Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 7 September 2026 | 21.37 WIB

7 Cara Bagaimana Isolasi Sosial Dapat Memperpendek Usia Seseorang Menurut Psikologi, Apa Sajakah?

seseorang yang mengisolasi sosial./ Magnific/benzoix

JawaPos.com - Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kita membutuhkan hubungan dengan orang lain bukan hanya untuk berbicara, bekerja sama, atau mendapatkan hiburan, tetapi juga untuk menjaga kesehatan psikologis dan fisik.

Karena itu, ketika seseorang terlalu lama hidup dalam isolasi sosial, dampaknya tidak selalu berhenti pada rasa kesepian. Dalam kondisi tertentu, kurangnya hubungan sosial dapat memengaruhi pola tidur, tingkat stres, kebiasaan sehari-hari, kesehatan mental, hingga cara seseorang merawat dirinya sendiri.

Dalam psikologi, penting untuk membedakan antara isolasi sosial dan kesepian. Isolasi sosial lebih berkaitan dengan sedikitnya hubungan atau interaksi sosial yang dimiliki seseorang. Sementara itu, kesepian adalah pengalaman subjektif ketika seseorang merasa hubungan sosialnya tidak cukup atau tidak bermakna. Seseorang dapat sering bertemu orang lain tetapi tetap merasa kesepian, sementara orang lain mungkin memiliki sedikit interaksi sosial tetapi merasa nyaman dengan kondisi tersebut.

Masalah muncul ketika keterbatasan hubungan sosial berlangsung lama, tidak diinginkan, dan membuat seseorang kehilangan sumber dukungan emosional maupun praktis.

Lantas, bagaimana kondisi tersebut dapat berkaitan dengan umur seseorang?

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (6/9), terdapat tujuh mekanisme psikologis dan perilaku yang dapat menjelaskannya.

1. Isolasi Sosial Dapat Meningkatkan Stres Kronis

Salah satu cara paling penting adalah melalui stres.

Tubuh manusia memiliki sistem respons terhadap ancaman yang dirancang untuk menghadapi situasi berbahaya dalam waktu singkat. Ketika seseorang menghadapi tekanan, tubuh dapat meningkatkan kewaspadaan, mempercepat denyut jantung, dan melepaskan hormon seperti kortisol.

Dalam keadaan normal, sistem ini akan kembali ke kondisi yang lebih tenang setelah ancaman berlalu.

Namun, situasinya berbeda apabila seseorang terus-menerus merasa sendirian, tidak memiliki tempat untuk bercerita, atau merasa tidak memiliki orang yang dapat membantunya ketika menghadapi masalah.

Beban psikologis tersebut dapat membuat tubuh berada dalam keadaan stres yang berlangsung lebih lama.

Secara psikologis, keberadaan orang lain yang dipercaya dapat berfungsi sebagai sumber regulasi emosi. Ketika seseorang menghadapi masalah, berbicara dengan teman, pasangan, keluarga, atau komunitas dapat membantu mengurangi beban mental.

Sebaliknya, seseorang yang terisolasi mungkin harus menghadapi seluruh tekanan tersebut sendirian.

Bayangkan seseorang mengalami masalah pekerjaan, konflik keluarga, masalah keuangan, atau kegagalan pribadi. Orang yang memiliki hubungan sosial yang sehat mungkin dapat mengatakan:

"Saya sedang mengalami masalah. Saya bisa membicarakannya dengan seseorang."

Orang yang sangat terisolasi mungkin merasa:

"Saya harus menghadapi semuanya sendiri."

Perbedaan tersebut terlihat sederhana, tetapi dalam jangka panjang dapat memengaruhi cara seseorang menghadapi stres.

Stres kronis sendiri berkaitan dengan berbagai proses biologis yang dapat mengganggu kesehatan apabila berlangsung terus-menerus. Dengan demikian, isolasi sosial dapat menjadi salah satu faktor yang secara tidak langsung meningkatkan risiko kesehatan melalui jalur stres.

Namun, penting ditekankan bahwa stres akibat isolasi sosial bukan berarti secara otomatis akan memperpendek usia seseorang. Dampaknya berbeda-beda tergantung kondisi individu, kualitas hubungan sosial, kesehatan fisik, kondisi ekonomi, dan berbagai faktor lainnya.

2. Isolasi Sosial Dapat Meningkatkan Risiko Depresi

Hubungan sosial memiliki fungsi penting dalam menjaga kesehatan mental.

Ketika seseorang memiliki teman, keluarga, pasangan, komunitas, atau lingkungan sosial yang suportif, ia memiliki lebih banyak kesempatan untuk memperoleh perhatian, dukungan, validasi, dan pengalaman positif.

Sebaliknya, isolasi sosial yang berkepanjangan dapat menciptakan lingkungan psikologis yang kurang memberikan stimulasi positif.

Pada sebagian orang, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap munculnya gejala depresi.

Depresi bukan sekadar merasa sedih. Gangguan ini dapat memengaruhi motivasi, energi, konsentrasi, tidur, nafsu makan, serta kemampuan seseorang untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Yang menarik, hubungan antara isolasi sosial dan depresi dapat membentuk sebuah lingkaran negatif.

Seseorang merasa kesepian.



Ia mulai menarik diri dari orang lain.



Interaksi sosial semakin berkurang.



Ia kehilangan lebih banyak pengalaman positif dan dukungan.



Perasaan sedih dan tidak berharga semakin kuat.



Ia semakin enggan bertemu orang lain.



Isolasi menjadi semakin berat.

Dalam psikologi, pola seperti ini dapat menjadi sangat sulit diputus jika berlangsung lama.

Masalahnya tidak berhenti pada kondisi emosional. Ketika depresi menjadi berat, seseorang dapat kehilangan motivasi untuk melakukan berbagai perilaku yang sebenarnya penting bagi kesehatan.

Misalnya, ia mungkin tidak lagi tertarik berolahraga, malas memasak makanan bergizi, mengabaikan pemeriksaan kesehatan, atau kesulitan mempertahankan rutinitas tidur yang baik.

Dengan demikian, pengaruh isolasi sosial terhadap kesehatan dapat terjadi melalui perubahan psikologis yang kemudian memengaruhi perilaku.

3. Isolasi Sosial Dapat Membuat Seseorang Mengabaikan Kesehatan

Ini adalah salah satu mekanisme yang sering kali tidak disadari.

Manusia tidak hanya membutuhkan orang lain untuk mendapatkan kasih sayang. Kita juga sering membutuhkan orang lain sebagai pengingat dan pengawas informal terhadap kesehatan kita.

Contohnya sederhana.

Ketika seseorang tinggal bersama pasangan atau keluarga, mungkin ada orang yang mengatakan:

"Jangan lupa minum obat."

"Sepertinya kamu sudah beberapa hari kurang tidur."

"Kamu kelihatan tidak sehat. Sebaiknya periksa."

"Kapan terakhir kali kamu melakukan pemeriksaan kesehatan?"

"Jangan terus-terusan makan seperti itu."

Interaksi seperti ini mungkin terlihat sepele. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, dukungan sosial dapat membantu seseorang mempertahankan kebiasaan sehat.

Sebaliknya, individu yang sangat terisolasi mungkin tidak memiliki orang yang memperhatikan perubahan kondisinya.

Akibatnya, masalah kesehatan dapat terlambat dikenali.

Seseorang mungkin menganggap rasa lelah sebagai hal biasa.

Seseorang mungkin mengabaikan gejala tertentu.

Seseorang mungkin menunda pergi ke dokter.

Seseorang mungkin tidak disiplin menjalankan pengobatan.

Jika berlangsung lama, pola tersebut dapat meningkatkan risiko komplikasi kesehatan.

Di sinilah hubungan antara isolasi sosial dan umur menjadi lebih kompleks.

Isolasi sosial tidak harus secara langsung "memendekkan usia". Ia dapat meningkatkan kemungkinan munculnya kondisi atau perilaku tertentu yang kemudian berdampak pada kesehatan dan keselamatan seseorang.

4. Isolasi Sosial Dapat Mengurangi Aktivitas Fisik

Hubungan sosial juga sering berhubungan dengan aktivitas sehari-hari.

Banyak aktivitas fisik sebenarnya terjadi karena interaksi dengan orang lain.

Seseorang berjalan bersama teman.

Seseorang pergi berbelanja bersama keluarga.

Seseorang mengikuti komunitas olahraga.

Seseorang bermain dengan anak.

Seseorang mengikuti kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggal.

Ketika seseorang semakin terisolasi, aktivitas semacam itu dapat berkurang.

Ia mungkin lebih banyak berada di rumah, duduk sendirian, berbaring, atau menghabiskan waktu dengan aktivitas pasif.

Dalam jangka panjang, pola hidup yang terlalu tidak aktif dapat memberikan berbagai konsekuensi terhadap kesehatan.

Secara psikologis, masalahnya juga berkaitan dengan motivasi.

Melakukan aktivitas sendirian terkadang terasa jauh lebih sulit dibandingkan melakukannya bersama orang lain.

Misalnya, seseorang mungkin berkata:

"Saya malas olahraga sendirian."

Tetapi ketika ada teman yang mengajak berjalan kaki, ia akhirnya keluar rumah.

Artinya, hubungan sosial dapat menjadi semacam penguat perilaku sehat.

Sebaliknya, isolasi dapat menghilangkan struktur sosial yang biasanya mendorong seseorang untuk bergerak dan melakukan aktivitas.

Tentu saja, tidak semua orang yang hidup sendiri akan menjadi tidak aktif. Banyak orang justru sangat mandiri dan memiliki rutinitas olahraga yang baik.

Karena itu, yang menjadi perhatian bukan sekadar apakah seseorang tinggal sendirian, tetapi apakah keterbatasan hubungan sosial menyebabkan penurunan aktivitas dan kualitas hidup.

5. Isolasi Sosial Dapat Mengganggu Pola Tidur

Tidur dan kesehatan mental memiliki hubungan yang sangat erat.

Seseorang yang mengalami stres, kecemasan, atau kesepian dapat mengalami perubahan pola tidur. Ada yang sulit tidur, sering terbangun, tidur terlalu sedikit, atau justru menghabiskan terlalu banyak waktu di tempat tidur.

Isolasi sosial dapat memperburuk kondisi tersebut melalui beberapa jalur.

Pertama, kurangnya aktivitas sosial dapat membuat rutinitas harian menjadi tidak terstruktur.

Orang yang memiliki pekerjaan, aktivitas keluarga, pertemuan komunitas, atau kegiatan sosial biasanya mempunyai alasan untuk bangun, keluar rumah, dan menjalani jadwal tertentu.

Ketika aktivitas tersebut menghilang, ritme harian dapat menjadi lebih tidak teratur.

Kedua, kesepian dapat membuat pikiran lebih aktif pada malam hari.

Ketika tidak ada kesempatan untuk membicarakan masalah atau memperoleh dukungan emosional pada siang hari, seseorang mungkin terus memikirkan masalahnya ketika berada di tempat tidur.

Pertanyaan seperti:

"Kenapa saya sendirian?"

"Apakah ada orang yang peduli dengan saya?"

"Bagaimana masa depan saya?"

dapat membuat pikiran sulit tenang.

Ketiga, isolasi dapat meningkatkan kecenderungan seseorang menggunakan perilaku tertentu untuk mengatasi perasaan tidak nyaman, misalnya terlalu lama menggunakan perangkat elektronik atau mengubah jadwal tidur secara ekstrem.

Jika gangguan tidur berlangsung lama, kesehatan fisik dan mental dapat ikut terdampak.

Sekali lagi, hubungan ini bersifat dua arah. Kurang tidur dapat membuat seseorang lebih mudah tersinggung, lelah, dan menarik diri dari orang lain. Akibatnya, isolasi sosial dapat semakin berat.

6. Isolasi Sosial Dapat Mendorong Kebiasaan Coping yang Tidak Sehat

Ketika manusia mengalami tekanan psikologis, mereka membutuhkan cara untuk mengatasinya. Dalam psikologi, cara menghadapi tekanan ini sering disebut coping.

Coping bisa sehat atau tidak sehat.

Coping yang sehat misalnya:

berbicara dengan orang yang dipercaya,
berolahraga,
tidur cukup,
melakukan aktivitas yang bermakna,
mencari bantuan profesional,
melakukan kegiatan kreatif,
menyelesaikan masalah secara bertahap.

Namun, ketika seseorang tidak memiliki dukungan sosial, ia mungkin mencari cara lain untuk mengurangi tekanan emosional.

Pada sebagian orang, hal tersebut dapat berupa makan berlebihan, penggunaan alkohol atau zat tertentu, merokok, terlalu banyak bermain gim, penggunaan media sosial secara kompulsif, atau perilaku lain yang memberikan rasa nyaman sementara.

Masalahnya adalah beberapa perilaku tersebut dapat menciptakan siklus coping negatif.

Misalnya:

Kesepian → stres → mencari pelarian → merasa lebih baik sementara → masalah tidak terselesaikan → muncul rasa bersalah atau masalah baru → stres meningkat → kembali mencari pelarian.

Semakin lama siklus tersebut berlangsung, semakin sulit bagi seseorang untuk mengubah kebiasaannya.

Dalam konteks kesehatan, perilaku berisiko yang berlangsung bertahun-tahun tentu dapat berkontribusi terhadap memburuknya kondisi tubuh.

Namun, penting untuk tidak menyederhanakan masalah dengan mengatakan bahwa "orang yang kesepian pasti memiliki kebiasaan buruk." Tidak demikian.

Sebagian orang justru merespons kesepian dengan menjadi lebih disiplin, berolahraga, membaca, berkarya, atau membangun hubungan baru.

Yang menentukan adalah bagaimana seseorang merespons isolasi tersebut.

7. Isolasi Sosial Dapat Menghilangkan Rasa Memiliki dan Makna Hidup

Mungkin ini merupakan aspek psikologis yang paling dalam.

Manusia tidak hanya membutuhkan makanan, tempat tinggal, dan keamanan. Banyak orang juga membutuhkan perasaan bahwa dirinya terhubung, dibutuhkan, dan memiliki tempat di dunia.

Kita ingin merasa bahwa keberadaan kita memiliki arti bagi orang lain.

Seorang ayah mungkin merasa hidupnya bermakna karena keluarganya.

Seorang ibu mungkin memperoleh kepuasan dari merawat anak-anaknya.

Seorang guru mungkin merasa berarti karena membantu murid.

Seseorang mungkin menemukan identitas melalui komunitas, persahabatan, pekerjaan, kegiatan sosial, atau kontribusi kepada masyarakat.

Ketika hubungan-hubungan tersebut menghilang, seseorang dapat mulai mempertanyakan:

"Untuk apa saya melakukan semua ini?"

"Apakah ada yang peduli dengan saya?"

"Kalau saya tidak ada, apakah ada yang akan kehilangan saya?"

Pertanyaan semacam ini dapat menjadi tanda bahwa seseorang mengalami persoalan psikologis yang serius, terutama jika disertai keputusasaan atau pikiran untuk menyakiti diri.

Dalam kondisi seperti itu, isolasi sosial bukan lagi sekadar persoalan "kurang teman". Ia dapat berkaitan dengan hilangnya rasa memiliki, harapan, dan makna hidup.

Karena itu, membangun hubungan sosial yang sehat bukan hanya tentang membuat seseorang lebih bahagia. Hubungan sosial dapat memberikan struktur, tujuan, dukungan emosional, dan alasan untuk menjaga diri.

Mengapa Isolasi Sosial Bisa Berdampak Sampai pada Umur?

Jika seluruh mekanisme di atas digabungkan, kita dapat melihat sebuah rantai yang lebih jelas.

Isolasi sosial



dukungan emosional berkurang



stres dan kesepian meningkat



risiko masalah kesehatan mental meningkat



motivasi dan aktivitas dapat menurun



pola tidur serta kebiasaan sehari-hari dapat terganggu



perawatan kesehatan dapat terabaikan



berbagai faktor risiko kesehatan dapat menumpuk



risiko kesehatan secara keseluruhan dapat meningkat.

Jadi, ketika penelitian menghubungkan isolasi sosial dengan risiko kematian yang lebih tinggi, hal tersebut tidak berarti kesepian bekerja seperti penyakit yang secara langsung mempersingkat hidup seseorang.

Hubungannya jauh lebih kompleks.

Ada faktor biologis, psikologis, perilaku, lingkungan, dan sosial-ekonomi yang saling berinteraksi.

Selain itu, orang yang mengalami isolasi sosial mungkin juga menghadapi faktor lain yang secara independen memengaruhi kesehatan, seperti kemiskinan, penyakit kronis, kehilangan pasangan, pengangguran, diskriminasi, atau keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan.

Karena itu, isolasi sosial sebaiknya dipahami sebagai salah satu faktor risiko, bukan sebagai satu-satunya penyebab.

Apakah Sendirian Selalu Berbahaya?

Tidak.

Ini adalah poin yang sangat penting.

Sendirian tidak sama dengan terisolasi.

Ada orang yang menikmati kesendirian. Mereka merasa tenang ketika membaca buku, bekerja sendiri, melakukan hobi, atau menghabiskan waktu tanpa banyak interaksi sosial.

Kondisi tersebut tidak otomatis merupakan masalah.

Sebaliknya, seseorang dapat memiliki ratusan teman di media sosial, bekerja di kantor yang ramai, dan bertemu banyak orang setiap hari tetapi tetap merasa sangat kesepian.

Jadi, ukuran yang lebih penting bukan hanya berapa banyak orang yang ada di sekitar kita, tetapi:

apakah kita memiliki hubungan yang bermakna,
apakah kita merasa diterima,
apakah kita memiliki seseorang untuk meminta bantuan,
apakah kita dapat berbicara secara terbuka,
apakah kita merasa menjadi bagian dari suatu kelompok,
dan apakah kehidupan sosial kita sesuai dengan kebutuhan psikologis kita.

Dengan kata lain, kualitas hubungan sering kali lebih penting daripada sekadar jumlah hubungan.

Bagaimana Mengurangi Dampak Isolasi Sosial?

Mengatasi isolasi sosial tidak selalu berarti seseorang harus memiliki banyak teman.

Bagi sebagian orang, satu atau dua hubungan yang aman dan bermakna sudah sangat membantu.

Langkah kecil dapat dimulai dari hal sederhana.

1. Hubungi satu orang

Tidak perlu langsung membuat perubahan besar.

Kirim pesan kepada teman lama.

Tanyakan kabarnya.

Telepon anggota keluarga.

Interaksi kecil dapat menjadi langkah pertama untuk memutus siklus isolasi.

2. Buat rutinitas keluar rumah

Pergi berjalan kaki, membeli sesuatu, bekerja dari tempat berbeda, atau sekadar duduk di ruang publik dapat memberikan perubahan terhadap rutinitas.

3. Bergabung dengan aktivitas yang memiliki tujuan

Komunitas olahraga, kelas, kegiatan sukarela, kelompok hobi, atau organisasi sosial dapat menjadi tempat alami untuk membangun hubungan.

Lebih mudah membangun hubungan ketika seseorang memiliki aktivitas bersama, bukan hanya mencoba "mencari teman".

4. Fokus pada kualitas hubungan

Tidak perlu mengejar banyak kenalan.

Satu hubungan yang memungkinkan seseorang menjadi dirinya sendiri sering kali jauh lebih berharga daripada puluhan hubungan yang dangkal.

5. Jangan menunggu sampai merasa "sudah siap"

Salah satu masalah isolasi sosial adalah seseorang dapat menunggu motivasi datang sebelum berinteraksi.

Padahal, sering kali motivasi justru muncul setelah seseorang mulai melakukan sesuatu.

Mulailah dari interaksi yang kecil.

6. Cari bantuan profesional ketika diperlukan

Jika isolasi sosial sudah disertai depresi, kecemasan berat, kehilangan fungsi sehari-hari, keputusasaan, atau pikiran untuk menyakiti diri, berbicara dengan psikolog atau psikiater merupakan langkah yang penting.

Meminta bantuan bukan tanda kelemahan.

Justru, kemampuan untuk menyadari bahwa kita membutuhkan bantuan merupakan bentuk menjaga diri.

Kesimpulan

Isolasi sosial dapat menjadi lebih dari sekadar keadaan "tidak punya teman". Jika berlangsung lama dan tidak diinginkan, kondisi tersebut dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan seseorang.

Menurut perspektif psikologi, terdapat setidaknya tujuh jalur yang dapat menjelaskan kaitannya dengan kesehatan dan umur:

Meningkatkan stres kronis.
Meningkatkan risiko depresi dan masalah kesehatan mental.
Membuat seseorang lebih mudah mengabaikan kesehatan.
Mengurangi aktivitas fisik dan rutinitas sehat.
Mengganggu pola tidur.
Mendorong sebagian orang menggunakan coping yang tidak sehat.
Mengurangi rasa memiliki, tujuan, dan makna hidup.

Namun, kita tidak boleh menarik kesimpulan bahwa setiap orang yang hidup sendiri akan memiliki umur lebih pendek.

Kesendirian yang dipilih dan dinikmati dapat menjadi bagian normal dari kehidupan. Yang lebih perlu diperhatikan adalah isolasi sosial yang tidak diinginkan, berlangsung lama, dan disertai penurunan kesejahteraan psikologis maupun fungsi sehari-hari.

Pada akhirnya, hubungan sosial bukan sekadar pelengkap kehidupan. Bagi banyak orang, hubungan yang sehat memberikan tempat untuk berbagi beban, mendapatkan dukungan, menjaga kebiasaan baik, menemukan makna, dan menghadapi kesulitan.

Karena itu, menjaga hubungan dengan orang lain pada dasarnya juga merupakan salah satu bentuk merawat diri sendiri.
Editor: Hanny Suwindari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore