Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 30 Juni 2026 | 01.41 WIB

8 Ciri Orang yang Stalking Mantan Pasangan di Media Sosial Menurut Psikologi, Apa Saja?

Ilustrasi stalking mantan/freepik - Image

Ilustrasi stalking mantan/freepik

JawaPos.com – Setelah sebuah hubungan berakhir, setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi proses move on. Sebagian orang dapat melanjutkan hidup dengan cepat, sementara yang lain masih sesekali mengikuti perkembangan mantan pasangan melalui media sosial.

Dalam psikologi, kebiasaan tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti rasa ingin tahu, ikatan emosional yang belum sepenuhnya selesai, atau kesulitan beradaptasi dengan perubahan setelah putus hubungan. Tanpa disadari, ada sejumlah perilaku yang kerap menjadi tanda seseorang masih memperhatikan aktivitas mantannya secara diam-diam.

Mengutip geediting.com pada Rabu (25/6), terdapat delapan ciri yang menurut psikologi sering ditemukan pada orang yang masih diam-diam memantau mantan pasangan melalui media sosial.

1. Didorong rasa penasaran

Godaan untuk mencari tahu tentang masa lalu pasangan seringkali dimulai dari rasa ingin tahu yang tampak tidak berbahaya. Seseorang mungkin berdalih bahwa mengintip media sosial mantan pasangannya hanya sekadar untuk memuaskan keingintahuan, namun perilaku ini bisa berkembang menjadi obsesi yang tidak sehat.

Ketika kebiasaan mengintip media sosial mantan pasangan menjadi rutinitas harian, hal ini sudah melewati batas kewajaran dan berpotensi merusak kesehatan mental hubungan yang sedang dijalani. Penting untuk menyadari bahwa rasa ingin tahu yang berlebihan seringkali menjadi kedok bagi perilaku obsesif yang memerlukan penanganan.

2. Tingkat empati yang tinggi

Menariknya, orang yang sering menguntit mantan pasangannya di media sosial justru memiliki tingkat empati yang tinggi. Mereka seringkali membenarkan tindakannya dengan alasan ingin memahami perasaan dan pengalaman mantan pasangan mereka secara lebih mendalam.

Bahkan setelah bertahun-tahun berpisah, mereka masih menaruh perhatian pada kesulitan atau masalah yang dihadapi mantan pasangan. Sayangnya, empati yang berlebihan ini justru bisa mengaburkan batasan yang seharusnya ada, menciptakan keterlibatan emosional yang tidak sehat dengan masa lalu.

3. Ketakutan akan ditinggalkan

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore