Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 27 Agustus 2026 | 05.16 WIB

8 Alasan Mengapa Seseorang Sebenarnya Tidak Ditakdirkan untuk Hidup di Kota Besar Menurut Psikologi

seseorang yang tidak ditakdirkan hidup di kota / foto: Magnific/wirestock

 

JawaPos.com - Kota besar sering digambarkan sebagai tempat terbaik untuk mengejar masa depan. Di sana ada lebih banyak pekerjaan, peluang bisnis, fasilitas modern, hiburan, komunitas, dan kesempatan untuk bertemu orang-orang baru. Bagi sebagian orang, kehidupan seperti ini terasa menarik dan penuh energi.
 
Namun, tidak semua orang merasa bahagia ketika tinggal di tengah kepadatan kota.

Ada orang yang justru merasa lebih tenang ketika jauh dari gedung-gedung tinggi, kemacetan, suara kendaraan, keramaian, dan jadwal yang terus bergerak cepat. Mereka mungkin memiliki pekerjaan yang baik dan kehidupan yang terlihat sukses dari luar, tetapi tetap merasa lelah secara mental setelah bertahun-tahun tinggal di kota besar.

Dalam psikologi, hal tersebut tidak selalu berarti seseorang malas, antisosial, kurang ambisius, atau tidak mampu beradaptasi. Bisa jadi, karakter, kebutuhan psikologis, dan preferensi lingkungannya memang lebih cocok dengan kehidupan yang lebih tenang.

Istilah "tidak ditakdirkan" di sini tentu bukan berarti ada manusia yang secara biologis dilarang hidup di kota besar. Lebih tepatnya, seseorang mungkin kurang cocok secara psikologis dengan karakteristik lingkungan perkotaan tertentu.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (26/8), terdapat delapan alasan yang dapat menjelaskan mengapa seseorang mungkin merasa lebih nyaman tinggal di kota kecil, pinggiran kota, atau daerah yang lebih tenang.

1. Sistem sarafnya lebih mudah kewalahan oleh rangsangan

Kota besar penuh dengan rangsangan.

Ada suara klakson, kendaraan yang bergerak tanpa henti, papan iklan, lampu, orang yang berlalu-lalang, percakapan, notifikasi ponsel, pekerjaan yang cepat, serta berbagai tuntutan sosial yang datang hampir bersamaan.

Bagi sebagian orang, semua rangsangan tersebut dapat terasa melelahkan.

Psikologi mengenal konsep sensory overload, yaitu kondisi ketika seseorang menerima lebih banyak rangsangan sensorik daripada yang dapat diproses dengan nyaman. Ketika terjadi terus-menerus, seseorang bisa merasa mudah lelah, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk memulihkan diri.

Orang dengan sensitivitas yang lebih tinggi terhadap lingkungan mungkin membutuhkan suasana yang lebih tenang untuk menjaga keseimbangan mental.

Misalnya, setelah seharian bekerja, seseorang mungkin tidak ingin pergi ke pusat perbelanjaan yang ramai atau bertemu banyak orang. Ia justru ingin berada di rumah, berjalan di lingkungan yang sunyi, membaca buku, berkebun, atau menikmati suasana alam.

Bukan berarti ia tidak menyukai kehidupan.

Ia mungkin hanya memiliki ambang stimulasi yang berbeda.

Jika lingkungan terus-menerus memberikan terlalu banyak rangsangan, energi mentalnya dapat terkuras lebih cepat.

Inilah salah satu alasan mengapa kehidupan yang dianggap "menyenangkan" oleh orang lain bisa terasa sangat melelahkan bagi seseorang.

2. Ia lebih membutuhkan ketenangan daripada stimulasi sosial

Tidak semua orang mendapatkan energi dengan cara yang sama.

Sebagian orang merasa bersemangat ketika berada di tengah banyak orang. Mereka menikmati acara sosial, pertemuan, tempat ramai, dan kesempatan bertemu orang baru.

Sebaliknya, ada orang yang lebih menikmati interaksi sosial dalam jumlah kecil.

Mereka mungkin tetap ramah, memiliki teman, dan menikmati percakapan mendalam. Namun, setelah terlalu banyak interaksi, mereka membutuhkan waktu sendirian untuk memulihkan energi.

Karakter seperti ini sering dikaitkan dengan kecenderungan introversi.

Penting untuk dipahami bahwa introversi bukan berarti seseorang membenci manusia atau tidak mampu bersosialisasi. Introversi lebih berkaitan dengan bagaimana seseorang merespons stimulasi sosial dan bagaimana ia mendapatkan kembali energinya.

Masalahnya, kehidupan kota besar sering kali membuat seseorang berada di tengah manusia hampir sepanjang waktu.

Transportasi umum penuh sesak.

Kantor ramai.

Jalanan padat.

Tempat makan dipenuhi orang.

Acara sosial berlangsung hampir setiap minggu.

Bahkan ketika sudah berada di rumah, suara dari lingkungan sekitar mungkin tetap terdengar.

Bagi seseorang yang sangat membutuhkan ruang pribadi, kondisi ini dapat membuat kehidupan sehari-hari terasa seperti tidak pernah benar-benar memiliki waktu untuk "bernapas".

Ia mungkin bukan tidak cocok dengan kehidupan sosial.

Ia hanya membutuhkan dosis kesendirian yang lebih besar daripada kebanyakan orang.

3. Ia memiliki kebutuhan kuat terhadap alam dan ruang terbuka

Ada orang yang merasa dirinya jauh lebih baik ketika berada di dekat alam.

Berjalan di bawah pepohonan, melihat sawah, mendengar suara air, menikmati udara pagi, atau sekadar memiliki halaman yang luas dapat memberikan rasa nyaman yang sulit ditemukan di pusat kota.

Hubungan manusia dengan lingkungan alam sering dibahas dalam psikologi lingkungan.

Salah satu gagasan yang terkenal adalah bahwa paparan terhadap lingkungan alami dapat membantu pemulihan dari kelelahan mental dan perhatian yang terkuras. Alam menyediakan bentuk stimulasi yang berbeda dari lingkungan perkotaan yang biasanya lebih padat dan menuntut perhatian.

Di kota besar, seseorang harus terus memperhatikan banyak hal.

Kapan harus menyeberang.

Kendaraan dari arah mana.

Orang yang berjalan di depan.

Notifikasi pekerjaan.

Jadwal kereta.

Kemacetan.

Pesan yang masuk.

Sebaliknya, berada di lingkungan alami sering memungkinkan pikiran untuk beristirahat dari tuntutan tersebut.

Karena itu, jika seseorang merasa jauh lebih bahagia setelah menghabiskan waktu di alam, bukan berarti ia tidak ambisius.

Mungkin kebutuhan psikologisnya memang lebih terpenuhi ketika memiliki akses rutin terhadap ruang terbuka dan lingkungan alami.

4. Ia tidak menikmati gaya hidup yang serba cepat

Kota besar sering memiliki budaya yang menekankan kecepatan.

Bangun pagi.

Berangkat kerja.

Menghadapi kemacetan.

Mengejar target.

Mengejar promosi.

Menghadiri rapat.

Membalas pesan.

Menyelesaikan pekerjaan.

Pulang dalam keadaan lelah.

Kemudian mengulanginya lagi keesokan hari.

Bagi sebagian orang, ritme seperti ini justru memotivasi. Mereka menikmati tantangan, kompetisi, dan kesibukan.

Namun, bagi orang lain, kehidupan yang terlalu cepat dapat menghasilkan tekanan kronis.

Mereka mungkin lebih menyukai kehidupan yang memungkinkan adanya jeda.

Sarapan tanpa terburu-buru.

Bekerja dengan ritme yang lebih fleksibel.

Memiliki waktu untuk keluarga.

Berjalan kaki di lingkungan sekitar.

Mengobrol dengan tetangga.

Menikmati sore tanpa harus mengejar agenda berikutnya.

Orang seperti ini mungkin tidak mengejar kehidupan yang maksimal dalam hal produktivitas.

Mereka lebih mengejar kualitas pengalaman hidup.

Dan itu merupakan perbedaan yang penting.

Tidak semua orang memiliki definisi kesuksesan yang sama.

Bagi sebagian orang, kesuksesan berarti jabatan tinggi dan penghasilan besar.

Bagi yang lain, kesuksesan berarti pulang kerja dengan energi yang masih cukup untuk berbicara dengan keluarga.

5. Ia lebih menghargai hubungan sosial yang dekat dan mendalam

Kota besar menawarkan kesempatan untuk bertemu banyak orang. Namun, jumlah hubungan sosial tidak selalu sama dengan kedalaman hubungan.

Seseorang bisa memiliki ratusan kontak di ponsel, ribuan pengikut di media sosial, dan bertemu puluhan orang setiap minggu, tetapi tetap merasa kesepian.

Psikologi membedakan antara jumlah hubungan sosial dan kualitas hubungan sosial.

Sebagian orang lebih membutuhkan beberapa hubungan yang sangat dekat daripada jaringan sosial yang luas.

Mereka ingin mengenal tetangga.

Mereka ingin sering bertemu keluarga.

Mereka menyukai komunitas yang saling mengenal.

Mereka menikmati percakapan panjang dengan orang yang sudah dipercaya.

Lingkungan yang lebih kecil kadang memberikan peluang lebih besar untuk membangun rasa keterhubungan semacam itu.

Sebaliknya, kehidupan kota besar dapat membuat interaksi menjadi lebih anonim.

Kita bertemu orang yang sama setiap hari tetapi tidak pernah mengetahui namanya.

Kita tinggal bersebelahan dengan seseorang tetapi hampir tidak pernah berbicara.

Kondisi ini tidak selalu buruk. Anonimitas juga memiliki manfaat, terutama bagi orang yang menghargai privasi.

Tetapi bagi seseorang yang kebutuhan utamanya adalah rasa memiliki dan hubungan komunitas yang kuat, lingkungan yang terlalu anonim dapat terasa kosong.

6. Ia lebih rentan mengalami stres akibat perjalanan dan kemacetan

Salah satu aspek kehidupan perkotaan yang sering diremehkan adalah perjalanan sehari-hari.

Waktu perjalanan mungkin hanya satu atau dua jam per hari. Namun, jika dikumpulkan selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun, jumlahnya menjadi sangat besar.

Perjalanan yang panjang dapat mengurangi waktu tidur, waktu bersama keluarga, waktu berolahraga, dan waktu untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan.

Kemacetan juga dapat menimbulkan frustrasi karena seseorang merasa kehilangan kendali terhadap waktunya.

Ia tidak bisa mempercepat jalan.

Ia tidak bisa mengendalikan pengemudi lain.

Ia tidak bisa menentukan kapan kemacetan berakhir.

Dalam psikologi, rasa kehilangan kontrol merupakan salah satu faktor yang dapat memperburuk pengalaman stres.

Bayangkan seseorang yang sebenarnya menyukai pekerjaannya, tetapi setiap hari harus menempuh perjalanan panjang dalam kondisi penuh tekanan.

Setelah beberapa tahun, ia mungkin mulai berpikir:

"Mungkin bukan pekerjaanku yang salah. Mungkin lingkungan hidupku yang tidak cocok."

Kesadaran semacam ini penting.

Kadang-kadang, yang membuat seseorang kelelahan bukan pekerjaannya, melainkan kombinasi pekerjaan, perjalanan, kepadatan, dan kurangnya waktu pemulihan.

7. Nilai hidupnya tidak terlalu berorientasi pada status dan kompetisi

Kota besar sering membuat perbandingan sosial menjadi sangat terlihat.

Tetangga membeli mobil baru.

Teman mendapat promosi.

Mantan teman sekolah membeli rumah.

Rekan kerja mendapatkan jabatan lebih tinggi.

Orang lain pergi berlibur ke luar negeri.

Media sosial kemudian memperkuat semuanya.

Tanpa sadar, seseorang dapat mulai mengukur keberhasilannya berdasarkan pencapaian orang lain.

Dalam psikologi sosial, manusia memang memiliki kecenderungan melakukan social comparison atau perbandingan sosial.

Masalah muncul ketika perbandingan tersebut terjadi terus-menerus dan membuat seseorang merasa dirinya selalu tertinggal.

Ada orang yang secara alami tidak terlalu tertarik pada kompetisi status.

Mereka tidak terlalu peduli dengan merek mobil.

Mereka tidak membutuhkan rumah terbesar.

Mereka tidak tertarik membuktikan kesuksesan kepada orang lain.

Bagi mereka, kehidupan sederhana sudah cukup.

Jika seseorang memiliki nilai hidup seperti ini, lingkungan yang sangat kompetitif mungkin terasa melelahkan.

Ia mungkin lebih bahagia di tempat yang memungkinkan dirinya menjalani kehidupan berdasarkan nilai pribadi, bukan terus-menerus mengejar standar eksternal.

8. Definisi "kehidupan ideal" miliknya memang berbeda

Pada akhirnya, alasan terbesar mungkin sangat sederhana:

Tidak semua orang menginginkan kehidupan yang sama.

Ada orang yang bermimpi tinggal di apartemen tinggi dengan pemandangan kota.

Ada yang ingin memiliki rumah kecil dengan halaman.

Ada yang menyukai kehidupan tanpa kendaraan pribadi.

Ada yang justru merasa bahagia ketika bisa mengendarai kendaraan melewati jalan yang tenang.

Ada yang ingin bekerja di perusahaan besar.

Ada pula yang lebih bahagia menjalankan bisnis kecil.

Tidak ada satu formula universal mengenai lingkungan hidup yang paling baik untuk kesehatan psikologis setiap manusia.

Yang lebih penting adalah kesesuaian antara seseorang dan lingkungannya.

Dalam psikologi lingkungan, gagasan tentang person-environment fit membantu menjelaskan bahwa kesejahteraan seseorang dapat dipengaruhi oleh seberapa cocok karakteristik dirinya dengan lingkungan tempat ia hidup.

Jika seseorang sangat membutuhkan ketenangan tetapi tinggal di lingkungan yang sangat bising, ketidakcocokan itu dapat menjadi sumber stres.

Jika seseorang membutuhkan komunitas yang dekat tetapi hidup dalam lingkungan yang sangat anonim, ia mungkin merasa terisolasi.

Jika seseorang menyukai aktivitas luar ruangan tetapi tinggal di lingkungan yang hampir tidak menyediakan ruang hijau, ia mungkin merasa ada bagian penting dari hidupnya yang hilang.

Jadi, pertanyaannya bukan hanya:

"Apakah saya mampu tinggal di kota besar?"

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Apakah kehidupan di kota besar memungkinkan saya menjadi versi diri yang paling sehat dan bahagia?"

Tidak cocok dengan kota besar bukan berarti tidak ambisius

Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap seseorang yang tidak menyukai kota besar sebagai orang yang tidak memiliki ambisi.

Padahal, tempat tinggal dan tingkat ambisi adalah dua hal yang berbeda.

Seseorang dapat memiliki ambisi besar tetapi memilih tinggal di kota kecil.

Ia bisa membangun perusahaan dari daerah.

Ia bisa bekerja secara remote.

Ia bisa menjalankan bisnis dari rumah.

Ia bisa menjadi profesional yang sukses tanpa harus tinggal di pusat metropolitan.

Begitu pula sebaliknya, seseorang dapat tinggal di kota besar tetapi tidak memiliki tujuan hidup yang jelas.

Karena itu, jangan menjadikan lokasi tempat tinggal sebagai ukuran kualitas seseorang.

Kota hanyalah lingkungan.

Yang lebih penting adalah bagaimana lingkungan tersebut memengaruhi kehidupan psikologis seseorang.

Bagaimana mengetahui apakah Anda sebenarnya lebih cocok dengan kehidupan yang tenang?

Cobalah memperhatikan pola diri sendiri.

Apakah Anda merasa lebih berenergi setelah menghabiskan akhir pekan di tempat yang tenang?

Apakah suara kendaraan dan keramaian membuat Anda cepat lelah?

Apakah Anda merasa jauh lebih bahagia ketika memiliki akses terhadap alam?

Apakah perjalanan menuju kantor menjadi sumber stres terbesar dalam hidup Anda?

Apakah Anda tidak terlalu tertarik dengan kompetisi status?

Apakah Anda lebih menikmati beberapa hubungan dekat daripada banyak hubungan sosial?

Apakah Anda merasa hidup terlalu cepat ketika tinggal di pusat kota?

Jika sebagian besar jawabannya adalah "ya", mungkin masalahnya bukan karena Anda tidak mampu beradaptasi.

Mungkin Anda sedang hidup dalam lingkungan yang tidak terlalu sesuai dengan kebutuhan psikologis Anda.

Tentu saja, pindah kota bukan selalu solusi. Seseorang perlu mempertimbangkan pekerjaan, keluarga, pendidikan, keuangan, akses kesehatan, keamanan, dan berbagai faktor praktis lainnya.

Namun, memahami kecocokan antara diri dan lingkungan dapat membantu seseorang membuat keputusan yang lebih sadar.

Penutup

Tidak semua manusia dirancang untuk menikmati kebisingan, kepadatan, kompetisi, dan kecepatan kehidupan kota besar.

Sebagian orang justru berkembang ketika hidup dalam lingkungan yang lebih tenang, memiliki lebih banyak ruang pribadi, dekat dengan alam, dan memungkinkan hubungan sosial yang lebih mendalam.

Delapan alasan di atas menunjukkan bahwa ketidaknyamanan terhadap kota besar bukan otomatis tanda kelemahan. Bisa jadi, itu merupakan sinyal bahwa kebutuhan psikologis seseorang tidak sepenuhnya terpenuhi oleh lingkungan tempat ia tinggal.

Pada akhirnya, kehidupan yang baik bukan tentang tinggal di tempat yang dianggap paling bergengsi oleh orang lain.

Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang memungkinkan seseorang merasa aman, terhubung, memiliki kendali, dapat beristirahat, dan hidup sesuai dengan nilai-nilai yang benar-benar penting baginya.

Jadi, jika suatu hari Anda menyadari bahwa Anda tidak merasa bahagia di tengah gemerlap kota besar, jangan buru-buru menganggap diri Anda gagal.

Mungkin Anda hanya sedang mencari tempat di mana pikiran Anda tidak harus terus-menerus berlari.

Dan terkadang, menemukan tempat seperti itu bukan berarti mundur dari kehidupan.

Justru bisa menjadi langkah untuk kembali menemukan kehidupan yang benar-benar sesuai dengan diri sendiri.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore