Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 6 Oktober 2026 | 16.08 WIB

6 Alasan Mengapa Beberapa Orang Sering Mengucapkan “Maksudku” ketika Orang Lain Tidak Setuju

seseorang yang mengulang ucapan./Magnific/magnific

JawaPos.com - Pernahkah Anda memperhatikan seseorang yang hampir selalu mengatakan “maksudku…” ketika pendapatnya tidak disetujui orang lain?

Awalnya, kalimat itu mungkin terdengar biasa.

“Bukan begitu, maksudku…”

“Maksudku sebenarnya…”

“Ya, tapi maksudku kan…”

Namun, jika diperhatikan lebih jauh, pengulangan kata tersebut terkadang menunjukkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kebiasaan berbicara. Dalam situasi tertentu, “maksudku” bisa menjadi cara seseorang mempertahankan gagasan, memperbaiki cara dirinya dipahami, menghindari konflik, atau bahkan melindungi harga dirinya ketika pendapatnya ditolak.

Tentu saja, tidak semua orang yang mengatakan “maksudku” memiliki masalah psikologis tertentu. Kata tersebut juga bisa menjadi bagian alami dari komunikasi sehari-hari. Yang menarik adalah ketika seseorang menggunakannya secara berulang, terutama setiap kali orang lain tidak setuju dengannya.

Dalam psikologi komunikasi, respons seperti ini dapat dipahami melalui beberapa mekanisme: kebutuhan untuk dipahami, pengelolaan citra diri, sensitivitas terhadap penolakan, hingga kecenderungan mempertahankan posisi ketika merasa terancam secara psikologis.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (5/10), terdapat enam kemungkinan alasan di balik kebiasaan tersebut.

1. Mereka sangat membutuhkan agar orang lain memahami niat mereka

Salah satu alasan paling sederhana adalah keinginan kuat untuk dipahami dengan benar.

Ada orang yang merasa bahwa jika orang lain salah memahami perkataannya, maka dirinya juga telah dinilai secara tidak adil.

Misalnya, seseorang berkata:

“Menurutku keputusan itu kurang bagus.”

Orang lain menjawab:

“Jadi kamu menganggap semua orang yang mengambil keputusan itu bodoh?”

Dia kemudian buru-buru menjawab:

“Bukan begitu. Maksudku…”

Dalam situasi seperti ini, fokusnya mungkin bukan lagi pada perbedaan pendapat. Fokusnya adalah meluruskan persepsi orang lain tentang dirinya.

Orang tersebut mungkin merasa, “Aku tidak mengatakan seperti yang kamu pikirkan.”

Secara psikologis, manusia memang memiliki kebutuhan untuk dipahami dan diterima secara sosial. Ketika seseorang merasa perkataannya menghasilkan kesan yang tidak sesuai dengan maksud sebenarnya, ia cenderung melakukan repair atau perbaikan komunikasi.

Kata “maksudku” menjadi semacam jembatan:

“Tunggu, jangan menilai aku berdasarkan interpretasi pertama itu. Biarkan aku menjelaskan apa yang sebenarnya ingin kukatakan.”

Pada orang tertentu, kebutuhan ini bisa sangat kuat. Mereka mungkin tidak nyaman ketika perkataannya ambigu, disalahartikan, atau dianggap memiliki niat buruk.

Akibatnya, “maksudku” menjadi kata yang sering muncul ketika percakapan mulai bergerak ke arah yang tidak mereka inginkan.

Bukan selalu berarti mereka defensif

Penting untuk membedakan antara klarifikasi yang sehat dan sikap defensif.

Klarifikasi yang sehat terdengar seperti:

“Maksudku bukan menyalahkan kamu. Aku hanya ingin menjelaskan bagian yang menurutku perlu diperbaiki.”

Setelah itu, orang tersebut masih bersedia mendengarkan pendapat lawan bicara.

Sebaliknya, respons defensif mungkin terlihat seperti:

“Maksudku bukan begitu. Maksudku begini. Kamu salah memahami aku. Sebenarnya yang aku katakan…”

Jika pola tersebut terus berulang tanpa memberikan ruang bagi orang lain untuk berbicara, “maksudku” bukan lagi sekadar alat klarifikasi. Ia bisa menjadi cara untuk mengendalikan arah percakapan.

2. Mereka sulit menerima bahwa orang lain memiliki interpretasi berbeda

Alasan kedua berkaitan dengan ketidaknyamanan terhadap perbedaan perspektif.

Sebagian orang secara tidak sadar menganggap bahwa jika mereka sudah menjelaskan sesuatu dengan jelas, orang lain seharusnya memahami dan menyimpulkan hal yang sama.

Ketika ternyata orang lain memiliki interpretasi berbeda, mereka merasa perlu memperbaikinya.

Misalnya:

“Aku rasa cara dia bekerja memang tidak profesional.”

Lawan bicara menjawab:

“Menurutku dia hanya sedang berada dalam situasi yang sulit.”

Kemudian:

“Maksudku, bukan berarti dia orang yang tidak baik…”

Lalu:

“Maksudku sebenarnya…”

Perhatikan bahwa orang tersebut mungkin tidak benar-benar sedang berusaha menemukan titik temu. Ia sedang berusaha memastikan bahwa perspektifnya tidak kehilangan tempat dalam percakapan.

Dalam psikologi sosial, manusia memiliki kecenderungan untuk menganggap perspektifnya sendiri sebagai titik referensi yang penting. Kita melihat dunia melalui pengalaman, nilai, dan interpretasi pribadi.

Masalah muncul ketika seseorang sulit menerima kenyataan bahwa dua orang dapat melihat situasi yang sama dan sampai pada kesimpulan berbeda.

Orang yang relatif fleksibel mungkin berpikir:

“Oh, kamu melihatnya berbeda. Menarik juga.”

Sementara orang yang lebih defensif mungkin berpikir:

“Tunggu, kamu salah memahami maksudku.”

Perbedaannya terletak pada respons terhadap ketidaksetujuan.

“Maksudku” sebagai usaha mengembalikan kendali

Ketika seseorang merasa interpretasinya mulai kehilangan pengaruh, mengatakan “maksudku” dapat menjadi cara untuk mengambil kembali kendali terhadap percakapan.

Ia seolah berkata:

“Aku ingin menentukan bagaimana pernyataanku harus dipahami.”

Dalam kadar tertentu, hal ini sangat normal. Namun jika dilakukan terus-menerus, terutama dengan nada keras atau merendahkan, kebiasaan tersebut dapat membuat percakapan menjadi melelahkan.

Sebab, lawan bicara akhirnya merasa bahwa setiap interpretasi yang berbeda akan dianggap sebagai “kesalahpahaman”.

3. Mereka sedang melindungi harga diri ketika pendapatnya ditolak

Alasan ketiga mungkin lebih dalam.

Terkadang, yang terasa terancam bukanlah pendapat, melainkan harga diri.

Bagi sebagian orang, pendapat pribadi memiliki hubungan yang sangat kuat dengan identitas diri.

Mereka tidak sekadar berpikir:

“Aku punya pendapat tentang masalah ini.”

Tetapi secara tidak sadar:

“Pendapatku menunjukkan siapa diriku.”

Akibatnya, ketika seseorang menolak pendapat tersebut, penolakan itu dapat terasa seperti penolakan terhadap dirinya.

Di sinilah respons seperti “maksudku” dapat muncul.

Misalnya:

“Menurutku keputusanmu kurang tepat.”

Orang lain menjawab:

“Aku tidak setuju. Menurutku keputusan itu justru paling masuk akal.”

Kemudian:

“Maksudku bukan berarti kamu salah…”

Mengapa ia perlu segera menjelaskan?

Karena mungkin muncul kekhawatiran:

“Kalau aku terlihat salah, aku akan terlihat bodoh.”

Atau:

“Kalau orang lain tidak menerima pendapatku, berarti aku kehilangan posisi.”

Dalam kondisi seperti ini, “maksudku” berfungsi sebagai perlindungan psikologis.

Ia memberikan kesempatan bagi seseorang untuk mengubah atau memperhalus pernyataannya tanpa harus mengakui secara langsung:

“Mungkin aku memang keliru.”

Orang yang percaya diri justru lebih mudah berkata “mungkin aku salah”

Salah satu tanda fleksibilitas psikologis adalah kemampuan mengakui ketidakpastian.

Misalnya:

“Oh, aku belum melihat dari sudut pandang itu.”

Atau:

“Bisa jadi aku salah.”

Orang yang merasa aman terhadap dirinya sendiri biasanya tidak selalu membutuhkan kemenangan dalam setiap percakapan.

Sebaliknya, ketika harga diri sangat bergantung pada menjadi benar, ketidaksetujuan dapat terasa seperti ancaman.

“Maksudku” kemudian menjadi salah satu alat untuk mempertahankan posisi tanpa harus terlihat sedang mempertahankan diri.

4. Mereka takut konflik dan menggunakan “maksudku” untuk memperhalus ucapan

Menariknya, tidak semua orang yang sering mengatakan “maksudku” adalah orang yang suka berdebat.

Sebaliknya, beberapa orang justru sangat tidak nyaman dengan konflik.

Mereka mungkin ingin menyampaikan pendapat, tetapi takut perkataannya membuat orang lain tersinggung.

Akibatnya, mereka terus mengoreksi cara mereka berbicara.

Contohnya:

“Menurutku kamu terlalu keras.”

Lawan bicara terlihat tersinggung.

Kemudian:

“Maksudku bukan kamu orang yang kasar. Maksudku, mungkin cara menyampaikannya saja…”

Di sini, “maksudku” berfungsi sebagai peredam konflik.

Orang tersebut sebenarnya sedang mencoba mengatakan:

“Aku ingin menyampaikan ketidaksetujuanku, tetapi aku tidak ingin hubungan kita rusak.”

Dalam psikologi komunikasi, kecenderungan seperti ini dapat berkaitan dengan kebutuhan untuk menjaga hubungan dan menghindari penolakan sosial.

Orang yang sangat sensitif terhadap konflik mungkin terus menyesuaikan kata-katanya setelah melihat reaksi lawan bicara.

Mereka membaca ekspresi wajah, nada suara, atau perubahan sikap.

Jika melihat orang lain mulai tidak nyaman, mereka segera berkata:

“Maksudku bukan seperti itu.”

Masalahnya: terlalu banyak klarifikasi justru dapat membuat percakapan semakin rumit

Ironisnya, usaha menghindari konflik terkadang justru membuat komunikasi terasa tidak jelas.

Lawan bicara mungkin akhirnya bertanya:

“Jadi sebenarnya kamu mau bilang apa?”

Ini terjadi karena seseorang terlalu sibuk memperbaiki dampak emosional dari perkataannya sebelum menyampaikan pesan utamanya secara sederhana.

Komunikasi yang lebih sehat biasanya membutuhkan kemampuan mengatakan sesuatu dengan jelas tanpa langsung panik ketika orang lain tidak menyukainya.

5. Mereka terbiasa membela diri karena pengalaman masa lalu

Kebiasaan mengatakan “maksudku” juga bisa terbentuk melalui pengalaman komunikasi sebelumnya.

Bayangkan seseorang yang sejak lama sering merasa perkataannya disalahartikan.

Setiap kali ia berbicara, orang lain mungkin:

memotong pembicaraannya,
menyimpulkan secara terburu-buru,
menganggapnya memiliki niat buruk,
menyalahkan cara bicaranya,
atau menggunakan perkataannya untuk menyerangnya kembali.

Lama-kelamaan, ia dapat belajar satu pola:

“Kalau aku tidak segera menjelaskan maksudku, orang akan salah memahami aku.”

Akibatnya, “maksudku” menjadi respons otomatis.

Bahkan sebelum benar-benar terjadi konflik, ia sudah bersiap membela diri.

Misalnya:

“Aku sebenarnya setuju dengan kamu, tapi maksudku…”

Atau:

“Bukan itu yang aku katakan. Maksudku…”

Pada titik tertentu, kata tersebut bukan lagi sekadar bagian dari bahasa. Ia telah menjadi strategi perlindungan diri yang dipelajari.

Ini menunjukkan bahwa kebiasaan komunikasi sering kali memiliki sejarah.

Seseorang mungkin tidak sadar mengapa dirinya terus melakukan hal tersebut karena perilaku itu sudah menjadi otomatis.

Bukan berarti masa lalu selalu menjadi penyebab

Kita juga perlu berhati-hati agar tidak langsung menyimpulkan bahwa seseorang memiliki “trauma” hanya karena sering berkata “maksudku”.

Psikologi tidak bekerja sesederhana itu.

Satu kebiasaan verbal tidak cukup untuk mendiagnosis kepribadian atau pengalaman masa lalu seseorang.

Namun, pengalaman komunikasi sebelumnya memang dapat memengaruhi cara seseorang merespons ketidaksetujuan.

6. Mereka memiliki kebutuhan kuat untuk mempertahankan narasi tentang dirinya

Alasan terakhir berkaitan dengan identitas dan citra diri.

Setiap manusia memiliki gambaran tertentu tentang dirinya.

Seseorang mungkin melihat dirinya sebagai:

orang yang rasional,
orang yang adil,
orang yang peduli,
orang yang kompeten,
orang yang selalu berpikir logis,
atau orang yang tidak suka menyakiti orang lain.

Ketika perkataannya bertentangan dengan citra tersebut, ia mungkin segera memberikan penjelasan.

Misalnya seseorang menganggap dirinya sebagai orang yang sangat toleran.

Kemudian ia mengatakan:

“Aku tidak suka cara orang itu bertindak.”

Orang lain menjawab:

“Bukankah kamu biasanya bilang jangan menilai orang terlalu cepat?”

Ia mungkin menjawab:

“Maksudku bukan berarti aku menghakimi dia…”

Mengapa?

Karena ada ketegangan antara apa yang baru saja ia katakan dan bagaimana ia ingin melihat dirinya sendiri.

“Maksudku” memberikan kesempatan untuk menyelaraskan kembali keduanya.

Ia ingin mengatakan:

“Aku tetap orang yang toleran. Pernyataanku tadi jangan ditafsirkan bertentangan dengan identitasku.”

Hal ini berhubungan dengan kecenderungan manusia untuk mempertahankan konsistensi antara perilaku, keyakinan, dan citra dirinya.

Tidak ada yang aneh dengan kebutuhan tersebut. Hampir semua manusia melakukannya dalam kadar tertentu.

Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang tidak mampu menerima bahwa dirinya kadang-kadang bisa salah, kontradiktif, atau memiliki pandangan yang berubah.

Jadi, apakah orang yang sering berkata “maksudku” berarti defensif?

Belum tentu.

Ini bagian yang penting.

Satu kata tidak cukup untuk membaca kepribadian seseorang.

“Maksudku” dapat memiliki banyak fungsi yang sangat normal, seperti:

memperjelas kalimat,
mengoreksi kesalahan bicara,
menghindari kesalahpahaman,
memperhalus kritik,
memberikan konteks,
atau mengubah cara penyampaian.

Yang lebih penting adalah pola keseluruhan komunikasi.

Coba perhatikan apa yang terjadi setelah seseorang berkata “maksudku”.

Apakah dia kemudian mendengarkan?

Apakah dia bisa menerima sudut pandang berbeda?

Apakah dia mampu mengatakan “mungkin aku salah”?

Atau justru ia terus menjelaskan sampai lawan bicara akhirnya menyerah?

Perbedaannya sangat besar.

Orang yang mengatakan:

“Maksudku sebenarnya begini. Tapi aku bisa memahami kalau kamu melihatnya berbeda.”

menunjukkan fleksibilitas.

Sementara orang yang mengatakan:

“Maksudku begini. Kamu saja yang salah memahami.”

kemudian terus mempertahankan argumennya, mungkin sedang menunjukkan pola komunikasi yang lebih defensif.

Cara menghadapi orang yang selalu mengatakan “maksudku”

Jika Anda sering berbicara dengan seseorang seperti ini, Anda tidak harus langsung menganggapnya keras kepala atau manipulatif.

Cobalah mengubah cara merespons.

Daripada mengatakan:

“Kamu selalu membela diri.”

Anda bisa mengatakan:

“Aku paham maksudmu. Tapi aku memang melihatnya dari sudut yang berbeda.”

Kalimat seperti ini memberikan dua hal sekaligus: validasi terhadap haknya untuk menjelaskan dan batas yang jelas bahwa Anda tidak harus setuju.

Anda juga bisa bertanya:

“Oke, kalau begitu, apa inti yang sebenarnya ingin kamu sampaikan?”

Pertanyaan tersebut dapat membantu mengubah percakapan dari perdebatan mengenai kata-kata menjadi pembahasan mengenai inti masalah.

Dan yang paling penting, jangan menganggap bahwa memahami maksud seseorang berarti Anda harus menyetujui pendapatnya.

Memahami bukan berarti menyetujui.

Dua orang dapat memahami maksud masing-masing dan tetap memiliki kesimpulan yang berbeda.

Pada akhirnya, “maksudku” sering kali lebih dari sekadar dua kata

Kata “maksudku” terlihat sederhana.

Namun dalam percakapan tertentu, ia dapat menjadi jendela kecil menuju proses psikologis yang lebih besar.

Di baliknya mungkin ada keinginan untuk dipahami.

Mungkin ada kebutuhan untuk mempertahankan harga diri.

Mungkin ada rasa takut disalahartikan.

Mungkin ada kecemasan terhadap konflik.

Mungkin juga hanya kebiasaan berbicara yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun.

Karena itu, kita sebaiknya tidak terburu-buru memberikan label kepada seseorang hanya berdasarkan satu kebiasaan verbal.

Yang lebih menarik justru adalah melihat apa yang terjadi ketika seseorang tidak mendapatkan persetujuan dari orang lain.

Apakah ia mampu mendengarkan?

Apakah ia mampu mengubah pandangan?

Apakah ia bisa mengakui kesalahan?

Ataukah ia terus-menerus mengulang penjelasan sampai pendapatnya diterima?

Pada akhirnya, kemampuan komunikasi yang sehat bukanlah kemampuan membuat semua orang memahami kita dengan cara yang sama.

Komunikasi yang sehat adalah kemampuan untuk mengatakan:

“Ini yang sebenarnya aku maksud. Aku paham kalau kamu melihatnya berbeda.”

Ada kedewasaan psikologis dalam kalimat tersebut.

Sebab kita tidak selalu bisa mengendalikan bagaimana orang lain menafsirkan kita. Kita juga tidak harus memenangkan setiap perbedaan pendapat.

Terkadang, menjadi dewasa dalam berkomunikasi berarti mampu menjelaskan diri sendiri tanpa merasa harus memaksa orang lain untuk setuju.
Editor: Hanny Suwindari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore