seseorang yang menjadi dirinya sendiri saat bersama pasangan./Magnific/The Yuri Arcurs Collection
JawaPos.com - Ada hubungan yang membuat kita merasa harus terus berhati-hati.
Salah bicara sedikit, takut pasangan tersinggung. Menunjukkan kelemahan, takut dianggap tidak menarik. Mengungkapkan pendapat yang berbeda, khawatir hubungan menjadi renggang. Bahkan untuk menjadi diri sendiri pun rasanya seperti membutuhkan izin.
Namun ada juga hubungan yang terasa berbeda.
Kamu tidak harus selalu terlihat kuat. Kamu bisa tertawa dengan cara yang paling natural, membicarakan hal-hal yang kamu sukai, mengakui ketika sedang tidak baik-baik saja, bahkan mengatakan, “Aku tidak setuju denganmu,” tanpa merasa bahwa hubungan tersebut akan langsung runtuh.
Dalam psikologi hubungan, rasa aman untuk menjadi diri sendiri berkaitan dengan beberapa hal penting, seperti psychological safety, penerimaan, kepercayaan, keaslian diri (authenticity), serta kemampuan pasangan untuk merespons kebutuhan emosional satu sama lain.
Menemukan pasangan seperti ini bukan semata-mata soal keberuntungan.
Ada hal-hal yang bisa kamu perhatikan sejak awal ketika mengenal seseorang.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (26/9), terdapat 7 cara yang bisa membantu kamu menemukan pasangan yang membuatmu tetap bisa menjadi dirimu sendiri.
1. Perhatikan Apakah Kamu Bisa Mengatakan “Tidak” Tanpa Takut Kehilangan Dia
Salah satu cara sederhana untuk mengetahui kualitas sebuah hubungan adalah melihat bagaimana seseorang merespons batasanmu.
Cobalah perhatikan hal-hal kecil.
Ketika kamu mengatakan:
“Aku belum mau.”
“Aku kurang nyaman dengan itu.”
“Hari ini aku ingin sendiri dulu.”
“Aku punya pendapat yang berbeda.”
Apa yang terjadi?
Pasangan yang sehat tidak harus selalu menyukai jawabanmu. Dia boleh kecewa, berbeda pendapat, atau membutuhkan waktu untuk memahami keputusanmu.
Namun ada perbedaan besar antara kecewa dan menghukum kamu karena memiliki batasan.
Dalam hubungan yang sehat, batasan bukan dianggap sebagai ancaman.
Sebaliknya, batasan membantu dua orang memahami bagaimana mereka bisa berhubungan dengan cara yang tetap menghormati kebutuhan masing-masing.
Karena itu, jangan hanya melihat bagaimana seseorang memperlakukanmu ketika semuanya berjalan sesuai keinginannya.
Perhatikan bagaimana dia memperlakukanmu ketika kamu berkata “tidak.”
Jika kamu selalu merasa harus mengatakan “iya” agar hubungan tetap aman, mungkin masalahnya bukan karena kamu terlalu sulit mencintai seseorang.
Bisa jadi kamu belum berada dalam hubungan yang memberikan ruang cukup untuk menjadi dirimu sendiri.
2. Jangan Hanya Melihat Bagaimana Dia Memperlakukanmu Saat Jatuh Cinta
Ketika seseorang baru mengenal kita, banyak hal terlihat indah.
Pesan dibalas cepat.
Perhatian terasa intens.
Kamu dipuji.
Dia ingin selalu bertemu.
Semua terasa seperti bukti bahwa akhirnya kamu menemukan orang yang tepat.
Tetapi fase awal hubungan belum tentu menunjukkan bagaimana seseorang menghadapi perbedaan, konflik, kekecewaan, atau rutinitas.
Karena itu, jangan hanya mengamati bagaimana seseorang memperlakukanmu ketika dia sedang senang kepadamu.
Amati juga ketika dia kecewa kepadamu.
Misalnya ketika kamu membatalkan rencana.
Ketika pendapatmu berbeda.
Ketika kamu tidak bisa memenuhi ekspektasinya.
Ketika kamu membutuhkan waktu sendiri.
Atau ketika kamu melakukan kesalahan.
Di situlah karakter dalam hubungan mulai terlihat lebih jelas.
Seseorang yang membuatmu bisa menjadi diri sendiri biasanya tidak mengharuskanmu menjadi manusia sempurna agar tetap layak dicintai.
Dia bisa mengatakan:
“Aku tidak suka dengan apa yang terjadi, tetapi kita bisa membicarakannya.”
Bukan:
“Kalau kamu benar-benar sayang, kamu pasti melakukan apa yang aku mau.”
Perbedaannya mungkin terlihat sederhana.
Namun dalam jangka panjang, cara menghadapi kekecewaan sangat menentukan apakah sebuah hubungan terasa aman atau justru membuat seseorang terus berjalan di atas kulit telur.
3. Cari Seseorang yang Membuatmu Tidak Perlu Terus-Menerus Membuktikan Nilai Dirimu
Ada hubungan yang secara tidak sadar membuat seseorang terus melakukan pembuktian.
Harus selalu terlihat menarik.
Harus selalu menyenangkan.
Harus selalu tersedia.
Harus selalu sukses.
Harus selalu memberikan perhatian.
Harus selalu menjadi versi terbaik dari dirinya.
Awalnya mungkin terasa seperti motivasi.
Tetapi jika berlangsung terus-menerus, hubungan bisa berubah menjadi sebuah panggung tempat kamu merasa harus mendapatkan kembali cinta setiap hari.
Psikologi membedakan antara menjadi diri sendiri dan mencari validasi terus-menerus dari pasangan.
Pasangan yang sehat tentu boleh memberikan apresiasi.
Tetapi rasa berharga dalam dirimu sebaiknya tidak sepenuhnya bergantung pada apakah pasangan sedang memuji atau memperhatikanmu.
Coba tanyakan kepada dirimu:
“Ketika bersama orang ini, apakah aku merasa diterima, atau aku merasa sedang mengikuti ujian?”
Pertanyaan tersebut sangat penting.
Sebab hubungan yang sehat seharusnya memberi ruang bagi manusia untuk memiliki hari buruk.
Kamu boleh lelah.
Boleh tidak produktif.
Boleh tidak selalu lucu.
Boleh memiliki kekurangan.
Boleh melakukan kesalahan dan belajar memperbaikinya.
Pasangan yang tepat bukan seseorang yang selalu mengatakan bahwa kamu sempurna.
Justru orang yang sehat secara emosional biasanya mampu melihat kekuranganmu tanpa menjadikannya senjata untuk merendahkanmu.
4. Perhatikan Apakah Kamu Bisa Membicarakan Hal yang Tidak Nyaman
Banyak orang mengira hubungan yang sehat adalah hubungan yang jarang bertengkar.
Padahal konflik dalam hubungan adalah hal yang normal.
Dua orang bisa saling mencintai dan tetap memiliki kebutuhan, perspektif, kebiasaan, serta batasan yang berbeda.
Yang lebih penting bukan apakah konflik terjadi.
Melainkan bagaimana konflik tersebut dikelola.
Ketika ada masalah, apakah kamu bisa mengatakan:
“Aku merasa terluka ketika kamu melakukan itu.”
tanpa langsung ditertawakan?
Apakah pasangan bersedia mendengarkan?
Apakah kalian bisa mencari solusi?
Apakah kesalahan bisa diakui?
Apakah permintaan maaf diikuti perubahan perilaku?
Atau setiap percakapan sulit selalu berakhir dengan ancaman putus, silent treatment, penghinaan, manipulasi, atau saling menyalahkan?
Hubungan yang membuatmu menjadi diri sendiri membutuhkan ruang untuk kejujuran.
Dan kejujuran membutuhkan rasa aman.
Kamu tidak mungkin menjadi dirimu sendiri jika setiap kejujuran memiliki konsekuensi berupa hukuman emosional.
Karena itu, saat mencari pasangan, jangan hanya bertanya:
“Apakah kami cocok ketika bahagia?”
Tambahkan pertanyaan:
“Apakah kami bisa menyelesaikan ketidaknyamanan tanpa kehilangan rasa hormat?”
Jawaban atas pertanyaan kedua sering kali jauh lebih informatif.
5. Jangan Abaikan Perasaanmu Setelah Menghabiskan Waktu Bersamanya
Ini salah satu cara yang sering terlupakan.
Kita biasanya terlalu sibuk menilai:
“Dia menarik tidak?”
“Dia sukses tidak?”
“Dia punya pekerjaan bagus tidak?”
“Dia cocok dengan keluargaku tidak?”
“Dia romantis tidak?”
Padahal ada pertanyaan lain yang sangat penting:
“Aku menjadi seperti apa ketika bersamanya?”
Perhatikan dirimu setelah bertemu dengannya.
Apakah kamu merasa lebih tenang?
Lebih bebas?
Lebih percaya diri?
Lebih mudah berbicara?
Atau justru kamu terus memikirkan:
“Apakah tadi aku salah bicara?”
“Apakah dia marah?”
“Apakah aku terlihat cukup menarik?”
“Kenapa dia berubah?”
“Apakah aku harus meminta maaf?”
Satu pengalaman tentu tidak cukup untuk membuat kesimpulan tentang sebuah hubungan.
Tetapi pola yang berulang layak diperhatikan.
Hubungan yang sehat tidak berarti kamu akan selalu merasa bahagia.
Namun secara umum, hubungan yang aman memberi ruang bagi seseorang untuk merasa dihargai, didengar, dan tetap memiliki identitas pribadi.
Kamu tidak kehilangan dirimu hanya karena sedang mencintai seseorang.
6. Pilih Pasangan yang Menghargai Kehidupanmu di Luar Hubungan
Cinta bukan berarti dua orang harus melakukan segala sesuatu bersama.
Justru hubungan yang sehat biasanya tetap memberikan ruang bagi masing-masing orang untuk memiliki kehidupan pribadi.
Teman.
Keluarga.
Pekerjaan.
Hobi.
Waktu sendiri.
Tujuan hidup.
Dan ruang untuk berkembang.
Seseorang yang mencintaimu tidak harus menyukai semua hobimu.
Dia juga tidak harus ikut dalam semua kegiatanmu.
Namun ada perbedaan antara:
“Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu.”
dan
“Kamu tidak boleh memiliki kehidupan tanpa aku.”
Yang pertama bisa menjadi bentuk kedekatan.
Yang kedua bisa menjadi tanda bahwa batas pribadi sedang bermasalah.
Kamu tidak perlu menghilangkan identitasmu agar hubungan tetap bertahan.
Kamu tidak perlu berhenti bertemu teman hanya karena sudah memiliki pasangan.
Tidak harus meninggalkan hobi.
Tidak harus mengubah seluruh kepribadian.
Dan tidak harus membuat seluruh kebahagiaanmu bergantung pada satu orang.
Hubungan yang baik seharusnya memungkinkan dua orang bertumbuh tanpa merasa bahwa pertumbuhan salah satunya merupakan ancaman bagi hubungan.
7. Jadilah Dirimu Sendiri Sejak Awal, Bukan Setelah Hubungan Terasa Aman
Ini mungkin terdengar paradoks.
Kamu ingin menemukan seseorang yang menerima dirimu apa adanya.
Tetapi untuk mengetahui apakah seseorang benar-benar menerima dirimu, kamu juga harus berani memperlihatkan siapa dirimu.
Bukan berarti kamu harus menceritakan seluruh kehidupan pribadi pada kencan pertama.
Bukan berarti semua rahasia harus langsung dibuka.
Tetapi jangan membangun hubungan dengan versi dirimu yang sebenarnya tidak bisa kamu pertahankan.
Jika kamu sebenarnya pendiam, jangan terus berpura-pura menjadi orang yang sangat ekstrover hanya karena takut dia tidak tertarik.
Jika kamu memiliki batasan tertentu, komunikasikan.
Jika kamu memiliki tujuan hidup yang penting, jangan menyembunyikannya hanya supaya terlihat lebih cocok.
Jika kamu membutuhkan waktu sendiri, jangan berpura-pura selalu ingin bersama.
Sebab ada masalah yang sering terjadi dalam hubungan:
Seseorang jatuh cinta kepada versi diri kita yang kita ciptakan untuk mendapatkan cintanya.
Kemudian, ketika hubungan sudah berjalan lama, kita mulai kembali menjadi diri sendiri.
Pasangan merasa:
“Kamu berubah.”
Padahal mungkin kamu tidak berubah.
Kamu hanya berhenti berpura-pura.
Karena itu, salah satu cara terbaik untuk menemukan pasangan yang cocok adalah berani hadir sebagai dirimu sendiri secara bertahap dan jujur.
Dengan begitu, orang yang tertarik kepadamu memiliki kesempatan untuk mengenal dirimu yang sebenarnya.
Pada Akhirnya, Pasangan yang Tepat Bukan yang Membuatmu Tidak Pernah Berubah
Ada kesalahpahaman tentang konsep “menjadi diri sendiri” dalam hubungan.
Menjadi diri sendiri bukan berarti:
“Aku begini, kamu harus menerimaku apa adanya.”
Hubungan tetap membutuhkan kompromi.
Kita semua memiliki kebiasaan yang perlu diperbaiki.
Ada perilaku yang mungkin menyakiti pasangan.
Ada cara berkomunikasi yang perlu dipelajari.
Ada ego yang harus diturunkan.
Ada kedewasaan yang harus dibangun.
Jadi, pasangan yang sehat bukan seseorang yang membuatmu merasa bahwa kamu tidak perlu berkembang.
Justru hubungan yang sehat dapat membuat dua orang bertumbuh tanpa kehilangan identitasnya.
Kamu bisa berubah menjadi lebih dewasa tanpa kehilangan nilai-nilai penting dalam dirimu.
Kamu bisa belajar meminta maaf tanpa merasa direndahkan.
Kamu bisa menerima kritik tanpa merasa seluruh dirimu ditolak.
Kamu bisa mencintai seseorang tanpa kehilangan kehidupanmu sendiri.
Dan kamu bisa berbeda pendapat tanpa harus mempertanyakan apakah kamu masih dicintai.
Itulah salah satu bentuk hubungan yang matang.
Jangan Hanya Mencari Orang yang Membuatmu Jatuh Cinta
Ketika mencari pasangan, kita sering bertanya:
“Apakah aku menyukainya?”
Pertanyaan itu penting.
Tetapi mungkin ada beberapa pertanyaan lain yang sama pentingnya:
“Apakah aku bisa menjadi diriku sendiri di dekatnya?”
“Apakah aku bisa mengatakan tidak?”
“Apakah pendapatku dihargai?”
“Apakah aku bisa mengakui kesalahan tanpa takut dipermalukan?”
“Apakah aku tetap memiliki kehidupan di luar hubungan ini?”
“Apakah kami bisa membicarakan masalah tanpa saling menghancurkan?”
Dan yang paling penting:
“Apakah hubungan ini membuat kami berdua memiliki ruang untuk menjadi manusia, bukan sekadar menjadi pasangan yang memenuhi ekspektasi satu sama lain?”
Karena pada akhirnya, cinta yang sehat bukan hanya tentang menemukan seseorang yang membuat jantungmu berdebar.
Tetapi juga menemukan seseorang yang membuatmu tidak perlu terus-menerus menyembunyikan bagian dari dirimu agar tetap dicintai.
Kamu tetap boleh menjadi kuat.
Tetap boleh menjadi lembut.
Tetap boleh punya mimpi sendiri.
Tetap boleh punya teman.
Tetap boleh membutuhkan ruang.
Tetap boleh mengatakan tidak.
Tetap boleh berbeda.
Dan tetap boleh menjadi dirimu sendiri.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Skor Lithuania vs Andorra, Laga Persahabatan: Tuan Rumah Berpeluang Menang
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Skor Azerbaijan vs Liechtenstein di Liga Nations UEFA: Milli Menang Tipis Kejar Promosi
Prediksi Skor Wales vs Norwegia di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022