Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 16 Juni 2026 | 03.34 WIB

Kenapa Intermittent Fasting Justru Bikin Perut Bloating? Ini 7 Alasan Ilmiahnya

Ilustrasi cara untuk melakukan intermittent fasting yang dapat meningkatkan kinerja kerja./freepik - Image

Ilustrasi cara untuk melakukan intermittent fasting yang dapat meningkatkan kinerja kerja./freepik

Jawapos.com - Pola diet intermittent fasting (IF) atau puasa intermiten merupakan metode pengaturan berat badan yang berfokus pada penentuan jendela waktu makan dan puasa secara teratur.

Metode ini mampu merangsang mekanisme metabolic switching untuk pembakaran lemak, penerapannya tidak terlepas dari risiko klinis.

Kamu sudah susah payah menjalani intermittent fasting dengan disiplin, tapi bukannya perut rata yang didapat malah perut terasa kembung dan begah setiap kali jendela makan dibuka.

 Ironis memang, tapi ini adalah keluhan yang sangat umum di kalangan pelaku IF terutama di bulan pertama. Bloating saat IF bukan berarti tubuhmu salah merespons atau IF tidak cocok untukmu ada penjelasan biologis yang sangat masuk akal di balik fenomena ini.

Memahami mengapa ini terjadi tidak hanya membantu kamu mengelola ketidaknyamanan dengan lebih baik, tapi juga memberi tahu apa yang perlu disesuaikan agar pengalaman IF-mu jauh lebih nyaman dan efektif ke depannya.

Melansir dari Halodoc, primewomen dan hopkinsmedicine berikut adalah tujuh risiko efek samping kesehatan yang dapat terjadi selama menjalani diet puasa intermiten :

1. Memicu Rasa Sakit Kepala dan Kelelahan Fisik

Fase awal perpindahan metabolisme tubuh dari pembakaran glukosa ke pembakaran lemak seringkali memicu respons kejut pada sistem biologis.

Kondisi kekurangan asupan energi harian dalam durasi yang panjang secara umum menyebabkan timbulnya keluhan sakit kepala, kelesuan, lemas, hingga perubahan emosional.

2. Mendorong Dorongan Biologis untuk Makan Berlebihan

Pembatasan waktu makan yang terlalu ketat dapat memicu ketidakseimbangan pada regulasi hormon nafsu makan manusia.

Ketika jendela puasa berakhir, pusat rasa lapar di dalam otak cenderung bekerja secara berlebihan sehingga merangsang dorongan kuat untuk mengonsumsi makanan dalam porsi ekstrem.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore