seseorang yang memberikan petuah ke anak remaja / foto: Magnific/Wavebreak Media
Padahal menurut psikologi perkembangan, perubahan ini merupakan bagian yang cukup normal dari proses menuju kedewasaan. Masa remaja adalah periode ketika seseorang mulai membentuk identitas diri, belajar berpikir mandiri, dan mencoba mengambil keputusan sendiri. Karena itu, cara mendidik yang berhasil saat mereka masih kecil sering kali tidak lagi efektif.
Kabar baiknya, psikologi menunjukkan bahwa hubungan orang tua dan anak tetap bisa diperbaiki. Kuncinya bukan dengan memperbanyak hukuman atau ceramah, melainkan mengubah kebiasaan komunikasi sehari-hari.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (17/7), terdapat tujuh kebiasaan yang disarankan berdasarkan berbagai penelitian psikologi agar anak remaja lebih terbuka dan kembali mau mendengarkan Anda.
1. Dengarkan Mereka Sampai Selesai Sebelum Memberikan Nasihat
Kesalahan yang paling sering dilakukan orang tua adalah langsung memberikan solusi sebelum benar-benar memahami masalah anak.
Misalnya ketika anak berkata, "Aku capek sekolah."
Sebagian orang tua langsung menjawab:
"Makanya jangan malas belajar."
Padahal mungkin yang dimaksud anak bukan soal belajar, tetapi tekanan dari teman, tugas yang menumpuk, atau konflik dengan guru.
Psikolog Carl Rogers menjelaskan bahwa setiap orang membutuhkan active listening atau didengarkan secara penuh tanpa dihakimi. Ketika seseorang merasa dipahami, ia jauh lebih terbuka menerima masukan.
Cobalah membiasakan bertanya:
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Menurutmu bagian mana yang paling sulit?"
"Lalu bagaimana perasaanmu?"
Setelah anak selesai berbicara, barulah berikan saran jika memang mereka membutuhkannya.
Sering kali anak tidak mencari solusi. Mereka hanya ingin merasa dimengerti.
2. Kurangi Ceramah, Perbanyak Percakapan Dua Arah
Semakin panjang ceramah, semakin besar kemungkinan anak berhenti mendengarkan.
Remaja mulai mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Mereka ingin pendapatnya dihargai, bukan hanya menerima perintah sepihak.
Daripada berkata:
"Pokoknya kamu harus ikut kata Ayah."
Cobalah mengatakan:
"Menurutmu bagaimana cara terbaik menyelesaikan masalah ini?"
Kalimat sederhana seperti itu membuat anak merasa dipercaya.
Dalam psikologi komunikasi, pendekatan kolaboratif jauh lebih efektif daripada komunikasi yang bersifat mengontrol.
Ketika anak ikut terlibat dalam mengambil keputusan, mereka juga lebih bertanggung jawab menjalankannya.
3. Kendalikan Emosi Sebelum Menegur
Remaja belajar bukan hanya dari kata-kata orang tua, tetapi juga dari cara orang tua mengelola emosi.
Jika setiap konflik selalu diwarnai teriakan, bentakan, atau ancaman, anak justru belajar bahwa kemarahan adalah cara menyelesaikan masalah.
Psikologi menyebut proses ini sebagai social learning, yaitu seseorang belajar melalui contoh yang ia lihat setiap hari.
Saat emosi mulai memuncak, berhentilah sejenak.
Tarik napas.
Tenangkan diri.
Kemudian ajak anak berbicara ketika suasana sudah lebih kondusif.
Orang tua yang tenang biasanya lebih mudah didengar daripada orang tua yang sedang marah.
4. Bangun Kedekatan di Luar Saat Ada Masalah
Banyak orang tua hanya mengajak bicara ketika anak melakukan kesalahan.
Akibatnya, setiap kali dipanggil orang tua, anak langsung merasa akan dimarahi.
Padahal hubungan yang sehat dibangun melalui interaksi sehari-hari.
Luangkan waktu untuk:
makan bersama,
menonton film,
berjalan santai,
atau sekadar mengobrol sebelum tidur.
Dalam teori attachment, kedekatan emosional yang konsisten membuat anak merasa aman untuk berbagi cerita.
Semakin kuat hubungan emosionalnya, semakin besar kemungkinan mereka mendengarkan ketika Anda memberi arahan.
5. Berikan Pilihan, Bukan Selalu Perintah
Remaja memiliki kebutuhan psikologis untuk merasa memiliki kendali atas hidupnya.
Jika semua keputusan selalu ditentukan orang tua, mereka cenderung melawan sebagai bentuk mempertahankan kemandirian.
Misalnya daripada berkata:
"Belajar sekarang juga."
Cobalah:
"Kamu mau belajar sekarang atau setelah makan malam?"
Keduanya tetap mengarah pada tujuan yang sama, tetapi anak merasa memiliki pilihan.
Menurut teori Self-Determination, rasa memiliki kontrol terhadap keputusan sendiri meningkatkan motivasi intrinsik dan kerja sama.
6. Berikan Apresiasi Saat Mereka Melakukan Hal yang Benar
Banyak orang tua hanya memperhatikan kesalahan anak.
Ketika anak berbuat baik, dianggap hal biasa.
Padahal psikologi perilaku menunjukkan bahwa perilaku yang mendapat penguatan positif cenderung lebih sering diulang.
Tidak perlu hadiah mahal.
Kalimat sederhana seperti:
"Ayah bangga kamu jujur."
"Terima kasih sudah membantu Ibu."
"Kamu sudah berusaha keras hari ini."
bisa memberikan dampak besar terhadap rasa percaya diri anak.
Anak yang merasa dihargai biasanya lebih mudah menerima kritik karena mereka tahu orang tuanya juga melihat sisi baik mereka.
7. Jadilah Contoh, Bukan Hanya Pemberi Aturan
Ini adalah kebiasaan yang paling kuat.
Anak remaja jauh lebih memperhatikan tindakan daripada kata-kata.
Sulit mengharapkan anak tidak bermain ponsel saat makan jika orang tua melakukan hal yang sama.
Sulit meminta anak berkata jujur jika mereka sering melihat orang tua berbohong dalam hal-hal kecil.
Albert Bandura menjelaskan bahwa manusia belajar melalui observasi terhadap figur yang dianggap penting dalam hidupnya.
Karena itu, jika ingin anak:
sopan,
disiplin,
bertanggung jawab,
menghargai orang lain,
orang tua perlu terlebih dahulu menunjukkan perilaku tersebut secara konsisten.
Contoh nyata jauh lebih berpengaruh daripada seribu nasihat.
Mengapa Remaja Terlihat Tidak Mau Mendengarkan?
Perlu dipahami bahwa tidak semua penolakan dari remaja berarti mereka tidak menghormati orang tua.
Pada masa ini, otak bagian prefrontal cortex, yang berperan dalam mengendalikan emosi, merencanakan tindakan, dan mempertimbangkan konsekuensi, masih berkembang hingga usia sekitar pertengahan 20-an. Sementara itu, sistem emosional berkembang lebih cepat. Akibatnya, remaja lebih mudah bereaksi secara emosional, impulsif, atau ingin mencoba hal-hal baru.
Di sisi lain, mereka juga sedang membangun identitas diri. Keinginan untuk berbeda pendapat atau mengambil keputusan sendiri sering kali merupakan bagian dari proses perkembangan, bukan semata-mata bentuk pembangkangan.
Memahami hal ini membantu orang tua memilih respons yang lebih bijaksana. Alih-alih melihat setiap perbedaan pendapat sebagai ancaman, anggaplah itu sebagai kesempatan untuk melatih komunikasi yang sehat dan saling menghargai.
Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari
Selain membangun kebiasaan positif, ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari ketika berinteraksi dengan remaja:
Membandingkan anak dengan saudara atau teman sebayanya.
Mempermalukan anak di depan orang lain.
Mengabaikan perasaan mereka karena dianggap "masih anak-anak".
Menggunakan ancaman sebagai cara utama mendisiplinkan.
Mengungkit kesalahan lama setiap kali terjadi konflik baru.
Kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat merusak kepercayaan dan membuat anak semakin enggan terbuka kepada orang tua.
Penutup
Menghadapi anak yang mulai remaja memang membutuhkan kesabaran dan penyesuaian. Apa yang berhasil saat mereka masih kecil belum tentu efektif ketika mereka mulai mencari jati diri. Menurut psikologi, hubungan yang hangat, komunikasi dua arah, dan keteladanan jauh lebih berpengaruh daripada sekadar aturan dan hukuman.
Ingatlah bahwa tujuan utama bukan membuat anak selalu patuh, melainkan membangun hubungan yang dilandasi rasa saling percaya. Ketika remaja merasa didengar, dihargai, dan diterima, mereka cenderung lebih terbuka terhadap arahan orang tua.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Prediksi Skor Palermo vs Mantova di Coppa Italia: Rosanero Siap Libas Tim Tamu di Renzo Barbera
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Manajemen Buka Suara Usai Ikang Fawzi Dikabarkan Menikah Lagi
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
35 Santri Keracunan MBG Masih Dirawat di RS Siti Hajar Sidoarjo
Prediksi Skor Laos U-20 vs Timnas Indonesia U-20: Garuda Muda Berpeluang Pesta Gol!
Prediksi Sassuolo vs Frosinone di Coppa Italia 2026/2027: Jay Idzes Cs Menang Susah Payah
