
Spesialis Bedah Saraf RS Premier Bintaro, dr. Moch. Evodia Slamet. (Nanda Prayoga/JawaPos.com)
JawaPos.com - Tumor otak masih menjadi salah satu penyakit yang kerap menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Tidak sedikit orang yang langsung mengaitkan tumor otak dengan kanker ganas dan kondisi yang sulit disembuhkan.
Padahal, sebagian besar kasus tumor otak primer justru bersifat jinak dan dapat ditangani dengan baik apabila terdeteksi sejak dini.
Melihat hal ini, Spesialis Bedah Saraf RS Premier Bintaro, dr. Moch. Evodia Slamet mengungkapkan bahwa tumor otak terbagi menjadi dua kategori utama, yakni tumor primer yang berasal dari jaringan otak atau selaput otak, serta tumor sekunder atau metastasis yang muncul akibat penyebaran kanker dari organ lain seperti paru-paru, payudara, maupun tiroid.
Ia menjelaskan, berdasarkan data internasional, sekitar 72 persen tumor otak primer tergolong jinak, sementara sisanya sekitar 28 persen bersifat ganas.
“Saat ini banyak masyarakat menganggap semua tumor otak pasti ganas. Faktanya, sebagian besar tumor otak primer bersifat jinak. Namun, baik tumor jinak maupun ganas tetap dapat berbahaya karena berada di dalam rongga kepala yang terbatas sehingga dapat menekan jaringan otak dan mengganggu fungsi vital,” kata dia dalam sesi edukasi bertema "Tumor Otak dan Tatalaksananya" yang diselenggarakan RS Bintaro di Jakarta, Kamis (18/6).
Tekanan yang ditimbulkan oleh pertumbuhan tumor dapat mengganggu fungsi berbagai bagian otak sehingga memicu beragam keluhan neurologis.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain sakit kepala kronis yang semakin berat dan disertai gangguan penglihatan, kejang yang pertama kali muncul saat dewasa, gangguan keseimbangan, kelemahan anggota gerak, penurunan pendengaran, perubahan perilaku atau kepribadian, hingga muntah menyemprot yang disertai penurunan kesadaran.
Pada kondisi tertentu, tumor otak bahkan dapat berkembang menjadi kegawatdaruratan medis. Misalnya ketika terjadi hidrosefalus atau penumpukan cairan di otak, maupun perdarahan pada jaringan tumor.
Situasi tersebut membutuhkan penanganan segera untuk mencegah kerusakan otak permanen hingga risiko kematian.
Untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan pencitraan seperti CT Scan dan MRI dengan kontras menjadi langkah penting. Menurut dr. Evodia, pemeriksaan tanpa kontras belum tentu mampu menampilkan gambaran tumor secara optimal sehingga berpotensi menyulitkan proses evaluasi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Belgia vs Prancis di Liga Nations UEFA: Les Bleus Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Georgia vs Ukraina di UEFA Nations League: Misi Berat Kvaratskhelia Cs di Kandang
Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di Liga Nations UEFA: Hrabri Sokoli Bakal Sulitkan Tuan Rumah
Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Turki vs Italia di Liga Nations UEFA: Kans Ay-Yıldızlılar Hentikan Perlawanan Azzurri
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Israel vs Irlandia di UEFA Nations League: The Green Army Curi Kemenangan Tandang
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Susunan Pemain Prancis vs Belgia: Tanpa Mbappe, Zidane Hadapi Ujian Berat

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022