Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 14 Maret 2026 | 04.19 WIB

Sering Cemas saat Menunggu Balasan Pesan dari Seseorang? 7 Perilaku ini Mungkin Pernah Kamu Lakukan

Ilustrasi seseorang yang membalas pesan teks dengan cepat./Freepik/lifeforstock - Image

Ilustrasi seseorang yang membalas pesan teks dengan cepat./Freepik/lifeforstock

JawaPos.com - Beberapa orang memiliki kecemasan saat seseorang terlalu lama membalas pesan teksnya. Meskipun sulit, ini adalah kecemasan yang umum saat ini.

Kita hidup dalam masyarakat yang mengutamakan kepuasaan instan, dan ketika seseorang membalas pesan terlalu lama, pikiran kita mulai berpacu. Berbagai pertanyaan muncul, "Mengapa mereka tidak membalas? Apakah saya mengatakan hal yang salah? Apakah mereka mengabaikan saya?"

Pertanyaan-pertanyaan ini adalah perwujudan dari rasa cemas yang menghantui. Menurut psikologi, terdapat perilaku tertentu dari orang-orang yang merasa kecemasan ini.

Dilansir dari Geediting, inilah tujuh perilaku yang mengindikasi bahwa Anda termasuk salah satu dari "si pencemas teks" atau orang yang cemas saat seseorang lama membalas pesannya.

1. Sering mengecek ponsel

Ini adalah pemandangan yang sangat familiar bagi kita di era digital saat ini. Ponsel diletakkan begitu saja di atas meja, tetapi dengan rasa penasaran. Layar menyala dan kita tertarik padanya seperti ngengat tertarik pada api.

Bagi kita yang memiliki kecemasan terhadap pesan teks, hal ini dapat mengakibatkan kita terlalu sering mengecek ponsel. Ini bukan sekadar pandangan sekilas, ini adalah perilaku obsesif.

Kita membuka kunci layar, membuka aplikasi perpesanan, dan memeriksa apakah ada pemberitahuan yang terlewat. Kita bahkan mungkin memeriksa apakah pesan kita sudah dibaca atau belum.

Meskipun mungkin tampak tidak berbahaya, terlalu sering mengecek justru dapat menyebabkan peningkatan stres dan kecemasan. Ini seperti berada dalam kondisi antisipasi yang konstan, menunggu validasi dalam bentuk balasan.

2. Membayangkan skenario terburuk

Kecenderungan membayangkan hal terburuk adalah perilaku umum di antara kita yang "cemas terhadap pesan teks". Ini adalah respons otomatis, seolah-olah otak kita sudah terprogram untuk mengantisipasi hal terburuk saat kita dibiarkan menunggu.

Namun, yang perlu kita ingat adalah bahwa ada beberapa alasan mengapa balasan terlambat, banyak di antaranya tidak ada hubungannya dengan kita. Mungkin mereka sedang sibuk atau ponsel mereka kehabisan baterai.

Penting untuk tidak membiarkan pikiran kita langsung mengambil kesimpulan terburuk setiap saat.

3. Terus mencari kepastian

Dalam dunia psikologi, ada istilah yang disebut “perilaku mencari kepastian.” Ini adalah waktu saat seseorang terus-menerus mencari validasi atau kepastian dari orang lain untuk meredakan rasa tidak aman atau ketakutannya.

Terus mencari kepastian adalah perilaku umum yang ditunjukkan oleh orang yang berjuang melawan gangguan kecemasan, dan ini pasti dapat merembes ke dalam kebiasaan berkirim pesan teks kita.

Bagi kita yang merasa cemas saat menunggu balasan pesan, mungkin kita akan mencari orang lain untuk mendapatkan kepastian. Meskipun wajar untuk mencari kepastian sesekali, melakukannya terus-menerus dapat meningkatkan kecemasan dan ketergantungan kita pada orang lain untuk validasi.

4. Mudah terganggu dan tidak bisa fokus

Ini adalah perilaku umum di antara kita yang mengalami kecemasan saat berkirim pesan teks. Saat kita menunggu balasan dengan cemas, rasanya hampir mustahil untuk berkonsentrasi pada hal lain.

Pikiran kita terus tertuju pada ponsel, bertanya-tanya kapan pesan yang ditunggu-tunggu itu akhirnya akan sampai. Gangguan ini dapat menyebabkan penurunan produktivitas dan peningkatan stres.

Pikiran kita seolah-olah terjebak dalam lingkaran, tidak dapat bergerak maju hingga kita mendapatkan jawaban itu.

5. Merasa lega saat mendapat balasan

Rasa lega yang amat sangat setelah mendapat balasan adalah perilaku umum lainnya di antara orang-orang yang 'cemas saat menerima pesan teks'. Rasanya seperti kita sedang dalam kondisi waspada tinggi, dan balasan tersebut adalah sinyal bahwa semuanya baik-baik saja.

Namun, ada baiknya kita merenungkan mengapa kita membiarkan pesan teks yang tertunda memiliki pengaruh yang begitu besar terhadap emosi kita. Memahami hal ini dapat membantu mengembangkan mekanisme penanganan yang lebih sehat dan mengurangi dampak kecemasan akibat pesan teks pada kehidupan kita.

6. Menganalisis respon secara berlebihan

Begitu kita akhirnya mendapat balasan yang telah lama ditunggu, itu tidak selalu berarti berakhirnya kecemasan. Bahkan, bagi banyak dari kita yang mengalami kecemasan saat berkirim pesan teks, itu hanyalah awal dari tahap baru: menganalisis respons secara berlebihan.

Kita mencermati setiap kata, setiap tanda baca. Apakah titik di akhir merupakan tanda kekesalan? Apakah balasan singkat mereka berarti mereka kesal? Analisis berlebihan ini dapat menambah kecemasan kita, menciptakan siklus yang sulit dihentikan.

Penting untuk diingat bahwa pesan teks tidak memiliki nuansa percakapan tatap muka. Kita tidak dapat mendengar nada bicara mereka atau melihat bahasa tubuh mereka.

7. Mencoba mendapatkan kendali

Kecemasan saat berkirim pesan teks sering kali berasal dari perasaan kurangnya kendali. Saat kita mengirim pesan teks, pada dasarnya kita menyerahkan kendali kepada orang lain. Kita tidak dapat mengendalikan kapan mereka akan membalas atau apa yang akan mereka katakan.

Hal ini dapat menyebabkan kita melakukan tindakan untuk mencoba dan mendapatkan kembali kendali. Kita mungkin mengirim pesan ganda, mengirim pesan tindak lanjut, atau bahkan mencoba untuk "bersikap tenang" dengan menunggu beberapa saat sebelum membalas.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore