Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 Juli 2026 | 21.24 WIB

Jika Anda Makan Sambil Berdiri di Meja Dapur, Anda Mungkin Menunjukkan 7 Ciri Ini Menurut Psikologi

seseorang yang makan sambil berdiri di meja dapur / foto: Magnific/freepik

 

JawaPos.com - Di tengah kesibukan sehari-hari, banyak orang tidak lagi menikmati waktu makan seperti dulu. Sarapan dilakukan sambil mengecek ponsel, makan siang disela rapat, dan makan malam sering kali hanya berlangsung beberapa menit sebelum kembali menyelesaikan pekerjaan.

Salah satu kebiasaan yang semakin umum adalah makan sambil berdiri di meja dapur. Bagi sebagian orang, ini hanyalah cara praktis untuk menghemat waktu. Namun, psikologi menunjukkan bahwa kebiasaan sehari-hari yang tampak sederhana sering kali mencerminkan cara seseorang berpikir, mengelola waktu, bahkan menghadapi tekanan hidup.

Tentu saja, makan sambil berdiri tidak bisa dijadikan alat untuk mendiagnosis kepribadian seseorang. Setiap orang memiliki alasan yang berbeda-beda. Namun, jika kebiasaan ini sering dilakukan, ada beberapa karakteristik psikologis yang mungkin lebih menonjol dibandingkan orang yang selalu menyempatkan diri duduk saat makan.

Dilansir dari Expert Editor pada Kamis (2/7), terdapat tujuh ciri yang sering dikaitkan dengan kebiasaan tersebut.

1. Anda Sangat Berorientasi pada Efisiensi

Orang yang makan sambil berdiri biasanya memiliki pola pikir yang mengutamakan efisiensi. Mereka cenderung melihat waktu sebagai sumber daya yang berharga sehingga berusaha memanfaatkannya sebaik mungkin.

Bagi mereka, duduk selama 20 atau 30 menit hanya untuk makan terkadang terasa kurang produktif. Mereka lebih memilih menyelesaikan makan dalam waktu singkat agar dapat segera melanjutkan aktivitas lain.

Dalam psikologi, kecenderungan ini sering ditemukan pada individu yang memiliki orientasi tinggi terhadap pencapaian atau produktivitas. Mereka merasa puas ketika daftar pekerjaan terus berkurang.

Namun, sisi lainnya adalah mereka berisiko menganggap waktu istirahat sebagai sesuatu yang kurang penting, padahal tubuh dan pikiran juga membutuhkan jeda.

2. Anda Sulit Benar-Benar Berhenti dari Kesibukan

Makan sambil berdiri sering kali menunjukkan bahwa seseorang kesulitan memasuki mode "istirahat".

Alih-alih menikmati makanan sebagai momen relaksasi, pikiran mereka masih dipenuhi berbagai tugas yang belum selesai.

Bahkan ketika sedang makan, mereka mungkin sudah memikirkan email berikutnya, pekerjaan rumah, jadwal rapat, atau aktivitas setelah makan.

Psikologi menyebut kondisi ini sebagai kesulitan melakukan "mental disengagement", yaitu kemampuan melepaskan diri sementara dari tuntutan pekerjaan atau aktivitas.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat membuat seseorang merasa terus-menerus sibuk meskipun sebenarnya sedang memiliki waktu luang.

3. Anda Terbiasa Melakukan Banyak Hal Sekaligus

Mereka yang makan sambil berdiri sering kali juga melakukan aktivitas lain secara bersamaan.

Misalnya:

Membersihkan meja dapur.
Menyiapkan kopi.
Membalas pesan.
Mengawasi anak.
Menonton berita.

Kebiasaan multitasking memang terasa produktif, tetapi berbagai penelitian menunjukkan bahwa otak sebenarnya berpindah-pindah fokus dengan cepat, bukan benar-benar mengerjakan semuanya secara bersamaan.

Akibatnya, perhatian terhadap makanan menjadi berkurang sehingga seseorang lebih mudah makan terlalu cepat atau bahkan tidak menyadari seberapa banyak yang telah dikonsumsi.

4. Anda Cenderung Adaptif dan Fleksibel

Di sisi positifnya, makan sambil berdiri juga dapat menunjukkan bahwa Anda termasuk orang yang fleksibel.

Anda tidak terlalu terpaku pada aturan bahwa makan harus selalu dilakukan di meja makan dengan suasana tertentu.

Ketika situasi berubah, Anda mampu menyesuaikan diri tanpa merasa terganggu.

Dalam psikologi, fleksibilitas merupakan salah satu kemampuan yang membantu seseorang menghadapi perubahan dengan lebih baik.

Orang yang adaptif biasanya lebih mudah menemukan solusi ketika menghadapi kendala sehari-hari dan tidak terlalu stres ketika rencana berubah secara mendadak.

5. Anda Mungkin Kurang Memberikan Perhatian Penuh pada Diri Sendiri

Makan bukan hanya soal memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga bentuk perawatan diri.

Ketika seseorang terus-menerus makan sambil berdiri, terburu-buru, atau bahkan sambil bekerja, hal ini dapat menjadi tanda bahwa kebutuhan pribadi sering ditempatkan di urutan terakhir.

Bukan berarti mereka tidak peduli terhadap kesehatan, tetapi prioritas mereka sering kali lebih banyak tertuju pada pekerjaan, keluarga, atau tanggung jawab lainnya.

Psikologi menekankan pentingnya self-care sederhana, termasuk menyediakan waktu beberapa menit untuk menikmati makanan tanpa gangguan.

Kebiasaan kecil seperti ini dapat membantu menurunkan tingkat stres sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap kebutuhan tubuh.

6. Anda Memiliki Energi yang Tinggi

Tidak sedikit orang yang sulit duduk diam terlalu lama.

Mereka selalu ingin bergerak, berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, bahkan ketika sedang makan.

Jika Anda termasuk orang yang lebih nyaman makan sambil berdiri, bisa jadi Anda memang memiliki tingkat energi yang tinggi.

Orang dengan karakter seperti ini biasanya:

Cepat mengambil tindakan.
Menyukai aktivitas yang dinamis.
Mudah bosan jika harus menunggu terlalu lama.
Senang menyelesaikan pekerjaan secara cepat.

Energi yang tinggi merupakan kelebihan dalam banyak situasi, tetapi tetap perlu diimbangi dengan waktu istirahat agar tubuh tidak mengalami kelelahan berkepanjangan.

7. Anda Mungkin Perlu Lebih Banyak Momen Mindfulness

Salah satu pelajaran penting dari psikologi modern adalah pentingnya mindfulness, yaitu memberikan perhatian penuh pada apa yang sedang dilakukan saat ini.

Ketika makan sambil berdiri, sambil membuka ponsel, atau sambil memikirkan pekerjaan, pengalaman makan menjadi kurang disadari.

Akibatnya, seseorang lebih mudah melewatkan sinyal kenyang, kurang menikmati rasa makanan, dan merasa waktu berjalan begitu cepat.

Sebaliknya, meluangkan waktu beberapa menit untuk duduk dan menikmati makanan tanpa gangguan dapat membantu tubuh lebih rileks sekaligus memberikan kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat.

Mindfulness tidak harus dilakukan melalui meditasi. Aktivitas sederhana seperti makan dengan tenang, mengunyah perlahan, dan memperhatikan rasa makanan juga merupakan bentuk latihan kesadaran yang bermanfaat.

Penutup

Makan sambil berdiri di meja dapur bukanlah kebiasaan yang otomatis baik atau buruk. Bagi sebagian orang, hal itu hanyalah solusi praktis di tengah jadwal yang padat. Namun, dari sudut pandang psikologi, kebiasaan tersebut dapat mencerminkan sejumlah karakteristik, seperti orientasi pada efisiensi, kesulitan berhenti dari kesibukan, kecenderungan multitasking, fleksibilitas, hingga kebutuhan untuk lebih memperhatikan diri sendiri.

Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan. Sesekali makan sambil berdiri tentu bukan masalah. Namun, jika hampir setiap waktu makan dilakukan dengan terburu-buru, mungkin sudah saatnya memberikan ruang bagi diri sendiri untuk duduk sejenak, menikmati makanan dengan lebih sadar, dan menjadikan waktu makan sebagai momen untuk mengisi ulang energi, baik secara fisik maupun mental.

Pada akhirnya, kebiasaan kecil sehari-hari sering kali mencerminkan gaya hidup yang lebih besar. Dengan mengenali pola tersebut, kita dapat membuat pilihan yang lebih baik demi kesehatan tubuh sekaligus kesejahteraan psikologis.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore