
Ilustrasi seseorang yang tidak memiliki ikatan erat dengan anak-anaknya (Freepik/shurkin_son)
JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak seharusnya berkembang seiring waktu. Dari ketergantungan di masa kecil, menuju kedekatan emosional yang lebih matang ketika anak beranjak dewasa. Namun, tidak semua hubungan berjalan demikian. Ada orang tua yang, secara sadar atau tidak, kehilangan kedekatan dengan anak-anak mereka saat dewasa.
Dalam psikologi, hubungan yang renggang ini sering kali bukan terjadi secara tiba-tiba. Ada pola perilaku tertentu yang secara perlahan menciptakan jarak emosional.
Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (15/4), terdapat tujuh perilaku yang umum ditemukan pada orang tua yang tidak memiliki ikatan erat dengan anak-anak dewasa mereka.
1. Sulit Mendengarkan Tanpa Menghakimi
Salah satu fondasi hubungan yang sehat adalah kemampuan untuk mendengarkan. Namun, beberapa orang tua cenderung lebih cepat menghakimi daripada memahami.
Alih-alih memberi ruang bagi anak untuk berbagi, mereka:
Langsung memberikan kritik
Menyela pembicaraan
Menganggap pengalaman anak kurang valid
Akibatnya, anak dewasa merasa tidak aman untuk terbuka. Mereka memilih menyimpan cerita hidupnya sendiri daripada menghadapi penilaian yang tidak diminta.
2. Terlalu Mengontrol, Bahkan Saat Anak Sudah Dewasa
Kontrol berlebihan sering kali berakar dari niat baik keinginan untuk melindungi. Namun, ketika anak sudah dewasa, kontrol ini justru terasa mengekang.
Contohnya:
Mengatur pilihan karier
Ikut campur dalam hubungan pribadi
Mengharapkan anak selalu mengikuti keinginan orang tua
Dalam psikologi, ini dikenal sebagai kurangnya pengakuan terhadap otonomi individu. Anak dewasa yang terus dikontrol cenderung menjauh untuk mendapatkan kebebasan emosional.
3. Kurang Memberikan Dukungan Emosional
Beberapa orang tua hadir secara fisik, tetapi tidak secara emosional. Mereka mungkin memenuhi kebutuhan materi, tetapi tidak memberikan empati atau kehangatan.
Tanda-tandanya meliputi:
Mengabaikan perasaan anak
Menganggap emosi sebagai kelemahan
Jarang memberikan validasi
Tanpa dukungan emosional, hubungan menjadi dangkal. Anak mungkin tetap menghormati orang tua, tetapi tidak merasa terhubung secara batin.
4. Menggunakan Rasa Bersalah sebagai Alat Kontrol
Manipulasi emosional sering muncul dalam bentuk rasa bersalah.
Misalnya:
"Kami sudah berkorban banyak untukmu…"
"Kamu jadi lupa orang tua sejak sukses…"
"Kalau kamu sayang keluarga, kamu akan…"
Dalam jangka panjang, pola ini merusak hubungan karena anak merasa dimanfaatkan secara emosional, bukan dicintai tanpa syarat.
5. Tidak Menghormati Batasan (Boundaries)
Anak dewasa membutuhkan batasan yang jelas agar hubungan tetap sehat. Namun, orang tua yang tidak memahami konsep ini sering:
Masuk ke ranah pribadi tanpa izin
Menuntut akses penuh ke kehidupan anak
Menganggap batasan sebagai bentuk pembangkangan
Padahal dalam psikologi modern, boundaries adalah tanda hubungan yang sehat, bukan tanda jarak.
6. Enggan Mengakui Kesalahan
Tidak ada orang tua yang sempurna. Namun, kemampuan untuk mengakui kesalahan adalah kunci penting dalam mempertahankan hubungan.
Orang tua yang sulit dekat dengan anak dewasa biasanya:
Selalu merasa benar
Menolak meminta maaf
Membalikkan kesalahan ke anak
Hal ini menciptakan luka emosional yang tidak terselesaikan, yang pada akhirnya membuat anak menjaga jarak.
7. Kurangnya Usaha untuk Mempertahankan Hubungan
Hubungan yang sehat membutuhkan usaha dari kedua belah pihak. Namun, ada orang tua yang menganggap bahwa hubungan dengan anak akan selalu ada tanpa perlu dirawat.
Mereka mungkin:
Jarang menghubungi anak terlebih dahulu
Tidak tertarik pada kehidupan anak
Menghindari percakapan yang bermakna
Akibatnya, hubungan menjadi semakin dingin dan formal, bukan hangat dan dekat.
Penutup
Ikatan antara orang tua dan anak dewasa bukanlah sesuatu yang otomatis terjaga. Ia perlu dibangun ulang dengan cara yang berbeda, lebih setara, lebih terbuka, dan lebih menghargai individu.
Memahami tujuh perilaku ini bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk refleksi. Banyak orang tua tidak menyadari bahwa tindakan mereka justru menciptakan jarak.
Kabar baiknya, hubungan selalu bisa diperbaiki. Dengan kesadaran, komunikasi yang jujur, dan kemauan untuk berubah, kedekatan yang sempat hilang masih bisa dibangun kembali, bahkan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Santri Cilik Tegur Bacaan Alquran Nusron Wahid: Ayat Alquran Jangan Diacak-acak!
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Brentford vs Sunderland di Liga Inggris: The Bees Berpeluang Gasak Tim Tamu!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
