
seseorang yang terus menerus meminta maaf./Freepik/Frolopiaton Palm
JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin mengenal seseorang—atau bahkan diri kita sendiri—yang terlalu sering mengucapkan kata “maaf.”
Bukan hanya saat benar-benar melakukan kesalahan, tetapi juga dalam situasi yang sebenarnya tidak membutuhkan permintaan maaf sama sekali. “Maaf ya ganggu,” “Maaf ya nanya,” atau bahkan “Maaf kalau aku ada”—ungkapan-ungkapan ini terdengar sepele, tetapi jika terjadi terus-menerus, bisa menjadi tanda kondisi psikologis yang lebih dalam.
Menurut psikologi, kebiasaan meminta maaf secara berlebihan sering kali bukan sekadar bentuk sopan santun, melainkan refleksi dari luka emosional, pola asuh, atau pengalaman hidup tertentu.
Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (11/4), terdapat delapan ciri memilukan yang sering dimiliki oleh perempuan yang tanpa sadar terus-menerus meminta maaf:
1. Harga Diri yang Rendah (Low Self-Esteem)
Perempuan yang sering meminta maaf cenderung memiliki pandangan negatif terhadap dirinya sendiri. Ia merasa kehadirannya merepotkan, pendapatnya tidak cukup penting, dan dirinya tidak cukup “layak” untuk berada dalam suatu situasi.
Permintaan maaf menjadi cara untuk “mengecilkan diri,” seolah-olah ia ingin memastikan orang lain tidak merasa terganggu oleh keberadaannya.
2. Takut Penolakan Secara Berlebihan
Di balik kebiasaan ini sering tersembunyi rasa takut yang mendalam akan penolakan. Ia khawatir jika tidak bersikap “aman” atau “menyenangkan,” orang lain akan menjauh atau tidak menyukainya.
Akibatnya, ia menggunakan kata “maaf” sebagai tameng untuk menjaga hubungan tetap aman, meskipun harus mengorbankan dirinya sendiri.
3. Terbiasa Menjadi People Pleaser
Ciri lain yang umum adalah kecenderungan menjadi people pleaser, yaitu selalu berusaha menyenangkan orang lain. Permintaan maaf menjadi alat untuk meredakan konflik sekecil apa pun.
Bahkan ketika tidak bersalah, ia tetap merasa bertanggung jawab atas kenyamanan orang lain.
4. Sulit Menetapkan Batasan (Boundaries)
Perempuan yang terus-menerus meminta maaf sering kali kesulitan berkata “tidak.” Ia merasa bersalah jika menolak permintaan, sehingga memilih meminta maaf terlebih dahulu sebelum menyampaikan keinginannya.
Hal ini membuatnya rentan dimanfaatkan atau kelelahan secara emosional.
5. Mengalami Pola Asuh yang Kritis atau Keras
Banyak dari kebiasaan ini berakar pada masa kecil. Jika seseorang tumbuh di lingkungan yang sering mengkritik, menyalahkan, atau menghukum, ia bisa mengembangkan pola “defensif” berupa permintaan maaf terus-menerus.
Dalam pikirannya, meminta maaf adalah cara untuk menghindari konflik atau hukuman.
6. Terlalu Bertanggung Jawab atas Emosi Orang Lain
Ia merasa harus memastikan semua orang di sekitarnya merasa nyaman, bahagia, dan tidak tersinggung. Ketika orang lain terlihat tidak nyaman, ia langsung menyalahkan diri sendiri.
Padahal, secara psikologis, kita tidak bertanggung jawab penuh atas perasaan orang lain.
7. Tidak Terbiasa Didengar atau Dihargai
Perempuan dengan kebiasaan ini sering kali memiliki pengalaman di mana suaranya tidak didengar atau dianggap tidak penting. Akibatnya, ia belajar untuk “meminta izin” bahkan untuk hal-hal sederhana.
Permintaan maaf menjadi bentuk “pengantar” agar orang lain bersedia mendengarkan.
8. Mengalami Kecemasan Sosial (Social Anxiety)
Dalam beberapa kasus, kebiasaan ini berkaitan dengan kecemasan sosial. Ia terlalu memikirkan bagaimana orang lain menilai dirinya, takut melakukan kesalahan kecil, dan merasa harus selalu “mengoreksi” diri.
Permintaan maaf menjadi respon otomatis terhadap rasa cemas tersebut.
Mengapa Ini Perlu Disadari?
Sekilas, sering meminta maaf terlihat seperti tanda kerendahan hati atau kesopanan. Namun jika berlebihan, hal ini justru bisa berdampak negatif, seperti:
Mengikis rasa percaya diri
Membuat orang lain kurang menghargai batasan kita
Menyebabkan kelelahan emosional
Memperkuat pola pikir bahwa kita selalu “bersalah”
Menyadari pola ini adalah langkah pertama untuk berubah. Mengganti “maaf” dengan ungkapan yang lebih tepat seperti “terima kasih sudah menunggu” atau “aku ingin menyampaikan sesuatu” bisa menjadi awal yang sederhana namun bermakna.
Penutup
Perempuan yang terus-menerus meminta maaf bukanlah lemah—justru sering kali mereka adalah individu yang sangat peka, peduli, dan ingin menjaga hubungan. Namun, penting untuk diingat bahwa kita juga berhak atas ruang, suara, dan keberadaan kita tanpa harus terus-menerus merasa bersalah.

Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
13 Rekomendasi Tempat Liburan di Malang dengan Pilihan Wisata Alam, Hiburan, dan Spot Santai yang Membuat Pikiran Lebih Fresh
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
