebut, mereka merasa lebih yakin dengan diri mereka.

Namun di sisi lain, tekanan untuk selalu mempertahankan citra yang ideal dapat menimbulkan stres emosional jika kehidupan nyata tidak selalu sesuai dengan gambaran online tersebut.

7. Kepribadian Pencari Koneksi Emosional (Connection Seeker)


Tipe ini menggunakan media sosial untuk merasa terhubung dengan orang lain secara emosional. Mereka mungkin sering mengirim pesan, berbagi cerita, atau mengikuti komunitas online yang memiliki pengalaman serupa.

Media sosial memberi mereka rasa kebersamaan, terutama jika mereka merasa kurang memiliki dukungan sosial di kehidupan nyata.

Bagi banyak orang, koneksi digital memang dapat membantu mengurangi rasa kesepian. Namun tetap penting untuk menjaga keseimbangan antara hubungan online dan interaksi nyata.

Penutup


Menggunakan media sosial untuk mengatur emosi adalah fenomena yang semakin umum di masyarakat modern. Dalam batas tertentu, hal ini dapat membantu seseorang merasa lebih tenang, terhubung, dan terhibur.

Namun psikologi juga mengingatkan bahwa jika media sosial menjadi satu-satunya cara untuk mengatasi emosi, seseorang bisa menjadi terlalu bergantung pada stimulasi digital. Keseimbangan antara kehidupan online dan offline tetap menjadi kunci kesehatan mental yang baik.

Memahami pola kepribadian di balik penggunaan media sosial dapat membantu kita lebih sadar terhadap kebiasaan sendiri. Dengan kesadaran tersebut, kita bisa menggunakan teknologi secara lebih sehat dan tetap menjaga keseimbangan emosional dalam kehidupan sehari-hari.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore