Ilustrasi kelelawar buah, salah satu hewan penular virus nipah. (Freepik)
JawaPos.com - Demam tinggi yang muncul mendadak hingga gangguan pernapasan dan penurunan kesadaran bisa menjadi tanda infeksi serius yang tidak boleh dianggap remeh.
Salah satu penyakit yang kini mulai mendapat perhatian adalah Virus Nipah, infeksi langka dengan tingkat kematian tinggi yang berpotensi menjadi wabah jika tidak diantisipasi sejak dini.
Meski hingga kini belum ditemukan kasus di Indonesia, ancaman virus nipah tetap perlu diwaspadai karena sudah mewabah di sejumlah negara.
Penularannya yang bisa terjadi dari hewan ke manusia, ditambah mobilitas global yang tinggi, membuat risiko penyebaran lintas negara semakin terbuka.
Menurut Dokter Penyakit Dalam dari Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Timoteus Richard, Sp.PD, penyakit infeksi dengan fatalitas tinggi seperti Virus Nipah menuntut kewaspadaan sejak gejala awal.
"Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang pasien mendapatkan penanganan yang optimal," ujarnya, Minggu (22/2).
Virus Nipah merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus RNA dari kelompok Paramyxovirus.
Kasus pertama kali teridentifikasi pada 1999 di Malaysia dan Singapura, terutama menyerang area peternakan babi.
Virus ini termasuk penyakit zoonosis, dengan kelelawar pemakan buah sebagai reservoir alami. Penularan dapat terjadi langsung dari hewan ke manusia, atau melalui hewan perantara seperti babi yang mempercepat penyebaran.
Infeksi ini berbahaya karena dapat menyerang sistem pernapasan dan saraf sekaligus, sehingga berpotensi menimbulkan kondisi berat hingga kematian.
Meski belum ada kasus di dalam negeri, potensi wabah Virus Nipah tetap terbuka. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari keberadaan habitat alami kelelawar buah di Indonesia hingga belum tersedianya vaksin atau antivirus khusus.
Selain itu, perjalanan internasional yang semakin mudah juga meningkatkan risiko masuknya kasus dari negara yang pernah melaporkan infeksi, seperti India dan Bangladesh.
drTimoteus menegaskan bahwa walaupun belum ada kasus di Indonesia, kewaspadaan tetap penting.
"Mobilitas global yang tinggi membuat risiko penyakit lintas negara tidak bisa diabaikan," ucapnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Fraksi PKB Usulkan Pembentukan Pansus Tindak Lanjuti Putusan MK soal Ijazah Gibran
Prediksi Skor JDT vs Svay Rieng di ACC Cup: Harimau Selatan Diunggulkan Menang
Prediksi Lion City Sailors vs CAHN di ACC: Adu Kuat Tuan Rumah dengan Wakil Vietnam
Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Alfa Penyintas Stroke Jalan Kaki 21 KM Dengan Rute Garuda

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022