
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Prof. Dr. Soedarsono, Sp.P(K). (Humas Unusa)
JawaPos.com - Upaya menekan angka tuberkulosis (TB) di Indonesia dinilai tidak cukup hanya mengandalkan metode pemeriksaan dan pengobatan konvensional. Deteksi kasus lebih dini dengan memanfaatkan teknologi menjadi salah satu langkah penting untuk mempercepat penanganan penyakit TB.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Prof. Dr. Soedarsono, Sp.P(K) mengatakan, pola penanganan TB perlu bergeser dari pendekatan pasif menuju pencarian kasus yang lebih aktif dan berbasis risiko.
Diungkapkan Prof. Soedarsono, kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi TB perlu menjadi sasaran deteksi lebih awal. Di antaranya orang yang tinggal serumah dengan pasien TB, penderita HIV, diabetes, malnutrisi, memiliki riwayat TB, hingga masyarakat yang tinggal di lingkungan padat.
“Kelompok berisiko ini harus mendapatkan perhatian lebih karena kita ingin menemukan kasus sedini mungkin, bukan menunggu pasien datang ketika penyakitnya sudah berkembang,” kata Prof. Soedarsono dalam International Guest Lecture: Research Frontiers in Infection and Fetal Neurodevelopment yang digelar Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Senin (10/8).
Baca Juga:Blak-blakan Senator AS Sebut Trump Kalah dalam Perang: Amerika Makin Lemah, Iran Semakin Kuat
Urgensi deteksi dini tersebut tidak terlepas dari masih tingginya beban TB secara global. Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2025, pada 2024 diperkirakan terdapat 10,6 juta orang yang sakit TB di dunia dengan sekitar 1,3 juta kematian.
Indonesia menjadi salah satu negara dengan beban TB terbesar. Indonesia diperkirakan menyumbang sekitar 10 persen kasus TB dunia atau sekitar 1,08 juta kasus dan berada di posisi kedua setelah India.
Data tersebut, ungkap Prof. Soedarsono, menunjukkan perlunya perubahan strategi dalam pengendalian TB. Inovasi tidak hanya dibutuhkan untuk menemukan bakteri penyebab penyakit, tetapi juga untuk menentukan kelompok masyarakat yang perlu diperiksa.
“Karena itu, eliminasi TB membutuhkan perubahan paradigma, bukan sekadar inovasi yang bersifat inkremental,” ujarnya.
Salah satu teknologi yang dinilai memiliki potensi besar adalah penggunaan foto toraks digital yang dipadukan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi tersebut dapat membantu proses skrining awal sekaligus menentukan pasien yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan menggunakan metode molekuler.
Selain teknologi pencitraan, riset TB juga mulai mengembangkan metode pemeriksaan dengan menggunakan sampel selain dahak. Pilihannya antara lain urine, darah, tongue swab, aerosol pernapasan, hingga biomarker yang menunjukkan respons tubuh terhadap infeksi.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Prediksi Malaysia vs Filipina: Menang atau Harus Berharap Thailand di Piala AFF 2026
Prediksi Thailand vs Myanmar di Piala AFF 2026: Gajah Perang Berpeluang Lolos sebagai Juara Grup
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Jadwal Siaran Langsung dan Link Live Streaming Chelsea vs AC Milan, Tayang di Mana?
Tumbang, Andika Kangen Band Minta Doa untuk Kesembuhannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Prediksi Skor Arsenal vs Dortmund di Emirates Cup 2026: Mikel Arteta Punya Misi Bangkit di Emirates
