Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 24 Juli 2026 | 21.52 WIB

6 Alasan Mengapa Merasakan Ketertarikan di Kencan Pertama Tidaklah Penting Menurut Psikologi

seseorang yang merasakan ketertarikan di kencan pertama / foto: Magnific/The Yuri Arcurs Collection

 

JawaPos.com - Dalam dunia percintaan, banyak orang percaya bahwa kencan pertama harus dipenuhi dengan percikan rasa atau chemistry yang kuat. Bahkan, tidak sedikit yang langsung memutuskan untuk melanjutkan atau mengakhiri hubungan hanya berdasarkan kesan pada pertemuan pertama.Padahal, menurut berbagai penelitian psikologi, ketertarikan instan bukanlah indikator terbaik untuk memprediksi kualitas hubungan jangka panjang. Banyak pasangan yang kini menjalani hubungan bahagia justru mengaku bahwa mereka tidak langsung jatuh hati saat pertama kali bertemu.

Psikologi menjelaskan bahwa perasaan tertarik dapat berkembang seiring waktu, dipengaruhi oleh interaksi, rasa aman, kepercayaan, dan pengalaman bersama.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (24/7), terdapat enam alasan mengapa merasakan ketertarikan di kencan pertama sebenarnya tidak terlalu penting.

1. Kesan Pertama Seringkali Dipengaruhi oleh Faktor Sementara

Kencan pertama sering berlangsung dalam situasi yang penuh tekanan. Banyak orang merasa gugup, canggung, atau terlalu berusaha memberikan kesan terbaik.

Kondisi tersebut dapat membuat seseorang tampak berbeda dari kepribadiannya yang sebenarnya. Bahkan orang yang sebenarnya hangat dan menyenangkan bisa terlihat pendiam karena rasa gugup.

Psikologi menyebut fenomena ini sebagai first impression bias, yaitu kecenderungan menilai seseorang hanya berdasarkan informasi yang sangat terbatas. Penilaian seperti ini sering kali tidak akurat karena belum didukung pengalaman yang cukup.

Memberikan kesempatan untuk bertemu kembali memungkinkan kita melihat sisi lain seseorang yang mungkin tidak muncul pada pertemuan pertama.

2. Ketertarikan Emosional Membutuhkan Waktu untuk Berkembang

Tidak semua rasa tertarik muncul secara instan. Dalam banyak kasus, kedekatan emosional justru tumbuh melalui komunikasi yang konsisten, pengalaman bersama, dan saling memahami.

Penelitian mengenai mere exposure effect menunjukkan bahwa seseorang cenderung semakin menyukai individu yang sering ditemuinya. Semakin sering berinteraksi, semakin besar peluang munculnya rasa nyaman dan ketertarikan.

Inilah alasan mengapa banyak hubungan berawal dari pertemanan, rekan kerja, atau teman kuliah. Awalnya biasa saja, tetapi seiring waktu muncul rasa yang lebih dalam.

Artinya, tidak adanya "percikan" pada kencan pertama bukan berarti hubungan tersebut tidak memiliki masa depan.

3. Chemistry Instan Belum Tentu Menandakan Kecocokan

Banyak orang menganggap chemistry sebagai tanda bahwa mereka telah menemukan pasangan yang tepat. Namun psikologi mengingatkan bahwa chemistry dan kompatibilitas adalah dua hal yang berbeda.

Chemistry sering dipengaruhi oleh daya tarik fisik, sensasi baru, atau bahkan dorongan biologis. Sebaliknya, hubungan yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar ketertarikan.

Kompatibilitas mencakup nilai hidup, kemampuan berkomunikasi, cara menyelesaikan konflik, tujuan masa depan, dan saling menghormati.

Seseorang bisa saja merasakan chemistry yang luar biasa dengan orang yang sebenarnya tidak cocok untuk hubungan jangka panjang.

4. Otak Mudah Terpengaruh oleh Bias Daya Tarik

Psikologi mengenal konsep halo effect, yaitu kecenderungan menganggap seseorang memiliki banyak sifat positif hanya karena penampilannya menarik.

Misalnya, seseorang yang berpenampilan rapi dan menarik sering dianggap lebih cerdas, lebih baik hati, atau lebih dapat dipercaya, meskipun belum ada bukti yang mendukung anggapan tersebut.

Sebaliknya, orang yang sederhana atau kurang percaya diri pada kencan pertama bisa saja memiliki karakter yang jauh lebih baik.

Karena itu, mengandalkan rasa tertarik sejak awal berisiko membuat seseorang melewatkan pasangan yang sebenarnya lebih sesuai.

5. Hubungan yang Langgeng Lebih Banyak Ditentukan oleh Rasa Aman

Menurut teori keterikatan (attachment theory), hubungan yang sehat dibangun di atas rasa aman secara emosional.

Perasaan nyaman, diterima, didengarkan, dan dihargai memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap kepuasan hubungan dibanding sekadar ketertarikan awal.

Bahkan setelah beberapa bulan atau tahun bersama, yang membuat pasangan bertahan bukan lagi rasa deg-degan seperti di awal, melainkan kepercayaan dan dukungan emosional.

Jika seseorang membuat Anda merasa dihargai dan dapat menjadi diri sendiri, itu sering kali merupakan fondasi yang lebih kuat dibanding chemistry yang meledak-ledak pada pertemuan pertama.

6. Cinta yang Tumbuh Perlahan Cenderung Lebih Stabil

Banyak penelitian menunjukkan bahwa hubungan yang berkembang secara bertahap memiliki peluang lebih besar untuk bertahan lama.

Ketika dua orang saling mengenal tanpa terburu-buru, mereka memiliki kesempatan mengevaluasi karakter, kebiasaan, serta nilai-nilai masing-masing.

Proses ini membantu membangun kepercayaan yang lebih kuat dibanding hubungan yang hanya didasarkan pada euforia awal.

Perasaan cinta yang muncul perlahan sering kali disertai pemahaman yang lebih mendalam mengenai pasangan. Hubungan seperti ini cenderung lebih stabil ketika menghadapi konflik karena dibangun di atas fondasi yang realistis, bukan sekadar idealisasi.

Jadi, Apa yang Sebaiknya Dinilai Saat Kencan Pertama?

Daripada terlalu fokus mencari percikan cinta, psikolog menyarankan untuk memperhatikan beberapa hal berikut:

Apakah Anda merasa aman dan nyaman selama berbicara?
Apakah lawan kencan menunjukkan rasa hormat kepada Anda?
Apakah komunikasi berlangsung dua arah?
Apakah ia mampu mendengarkan dengan baik?
Apakah nilai dan tujuan hidup kalian tampak sejalan?
Apakah Anda merasa menjadi diri sendiri tanpa harus berpura-pura?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih berguna untuk menilai potensi hubungan dibanding hanya mengejar sensasi "jatuh cinta pada pandangan pertama".

Kesimpulan

Merasakan ketertarikan di kencan pertama memang menyenangkan, tetapi bukan syarat utama untuk membangun hubungan yang sehat dan langgeng. Psikologi menunjukkan bahwa kesan pertama mudah dipengaruhi oleh rasa gugup, bias penilaian, dan faktor situasional.

Sebaliknya, hubungan yang kuat biasanya lahir dari proses saling mengenal, membangun kepercayaan, komunikasi yang sehat, dan rasa aman secara emosional. Oleh karena itu, jika setelah kencan pertama Anda belum merasakan chemistry yang luar biasa, bukan berarti hubungan tersebut tidak memiliki peluang.

Memberikan kesempatan untuk saling mengenal lebih dalam bisa menjadi langkah yang bijaksana. Bisa jadi, perasaan yang awalnya biasa saja justru berkembang menjadi hubungan yang paling bermakna dalam hidup Anda.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore