
seseorang yang mencerminkan kurangnya kelas / foto: Magnific/freepik
JawaPos.com - Saat berada di restoran, cara seseorang berbicara sering kali meninggalkan kesan yang lebih kuat daripada pakaian yang dikenakannya. Dalam psikologi sosial, pilihan kata mencerminkan tingkat empati, kecerdasan emosional, kemampuan mengendalikan diri, serta cara seseorang memandang orang lain. Karena itu, ungkapan yang tampak sepele bisa memberikan gambaran mengenai karakter dan etika seseorang.
Perlu dipahami sejak awal bahwa "kurang kelas" bukan berarti berkaitan dengan kekayaan, status sosial, atau tingkat pendidikan. Seseorang yang sederhana tetap bisa terlihat berkelas jika memperlakukan orang lain dengan hormat. Sebaliknya, orang yang kaya sekalipun dapat meninggalkan kesan buruk apabila menunjukkan sikap merendahkan orang lain.
Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (27/6), terdapat delapan ungkapan yang sering terdengar di restoran dan menurut berbagai temuan dalam psikologi komunikasi dapat mencerminkan rendahnya kecerdasan emosional maupun etika sosial.
1. "Hei, pelayan!"
Memanggil staf restoran dengan bentakan atau siulan adalah salah satu perilaku yang paling sering dianggap tidak sopan.
Dalam psikologi interpersonal, cara seseorang memperlakukan individu yang bekerja di sektor layanan sering dipandang sebagai indikator empati dan rasa hormat terhadap sesama. Menggunakan sapaan seperti "Permisi", "Mas", "Mbak", atau "Pak/Bu" biasanya menciptakan interaksi yang lebih positif dibanding memanggil dengan nada memerintah.
Orang yang terbiasa membentak cenderung menunjukkan kebutuhan untuk mendominasi situasi, bukan membangun komunikasi yang saling menghargai.
2. "Cepat sedikit, dong!"
Semua orang tentu menginginkan pelayanan yang cepat. Namun menyampaikan keluhan dengan nada memerintah berbeda dengan menyampaikannya secara sopan.
Psikologi menunjukkan bahwa kemampuan menunda kepuasan dan mengendalikan frustrasi merupakan bagian penting dari kematangan emosional. Kalimat bernada mendesak atau kasar sering kali menunjukkan rendahnya toleransi terhadap ketidaknyamanan.
Mengatakan, "Maaf, apakah pesanan kami masih lama?" akan menghasilkan kesan yang jauh lebih baik dibanding menyuruh staf mempercepat pelayanan.
3. "Saya bayar mahal di sini!"
Kalimat ini biasanya muncul ketika pelanggan merasa kecewa terhadap pelayanan.
Memang pelanggan berhak menyampaikan komplain. Namun mengaitkan nilai diri dengan jumlah uang yang dibayarkan sering kali mencerminkan pola pikir bahwa uang memberikan hak untuk memperlakukan orang lain secara semena-mena.
Dalam psikologi sosial, perilaku seperti ini sering dikaitkan dengan rasa superioritas dan kecenderungan melihat hubungan sebagai hierarki kekuasaan.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
