Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 27 Juli 2026 | 02.53 WIB

7 Alasan Mengapa Anda Harus Berhenti Menyembunyikan Kebiasaan Buruk Anda dari Anak-Anak Anda Menurut Psikologi

seseorang yang menyembunyikan kebiasaan buruk / foto: Magnific/The Yuri Arcurs Collection

 

JawaPos.com - Banyak orang tua percaya bahwa mereka harus selalu terlihat sempurna di hadapan anak-anak. Mereka berusaha menyembunyikan setiap kesalahan, kebiasaan buruk, atau kegagalan demi menjaga citra sebagai sosok yang patut diteladani. Sekilas, hal ini terdengar masuk akal. Namun, psikologi modern justru menunjukkan bahwa berpura-pura sempurna tidak selalu memberikan dampak positif bagi perkembangan anak.

Tentu, bukan berarti orang tua harus dengan sengaja mempertontonkan perilaku negatif. Yang dimaksud adalah tidak perlu menutupi kenyataan bahwa setiap manusia memiliki kelemahan. Ketika dilakukan dengan cara yang tepat, mengakui kekurangan justru dapat menjadi pelajaran hidup yang sangat berharga.

Anak-anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari bagaimana orang tua menghadapi kesalahan mereka sendiri.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (26/7), terdapat tujuh alasan mengapa Anda sebaiknya berhenti menyembunyikan kebiasaan buruk Anda dari anak-anak menurut sudut pandang psikologi.

1. Anak Belajar Bahwa Tidak Ada Manusia yang Sempurna

Menurut teori pembelajaran sosial dari psikolog Albert Bandura, anak-anak mempelajari perilaku melalui observasi. Mereka memperhatikan tindakan orang tua jauh lebih banyak daripada sekadar mendengarkan nasihat.

Ketika orang tua selalu berusaha terlihat tanpa cela, anak dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa orang dewasa tidak pernah melakukan kesalahan. Akibatnya, mereka merasa dirinya "gagal" setiap kali berbuat salah.

Sebaliknya, ketika orang tua mengakui, misalnya, bahwa mereka terkadang mudah marah atau terlalu banyak bermain ponsel, anak memahami bahwa semua orang memiliki kekurangan. Yang terpenting bukanlah menjadi sempurna, melainkan terus belajar memperbaiki diri.

Pemahaman ini membantu anak mengembangkan pola pikir berkembang (growth mindset), yaitu keyakinan bahwa kemampuan dan karakter dapat terus ditingkatkan melalui usaha.

2. Mengajarkan Tanggung Jawab atas Kesalahan

Banyak orang tua berusaha menyembunyikan kesalahan agar tetap terlihat berwibawa. Padahal, yang sebenarnya meningkatkan kewibawaan adalah keberanian mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

Misalnya, ketika orang tua berkata,

"Ayah tadi terlalu keras berbicara. Ayah minta maaf karena itu bukan cara yang baik."

Kalimat sederhana tersebut mengajarkan bahwa meminta maaf bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab.

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak yang sering melihat contoh permintaan maaf yang tulus cenderung memiliki empati lebih tinggi dan lebih bertanggung jawab terhadap perilakunya sendiri.

3. Anak Belajar Cara Mengelola Emosi Secara Sehat

Emosi negatif seperti marah, kecewa, cemas, atau sedih merupakan bagian alami dari kehidupan. Masalahnya bukan pada emosinya, tetapi bagaimana seseorang mengelolanya.

Jika orang tua berpura-pura tidak pernah merasa kesal, anak justru kehilangan contoh bagaimana menghadapi emosi secara sehat.

Sebaliknya, ketika orang tua mengatakan,

"Ibu sedang kesal karena pekerjaan hari ini cukup berat. Ibu akan tenang dulu sebelum berbicara lagi."

anak belajar bahwa emosi boleh dirasakan, tetapi harus dikelola dengan baik.

Hal ini membantu perkembangan kecerdasan emosional yang sangat penting untuk hubungan sosial dan kesehatan mental di masa depan.

4. Membangun Hubungan yang Lebih Jujur dan Terbuka

Hubungan yang sehat dibangun di atas kepercayaan, bukan kesempurnaan.

Anak biasanya mampu merasakan ketika orang tua sedang menyembunyikan sesuatu. Mereka mungkin tidak mengetahui detailnya, tetapi dapat menangkap adanya ketidaksesuaian antara ucapan dan perilaku.

Keterbukaan yang sesuai usia membuat anak merasa aman untuk menceritakan kesalahan mereka sendiri.

Sebagai contoh, ketika orang tua mengakui bahwa mereka sedang berusaha mengurangi kebiasaan begadang atau penggunaan media sosial, anak juga lebih berani berkata,

"Aku tadi lupa mengerjakan PR."

Tanpa rasa takut akan dihakimi.

5. Mengurangi Tekanan untuk Menjadi "Anak Sempurna"

Anak sering kali menetapkan standar yang tinggi terhadap dirinya sendiri karena melihat orang tuanya tampak selalu benar.

Jika mereka percaya bahwa orang tua tidak pernah gagal, mereka akan merasa setiap kesalahan merupakan sesuatu yang memalukan.

Dalam psikologi, tekanan untuk selalu sempurna dapat memicu kecemasan, rasa takut gagal, bahkan perfeksionisme yang tidak sehat.

Ketika anak mengetahui bahwa orang tua juga pernah berjuang melawan kebiasaan buruk, mereka belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari proses bertumbuh.

Hal ini membantu meningkatkan ketahanan mental (resilience) sehingga mereka tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.

6. Memberikan Contoh Nyata tentang Proses Berubah

Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan contoh bagaimana seseorang menjadi lebih baik setiap hari.

Misalnya, orang tua yang sedang berusaha berhenti merokok, mengurangi konsumsi makanan manis, atau belajar mengendalikan emosi dapat melibatkan anak dalam proses tersebut.

Bukan dengan membebani mereka, tetapi dengan menunjukkan usaha yang sedang dilakukan.

Contohnya,

"Ayah sedang mencoba mengurangi rokok karena ingin lebih sehat. Memang tidak mudah, tapi Ayah akan terus berusaha."

Kalimat seperti ini menunjukkan bahwa perubahan membutuhkan komitmen, kesabaran, dan konsistensi.

Pelajaran tersebut jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar mengatakan, "Jangan melakukan kebiasaan buruk."

7. Anak Mengembangkan Empati dan Sikap Tidak Mudah Menghakimi

Ketika anak melihat bahwa orang tua juga memiliki kelemahan, mereka belajar memahami bahwa setiap orang sedang berjuang dengan tantangannya masing-masing.

Pemahaman ini menumbuhkan empati.

Mereka menjadi lebih mampu memaafkan kesalahan orang lain, tidak mudah menghakimi teman, serta lebih menghargai proses perubahan.

Psikologi menunjukkan bahwa empati berkembang melalui pengalaman melihat dan memahami emosi maupun perjuangan orang-orang terdekat.

Dengan kata lain, keterbukaan orang tua secara tidak langsung membantu membentuk karakter anak yang lebih penyayang dan toleran.

Bukan Berarti Memamerkan Kebiasaan Buruk

Penting untuk dipahami bahwa berhenti menyembunyikan kebiasaan buruk bukan berarti mempertontonkan perilaku negatif di depan anak.

Ada perbedaan besar antara:

Mengakui bahwa Anda sedang berusaha memperbaiki kebiasaan buruk.
Membiarkan kebiasaan buruk berlangsung tanpa usaha untuk berubah.

Misalnya, jika Anda mudah marah, yang perlu ditunjukkan adalah bagaimana Anda meminta maaf, menenangkan diri, dan mencari cara agar tidak mengulanginya. Dengan begitu, anak tidak hanya melihat kesalahan, tetapi juga proses memperbaikinya.

Penutup

Menjadi orang tua bukan berarti harus selalu tampil sempurna. Justru keberanian untuk mengakui kelemahan, bertanggung jawab atas kesalahan, dan terus berusaha menjadi lebih baik merupakan teladan yang sangat berharga bagi anak.

Menurut psikologi, anak belajar melalui contoh nyata. Mereka tidak membutuhkan sosok tanpa cela, melainkan figur yang jujur, bertanggung jawab, dan mau berkembang.

Jadi, daripada menghabiskan energi untuk menyembunyikan setiap kekurangan, lebih baik tunjukkan bagaimana Anda menghadapi dan memperbaikinya. Dari situlah anak akan memahami bahwa menjadi manusia bukan tentang tidak pernah salah, tetapi tentang memiliki keberanian untuk belajar, berubah, dan terus menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore