seseorang yang mengejar kesibukan / foto: Magnific/stockking
Kamu melihat teman-teman yang sudah memiliki pekerjaan impian, membangun keluarga, membeli rumah, memulai bisnis, atau tampak begitu yakin dengan arah hidupnya. Sementara itu, kamu masih bertanya-tanya, “Sebenarnya aku ingin menjadi apa?”
Pada titik tertentu, kamu mungkin merasa lelah.
Bukan karena hidupmu terlalu berat, tetapi karena pikiranmu terlalu sibuk membandingkan perjalananmu dengan perjalanan orang lain.
Kamu ingin mulai mengejar kesibukan. Bukan sekadar agar terlihat produktif, tetapi karena kamu ingin memiliki sesuatu yang benar-benar menjadi milikmu: tujuan, rutinitas, pekerjaan, proyek, keterampilan, dan kehidupan yang kamu bangun dengan tanganmu sendiri.
Menjalani jalan hidup sendiri bukan berarti menjauh dari semua orang. Bukan pula berarti kamu tidak membutuhkan siapa pun.
Justru, secara psikologis, hidup yang lebih sehat sering kali muncul ketika seseorang mulai memiliki arah pribadi, batas yang jelas, dan aktivitas yang sesuai dengan nilai-nilai dirinya.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (1/9), jika akhir-akhir ini kamu merasa ingin berhenti terlalu banyak memikirkan kehidupan orang lain dan mulai fokus membangun kehidupanmu sendiri, tujuh cara berikut bisa menjadi titik awal.
1. Berhenti Menunggu Motivasi, Mulailah Membangun Rutinitas
Banyak orang mengira bahwa mereka harus menemukan motivasi terlebih dahulu sebelum mulai bergerak.
Mereka menunggu sampai merasa bersemangat untuk belajar. Menunggu sampai yakin untuk memulai pekerjaan. Menunggu sampai suasana hati membaik sebelum melakukan sesuatu yang penting.
Masalahnya, motivasi tidak selalu datang sebelum tindakan.
Sering kali justru tindakanlah yang menciptakan motivasi.
Ketika kamu mulai melakukan sesuatu secara konsisten, otak perlahan membentuk pola. Aktivitas yang awalnya terasa berat bisa menjadi sesuatu yang lebih otomatis.
Karena itu, jika kamu ingin mulai menjalani jalan hidup sendiri, jangan bertanya:
“Apa yang membuatku termotivasi?”
Cobalah bertanya:
“Rutinitas apa yang bisa kulakukan setiap hari meskipun aku sedang tidak termotivasi?”
Mulailah sederhana.
Bangun pada waktu yang relatif konsisten. Rapikan tempat tidur. Berolahraga. Membaca beberapa halaman buku. Belajar satu keterampilan. Menyelesaikan pekerjaan utama sebelum membuka media sosial. Atau meluangkan satu jam setiap hari untuk mengerjakan proyek pribadi.
Kamu tidak perlu mengubah seluruh hidup dalam satu malam.
Yang kamu butuhkan adalah aktivitas yang cukup kecil untuk dilakukan, tetapi cukup penting untuk membuatmu merasa bahwa hari ini kamu bergerak maju.
Kesibukan yang sehat bukan tentang memenuhi setiap menit dalam sehari.
Kesibukan yang sehat adalah ketika waktumu mulai memiliki arah.
2. Tentukan Apa yang Sebenarnya Ingin Kamu Kejar
Ada perbedaan besar antara sibuk dan bergerak menuju sesuatu.
Kamu bisa bekerja dari pagi sampai malam tetapi tetap merasa kosong.
Kamu bisa memiliki jadwal yang penuh tetapi tidak tahu apa yang sebenarnya sedang kamu bangun.
Karena itu, sebelum mengejar kesibukan, tentukan terlebih dahulu apa yang ingin kamu kejar.
Coba tanyakan kepada dirimu sendiri:
Kehidupan seperti apa yang ingin aku bangun?
Keterampilan apa yang ingin aku kuasai?
Pekerjaan seperti apa yang ingin aku lakukan?
Apa yang penting bagiku dalam lima tahun ke depan?
Hal apa yang ingin aku capai tanpa perlu mendapatkan pengakuan dari orang lain?
Jika tidak ada orang yang menilai hidupku, apa yang sebenarnya ingin aku lakukan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membantu kamu memisahkan keinginan pribadi dari ekspektasi sosial.
Sebab terkadang kita mengejar sesuatu bukan karena benar-benar menginginkannya, tetapi karena kita melihat orang lain memilikinya.
Kita ingin pekerjaan tertentu karena dianggap sukses.
Kita ingin memiliki pasangan karena takut dianggap tertinggal.
Kita ingin membeli sesuatu agar terlihat berhasil.
Kita ingin memiliki kehidupan tertentu karena merasa itulah standar yang harus dicapai.
Padahal, jalan hidupmu tidak harus terlihat menarik bagi semua orang.
Yang penting adalah apakah jalan tersebut masuk akal bagi dirimu.
Kamu tidak perlu memiliki tujuan yang sempurna.
Cukup memiliki arah.
Karena seseorang yang memiliki arah sederhana sering kali lebih mudah bergerak daripada seseorang yang memiliki seribu pilihan tetapi tidak pernah memutuskan langkah pertama.
3. Isi Waktumu dengan Sesuatu yang Membuatmu Berkembang
Jika kamu sedang berusaha keluar dari fase terlalu banyak memikirkan orang lain, salah satu cara terbaik adalah memberikan pikiranmu sesuatu yang lebih berguna untuk dikerjakan.
Belajar.
Bekerja.
Berolahraga.
Membaca.
Menulis.
Membangun bisnis.
Mengembangkan portofolio.
Mempelajari bahasa baru.
Mengasah keterampilan profesional.
Atau mengerjakan proyek yang selama ini hanya ada di dalam kepalamu.
Dalam psikologi, aktivitas yang menantang tetapi masih berada dalam kemampuan seseorang dapat membuat seseorang lebih tenggelam dalam aktivitas tersebut. Kondisi seperti ini sering dikaitkan dengan konsep flow.
Ketika sedang benar-benar fokus pada sesuatu, perhatianmu tidak lagi terus-menerus kembali pada pertanyaan:
"Kenapa hidupku belum seperti mereka?"
Pikiranmu mulai bergeser menjadi:
"Bagaimana caranya aku menyelesaikan ini?"
Perubahan kecil tersebut sangat penting.
Sebab terkadang yang kita butuhkan bukan jawaban atas semua masalah hidup.
Kita hanya membutuhkan sesuatu yang cukup bermakna untuk membuat kita berhenti memikirkan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan.
Tetapi ingat, jangan menjadikan kesibukan sebagai cara untuk melarikan diri dari masalah emosional yang serius.
Kesibukan seharusnya menjadi sarana membangun kehidupan, bukan cara menghindari kehidupan.
4. Kurangi Kebiasaan Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Salah satu pencuri energi terbesar di zaman sekarang adalah perbandingan sosial.
Kamu membuka media sosial selama beberapa menit.
Kamu melihat seseorang mendapatkan pekerjaan baru.
Orang lain menikah.
Orang lain membeli rumah.
Orang lain berlibur.
Orang lain terlihat bahagia.
Orang lain memiliki tubuh yang menurutmu lebih bagus.
Orang lain menghasilkan lebih banyak uang.
Lalu tanpa sadar kamu mulai bertanya:
“Kenapa aku belum seperti mereka?”
Padahal kamu sedang membandingkan kehidupan nyata milikmu dengan potongan kehidupan orang lain yang kamu lihat.
Kamu tidak mengetahui seluruh cerita di balik foto, pencapaian, atau unggahan tersebut.
Lebih penting lagi, kamu tidak memiliki konteks kehidupan yang sama.
Setiap orang memiliki kondisi awal, kesempatan, keterbatasan, lingkungan, pengalaman, dan prioritas yang berbeda.
Karena itu, daripada menggunakan kehidupan orang lain sebagai alat ukur, gunakan dirimu sendiri sebagai pembanding.
Tanyakan:
“Apakah aku lebih baik daripada diriku yang enam bulan lalu?”
Apakah kamu lebih disiplin?
Apakah keterampilanmu bertambah?
Apakah pengelolaan uangmu membaik?
Apakah kesehatanmu lebih terjaga?
Apakah kamu lebih berani mengatakan tidak?
Apakah kamu lebih mampu mengendalikan emosimu?
Apakah kamu mulai mengerjakan sesuatu yang dulu hanya kamu impikan?
Jika jawabannya iya, berarti kamu sedang bergerak.
Mungkin belum cepat.
Tetapi bergerak.
Dan terkadang itu sudah cukup.
5. Belajar Menikmati Kesendirian Tanpa Merasa Kesepian
Menjalani jalan hidup sendiri membutuhkan kemampuan untuk merasa nyaman dengan dirimu sendiri.
Ini bukan berarti kamu harus menjadi orang yang tidak membutuhkan hubungan sosial.
Manusia tetap membutuhkan hubungan, dukungan, dan koneksi dengan orang lain.
Namun, ada perbedaan antara memilih sendiri dan merasa harus selalu ditemani.
Jika setiap kali sendirian kamu langsung merasa gelisah, bosan, atau mencari perhatian dari orang lain, mungkin ada bagian dalam dirimu yang belum terbiasa menghadapi ruang kosong.
Padahal, ruang kosong terkadang sangat berguna.
Ketika sendirian, kamu memiliki kesempatan untuk mendengar pikiranmu sendiri.
Kamu bisa bertanya:
"Apa yang sebenarnya aku rasakan?"
"Apa yang sebenarnya aku inginkan?"
"Mengapa aku melakukan ini?"
"Apakah aku menjalani hidupku sendiri atau hanya memenuhi ekspektasi orang lain?"
Cobalah mulai menikmati aktivitas sederhana sendirian.
Pergi berjalan kaki.
Membaca buku di tempat yang tenang.
Minum kopi tanpa harus ditemani.
Berolahraga.
Menulis jurnal.
Belajar sesuatu.
Mengerjakan pekerjaan pribadi.
Awalnya mungkin terasa aneh.
Namun perlahan kamu akan menyadari bahwa kesendirian tidak selalu berarti kesepian.
Kadang-kadang, kesendirian adalah ruang tempat seseorang kembali menemukan dirinya.
6. Buat Target Kecil yang Bisa Kamu Kendalikan
Salah satu alasan seseorang mudah kehilangan arah adalah karena ia menetapkan tujuan yang terlalu besar.
"Aku harus sukses."
"Aku harus kaya."
"Aku harus mendapatkan pekerjaan impian."
"Aku harus mengubah hidupku."
Masalahnya, tujuan seperti itu terlalu abstrak.
Kamu tidak tahu harus melakukan apa besok pagi.
Karena itu, ubahlah tujuan besar menjadi tindakan yang bisa dikendalikan.
Misalnya:
Bukan:
“Aku ingin sukses dalam karier.”
Tetapi:
“Aku akan belajar satu keterampilan baru selama 30 menit setiap hari.”
Bukan:
“Aku ingin punya bisnis.”
Tetapi:
“Aku akan menyusun ide bisnis dan melakukan riset pasar selama satu jam setiap Sabtu.”
Bukan:
“Aku ingin hidup lebih sehat.”
Tetapi:
“Aku akan berjalan kaki 30 menit setiap sore.”
Target kecil memberikan sesuatu yang penting secara psikologis: rasa kemajuan.
Ketika kamu melihat bahwa dirimu mampu menepati janji-janji kecil kepada diri sendiri, kepercayaan terhadap kemampuanmu perlahan meningkat.
Dan dari sana, kamu bisa mulai mengambil langkah yang lebih besar.
Jangan meremehkan perubahan kecil.
Satu halaman buku yang dibaca setiap hari bisa menjadi sebuah buku yang selesai.
Satu jam belajar bisa menjadi keterampilan baru.
Satu latihan bisa menjadi kebiasaan.
Satu keputusan kecil bisa menjadi awal dari kehidupan yang berbeda.
7. Berhenti Menunggu Hidupmu Terasa Sempurna
Mungkin ini adalah bagian yang paling sulit.
Kamu ingin mulai berjalan, tetapi kamu takut salah arah.
Kamu ingin memulai sesuatu, tetapi kamu takut gagal.
Kamu ingin mengambil keputusan, tetapi kamu takut menyesal.
Akhirnya kamu memilih diam.
Menunggu.
Berpikir.
Menganalisis.
Menunggu sampai semuanya terasa jelas.
Padahal, hidup jarang memberikan kepastian penuh.
Sering kali kita baru mengetahui apakah sebuah jalan cocok setelah berjalan beberapa langkah di dalamnya.
Kamu tidak harus mengetahui seluruh perjalanan.
Kamu hanya perlu mengetahui langkah berikutnya.
Jika pekerjaanmu saat ini tidak sesuai dengan tujuan jangka panjangmu, mungkin kamu belum bisa langsung meninggalkannya. Tetapi kamu bisa mulai belajar keterampilan baru.
Jika kamu belum tahu ingin membangun karier seperti apa, kamu bisa mencoba beberapa bidang.
Jika kamu ingin hidup lebih mandiri, kamu bisa mulai belajar mengelola uang.
Jika kamu ingin memiliki kehidupan yang lebih teratur, kamu bisa mulai dari rutinitas pagi.
Jangan menunggu kehidupan ideal untuk mulai hidup.
Bangun kehidupan itu sedikit demi sedikit.
Pada Akhirnya, Kesibukan Bukan Tujuan Utama
Ada satu hal yang perlu kamu ingat.
Jangan mengejar kesibukan hanya agar kamu tidak sempat memikirkan perasaanmu.
Jangan memenuhi jadwal hanya agar kamu tidak merasa tertinggal.
Jangan bekerja tanpa henti hanya untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain.
Karena pada akhirnya, sibuk tidak selalu berarti berkembang.
Yang lebih penting adalah memiliki kehidupan yang terasa berarti bagimu.
Kamu boleh berjalan lebih lambat.
Kamu boleh mengubah arah.
Kamu boleh belum tahu semuanya.
Kamu boleh memulai kembali.
Kamu juga tidak perlu menjelaskan setiap keputusanmu kepada semua orang.
Semakin dewasa, kamu mungkin akan menyadari bahwa hidup bukan perlombaan untuk menjadi yang paling cepat.
Hidup lebih mirip perjalanan untuk menemukan apa yang benar-benar penting bagimu.
Jadi, jika sekarang kamu merasa ingin berhenti mengejar perhatian, berhenti terlalu banyak membandingkan diri, dan mulai membangun kehidupanmu sendiri, mulailah dari hal-hal sederhana.
Bangun rutinitas.
Tentukan arah.
Pelajari sesuatu.
Kerjakan proyekmu.
Jaga tubuhmu.
Kelola waktumu.
Kurangi perbandingan.
Dan beranilah berjalan meskipun kamu belum mengetahui seluruh jalan di depan.
Karena mungkin, kehidupan yang selama ini kamu cari tidak muncul ketika kamu menemukan seseorang yang akan membawamu ke sana.
Mungkin kehidupan itu mulai terbentuk ketika kamu akhirnya berkata kepada dirimu sendiri:
“Aku tidak tahu persis akan ke mana, tetapi kali ini aku ingin mulai berjalan dengan kakiku sendiri.”
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Al-Hilal vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: The Blue Waves Amankan 3 Poin di Kandang!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Profil Matheus Lagoa! Legenda dan Kapten Anapolis, Puzzle Terakhir Persebaya Surabaya
Prediksi Skor West Ham vs Wolverhampton, Kemenangan Perdana atau Lanjutkan Tren Positif
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
Breaking News! Persebaya Surabaya Rekrut Kapten Anapolis FC Matheus Lagoa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
