Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 25 September 2026 | 22.09 WIB

Orang yang Gemar Membuat Drama dari Hal Sepele Sering Menunjukkan 8 Kebiasaan Ini

seseorang yang mengubah hal sederhana menjadi drama. (Freepik/freepik) - Image

seseorang yang mengubah hal sederhana menjadi drama. (Freepik/freepik)

JawaPos.com - Dalam interaksi sehari-hari, kita mungkin pernah berhadapan dengan seseorang yang mampu membuat kejadian biasa terasa seperti persoalan yang sangat besar. Hal kecil yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan mudah terkadang berkembang menjadi cerita panjang yang dipenuhi emosi.

Respons yang berlebihan terhadap situasi sederhana dapat terlihat dari cara seseorang berbicara, menafsirkan tindakan orang lain, hingga bagaimana mereka mencari perhatian setelah mengalami sebuah kejadian.

Dilansir dari Geediting, dari perspektif psikologi, kecenderungan tersebut dapat berkaitan dengan pola perilaku tertentu yang muncul berulang dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut delapan perilaku yang kerap terlihat pada orang yang cenderung menjadikan persoalan kecil sebagai drama besar.

1. Menunjukkan Emosi Secara Berlebihan

Salah satu cirinya adalah cara mengekspresikan perasaan yang jauh lebih kuat dibandingkan situasi yang sedang dihadapi. Rasa kecewa ringan, misalnya, dapat ditunjukkan melalui tangisan berkepanjangan atau kemarahan yang intens.

Dalam psikologi, hal tersebut dapat dikaitkan dengan high affect intensity, yaitu kecenderungan seseorang mengalami atau mengekspresikan emosi dengan intensitas yang tinggi.

2. Membutuhkan Perhatian dari Orang Sekitar

Sebagian orang cenderung merasa tidak nyaman ketika perhatian lingkungan beralih dari dirinya. Cerita yang penuh konflik atau emosi kemudian dapat menjadi salah satu cara untuk mendapatkan respons dari orang lain.

Perilaku semacam ini dikenal sebagai attention-seeking behavior, yang antara lain dapat berkaitan dengan kebutuhan seseorang untuk memperoleh perhatian maupun validasi.

3. Sering Menggunakan Ungkapan yang Terlalu Dramatis

Cara seseorang memilih kata juga dapat memperbesar kesan sebuah masalah. Alih-alih mengatakan sedang kecewa, mereka mungkin menggambarkan situasi dengan istilah seperti “semuanya berantakan” atau “ini adalah hal terburuk yang pernah terjadi”.

Pilihan kata yang ekstrem dapat membuat persoalan yang sebenarnya sederhana terdengar jauh lebih serius daripada kondisi sebenarnya.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore