
Dokter mata subspesialis glaukoma di JEC Group, Dr. Zeiras Eka Djamal, SpM(K) (Tazkia Royyan/JawaPos.com)
JawaPos.com - Sekitar 80–90 persen kasus glaukoma di negara berkembang tidak terdiagnosis sehingga banyak pasien baru mengetahui penyakitnya ketika kerusakan penglihatan sudah terjadi. Masyarakat diingatkan untuk segera melakukan pemeriksaan mata apabila mengalami keluhan seperti penglihatan kabur atau nyeri pada mata.
Ketua Glaukoma Service di JEC Group, Prof. DR. Dr. Widya Artini Wiyogo, SpM(K), Widya Artini Wiyogo, mengatakan sebagian besar kasus glaukoma berkembang tanpa gejala pada tahap awal sehingga sering tidak disadari.
"Mayoritas kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala sehingga sering baru terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan. Namun jika muncul keluhan seperti sakit kepala hebat, penglihatan mendadak kabur, mual, muntah, atau nyeri mata, masyarakat perlu segera memeriksakan diri," ujarnya kepada wartawan, Selasa (10/3).
"Karena itu, skrining mata secara berkala sangat penting untuk mendeteksi glaukoma lebih dini," sambung Prof Widya.
Peringatan tersebut disampaikan dalam rangka peringatan World Glaucoma Week 2026 yang berlangsung pada 8–14 Maret 2026. Pekan kesadaran global yang diinisiasi World Glaucoma Association ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya deteksi dini glaukoma guna mencegah kebutaan.
Glaukoma merupakan penyakit saraf mata progresif yang merusak saraf optik secara bertahap, salah satunya akibat peningkatan tekanan di dalam bola mata. Dalam kondisi normal, tekanan bola mata berada pada kisaran 10–21 mmHg. Jika tekanan meningkat atau saraf optik menjadi lebih rentan, kerusakan dapat terjadi perlahan hingga menyebabkan penyempitan lapang pandang dan berujung pada kebutaan permanen.
Penyakit ini dapat dialami siapa saja, namun lebih sering terjadi pada individu berusia di atas 40 tahun dan menjadi penyebab kebutaan kedua setelah katarak. Karena gejalanya sering tidak muncul pada tahap awal, glaukoma kerap disebut sebagai “silent thief of sight”.
Dokter mata subspesialis glaukoma di JEC Group, Dr. Zeiras Eka Djamal, SpM(K), mengatakan kerusakan penglihatan akibat glaukoma bersifat permanen sehingga deteksi dini menjadi langkah paling penting.
"Glaukoma sering disebut sebagai silent thief of sight karena kerusakan saraf optik terjadi secara perlahan tanpa gejala yang jelas. Banyak pasien baru datang ketika lapang pandangnya sudah menyempit. Dengan diagnosis yang tepat serta pemantauan yang teratur, perkembangan penyakit dapat dikendalikan sehingga kualitas penglihatan pasien tetap terjaga," tuturnya.
Baca Juga:Ramalan Zodiak Aquarius dan Pisces 11 Maret 2026: Mulai dari Cinta, Karir, Kesehatan dan Keuangan
Menurut data yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah yang dimuat di PubMed oleh Tham dan kolega, jumlah penderita glaukoma di dunia diperkirakan mencapai sekitar 76 juta orang pada 2020 dan diproyeksikan meningkat menjadi 111,8 juta orang pada 2040 seiring pertumbuhan populasi dan meningkatnya angka harapan hidup.
Di Indonesia, prevalensi glaukoma diperkirakan sekitar 0,46 persen atau sekitar 4–5 orang per 1.000 penduduk berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 2023.
Selain faktor usia, Dr. Zeiras menerangkan bahwa risiko glaukoma juga meningkat pada individu dengan riwayat keluarga glaukoma, diabetes, penggunaan obat steroid jangka panjang, kelainan refraksi tinggi seperti miopia atau hipermetropia, katarak, hingga riwayat cedera pada mata. Penyakit ini bahkan dapat terjadi sejak lahir dalam bentuk glaukoma kongenital.
Untuk menegakkan diagnosis, dokter biasanya melakukan sejumlah pemeriksaan mata seperti pengukuran tekanan bola mata (tonometri), pemeriksaan saraf optik menggunakan Optical Coherence Tomography (OCT), pemeriksaan lapang pandang, serta evaluasi sudut drainase mata melalui gonioskopi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Fraksi PKB Usulkan Pembentukan Pansus Tindak Lanjuti Putusan MK soal Ijazah Gibran
Prediksi Skor JDT vs Svay Rieng di ACC Cup: Harimau Selatan Diunggulkan Menang
Prediksi Lion City Sailors vs CAHN di ACC: Adu Kuat Tuan Rumah dengan Wakil Vietnam
Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Alfa Penyintas Stroke Jalan Kaki 21 KM Dengan Rute Garuda

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022