Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 September 2026 | 04.30 WIB

6 Alasan Mengapa Orang yang Menyukai Makanan Manis Mungkin Juga Memiliki Kepribadian yang Manis

seseorang yang menyukai makanan manis./Magnific/benzoix - Image

seseorang yang menyukai makanan manis./Magnific/benzoix

JawaPos.com - Pernahkah Anda memperhatikan bahwa seseorang yang sangat menyukai cokelat, kue, es krim, permen, atau minuman manis sering kali dianggap sebagai pribadi yang menyenangkan dan hangat?

Menariknya, anggapan tersebut ternyata bukan sekadar permainan kata. Dalam psikologi, pernah ada penelitian yang mencoba melihat apakah preferensi terhadap rasa tertentu berkaitan dengan karakter atau perilaku seseorang. Salah satu penelitian yang cukup terkenal menemukan adanya hubungan antara kesukaan terhadap makanan manis dan beberapa kecenderungan prososial seperti agreeableness, niat membantu, serta perilaku sosial tertentu.

Namun, ceritanya tidak sesederhana "suka manis berarti orangnya baik". Penelitian lanjutan dengan sampel yang lebih besar tidak menemukan hubungan yang kuat antara kesukaan terhadap makanan manis dan kepribadian prososial. Bahkan, tinjauan sistematis terbaru menyebutkan bahwa hubungan antara preferensi rasa dan kepribadian memang menarik, tetapi penelitian yang ada masih memiliki keterbatasan seperti ukuran sampel kecil dan perbedaan metode pengukuran.

Jadi, bagaimana kita bisa memahami hubungan tersebut?

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (22/9), terdapat enam kemungkinan menarik dari sudut pandang psikologi.

1. Rasa manis sering diasosiasikan dengan sifat yang hangat dan menyenangkan

Alasan pertama berkaitan dengan cara manusia menggunakan bahasa dan metafora.

Kita mengenal ungkapan seperti "orang yang manis", "senyum yang manis", atau "dia sangat sweet". Dalam kehidupan sehari-hari, kata "manis" tidak hanya menggambarkan rasa makanan, tetapi juga digunakan untuk menggambarkan seseorang yang baik hati, perhatian, menyenangkan, atau penuh kasih.

Penelitian psikologi tentang rasa manis dan kepribadian pernah berangkat dari gagasan tersebut. Meier dan rekan-rekannya menemukan bahwa orang cenderung menilai seseorang yang menyukai makanan manis sebagai lebih agreeable, yaitu lebih mudah disukai, kooperatif, dan memiliki kecenderungan interpersonal yang positif.

Dengan kata lain, ada kemungkinan otak manusia membangun hubungan konseptual antara pengalaman "manis" dan karakteristik sosial yang positif.

Editor: Hanny Suwindari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore