Stres kronis terbukti dapat merusak struktur otak, melemahkan daya ingat, serta meningkatkan risiko depresi./Freepik.
JawaPos.com – Hampir setiap orang pernah mengalami stres. Namun, ketika stres terjadi terus-menerus tanpa kendali, dampaknya bisa sangat serius, bahkan merusak otak.
Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai chronic stress atau stres kronis, yaitu kondisi tertekan yang berlangsung dalam jangka panjang.
Menurut laporan American Brain Foundation, stres kronis dapat mengubah struktur dan fungsi otak. Hormon stres seperti kortisol yang terus-menerus dilepaskan akan melemahkan hippocampus, bagian otak yang berperan dalam memori dan pembelajaran.
Akibatnya, seseorang lebih rentan mengalami gangguan konsentrasi, penurunan daya ingat, bahkan depresi.
Mengapa Stres Kronis Bisa Merusak Otak?
Penelitian yang diterbitkan di Frontiers in Neuroendocrinology (PMC, 2017) menjelaskan bahwa stres kronis merusak keseimbangan kimiawi otak.
Baca Juga: Punya Ingatan Super Detail, Ini Tanda Kepribadian dengan Daya Ingat Luar Biasa yang Bikin Kagum!
Kortisol yang berlebihan mempercepat penyusutan hippocampus dan memperkuat aktivitas amigdala, pusat kendali rasa takut. Hal ini membuat otak seolah “terjebak” dalam mode siaga, sehingga sulit kembali tenang.
Selain itu, studi dari University of Alabama Birmingham (UAB News) menemukan bahwa stres kronis dapat “meretas ulang” konektivitas otak. Jaringan saraf menjadi kurang fleksibel sehingga kemampuan adaptasi berkurang. Dampaknya, penderita sulit berpikir jernih saat menghadapi masalah baru.
Apa Dampak Jangka Panjangnya?
Harvard Health Publishing menyebutkan bahwa stres kronis meningkatkan risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan demensia. Pasalnya, kerusakan sel saraf otak yang terus terjadi membuat otak kehilangan kapasitas kognitif lebih cepat.
Selain gangguan memori, stres kronis juga bisa memengaruhi kesehatan mental. Artikel dalam Open Access Journals (2023) menyoroti kaitan erat antara stres berkepanjangan dengan meningkatnya risiko depresi, kecemasan, hingga insomnia. Bahkan, beberapa penelitian terbaru mengaitkan stres kronis dengan penurunan sistem kekebalan tubuh, sehingga seseorang lebih mudah terserang penyakit fisik.
Fenomena ini bukan hanya teori medis. Sebuah riset di UAB News mengamati pekerja dengan jam kerja panjang dan tekanan tinggi. Hasilnya, sebagian besar responden melaporkan kesulitan berkonsentrasi, gangguan tidur, serta mudah lupa detail kecil. Kondisi tersebut konsisten dengan tanda-tanda penyusutan hippocampus akibat kadar kortisol yang tinggi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Brighton vs Crystal Palace di Liga Inggris: The Seagulls Kunci Kemenangan di Derby M23
Prediksi Skor Persebaya vs PSS Sleman: Green Force Diunggulkan, Elang Jawa Tak Bisa Diremehkan
Prediksi Skor Persib vs Persik di Super League: Pangeran Biru Susah Payah Jinakkan Macan Putih
Prediksi Skor Lyon vs Nice: Les Gones Buru Kemenangan demi Melesat ke 3 Besar Klasemen Ligue 1
Celios Benarkan Akuisisi Saham BYAN Salah Satu Sebab Pasar Saham RI Terancam Downgrade
Francisco Rivera dan Matheus Lagoa Absen, Persebaya Surabaya Tetap Pede Pecundangi PSS Sleman
Prediksi Skor Juventus vs Lazio: Biancocelesti Bakal Merepotkan Tuan Rumah di Allianz Stadium
Prediksi Skor Nottingham Forest vs Arsenal: Ujian Ketajaman Lini Serang Skuad Mikel Arteta
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persik Kediri: Marcos Reina Tak Mau Anggap Remeh
Prediksi Skor Leeds United vs Manchester United: Lisandro Martinez Sulit Masuk Starter

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022