seseorang yang mengetahui sedang dibohongi./Magnific/azerbaijan_stockers
JawaPos.com - Pernahkah Anda berbicara dengan seseorang dan tiba-tiba muncul perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan ceritanya?
Secara logika, mungkin tidak ada kesalahan yang jelas. Jawabannya terdengar masuk akal, ekspresinya terlihat biasa saja, bahkan tidak ada bukti konkret bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu. Namun, entah mengapa, Anda merasa ada bagian dari cerita tersebut yang tidak sesuai.
Menariknya, sebagian orang memang tampak lebih cepat menyadari ketika seseorang tidak mengatakan seluruh kebenaran. Mereka mungkin tidak bisa langsung menjelaskan apa yang salah, tetapi mereka merasakan adanya ketidaksesuaian dalam percakapan.
Dalam psikologi, kemampuan seperti ini tidak selalu berarti seseorang memiliki "indra keenam" atau kemampuan membaca pikiran. Sering kali, ada proses kognitif dan sosial yang jauh lebih sederhana di baliknya. Otak manusia terus-menerus mengamati pola, membandingkan informasi baru dengan pengalaman sebelumnya, membaca konteks sosial, dan mencari ketidaksesuaian.
Namun, penting untuk memahami satu hal: tidak ada satu tanda perilaku yang dapat membuktikan seseorang sedang berbohong. Kontak mata yang berkurang, kegelisahan, perubahan nada suara, atau bahasa tubuh tertentu juga dapat muncul karena gugup, malu, takut, lelah, atau berbagai alasan lain.
Jadi, mengapa sebagian orang merasa lebih cepat menyadari bahwa dirinya sedang dibohongi?
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (26/9), terdapat tujuh penjelasan psikologis yang dapat membantu memahaminya.
1. Mereka Lebih Peka terhadap Perubahan Pola Perilaku
Salah satu alasan seseorang dapat menyadari adanya kebohongan adalah karena ia mengenal perilaku normal orang yang sedang berbicara dengannya.
Misalnya, Anda sudah bertahun-tahun mengenal seorang teman. Biasanya ia berbicara dengan cepat, spontan, dan sering memberikan detail kecil ketika menceritakan sesuatu. Namun kali ini, jawabannya jauh lebih pendek. Ia berhenti beberapa kali sebelum menjawab dan memilih kata-kata yang terasa tidak seperti biasanya.
Perubahan tersebut belum tentu berarti ia berbohong.
Namun, perubahan dari pola normal dapat menjadi informasi yang diperhatikan oleh otak.
Psikologi sosial menunjukkan bahwa manusia secara alami menggunakan "baseline" atau pola dasar perilaku seseorang untuk memahami interaksi. Kita tidak menilai setiap gerakan tubuh secara terpisah. Sebaliknya, kita membandingkan perilaku saat ini dengan apa yang biasanya kita lihat dari orang tersebut.
Inilah sebabnya seseorang yang sudah lama mengenal kita terkadang dapat mengatakan:
"Kamu sebenarnya sedang menyembunyikan sesuatu, kan?"
Padahal mereka mungkin tidak mempunyai bukti konkret.
Mereka mungkin hanya menangkap adanya perubahan kecil dalam cara kita berbicara, menjawab pertanyaan, atau merespons situasi.
Tetapi perubahan perilaku bukan otomatis kebohongan
Ini bagian yang sangat penting.
Seseorang yang biasanya ceria bisa menjadi pendiam karena sedang lelah. Orang yang biasanya santai bisa menjadi gugup karena menghadapi masalah lain. Bahkan perubahan gaya komunikasi dapat terjadi karena suasana hati atau kondisi fisik.
Karena itu, perubahan dari perilaku normal lebih tepat dianggap sebagai petunjuk untuk memperhatikan lebih lanjut, bukan sebagai bukti bahwa seseorang berbohong.
2. Otak Mereka Cepat Menangkap Ketidaksesuaian Informasi
Alasan kedua berkaitan dengan cara otak memproses informasi.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita terus-menerus membangun gambaran tentang apa yang terjadi. Ketika seseorang memberikan informasi baru, otak secara otomatis membandingkannya dengan informasi yang sudah dimiliki.
Misalnya, seseorang mengatakan:
"Semalam saya berada di rumah sepanjang malam."
Beberapa hari kemudian, ia mengatakan:
"Setelah makan malam, saya sempat keluar sebentar."
Dua pernyataan tersebut mungkin sebenarnya masih dapat dijelaskan. Namun, otak bisa menangkap adanya perbedaan dan memunculkan rasa bahwa cerita tersebut tidak konsisten.
Orang yang memiliki perhatian tinggi terhadap detail mungkin lebih cepat menyadari hal semacam ini.
Mereka tidak harus mengetahui kebohongannya secara langsung. Yang mereka sadari pertama-tama adalah:
"Ada sesuatu yang tidak cocok dengan informasi sebelumnya."
Ini merupakan perbedaan penting.
Mengetahui adanya inkonsistensi tidak sama dengan mengetahui bahwa seseorang berbohong. Seseorang dapat memberikan cerita yang berbeda karena lupa, salah mengingat, salah menyampaikan informasi, atau memang memiliki alasan lain.
Tetapi semakin banyak ketidaksesuaian yang muncul, semakin besar alasan bagi seseorang untuk mempertanyakan cerita tersebut.
Mengapa sebagian orang lebih cepat menyadarinya?
Kemungkinan karena mereka terbiasa memperhatikan detail.
Ada orang yang secara alami memperhatikan urutan kejadian, pilihan kata, waktu, dan hubungan antara satu informasi dengan informasi lainnya. Ada pula yang lebih berorientasi pada gambaran besar dan tidak terlalu memperhatikan detail kecil.
Perbedaan gaya perhatian ini dapat membuat dua orang mendengar cerita yang sama tetapi menangkap hal yang berbeda.
3. Pengalaman Masa Lalu Membentuk "Radar" Sosial
Pengalaman hidup juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang membaca situasi sosial.
Seseorang yang pernah mengalami banyak interaksi sulit, misalnya bekerja dalam lingkungan yang penuh konflik, sering menghadapi komunikasi yang ambigu, atau terbiasa berhadapan dengan orang-orang yang memiliki gaya komunikasi berbeda, dapat menjadi lebih sensitif terhadap perubahan tertentu.
Otak belajar dari pengalaman.
Jika sebelumnya seseorang pernah menemukan bahwa pola tertentu sering diikuti oleh informasi yang tidak akurat, otaknya dapat menjadi lebih waspada ketika pola tersebut muncul kembali.
Proses ini sering berlangsung tanpa kesadaran penuh.
Seseorang mungkin tidak berpikir:
"Perubahan intonasi suara sebesar sekian persen berarti dia berbohong."
Yang terjadi justru lebih sederhana:
"Ada sesuatu yang terasa berbeda."
Perasaan tersebut kemudian dapat mendorongnya untuk bertanya lebih lanjut.
Pengalaman dapat membantu, tetapi juga dapat menyesatkan
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Pengalaman masa lalu tidak selalu membuat seseorang lebih akurat. Kadang-kadang pengalaman buruk justru membuat seseorang terlalu waspada.
Contohnya, seseorang pernah dikhianati oleh pasangannya. Setelah itu, setiap perubahan kecil dalam perilaku pasangan berikutnya bisa dianggap sebagai tanda bahwa sesuatu sedang disembunyikan.
Padahal belum tentu demikian.
Dengan kata lain, pengalaman dapat membentuk kepekaan, tetapi juga dapat menciptakan bias.
Karena itu, "feeling" sebaiknya menjadi alasan untuk mencari informasi tambahan, bukan langsung menjadi kesimpulan.
4. Mereka Memiliki Kemampuan Mengamati Konteks Sosial dengan Baik
Sebagian orang memiliki kepekaan sosial yang tinggi.
Mereka tidak hanya mendengarkan apa yang dikatakan seseorang, tetapi juga memperhatikan konteks di mana sesuatu dikatakan.
Misalnya:
Mengapa orang tersebut tiba-tiba menjelaskan sesuatu yang sebenarnya tidak ditanyakan?
Mengapa jawabannya terlalu panjang untuk pertanyaan sederhana?
Mengapa ia menghindari bagian tertentu dari cerita?
Mengapa penjelasan berubah ketika orang lain masuk ke dalam percakapan?
Apakah perilakunya sesuai dengan situasi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat seseorang tidak hanya menganalisis kata-kata, tetapi keseluruhan interaksi.
Dalam komunikasi manusia, makna tidak hanya berasal dari kalimat. Konteks, hubungan antarorang, situasi, dan tujuan komunikasi juga berperan.
Orang yang terbiasa memperhatikan konteks dapat lebih cepat menyadari ketika sebuah cerita terasa tidak sesuai dengan situasi.
Namun sekali lagi, hal tersebut tidak otomatis membuktikan kebohongan.
Seseorang bisa memberikan penjelasan yang terlalu panjang karena gugup. Orang lain bisa menghindari pertanyaan tertentu karena merasa tidak nyaman. Ada banyak kemungkinan selain berbohong.
5. Mereka Lebih Mampu Menahan Diri untuk Tidak Langsung Percaya atau Menuduh
Ini mungkin terdengar paradoks.
Orang yang pandai mengetahui adanya kemungkinan kebohongan justru belum tentu orang yang cepat menuduh.
Mengapa?
Karena mereka memahami bahwa kecurigaan dan kepastian adalah dua hal berbeda.
Misalnya seseorang mendengar cerita yang terasa janggal. Alih-alih langsung berkata:
"Kamu bohong!"
Ia mungkin bertanya:
"Kalau begitu, kejadian itu berlangsung jam berapa?"
Kemudian:
"Setelah itu kamu pergi ke mana?"
Lalu:
"Siapa saja yang ada di sana?"
Dengan cara tersebut, ia memperoleh informasi tambahan sebelum menarik kesimpulan.
Kemampuan untuk menunda kesimpulan sangat penting karena manusia memiliki kecenderungan untuk mencari informasi yang mendukung dugaan awalnya.
Jika seseorang sudah yakin bahwa orang lain berbohong, setiap perilaku dapat terlihat seperti bukti kebohongan.
Orang tersebut gugup?
"Berarti dia bohong."
Orang tersebut terlalu santai?
"Berarti dia sedang berpura-pura."
Orang tersebut menghindari kontak mata?
"Jelas bohong."
Padahal ketiga hal tersebut dapat memiliki banyak penjelasan lain.
Karena itu, kemampuan membaca kebohongan yang lebih sehat bukanlah kemampuan menemukan satu "tanda kebohongan", melainkan kemampuan mengumpulkan informasi, mempertimbangkan konteks, dan menunda penilaian sampai bukti cukup.
6. Mereka Memperhatikan Ketidaksesuaian antara Kata-Kata dan Perilaku
Manusia tidak hanya berkomunikasi melalui kata-kata.
Kita juga menggunakan ekspresi wajah, gerakan tubuh, nada suara, jeda, dan berbagai bentuk komunikasi nonverbal lainnya.
Karena itu, terkadang seseorang merasa ada yang aneh ketika pesan verbal dan perilaku tidak sepenuhnya selaras.
Misalnya seseorang mengatakan:
"Saya benar-benar santai dengan masalah ini."
Namun, sepanjang percakapan ia terus-menerus terlihat tegang.
Apakah itu berarti ia berbohong?
Belum tentu.
Bisa saja ia memang berusaha terlihat santai meskipun sebenarnya sedang cemas. Bisa juga ia mengatakan bahwa dirinya santai dalam arti "tidak marah", sementara tubuhnya menunjukkan ketegangan karena situasi tersebut membuatnya tidak nyaman.
Jadi, ketidaksesuaian antara kata-kata dan perilaku sebaiknya dipahami sebagai informasi yang membutuhkan konteks tambahan, bukan sebagai alat pendeteksi kebohongan otomatis.
Mengapa sebagian orang lebih cepat melihatnya?
Kemungkinan karena mereka terbiasa memperhatikan beberapa saluran komunikasi sekaligus.
Ketika seseorang berbicara, mereka tidak hanya mendengar kata-katanya. Mereka juga memperhatikan bagaimana kata-kata tersebut disampaikan dan apakah semuanya terasa konsisten.
Namun, penelitian tentang deteksi kebohongan menunjukkan bahwa manusia secara umum tidak memiliki kemampuan sempurna untuk mendeteksi kebohongan hanya dari bahasa tubuh. Bahkan orang yang merasa sangat yakin belum tentu selalu benar.
Artinya, kepercayaan diri dalam membaca seseorang tidak sama dengan akurasi.
7. Mereka Menggunakan Intuisi sebagai Hasil Pemrosesan Informasi yang Sangat Cepat
Ada kalanya seseorang tidak dapat menjelaskan secara spesifik apa yang membuatnya curiga.
Ia hanya berkata:
"Entah kenapa, saya merasa ada yang tidak beres."
Dalam psikologi kognitif, pengalaman seperti ini dapat dipahami sebagai hasil dari pemrosesan informasi yang berlangsung cepat dan sebagian tidak disadari.
Otak menerima banyak sekali informasi dari lingkungan:
pilihan kata,
perubahan suara,
ekspresi wajah,
konteks,
informasi sebelumnya,
pola perilaku,
hubungan sosial,
dan berbagai detail kecil lainnya.
Tidak semua informasi tersebut masuk ke kesadaran secara jelas.
Namun, otak tetap dapat memprosesnya.
Hasil akhirnya mungkin muncul sebagai sebuah sensasi sederhana:
"Ada sesuatu yang berbeda."
Inilah yang sering disebut sebagai intuisi.
Intuisi tidak selalu salah. Tetapi intuisi juga tidak selalu benar.
Keakuratan intuisi sangat bergantung pada pengalaman, kualitas informasi, konteks, serta kemungkinan adanya bias.
Karena itu, pendekatan yang paling aman adalah menganggap intuisi sebagai sinyal untuk memeriksa, bukan sebagai vonis.
Jadi, Apakah Orang yang Peka terhadap Kebohongan Berarti Memiliki Kemampuan Khusus?
Tidak selalu.
Apa yang terlihat seperti "kemampuan membaca kebohongan" sering kali merupakan kombinasi dari beberapa kemampuan:
pengamatan + ingatan + pengalaman + pemahaman konteks + pengenalan pola + intuisi.
Seseorang mungkin terlihat sangat pandai mengetahui ketika orang lain berbohong karena ia memperhatikan banyak detail yang tidak disadari orang lain.
Tetapi kemampuan tersebut memiliki batas.
Manusia tidak memiliki indikator perilaku universal yang selalu berarti "bohong". Orang yang jujur bisa terlihat gugup. Orang yang berbohong bisa terlihat tenang. Orang yang menghindari kontak mata bisa saja malu. Orang yang melakukan kontak mata terus-menerus juga belum tentu jujur.
Karena itu, pendekatan psikologis yang lebih realistis bukanlah mencari satu tanda kebohongan, melainkan melihat pola dan konteks secara keseluruhan.
Bagaimana Cara Menilai Apakah Sebuah Cerita Perlu Dipertanyakan?
Jika Anda merasa seseorang tidak sepenuhnya jujur, beberapa langkah berikut lebih aman daripada langsung menuduh.
1. Perhatikan perubahan dari pola biasanya
Tanyakan:
"Apakah perilaku ini memang berbeda dari biasanya?"
Bukan:
"Apakah perilaku ini merupakan tanda dia berbohong?"
Pertanyaan pertama jauh lebih objektif.
2. Periksa konsistensi cerita
Lihat apakah detail utama tetap sama ketika cerita diceritakan kembali.
Perubahan kecil dalam ingatan merupakan hal normal. Yang lebih relevan adalah perubahan pada bagian penting dari cerita.
3. Pertimbangkan penjelasan alternatif
Sebelum menyimpulkan kebohongan, tanyakan:
"Apakah ada alasan lain yang dapat menjelaskan perilaku tersebut?"
Ini membantu mengurangi bias.
4. Ajukan pertanyaan terbuka
Daripada mengatakan:
"Kamu tadi sebenarnya ke mana?"
Cobalah:
"Ceritakan dari awal bagaimana kejadiannya."
Pertanyaan terbuka memberikan ruang bagi orang tersebut untuk menjelaskan tanpa langsung diarahkan pada jawaban tertentu.
5. Bedakan kecurigaan dengan bukti
Perasaan tidak nyaman adalah informasi.
Tetapi perasaan tidak nyaman bukan bukti.
Perbedaan ini sangat penting dalam hubungan pribadi, pekerjaan, maupun situasi sosial lainnya.
Kesimpulan
Sebagian orang memang tampak lebih cepat menyadari ketika dirinya sedang dibohongi. Dalam banyak kasus, kemampuan tersebut tidak harus dijelaskan dengan kemampuan supranatural atau "indra keenam".
Ada proses psikologis yang dapat menjelaskannya.
Mereka mungkin lebih peka terhadap perubahan perilaku, lebih cepat menangkap ketidakkonsistenan informasi, memiliki pengalaman sosial yang membuat mereka mengenali pola tertentu, lebih memperhatikan konteks, mampu membaca ketidaksesuaian antara komunikasi verbal dan nonverbal, serta menggunakan intuisi yang terbentuk dari pemrosesan informasi secara cepat.
Namun, semua itu tetap memiliki keterbatasan.
Tidak ada bahasa tubuh tunggal, ekspresi wajah tunggal, atau pola komunikasi tunggal yang dapat membuktikan bahwa seseorang sedang berbohong.
Justru kemampuan yang paling berguna bukanlah kemampuan untuk langsung berkata, "Saya tahu kamu bohong."
Kemampuan yang lebih penting adalah menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak konsisten, kemudian mencari informasi tambahan sebelum membuat kesimpulan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Landsliðið Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Skor Slovenia vs Makedonia Utara di Liga Nations UEFA: Fantje Kalahkan Tim Tamu
Prediksi Skor Skotlandia vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Kalahkan Tuan Rumah dengan Skor Telak
Prediksi Skor Skor Lithuania vs Andorra, Laga Persahabatan: Tuan Rumah Berpeluang Menang
Prediksi Skor San Marino vs Albania di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjte Menang Telak di Dogana
Prediksi Skor Filipina vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: The Azkals Menang Tipis Atas The Shaheens
Prediksi Skor Jamaika vs Honduras di CONCACAF Nations League: Reggae Boyz Menang Meyakinkan?
Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Tuan Rumah Dibayangi Rapuhnya Lini Pertahanan
Prediksi Finlandia vs Belarus di UEFA Nations League: Pohjanpalo Siap Lanjutkan Ketajaman

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022