Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 April 2026 | 10.40 WIB

Orang yang Terus-Menerus Memperbarui Feed Mereka Biasanya Menunjukkan 7 Ciri Kepribadian Halus Ini Menurut Psikologi

seseorang yang selalu memperbarui feed mereka./Freepik/reezky11 - Image

seseorang yang selalu memperbarui feed mereka./Freepik/reezky11

JawaPos.com - Di era digital saat ini, kebiasaan menggulir dan memperbarui feed media sosial sudah menjadi bagian dari rutinitas harian banyak orang. Entah itu membuka Instagram, TikTok, Twitter (X), atau platform lainnya, dorongan untuk “cek sebentar” sering kali berubah menjadi aktivitas berulang tanpa disadari.

Namun, di balik kebiasaan sederhana ini, psikologi melihat adanya pola perilaku yang lebih dalam. Orang yang terus-menerus memperbarui feed mereka tidak selalu sekadar “bosan” atau mencari hiburan—sering kali, ada ciri kepribadian halus yang mendasarinya.

Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (7/4), terdapat tujuh ciri kepribadian yang kerap dikaitkan dengan kebiasaan tersebut.

1. Rasa Ingin Tahu yang Tinggi (Curiosity-Driven Behavior)

Salah satu ciri paling umum adalah rasa ingin tahu yang besar. Individu ini memiliki dorongan alami untuk selalu mengetahui apa yang terjadi—baik itu berita terbaru, tren viral, atau aktivitas orang lain.

Dalam psikologi, rasa ingin tahu adalah bagian dari kebutuhan kognitif manusia untuk memahami lingkungan. Namun, ketika dorongan ini terus-menerus diarahkan ke media sosial, seseorang bisa menjadi “tergantung” pada aliran informasi cepat.

2. Sensitivitas terhadap Reward Instan

Setiap kali seseorang memperbarui feed, ada kemungkinan menemukan sesuatu yang menarik—lucu, mengejutkan, atau informatif. Ini menciptakan sistem reward yang tidak pasti (variable reward system), mirip seperti mekanisme dalam perjudian.

Orang yang sering refresh feed cenderung lebih responsif terhadap reward instan. Mereka mendapatkan kepuasan kecil setiap kali menemukan konten baru, yang memperkuat kebiasaan tersebut secara tidak sadar.

3. Kecenderungan Menghindari Ketidaknyamanan (Avoidance Behavior)

Sering kali, kebiasaan ini muncul saat seseorang merasa tidak nyaman—misalnya ketika bosan, cemas, atau menghadapi tugas yang sulit.

Alih-alih menghadapi emosi tersebut, mereka memilih distraksi cepat melalui media sosial. Ini disebut sebagai avoidance coping, yaitu mekanisme untuk menghindari perasaan negatif dengan cara mengalihkan perhatian.

4. Kebutuhan Akan Koneksi Sosial

Manusia adalah makhluk sosial. Memperbarui feed bisa menjadi cara untuk merasa tetap terhubung dengan orang lain, bahkan tanpa interaksi langsung.

Orang dengan kebutuhan koneksi yang tinggi mungkin lebih sering mengecek media sosial untuk:

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore