seseorang yang belajar mencintai diri sendiri / foto: Magnific/user25451090
Ketika orang lain gagal, kita mungkin berkata, “Tidak apa-apa, semua orang bisa melakukan kesalahan.” Namun ketika kita sendiri gagal, kalimat yang muncul justru, “Aku memang bodoh. Aku selalu gagal. Seharusnya aku bisa lebih baik.”
Kita sering menjadi orang yang paling keras terhadap diri sendiri.
Padahal, hidup sudah cukup melelahkan tanpa harus terus-menerus berperang dengan diri sendiri.
Mencintai diri sendiri bukan berarti menjadi egois, merasa paling hebat, atau selalu menempatkan diri di atas orang lain. Dalam psikologi, sikap yang lebih sehat terhadap diri sendiri justru berkaitan dengan kemampuan memperlakukan diri dengan penuh pengertian, menerima kekurangan, menjaga kebutuhan diri, dan tetap menghargai diri bahkan ketika melakukan kesalahan.
Self-compassion atau belas kasih terhadap diri sendiri menjadi salah satu konsep penting dalam psikologi yang banyak dibahas oleh peneliti seperti Kristin Neff. Sederhananya, self-compassion berarti belajar memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan yang sama seperti yang mungkin kita berikan kepada seseorang yang sedang mengalami kesulitan.
Jadi, mencintai diri sendiri tidak harus dimulai dengan perubahan besar.
Kadang-kadang, ia dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan berulang kali.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (3/9), jika selama ini kamu terbiasa mengabaikan kebutuhan sendiri, terlalu keras terhadap diri sendiri, atau terus merasa bahwa dirimu tidak cukup baik, delapan kebiasaan berikut bisa menjadi langkah awal.
1. Berhenti berbicara kepada diri sendiri dengan cara yang tidak akan kamu gunakan kepada orang lain
Coba perhatikan bagaimana kamu berbicara kepada dirimu sendiri ketika melakukan kesalahan.
“Aku payah.”
“Aku memang tidak pernah bisa.”
“Kenapa aku sebodoh ini?”
“Orang lain sudah jauh lebih maju dariku.”
Mungkin kamu sudah terlalu terbiasa dengan kalimat-kalimat tersebut sampai tidak lagi menyadari betapa kerasnya cara kamu memperlakukan diri sendiri.
Salah satu langkah pertama untuk mulai mencintai diri adalah memperhatikan dialog internal tersebut.
Bukan berarti kamu harus selalu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Bukan pula berarti kamu harus menolak kenyataan ketika memang melakukan kesalahan.
Bedanya adalah antara mengakui kesalahan dan menghina diri sendiri karena melakukan kesalahan.
Misalnya, daripada berkata:
“Aku benar-benar gagal. Aku memang tidak becus.”
Cobalah menggantinya dengan:
“Aku melakukan kesalahan kali ini. Aku tidak menyukainya, tetapi aku bisa belajar dari sini.”
Kalimat kedua tidak menghilangkan tanggung jawab. Justru kamu tetap mengakui kesalahan tanpa menjadikan kesalahan tersebut sebagai identitas dirimu.
Kesalahan adalah sesuatu yang kamu lakukan.
Kesalahan bukan seluruh gambaran tentang siapa dirimu.
Mulai hari ini, setiap kali menyadari dirimu sedang berbicara terlalu kasar kepada diri sendiri, berhentilah sejenak dan tanyakan:
“Kalau sahabatku mengalami hal yang sama, apakah aku akan berbicara kepadanya seperti ini?”
Jika jawabannya tidak, mungkin kamu juga tidak perlu berbicara seperti itu kepada dirimu sendiri.
2. Belajar menerima bahwa dirimu tidak harus sempurna untuk tetap berharga
Banyak orang menjalani hidup dengan sebuah syarat tersembunyi:
“Aku akan menyukai diriku ketika aku sudah menjadi versi yang lebih baik.”
Ketika sudah lebih sukses.
Ketika berat badan sudah ideal.
Ketika memiliki pasangan.
Ketika memiliki lebih banyak uang.
Ketika karier sudah mapan.
Ketika tidak lagi membuat kesalahan.
Ketika akhirnya mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Masalahnya, standar tersebut terus bergerak.
Begitu satu target tercapai, muncul target berikutnya.
Akhirnya, seseorang menghabiskan hidupnya mengejar versi dirinya yang dianggap "cukup", tetapi tidak pernah benar-benar merasa cukup.
Mencintai diri sendiri bukan berarti berhenti berkembang.
Kamu tetap boleh memiliki target dan berusaha menjadi lebih baik. Namun, perkembangan seharusnya tidak menjadi syarat agar kamu layak menghargai dirimu sendiri.
Ada perbedaan besar antara:
“Aku ingin berkembang karena aku menghargai diriku.”
dan
“Aku harus berubah karena diriku sekarang tidak layak dicintai.”
Yang pertama lahir dari penghargaan terhadap diri.
Yang kedua lahir dari penolakan terhadap diri.
Cobalah mulai melihat dirimu sebagai manusia yang sedang bertumbuh, bukan sebagai proyek yang selalu rusak dan harus diperbaiki.
Kamu boleh memiliki kekurangan.
Kamu boleh belum tahu semuanya.
Kamu boleh masih belajar.
Kamu boleh belum mencapai apa yang diinginkan.
Dan semua itu tidak membuatmu kehilangan nilai sebagai manusia.
3. Biasakan mengatakan “tidak” tanpa merasa harus selalu bersalah
Salah satu bentuk kebaikan kepada diri sendiri adalah memiliki batasan.
Namun bagi sebagian orang, mengatakan “tidak” terasa sangat sulit.
Takut mengecewakan.
Takut dianggap egois.
Takut hubungan berubah.
Takut orang lain marah.
Akhirnya, mereka mengatakan “iya” ketika sebenarnya ingin mengatakan “tidak”.
Mereka menerima terlalu banyak pekerjaan.
Selalu tersedia untuk orang lain.
Mengorbankan waktu istirahat.
Menyetujui sesuatu yang sebenarnya membuat tidak nyaman.
Lama-kelamaan, kebutuhan diri sendiri selalu ditempatkan paling belakang.
Padahal, batasan bukan berarti kamu tidak peduli kepada orang lain.
Batasan membantu menentukan apa yang sanggup kamu berikan dan apa yang tidak sanggup kamu berikan.
Kamu tidak harus memberikan penjelasan panjang setiap kali menolak sesuatu.
Terkadang cukup berkata:
“Maaf, kali ini aku belum bisa.”
Atau:
“Aku tidak bisa mengambil tanggung jawab itu sekarang.”
Atau:
“Aku perlu waktu untuk diriku sendiri.”
Pada awalnya mungkin terasa tidak nyaman.
Itu wajar.
Jika kamu selama bertahun-tahun terbiasa menyenangkan semua orang, belajar menetapkan batasan memang membutuhkan latihan.
Tetapi ingat:
mengecewakan seseorang sesekali tidak selalu berarti kamu melakukan sesuatu yang salah.
Kamu juga memiliki waktu, energi, batas kemampuan, dan kebutuhan.
Menghargai semua itu adalah salah satu bentuk menghargai dirimu sendiri.
4. Luangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan kebutuhan dirimu
Kita sering bertanya kepada orang lain:
“Menurutmu aku harus bagaimana?”
Tetapi jarang bertanya kepada diri sendiri:
“Sebenarnya aku sedang membutuhkan apa?”
Tubuh dan pikiran sering memberikan sinyal.
Kamu mungkin merasa mudah marah karena terlalu lelah.
Sulit berkonsentrasi karena kurang tidur.
Merasa kosong karena terlalu lama mengabaikan kebutuhan emosional.
Merasa jenuh karena tidak pernah memberikan ruang untuk beristirahat.
Atau merasa gelisah karena terus menjalani sesuatu yang sebenarnya sudah tidak sesuai dengan dirimu.
Mencintai diri sendiri berarti mulai belajar mendengarkan sinyal-sinyal tersebut.
Bukan berarti setiap keinginan harus dituruti.
Tetapi setidaknya kamu memberikan perhatian kepada apa yang sedang terjadi di dalam dirimu.
Cobalah menyediakan beberapa menit setiap hari untuk bertanya:
Apa yang sedang aku rasakan?
Apa yang membuatku lelah?
Apa yang sebenarnya sedang kubutuhkan?
Apakah ada sesuatu yang terus kupaksakan?
Apa yang bisa kulakukan hari ini agar diriku sedikit lebih baik?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini dapat membantu membangun kesadaran diri.
Kadang-kadang, kebutuhanmu bukan solusi besar.
Mungkin kamu hanya membutuhkan tidur yang cukup.
Mungkin kamu membutuhkan jeda.
Mungkin kamu perlu berbicara dengan seseorang.
Mungkin kamu perlu menyelesaikan sesuatu yang selama ini terus ditunda.
Atau mungkin kamu hanya perlu berhenti sejenak dan bernapas.
Mendengarkan diri sendiri adalah kebiasaan kecil yang dapat mengubah hubunganmu dengan dirimu sendiri.
5. Berhenti membandingkan seluruh hidupmu dengan potongan kehidupan orang lain
Media sosial membuat kebiasaan membandingkan diri menjadi semakin mudah.
Kita melihat seseorang mendapatkan pekerjaan impian.
Seseorang menikah.
Seseorang membeli rumah.
Seseorang bepergian ke berbagai tempat.
Seseorang terlihat bahagia.
Seseorang memiliki tubuh yang dianggap ideal.
Lalu kita melihat kehidupan sendiri dan berpikir:
“Kenapa aku belum seperti mereka?”
Masalahnya, kita sering membandingkan kehidupan kita yang lengkap—termasuk kegagalan, ketakutan, masalah finansial, hubungan yang rumit, dan hari-hari buruk—dengan versi terbaik kehidupan orang lain yang mereka pilih untuk ditampilkan.
Perbandingan seperti itu hampir selalu tidak adil.
Jika kamu ingin lebih baik terhadap diri sendiri, cobalah mengurangi kebiasaan mengukur nilai dirimu berdasarkan pencapaian orang lain.
Alih-alih bertanya:
“Apakah aku lebih baik daripada dia?”
cobalah bertanya:
“Apakah aku sedang bergerak ke arah yang penting bagiku?”
Fokus tersebut mengubah perhatian dari kompetisi menjadi pertumbuhan.
Kamu tidak harus berada di tahap kehidupan yang sama dengan orang lain.
Ada orang yang menemukan kariernya lebih cepat.
Ada yang membutuhkan waktu lebih lama.
Ada yang menikah lebih muda.
Ada yang memilih hidup sendiri.
Ada yang sukses di usia 20-an.
Ada yang baru menemukan jalannya di usia 40-an atau bahkan lebih tua.
Hidup bukan perlombaan dengan garis waktu yang sama untuk semua orang.
Kamu memiliki perjalananmu sendiri.
6. Rawat tubuhmu sebagai bentuk penghargaan, bukan hukuman
Cara kita memperlakukan tubuh juga dapat mencerminkan hubungan kita dengan diri sendiri.
Banyak orang baru memperhatikan tubuh ketika merasa tidak puas dengan penampilannya.
Mereka berolahraga karena membenci bentuk tubuhnya.
Mereka mengatur pola makan karena merasa bersalah.
Mereka memaksakan diri bekerja tanpa istirahat karena merasa harus produktif.
Padahal, merawat tubuh tidak harus didorong oleh kebencian terhadap diri sendiri.
Kamu bisa berolahraga karena ingin tubuhmu lebih kuat.
Kamu bisa tidur cukup karena tubuhmu membutuhkan pemulihan.
Kamu bisa makan dengan lebih teratur karena ingin memiliki energi.
Kamu bisa beristirahat tanpa merasa bersalah karena istirahat merupakan bagian dari kehidupan, bukan hadiah yang hanya pantas diterima setelah kamu bekerja keras.
Cobalah mengubah pertanyaannya.
Bukan:
“Bagaimana caranya agar tubuhku terlihat lebih baik?”
tetapi sesekali:
“Apa yang bisa kulakukan hari ini untuk merawat tubuh yang sudah membawaku sejauh ini?”
Perubahan kecil dalam cara berpikir dapat membuat perawatan diri terasa lebih manusiawi.
Tubuhmu bukan musuh yang harus dihukum.
Ia adalah bagian dari dirimu yang perlu dirawat.
7. Belajar memaafkan diri sendiri atas hal-hal yang sudah berlalu
Ada orang yang secara fisik sudah meninggalkan masa lalu, tetapi secara emosional masih tinggal di sana.
Mereka terus mengingat keputusan yang salah.
Hubungan yang gagal.
Kesempatan yang dilewatkan.
Kata-kata yang seharusnya tidak pernah diucapkan.
Kesalahan yang terjadi bertahun-tahun lalu.
Setiap kali mengingatnya, mereka kembali menghukum diri sendiri.
Namun, ada sesuatu yang perlu disadari:
kamu tidak bisa mengubah versi dirimu yang sudah berlalu.
Yang bisa kamu lakukan adalah belajar dari dirinya.
Mungkin dulu kamu belum tahu apa yang sekarang kamu ketahui.
Mungkin kamu mengambil keputusan berdasarkan informasi yang terbatas.
Mungkin kamu sedang berada dalam kondisi emosional yang membuatmu tidak mampu berpikir sejernih sekarang.
Mungkin kamu memang salah.
Dan mengakui kesalahan adalah bagian dari kedewasaan.
Tetapi mengakui kesalahan tidak berarti kamu harus menghukum diri tanpa batas waktu.
Tanyakan kepada dirimu:
“Apa yang bisa kupelajari dari kejadian itu?”
Kemudian tanyakan:
“Apa yang bisa kulakukan sekarang agar kesalahan itu tidak terulang?”
Jika ada sesuatu yang masih bisa diperbaiki, perbaiki.
Jika ada seseorang yang perlu kamu mintai maaf, lakukan jika memang tepat dan aman.
Jika ada pelajaran yang perlu dibawa ke masa depan, simpan.
Tetapi setelah itu, izinkan dirimu untuk melanjutkan hidup.
Memaafkan diri bukan berarti mengatakan bahwa kesalahanmu tidak penting.
Memaafkan diri berarti berhenti menggunakan kesalahan lama sebagai alasan untuk terus menyakiti diri sendiri.
8. Rayakan kemajuan kecil dan berhenti menunggu pencapaian besar untuk menghargai diri sendiri
Kita sering menganggap pencapaian kecil tidak berarti.
“Baru segitu.”
“Belum seberapa.”
“Orang lain sudah jauh lebih banyak.”
Akibatnya, kita terus mengejar target berikutnya tanpa pernah berhenti untuk mengakui perjalanan yang sudah ditempuh.
Padahal, perubahan besar hampir selalu dibangun dari tindakan kecil yang dilakukan berulang kali.
Bangun lebih awal.
Menyelesaikan satu pekerjaan.
Berani mengatakan tidak.
Mulai membaca.
Kembali berolahraga.
Mengurangi kebiasaan buruk.
Berani meminta bantuan.
Berhenti mengejar seseorang yang tidak menghargai kita.
Belajar menerima diri sendiri.
Semua itu mungkin terlihat kecil.
Tetapi bagi seseorang yang sedang berusaha mengubah hidupnya, langkah kecil tetap merupakan kemajuan.
Cobalah membuat kebiasaan sederhana setiap malam.
Sebelum tidur, tuliskan tiga hal:
1. Apa yang sudah kulakukan dengan baik hari ini?
2. Apa yang kupelajari hari ini?
3. Apa satu hal kecil yang ingin kulakukan lebih baik besok?
Tidak perlu sesuatu yang spektakuler.
Bahkan jika jawabannya hanya:
“Hari ini aku tetap bekerja meskipun sedang tidak bersemangat.”
Itu tetap layak dihargai.
Belajar menghargai kemajuan kecil membuat hubunganmu dengan diri sendiri menjadi lebih sehat.
Kamu tidak lagi hanya memberi penghargaan kepada diri sendiri ketika berhasil mencapai sesuatu yang besar.
Kamu mulai menyadari bahwa usaha juga memiliki nilai.
Mencintai Diri Sendiri Bukan Berarti Selalu Merasa Bahagia
Ada satu kesalahpahaman yang sering muncul tentang self-love.
Seolah-olah mencintai diri berarti harus selalu percaya diri, selalu positif, selalu bahagia, dan tidak pernah merasa insecure.
Padahal bukan begitu.
Kamu tetap bisa mencintai dirimu ketika sedang sedih.
Kamu tetap bisa menghargai dirimu ketika sedang gagal.
Kamu tetap bisa menerima dirimu ketika merasa tidak percaya diri.
Kamu tetap bisa merawat diri ketika sedang tidak memiliki motivasi.
Mencintai diri sendiri bukan kondisi emosional yang selalu terasa menyenangkan.
Lebih tepatnya, ia adalah cara kita memperlakukan diri sendiri, terutama ketika hidup sedang tidak berjalan sesuai harapan.
Justru pada saat gagal, kita bisa melihat seberapa baik hubungan kita dengan diri sendiri.
Apakah kita langsung menghina diri?
Atau kita mampu mengatakan:
“Aku kecewa. Aku memang berharap hasilnya berbeda. Tetapi aku tetap manusia, dan aku masih bisa belajar dari pengalaman ini.”
Ada kekuatan dalam kalimat tersebut.
Bukan kekuatan karena kamu menyangkal rasa sakit, tetapi karena kamu tidak menambahkan penderitaan baru dengan membenci diri sendiri.
Mulailah dari Satu Kebiasaan, Bukan Delapan Sekaligus
Membaca delapan kebiasaan ini mungkin membuat semuanya terasa masuk akal.
Tetapi jangan merasa harus mengubah hidup dalam satu hari.
Perubahan psikologis yang sehat biasanya membutuhkan proses.
Pilih satu kebiasaan yang paling terasa relevan dengan keadaanmu saat ini.
Jika kamu terlalu keras kepada diri sendiri, mulai dari mengubah dialog internal.
Jika kamu sulit mengatakan tidak, mulai belajar membuat batasan.
Jika kamu terus memikirkan masa lalu, mulai berlatih memaafkan diri.
Jika kamu selalu membandingkan diri, mulai mengurangi pemicu perbandingan.
Tidak perlu sempurna.
Yang penting konsisten.
Bayangkan jika setiap hari kamu melakukan satu tindakan kecil yang menunjukkan bahwa kamu menghargai dirimu.
Setelah beberapa waktu, tindakan tersebut dapat menjadi pola.
Dan pola yang dilakukan terus-menerus dapat mengubah cara kita memperlakukan diri sendiri.
Pada Akhirnya, Kamu Juga Layak Mendapat Kebaikan Darimu Sendiri
Kita sering menunggu orang lain untuk mengatakan bahwa kita berharga.
Menunggu pasangan menghargai kita.
Menunggu keluarga mengakui usaha kita.
Menunggu atasan memberikan apresiasi.
Menunggu teman memahami perjuangan kita.
Padahal, salah satu hubungan terpenting dalam hidup adalah hubungan yang kita miliki dengan diri sendiri.
Kamu akan menghabiskan sebagian besar hidupmu bersama dirimu sendiri.
Karena itu, mungkin sudah waktunya berhenti menjadi musuh bagi dirimu sendiri.
Kamu tidak harus menyukai semua hal tentang dirimu.
Kamu tidak harus menganggap semua keputusanmu benar.
Kamu tidak harus berhenti memiliki kekurangan.
Kamu hanya perlu belajar memperlakukan dirimu sebagai manusia yang juga pantas mendapatkan pengertian.
Berbicara kepada diri sendiri dengan lebih lembut.
Memberikan batasan.
Beristirahat ketika lelah.
Menerima ketidaksempurnaan.
Memaafkan kesalahan masa lalu.
Menghargai kemajuan kecil.
Dan memberi ruang kepada diri sendiri untuk bertumbuh.
Karena mungkin, mencintai diri sendiri bukan tentang tiba-tiba melihat dirimu sebagai manusia yang sempurna.
Mungkin, mencintai diri sendiri adalah ketika kamu akhirnya bisa berkata:
“Aku tahu aku masih punya banyak kekurangan. Aku masih harus belajar. Aku masih bisa melakukan kesalahan. Tetapi aku tidak akan meninggalkan diriku sendiri hanya karena hidup sedang sulit.”
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Prediksi Skor Palermo vs Mantova di Coppa Italia: Rosanero Siap Libas Tim Tamu di Renzo Barbera
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Manajemen Buka Suara Usai Ikang Fawzi Dikabarkan Menikah Lagi
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
35 Santri Keracunan MBG Masih Dirawat di RS Siti Hajar Sidoarjo
Prediksi Skor Laos U-20 vs Timnas Indonesia U-20: Garuda Muda Berpeluang Pesta Gol!
Prediksi Sassuolo vs Frosinone di Coppa Italia 2026/2027: Jay Idzes Cs Menang Susah Payah
