Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 April 2026 | 03.43 WIB

Perempuan Terus Meminta Maaf? Tanpa Menyadarinya Menunjukkan 8 Ciri yang Memilukan Ini Menurut Psikologi

seseorang yang terus menerus meminta maaf./Freepik/Frolopiaton Palm - Image

seseorang yang terus menerus meminta maaf./Freepik/Frolopiaton Palm

JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin mengenal seseorang—atau bahkan diri kita sendiri—yang terlalu sering mengucapkan kata “maaf.”

Bukan hanya saat benar-benar melakukan kesalahan, tetapi juga dalam situasi yang sebenarnya tidak membutuhkan permintaan maaf sama sekali. “Maaf ya ganggu,” “Maaf ya nanya,” atau bahkan “Maaf kalau aku ada”—ungkapan-ungkapan ini terdengar sepele, tetapi jika terjadi terus-menerus, bisa menjadi tanda kondisi psikologis yang lebih dalam.

Menurut psikologi, kebiasaan meminta maaf secara berlebihan sering kali bukan sekadar bentuk sopan santun, melainkan refleksi dari luka emosional, pola asuh, atau pengalaman hidup tertentu.

Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (11/4), terdapat delapan ciri memilukan yang sering dimiliki oleh perempuan yang tanpa sadar terus-menerus meminta maaf:

1. Harga Diri yang Rendah (Low Self-Esteem)

Perempuan yang sering meminta maaf cenderung memiliki pandangan negatif terhadap dirinya sendiri. Ia merasa kehadirannya merepotkan, pendapatnya tidak cukup penting, dan dirinya tidak cukup “layak” untuk berada dalam suatu situasi.

Permintaan maaf menjadi cara untuk “mengecilkan diri,” seolah-olah ia ingin memastikan orang lain tidak merasa terganggu oleh keberadaannya.

2. Takut Penolakan Secara Berlebihan

Di balik kebiasaan ini sering tersembunyi rasa takut yang mendalam akan penolakan. Ia khawatir jika tidak bersikap “aman” atau “menyenangkan,” orang lain akan menjauh atau tidak menyukainya.

Akibatnya, ia menggunakan kata “maaf” sebagai tameng untuk menjaga hubungan tetap aman, meskipun harus mengorbankan dirinya sendiri.

3. Terbiasa Menjadi People Pleaser

Ciri lain yang umum adalah kecenderungan menjadi people pleaser, yaitu selalu berusaha menyenangkan orang lain. Permintaan maaf menjadi alat untuk meredakan konflik sekecil apa pun.

Bahkan ketika tidak bersalah, ia tetap merasa bertanggung jawab atas kenyamanan orang lain.

4. Sulit Menetapkan Batasan (Boundaries)

Perempuan yang terus-menerus meminta maaf sering kali kesulitan berkata “tidak.” Ia merasa bersalah jika menolak permintaan, sehingga memilih meminta maaf terlebih dahulu sebelum menyampaikan keinginannya.

Hal ini membuatnya rentan dimanfaatkan atau kelelahan secara emosional.

5. Mengalami Pola Asuh yang Kritis atau Keras

Banyak dari kebiasaan ini berakar pada masa kecil. Jika seseorang tumbuh di lingkungan yang sering mengkritik, menyalahkan, atau menghukum, ia bisa mengembangkan pola “defensif” berupa permintaan maaf terus-menerus.

Dalam pikirannya, meminta maaf adalah cara untuk menghindari konflik atau hukuman.

6. Terlalu Bertanggung Jawab atas Emosi Orang Lain

Ia merasa harus memastikan semua orang di sekitarnya merasa nyaman, bahagia, dan tidak tersinggung. Ketika orang lain terlihat tidak nyaman, ia langsung menyalahkan diri sendiri.

Padahal, secara psikologis, kita tidak bertanggung jawab penuh atas perasaan orang lain.

7. Tidak Terbiasa Didengar atau Dihargai

Perempuan dengan kebiasaan ini sering kali memiliki pengalaman di mana suaranya tidak didengar atau dianggap tidak penting. Akibatnya, ia belajar untuk “meminta izin” bahkan untuk hal-hal sederhana.

Permintaan maaf menjadi bentuk “pengantar” agar orang lain bersedia mendengarkan.

8. Mengalami Kecemasan Sosial (Social Anxiety)

Dalam beberapa kasus, kebiasaan ini berkaitan dengan kecemasan sosial. Ia terlalu memikirkan bagaimana orang lain menilai dirinya, takut melakukan kesalahan kecil, dan merasa harus selalu “mengoreksi” diri.

Permintaan maaf menjadi respon otomatis terhadap rasa cemas tersebut.

Mengapa Ini Perlu Disadari?

Sekilas, sering meminta maaf terlihat seperti tanda kerendahan hati atau kesopanan. Namun jika berlebihan, hal ini justru bisa berdampak negatif, seperti:

Mengikis rasa percaya diri
Membuat orang lain kurang menghargai batasan kita
Menyebabkan kelelahan emosional
Memperkuat pola pikir bahwa kita selalu “bersalah”

Menyadari pola ini adalah langkah pertama untuk berubah. Mengganti “maaf” dengan ungkapan yang lebih tepat seperti “terima kasih sudah menunggu” atau “aku ingin menyampaikan sesuatu” bisa menjadi awal yang sederhana namun bermakna.

Penutup

Perempuan yang terus-menerus meminta maaf bukanlah lemah—justru sering kali mereka adalah individu yang sangat peka, peduli, dan ingin menjaga hubungan. Namun, penting untuk diingat bahwa kita juga berhak atas ruang, suara, dan keberadaan kita tanpa harus terus-menerus merasa bersalah.

Belajar untuk berhenti meminta maaf secara berlebihan bukan berarti menjadi egois, melainkan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore