Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 September 2026 | 01.32 WIB

6 Tanda Anak yang Sudah Dewasa Sedang Mengalami Kesulitan Lebih Berat dari yang Kamu Kira

anak yang mengalami kesulitan yang berat / foto: Magnific/sonnnnnic

 

JawaPos.com - Ada satu hal yang sering luput dari perhatian orang tua: anak yang sudah dewasa tidak selalu tahu bagaimana cara mengatakan bahwa dirinya sedang kesulitan.

Ketika masih kecil, tanda-tandanya mungkin terlihat jelas. Mereka menangis, mengadu, mencari pelukan, atau mengatakan bahwa mereka sedang takut.

Namun ketika mereka tumbuh dewasa, semuanya bisa berubah.

Mereka mungkin justru menjadi lebih pendiam.

Lebih jarang bercerita.

Lebih sering mengatakan, “Aku baik-baik saja.”

Mereka tetap bekerja, tetap membalas pesan, tetap datang ke acara keluarga, bahkan mungkin masih sempat bercanda seperti biasa. Dari luar, kehidupannya terlihat berjalan normal.

Padahal, di dalam dirinya, bisa saja sedang terjadi pergulatan yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

Dalam psikologi, kesulitan emosional tidak selalu muncul dalam bentuk tangisan atau perilaku yang terlihat dramatis. Sebagian orang justru merespons tekanan dengan menarik diri, menyembunyikan perasaan, menjadi terlalu mandiri, atau berusaha terlihat baik-baik saja.

Karena itulah, jika kamu memiliki anak yang sudah dewasa, penting untuk memahami bahwa kalimat “Aku tidak apa-apa” tidak selalu berarti semuanya benar-benar baik.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (14/9), terdapat enam tanda yang mungkin menunjukkan bahwa anakmu sedang menghadapi beban yang lebih berat daripada yang kamu kira.

1. Dia Semakin Jarang Bercerita, Bahkan Tentang Hal-Hal Sederhana

Salah satu perubahan yang sering dianggap sepele adalah ketika anak yang dulu cukup terbuka mulai jarang bercerita.

Dulu ia mungkin bercerita tentang pekerjaannya, teman-temannya, hubungan percintaannya, rencana masa depan, atau bahkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Sekarang, ketika ditanya:

"Bagaimana pekerjaanmu?"

Jawabannya hanya:

"Biasa."

Ketika ditanya:

"Ada masalah?"

Ia menjawab:

"Nggak ada."

Lalu percakapan berhenti.

Tentu saja, anak yang sudah dewasa memang memiliki hak atas privasi. Menjadi lebih mandiri dan tidak menceritakan segala sesuatu kepada orang tua adalah bagian yang wajar dari proses menjadi dewasa.

Namun, yang perlu diperhatikan adalah perubahan yang cukup drastis dari pola sebelumnya.

Jika seseorang yang biasanya terbuka tiba-tiba menjadi sangat tertutup, menghindari percakapan emosional, atau terlihat tidak memiliki energi untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi dalam hidupnya, mungkin ada sesuatu yang sedang ia tanggung.

Bukan berarti pasti ada masalah psikologis.

Tetapi perubahan tersebut layak diperhatikan.

Kadang-kadang orang dewasa berhenti bercerita bukan karena mereka tidak membutuhkan siapa pun.

Justru sebaliknya.

Mereka mungkin merasa:

"Aku tidak mau merepotkan orang tua."

"Mereka juga punya masalah sendiri."

"Percuma aku cerita, toh masalahnya tidak akan selesai."

"Aku harus bisa menyelesaikannya sendiri."

Ada pula orang yang pernah mencoba bercerita tetapi merasa tidak dipahami. Setelah beberapa kali mendapatkan respons seperti “Jangan terlalu dipikirkan”, “Kamu harusnya bersyukur”, atau “Semua orang juga mengalami hal yang sama”, ia akhirnya belajar untuk menyimpan semuanya sendiri.

Karena itu, ketika anak dewasa semakin jarang bercerita, jangan langsung menyimpulkan bahwa ia tidak membutuhkanmu.

Bisa jadi ia justru sedang berusaha keras untuk tidak menjadi beban.

Yang bisa dilakukan orang tua

Alih-alih terus mendesak dengan pertanyaan:

"Kamu kenapa?"

cobalah menciptakan ruang yang lebih aman.

Misalnya:

"Ibu/Ayah merasa akhir-akhir ini kamu agak berbeda. Kalau memang sedang ada sesuatu yang berat, kamu tidak harus langsung menceritakannya. Tapi kalau suatu hari kamu ingin bicara, kami siap mendengarkan."

Kalimat seperti ini tidak memaksa.

Namun memberikan pesan penting:

“Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.”

2. Dia Terlihat Sangat Mandiri Sampai Tidak Pernah Meminta Bantuan

Kemandirian biasanya dianggap sebagai tanda kedewasaan.

Dan memang benar.

Orang dewasa perlu mampu mengambil keputusan, bertanggung jawab atas hidupnya, serta menyelesaikan berbagai persoalan tanpa selalu bergantung kepada orang lain.

Namun ada perbedaan antara mandiri dan merasa tidak boleh membutuhkan siapa pun.

Anak yang sedang mengalami tekanan berat terkadang justru menjadi sangat mandiri.

Ia tidak pernah meminta bantuan.

Tidak pernah mengeluh.

Tidak pernah mengatakan bahwa ia kewalahan.

Bahkan ketika jelas-jelas sedang kesulitan, ia masih mengatakan:

"Aku bisa kok."

"Nanti juga selesai."

"Aku urus sendiri."

Pada titik tertentu, kemandirian bukan lagi sekadar kemampuan.

Ia bisa menjadi mekanisme pertahanan.

Seseorang mungkin sudah terlalu terbiasa menghadapi masalah sendirian sehingga meminta bantuan terasa seperti kegagalan.

Ada orang yang sejak kecil belajar bahwa menjadi kuat berarti tidak boleh menangis.

Tidak boleh mengeluh.

Tidak boleh merepotkan orang lain.

Akibatnya, ketika dewasa, ia bisa memiliki keyakinan bahwa kebutuhan emosionalnya adalah sesuatu yang harus disembunyikan.

Ia mungkin sangat mudah membantu orang lain, tetapi merasa sangat tidak nyaman ketika dirinya sendiri dibantu.

Ironisnya, orang seperti ini sering terlihat paling kuat dari luar.

Padahal kekuatan yang terus-menerus dipaksakan bisa sangat melelahkan.

Perhatikan kalimat-kalimat kecil

Jika anakmu sering mengatakan:

"Nggak usah khawatir."

"Aku bisa sendiri."

"Aku nggak mau merepotkan."

"Aku harus menyelesaikannya sendiri."

"Yang penting kalian jangan ikut pusing."

Jangan langsung menganggapnya sebagai bukti bahwa ia baik-baik saja.

Bisa jadi memang ia baik-baik saja.

Tetapi bisa juga ia sedang berusaha melindungi orang lain dari beban yang sedang ia rasakan.

Terkadang, orang yang paling sulit meminta bantuan adalah orang yang paling lama terbiasa menanggung semuanya sendiri.

3. Dia Terlihat Baik-Baik Saja, Tetapi Kehilangan Semangat terhadap Hal-Hal yang Dulu Disukai

Ini adalah tanda yang sering tidak diperhatikan.

Seseorang mungkin masih bekerja.

Masih mandi.

Masih pergi keluar.

Masih menjawab pesan.

Masih tersenyum.

Namun perlahan-lahan, ia kehilangan minat terhadap hal-hal yang sebelumnya membuatnya bahagia.

Dulu ia senang bermain musik.

Sekarang gitarnya hanya tergeletak.

Dulu ia suka bertemu teman.

Sekarang ia lebih sering menolak ajakan.

Dulu ia antusias membicarakan rencana masa depan.

Sekarang jawabannya:

"Lihat nanti saja."

Perubahan seperti ini dapat berkaitan dengan kelelahan emosional, stres berkepanjangan, atau berbagai kondisi psikologis lainnya.

Tetapi sekali lagi, satu tanda saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami gangguan tertentu.

Yang penting adalah melihat pola dan perubahan dari dirinya yang sebelumnya.

Kehilangan minat juga tidak selalu berarti seseorang sedang sedih.

Kadang-kadang yang terasa justru adalah kehampaan.

Tidak terlalu sedih.

Tidak terlalu bahagia.

Hanya terasa datar.

Seolah-olah tidak ada sesuatu yang benar-benar menarik lagi.

Inilah sebabnya mengapa orang di sekitarnya bisa keliru.

Mereka melihat seseorang masih menjalani aktivitas sehari-hari dan berpikir:

"Dia baik-baik saja."

Padahal menjalankan rutinitas tidak selalu berarti seseorang merasa baik secara emosional.

Ada orang yang mampu menjalankan pekerjaannya sambil membawa beban mental yang sangat berat.

Jangan hanya bertanya, “Kamu sedih?”

Pertanyaan itu terkadang terlalu langsung.

Cobalah bertanya:

"Belakangan ini masih ada hal yang bikin kamu senang?"

Atau:

"Apa akhir-akhir ini kamu merasa hidupmu cuma menjalankan rutinitas?"

Pertanyaan seperti itu dapat membuka percakapan yang lebih dalam tanpa langsung memberikan label.

4. Dia Menjadi Terlalu Sibuk dan Seolah Tidak Pernah Berhenti

Ada orang yang ketika sedang menghadapi masalah justru semakin sibuk.

Pekerjaan ditambah.

Aktivitas diperbanyak.

Agenda dipenuhi.

Hari-harinya selalu penuh.

Dari luar, ini bisa terlihat sangat positif.

"Anakku pekerja keras."

"Dia produktif."

"Kariernya sedang bagus."

Tetapi terkadang kesibukan juga dapat menjadi cara seseorang menghindari perasaan yang tidak nyaman.

Selama dirinya terus bergerak, ia tidak perlu berhenti dan menghadapi apa yang sebenarnya sedang dirasakan.

Ketika malam tiba, ia mungkin sengaja bekerja lebih lama.

Ketika akhir pekan datang, ia mencari aktivitas.

Ketika memiliki waktu kosong, ia merasa tidak nyaman.

Karena dalam keheningan, pikiran yang selama ini ditekan bisa muncul kembali.

Tentu saja, menjadi sibuk tidak otomatis berarti seseorang sedang mengalami masalah psikologis.

Ada orang yang memang memiliki pekerjaan padat atau menikmati gaya hidup aktif.

Yang perlu diperhatikan adalah fungsi kesibukan tersebut.

Apakah ia sibuk karena memang menikmati aktivitasnya?

Atau ia merasa tidak tahan ketika tidak melakukan apa-apa?

Apakah ia masih mampu beristirahat tanpa merasa bersalah?

Apakah ia bisa menikmati waktu bersama keluarga dan teman?

Atau setiap waktu senggang harus segera diisi dengan pekerjaan?

Jika kesibukan tampaknya menjadi satu-satunya cara untuk menghindari pikiran dan emosi yang berat, mungkin ada sesuatu yang perlu diperhatikan.

5. Dia Menjadi Sangat Sensitif terhadap Pertanyaan atau Perhatian dari Keluarga

Kadang-kadang orang tua hanya ingin menunjukkan perhatian.

"Kapan menikah?"

"Pekerjaanmu bagaimana?"

"Kok sekarang jarang pulang?"

"Ada masalah dengan pasanganmu?"

"Kamu baik-baik saja?"

Namun bagi anak yang sedang mengalami tekanan, pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa terasa jauh lebih berat daripada yang dibayangkan.

Ia mungkin langsung defensif.

Cepat marah.

Menghindari percakapan.

Atau mengatakan:

"Jangan ikut campur."

Reaksi tersebut memang tidak selalu berarti ia sedang mengalami kesulitan.

Mungkin memang ada masalah komunikasi dalam hubungan keluarga.

Tetapi perubahan emosional yang tiba-tiba patut diperhatikan.

Kadang-kadang kemarahan hanyalah permukaan dari emosi lain seperti:

rasa malu,
takut gagal,
merasa tidak cukup baik,
kewalahan,
kecewa terhadap diri sendiri,
atau takut mengecewakan orang tua.

Bayangkan seseorang yang sedang mengalami masalah pekerjaan.

Setiap kali bertemu keluarga, ia ditanya:

"Kapan naik jabatan?"

Atau seseorang yang sedang kesulitan dalam hubungan.

Setiap kali pulang, ia ditanya:

"Kapan menikah?"

Pertanyaan yang bagi orang lain terdengar biasa bisa menjadi pengingat terus-menerus terhadap sesuatu yang sedang membuatnya merasa gagal.

Karena itu, terkadang cara terbaik untuk membantu bukanlah bertanya lebih banyak.

Melainkan mengurangi tekanan untuk menjawab.

Alih-alih:

"Kenapa kamu belum punya pasangan?"

cobalah:

"Bagaimana pun keadaanmu sekarang, kamu tetap anak kami. Kamu nggak harus membuktikan apa-apa kepada kami."

Kalimat seperti ini bisa memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada nasihat panjang.

6. Dia Sering Mengatakan “Aku Capek”, Tetapi Sepertinya Bukan Sekadar Kelelahan Fisik

Ini mungkin salah satu tanda yang paling mudah diabaikan.

Anak dewasa berkata:

"Aku capek."

Orang tua mungkin menjawab:

"Ya wajar, kamu kan kerja."

Memang benar.

Orang dewasa bisa lelah karena pekerjaan, perjalanan, tanggung jawab finansial, keluarga, dan berbagai tuntutan hidup.

Tetapi ada perbedaan antara lelah setelah menjalani hari yang berat dan merasa kehabisan energi secara terus-menerus.

Jika anak sering mengatakan:

"Aku capek banget."

"Aku nggak punya energi."

"Rasanya pengin berhenti sebentar."

"Aku cuma pengin tidur."

dan hal tersebut berlangsung cukup lama, jangan langsung menganggapnya sebagai kemalasan.

Kelelahan berkepanjangan dapat memiliki banyak penyebab, baik fisik maupun psikologis.

Stres kronis, kurang tidur, masalah kesehatan, beban pekerjaan, konflik hubungan, dan berbagai kondisi lainnya dapat membuat seseorang merasa benar-benar kehabisan tenaga.

Yang juga penting adalah melihat bagaimana ia berbicara tentang masa depan.

Apakah ia masih memiliki harapan?

Apakah ia masih membuat rencana?

Atau semuanya terdengar seperti tidak ada gunanya?

Jika seseorang mulai mengatakan hal-hal seperti:

"Aku nggak tahu sampai kapan bisa begini."

"Aku sudah nggak kuat."

"Aku pengin semuanya berhenti."

atau berbicara tentang kematian, keputusasaan, atau menyakiti dirinya sendiri, jangan menganggapnya hanya sebagai keluhan biasa.

Dalam situasi seperti itu, penting untuk menanggapinya dengan serius dan mencari bantuan profesional atau bantuan darurat yang sesuai, terutama jika ada risiko keselamatan.

Mengapa Anak Dewasa Sering Menyembunyikan Kesulitannya?

Ada banyak alasan.

Sebagian merasa sudah terlalu tua untuk meminta bantuan.

Sebagian takut mengecewakan orang tua.

Sebagian merasa bahwa masalahnya tidak cukup besar untuk diceritakan.

Sebagian lainnya bahkan tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.

Mereka hanya tahu bahwa mereka lelah.

Mereka sulit tidur.

Mereka kehilangan semangat.

Mereka ingin menyendiri.

Tetapi mereka tidak tahu harus mengatakan apa.

Selain itu, masyarakat sering memberikan pesan yang sangat kuat kepada orang dewasa:

“Kamu sudah dewasa. Kamu harus bisa mengurus hidupmu sendiri.”

Pesan ini memang memiliki sisi positif.

Tetapi jika diterima secara ekstrem, seseorang bisa merasa bahwa meminta bantuan berarti dirinya gagal menjadi orang dewasa.

Padahal kedewasaan bukan berarti tidak pernah membutuhkan orang lain.

Kedewasaan juga berarti mampu mengenali kapan diri sendiri membutuhkan dukungan.

Yang Sering Dibutuhkan Anak Dewasa Bukan Nasihat

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Ketika anak bercerita bahwa hidupnya sedang sulit, orang tua sering secara otomatis ingin memberikan solusi.

"Kamu harus lebih sabar."

"Coba cari pekerjaan lain."

"Jangan dipikirkan terus."

"Kamu harus bersyukur."

"Dulu Ayah/Ibu juga pernah mengalami hal seperti itu."

Niatnya mungkin baik.

Tetapi anak belum tentu membutuhkan solusi pada saat itu.

Kadang-kadang ia hanya ingin merasa bahwa seseorang akhirnya memahami betapa beratnya apa yang sedang ia jalani.

Cobalah mengganti nasihat dengan validasi.

Misalnya:

"Kedengarannya memang berat."

"Aku bisa mengerti kenapa kamu merasa kewalahan."

"Kamu nggak harus menjelaskan semuanya sekarang."

"Kalau kamu ingin cerita, aku akan dengarkan."

Kalimat sederhana seperti ini dapat membuat seseorang merasa lebih aman.

Karena ketika seseorang sedang berada di titik yang sulit, ia tidak selalu membutuhkan seseorang yang langsung memperbaiki hidupnya.

Kadang ia hanya membutuhkan seseorang yang bersedia duduk di sampingnya tanpa menghakimi.

Jangan Menunggu Sampai Anak Meminta Tolong

Ada anggapan bahwa jika anak membutuhkan bantuan, ia pasti akan mengatakannya.

Sayangnya, tidak selalu demikian.

Orang yang sedang mengalami tekanan berat justru bisa semakin sulit meminta pertolongan.

Karena itu, perhatian orang tua tidak harus berbentuk interogasi.

Tidak perlu setiap hari bertanya:

"Ada masalah apa?"

Cukup hadir secara konsisten.

Kirim pesan sederhana.

Tawarkan makan bersama.

Ajak berjalan.

Tanyakan kabarnya tanpa memaksa.

Dan yang paling penting, pastikan ia tahu bahwa hubungan kalian tidak bergantung pada keberhasilan yang ia capai.

Anak dewasa perlu tahu bahwa ia tetap diterima meskipun kariernya belum sesuai harapan.

Tetap disayangi meskipun hidupnya belum tertata.

Tetap memiliki rumah emosional untuk kembali meskipun ia sedang gagal.

Sebab salah satu hal yang paling menenangkan bagi manusia adalah mengetahui:

“Aku tidak harus menjadi sempurna agar tetap dicintai.”

Pada Akhirnya, Perhatikan Perubahannya, Bukan Hanya Perilakunya

Tidak ada satu perilaku yang dapat digunakan untuk memastikan seseorang sedang mengalami masalah psikologis.

Anak yang pendiam belum tentu sedang depresi.

Anak yang sibuk belum tentu sedang melarikan diri.

Anak yang mandiri belum tentu sedang menyembunyikan masalah.

Anak yang mudah marah belum tentu sedang mengalami gangguan emosional.

Namun ketika beberapa perubahan muncul bersamaan, berlangsung cukup lama, dan mulai mengganggu kehidupan sehari-harinya, hal tersebut patut diperhatikan.

Terutama jika kamu melihat perubahan besar dalam:

pola tidur,
nafsu makan,
energi,
hubungan sosial,
pekerjaan atau pendidikan,
minat terhadap aktivitas yang dulu disukai,
kemampuan menjalankan rutinitas,
atau cara ia berbicara tentang dirinya dan masa depan.

Dan jika kesulitan tersebut tampak semakin berat, jangan takut menyarankan bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater.

Mencari bantuan bukan berarti anakmu lemah.

Dan bukan berarti orang tua gagal mendidiknya.

Kadang-kadang, mendapatkan bantuan adalah bentuk keberanian.

Penutup: Anak yang Terlihat Kuat Pun Bisa Sedang Berjuang

Mungkin selama ini kamu melihat anakmu sebagai orang dewasa yang sudah mampu mengurus hidupnya sendiri.

Kamu melihat ia bekerja.

Membayar tagihan.

Mengambil keputusan.

Pergi dan pulang sendiri.

Mungkin kamu berpikir:

"Dia sudah dewasa. Dia pasti bisa menghadapinya."

Tetapi ada satu hal yang perlu diingat.

Menjadi dewasa tidak membuat seseorang kebal terhadap rasa takut, kesepian, kehilangan, kegagalan, kecemasan, atau kelelahan emosional.

Anakmu mungkin sudah dewasa.

Tetapi di dalam dirinya tetap ada seseorang yang ingin tahu bahwa ketika hidup menjadi terlalu berat, masih ada tempat untuk pulang.

Jadi, jika suatu hari ia menjadi lebih pendiam, jangan buru-buru mengatakan bahwa ia berubah.

Jika ia jarang bercerita, jangan langsung menganggap ia menjauh.

Jika ia mengatakan dirinya baik-baik saja, jangan selalu memaksanya untuk mengaku bahwa ada masalah.

Cukup katakan:

“Kalau suatu hari kamu merasa semuanya terlalu berat, kamu nggak harus menghadapinya sendirian. Kamu boleh cerita. Kami ada di sini.”

Mungkin kalimat itu tidak langsung menyelesaikan masalahnya.

Tetapi bisa menjadi pengingat bahwa ia masih memiliki seseorang yang bersedia mendengarkan.

Dan terkadang, bagi seseorang yang sedang berjuang dalam diam, mengetahui bahwa dirinya tidak sendirian sudah menjadi awal yang sangat berarti.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore