Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 Agustus 2026 | 03.23 WIB

Teknologi Jadi Kunci Percepat Deteksi TB, Indonesia Hadapi Beban Kasus Tinggi

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Prof. Dr. Soedarsono, Sp.P(K). (Humas Unusa) - Image

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Prof. Dr. Soedarsono, Sp.P(K). (Humas Unusa)

JawaPos.com - Upaya menekan angka tuberkulosis (TB) di Indonesia dinilai tidak cukup hanya mengandalkan metode pemeriksaan dan pengobatan konvensional.  Deteksi kasus lebih dini dengan memanfaatkan teknologi menjadi salah satu langkah penting untuk mempercepat penanganan penyakit TB.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Prof. Dr. Soedarsono, Sp.P(K) mengatakan, pola penanganan TB perlu bergeser dari pendekatan pasif menuju pencarian kasus yang lebih aktif dan berbasis risiko.

Diungkapkan Prof. Soedarsono, kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi TB perlu menjadi sasaran deteksi lebih awal. Di antaranya orang yang tinggal serumah dengan pasien TB, penderita HIV, diabetes, malnutrisi, memiliki riwayat TB, hingga masyarakat yang tinggal di lingkungan padat.

“Kelompok berisiko ini harus mendapatkan perhatian lebih karena kita ingin menemukan kasus sedini mungkin, bukan menunggu pasien datang ketika penyakitnya sudah berkembang,” kata Prof. Soedarsono dalam International Guest Lecture: Research Frontiers in Infection and Fetal Neurodevelopment yang digelar Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Senin (10/8).

Urgensi deteksi dini tersebut tidak terlepas dari masih tingginya beban TB secara global. Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2025, pada 2024 diperkirakan terdapat 10,6 juta orang yang sakit TB di dunia dengan sekitar 1,3 juta kematian.

Indonesia menjadi salah satu negara dengan beban TB terbesar. Indonesia diperkirakan menyumbang sekitar 10 persen kasus TB dunia atau sekitar 1,08 juta kasus dan berada di posisi kedua setelah India.

Data tersebut, ungkap Prof. Soedarsono, menunjukkan perlunya perubahan strategi dalam pengendalian TB. Inovasi tidak hanya dibutuhkan untuk menemukan bakteri penyebab penyakit, tetapi juga untuk menentukan kelompok masyarakat yang perlu diperiksa.

“Karena itu, eliminasi TB membutuhkan perubahan paradigma, bukan sekadar inovasi yang bersifat inkremental,” ujarnya.

Salah satu teknologi yang dinilai memiliki potensi besar adalah penggunaan foto toraks digital yang dipadukan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi tersebut dapat membantu proses skrining awal sekaligus menentukan pasien yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan menggunakan metode molekuler.

Selain teknologi pencitraan, riset TB juga mulai mengembangkan metode pemeriksaan dengan menggunakan sampel selain dahak. Pilihannya antara lain urine, darah, tongue swab, aerosol pernapasan, hingga biomarker yang menunjukkan respons tubuh terhadap infeksi.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore