
Prototipe Novel Auscultation Device of Artificial Intelligence for Heart Failure (NAVI-HF), alat auskultasi berbasis AI yang dapat dihubungkan langsung ke smartphone (Istimewa)
JawaPos.com - Dokter Spesialis Jantung Primaya Hospital Tangerang, Dr. dr. Rony M. Santoso, SpJP, SubSp.K.I(K), FIHA, mengembangkan teknologi pendekteksi cairan atau tanda-tanda kongesti paru melalui analisis suara rongga dada secara lebih praktis, cepat, dan objektif. Alat ini diharapkan dapat mengurangi angka perawatan ulang para pasien gagal jantung di Indonesia.
Dengan alat sederhana bernama Novel Auscultation Device of Artificial Intelligence for Heart Failure (NAVI-HF) ini, dr. Rony menjelaskan bahwa pasien maupun dokter dapat merekam suara dada dari lima titik pemeriksaan selama kurang lebih satu menit.
Rekaman tersebut kemudian dianalisis menggunakan algoritma AI untuk mengidentifikasi apakah pasien masih memiliki tanda-tanda kongesti paru yang berisiko menyebabkan perburukan gagal jantung setelah pulang dari rumah sakit.
Baca Juga:Mensesneg Prasetyo Hadi Benarkan Kuntadi Diusulkan jadi Calon Jampidsus Pengganti Febrie Adriansyah
"NAVI-HF kami kembangkan untuk membantu dokter mengidentifikasi pasien yang masih berisiko mengalami perburukan melalui alat yang sederhana, portabel, dan didukung teknologi AI. Dengan demikian, pasien yang membutuhkan pemantauan lebih ketat dapat dikenali lebih awal sehingga terapi dapat disesuaikan sebelum terjadi komplikasi," ujarnya kepada wartawan, Rabu (15/7).
Berdasarkan penelitian terhadap 246 pasien gagal jantung akut, NAVI-HF menunjukkan performa diagnostik yang baik dengan akurasi 86%, sensitivitas 91%, dan spesifisitas 82% dibandingkan Lung Ultrasound sebagai standar acuan. Penelitian lanjutan selama enam bulan juga menunjukkan bahwa pasien dengan hasil NAVI-HF positif memiliki risiko 1,6 kali lebih tinggi mengalami rawat ulang akibat gagal jantung dibandingkan pasien dengan hasil negatif.
dr. Rony menjelaskan bahwa tujuan utama NAVI-HF bukan menggantikan dokter, melainkan menjadi alat bantu yang mempermudah identifikasi pasien dengan risiko tinggi sehingga penanganan dapat dilakukan lebih dini. Sebab salah satu tantangan terbesar dalam penanganan gagal jantung adalah memastikan kondisi pasien benar-benar stabil sebelum pulang dari rumah sakit.
Ke depan, NAVI-HF memiliki potensi untuk mendukung home-based monitoring dan telemedicine.
"Kami berharap inovasi ini dapat mendukung deteksi yang lebih dini, membantu dokter dalam pengambilan keputusan klinis, sekaligus mengurangi risiko rawat ulang akibat gagal jantung," ungkap dr. Rony.
Penelitian ini juga merupakan bagian dari disertasi doktoralnya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Untuk diketahui, gagal jantung sendiri masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pelayanan kesehatan di Indonesia. Berdasarkan data Asian-HF Registry, Indonesia menempati peringkat kedua jumlah kasus gagal jantung terbanyak di Asia setelah Tiongkok. Angka kematian dalam satu tahun mencapai 34,1%, sementara sekitar 30% pasien harus kembali menjalani perawatan di rumah sakit akibat perburukan kondisi setelah dipulangkan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Kecelakaan Maut! BYD M6 Diduga Error hingga Tak Bisa Direm dan Tabrak Trotoar di Jakbar
Prediksi Skor Espanyol vs Sevilla di Liga Spanyol: Kans Los Nervionenses Curi Poin di RCDE Stadium
Kronologi Kecelakaan Maut BYD M6 di Kembangan Jakbar, Ibu dan Anak Meninggal di TKP
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Cagliari vs Lecce di Liga Italia: Duel Ketat di Sardinia Bisa Berakhir Imbang
Prediksi Skor Bournemouth vs Lincoln City di Carabao Cup: The Cherries Menang Lewat Adu Penalti
Kasus Keracunan MBG Berastagi Sisakan Masalah Serius, Siswa Alami Gangguan Saraf hingga Jantung
Viral Pernyataan Pribadi Deputi Bakom soal Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung Api di Indonesia
Prediksi Skor AEK Athens vs LASK Linz di Liga Champions: Tuan Rumah Pesta Gol!
Raditya Dika Gagal Pulang ke Indonesia, Pesawat dari Doha Putar Balik Usai 4 Jam di Udara
