Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 30 September 2024 | 04.23 WIB

Kurangnya Keterlibatan Emosional: 7 Kebiasaan Umum Penyebab Pasangan yang Berpisah Tanpa Menyadarinya Menurut Psikologi

Ilustrasi pasangan yang berpisah.  ( Sumber foto: Freepik) - Image

Ilustrasi pasangan yang berpisah. ( Sumber foto: Freepik)

JawaPos.com - Perpisahan dalam hubungan sering kali tidak terjadi secara tiba-tiba. 
 
Banyak pasangan yang perlahan-lahan saling menjauh tanpa menyadari bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil dalam interaksi sehari-hari mereka adalah penyebabnya.
 
Menurut psikologi hubungan, ada sejumlah perilaku dan kebiasaan yang tampak biasa tetapi sebenarnya bisa menjadi tanda-tanda awal perpecahan
 
Dilansir dari Ideapod pada Minggu (29/9), terdapat tujuh kebiasaan umum yang tanpa disadari bisa membuat pasangan berpisah.

1. Kurangnya Komunikasi yang Efektif

Komunikasi adalah dasar dari hubungan yang sehat. Ketika komunikasi mulai terganggu, baik karena kurangnya waktu bersama atau ketidakmampuan mengekspresikan perasaan dengan jelas, hubungan bisa mulai merenggang.
 
Tidak berbicara tentang perasaan atau masalah yang dihadapi dapat menciptakan kesalahpahaman yang besar.

Menurut John Gottman, seorang psikolog terkenal dalam studi hubungan, pasangan yang tidak mampu berkomunikasi secara efektif dan terus-menerus menghindari percakapan sulit berisiko tinggi mengalami perpisahan.
 
Ini seringkali dimulai dengan masalah kecil, seperti ketidaksetujuan mengenai aktivitas sehari-hari, namun seiring waktu hal-hal tersebut bisa menumpuk dan menjadi besar.

2. Mengambil Pasangan Secara Terbiasa

Ketika pasangan sudah bersama dalam jangka waktu lama, mudah untuk mulai menganggap pasangan sebagai sesuatu yang "biasa" atau "diberikan". 
 
Rasa terima kasih dan apresiasi berkurang, dan pasangan mungkin merasa diabaikan atau tidak dihargai.
 
Ini bisa menyebabkan perasaan frustrasi, kesepian, atau bahkan kemarahan yang bisa menjadi akar dari perselisihan lebih lanjut.

Menurut teori "penguatan positif" dalam psikologi, apresiasi dan pujian sangat penting untuk menjaga hubungan tetap hangat dan intim. 
 
Ketika pasangan tidak lagi memberikan pujian atau menunjukkan rasa syukur, maka hubungan tersebut bisa mulai kehilangan "suhu" emosionalnya.

3. Menghindari Konflik atau Menekan Emosi

Menghindari konflik bisa tampak sebagai strategi yang baik dalam jangka pendek untuk menghindari pertengkaran. Namun, dalam jangka panjang, ini bisa berakibat buruk. 
 
Emosi yang ditekan atau konflik yang tidak pernah diselesaikan dapat menumpuk dan memicu ketegangan emosional yang intens. 
 
Pasangan yang tidak pernah berdebat mungkin terlihat harmonis di luar, tetapi di balik itu ada masalah mendalam yang terabaikan.

Psikolog klinis Dr. Harriet Lerner menekankan bahwa konflik adalah bagian normal dari hubungan sehat.
 
Menghindari konfrontasi tidak hanya menghentikan penyelesaian masalah, tetapi juga mengurangi kesempatan untuk memahami pasangan lebih dalam. Konflik yang tidak teratasi bisa menjadi bom waktu dalam hubungan.

4. Waktu Berkualitas yang Berkurang

Dalam kehidupan yang sibuk, sering kali pasangan mulai menghabiskan lebih sedikit waktu berkualitas bersama. 
 
Rutinitas pekerjaan, mengurus anak, dan berbagai tanggung jawab lainnya sering kali membuat pasangan jarang berbagi momen yang intim. 
 
Meskipun pasangan masih tinggal di bawah satu atap, jarak emosional bisa mulai terbentuk ketika waktu untuk terhubung secara mendalam berkurang.

Penelitian dari University of Virginia menunjukkan bahwa pasangan yang secara teratur meluangkan waktu untuk berinteraksi secara positif—entah itu melalui percakapan santai, kencan rutin, atau aktivitas bersama—memiliki kepuasan hubungan yang lebih tinggi. Ketika kebiasaan ini hilang, ikatan emosional perlahan-lahan melemah.

5. Kurangnya Keterlibatan Emosional

Ketika salah satu atau kedua pasangan tidak lagi terlibat secara emosional dalam hubungan, ini bisa menjadi tanda bahaya. 
 
Pasangan mungkin secara fisik ada di dekat, tetapi secara emosional tidak lagi hadir atau terhubung. 
 
Mereka tidak lagi berbicara tentang mimpi, ketakutan, atau perasaan mereka. Hubungan pun menjadi lebih fungsional daripada emosional.

Kurangnya keterlibatan emosional sering kali terjadi ketika pasangan mulai menutup diri secara emosional karena berbagai alasan, seperti trauma, ketakutan ditolak, atau kelelahan emosional. 
 
Psikolog menyebut fenomena ini sebagai "detachment" atau pelepasan emosional, yang bila tidak diatasi dapat mengarah pada akhir hubungan.

6. Ketidakseimbangan dalam Pemberian dan Penerimaan

Hubungan yang sehat adalah hubungan yang seimbang dalam hal memberi dan menerima. 
 
Ketika salah satu pasangan merasa bahwa mereka selalu memberi lebih banyak daripada yang mereka terima—baik secara emosional, finansial, atau dalam hal perhatian—perasaan tidak adil bisa muncul. Ketidakseimbangan ini, jika dibiarkan, dapat menimbulkan kebencian dan ketidakpuasan.

Pasangan yang sukses, menurut studi-studi psikologi hubungan, cenderung memiliki pola timbal balik yang sehat. 
 
Mereka tidak hanya peduli tentang kebutuhan dan keinginan mereka sendiri, tetapi juga tentang pasangannya. 
 
Jika salah satu pihak merasa dieksploitasi atau diabaikan, ini dapat memicu konflik.

7. Pengaruh Negatif dari Pihak Luar

Lingkungan sosial dapat memainkan peran besar dalam hubungan. Pengaruh teman, keluarga, atau bahkan media sosial dapat memperburuk masalah dalam hubungan. 
 
Terkadang, pasangan mulai lebih memperhatikan pandangan luar daripada perasaan satu sama lain. 
 
Misalnya, pengaruh dari teman yang sinis terhadap pernikahan atau saran-saran yang menyesatkan dari lingkungan sekitar dapat memicu ketidakpercayaan atau keraguan dalam hubungan.

Teori "sistem keluarga" dalam psikologi menunjukkan bahwa hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita dapat mempengaruhi cara kita melihat pasangan kita. 
 
Ketika pasangan lebih bergantung pada orang lain daripada pada pasangan mereka sendiri, ini bisa menciptakan jarak yang sulit diperbaiki.

Kesimpulan

Hubungan yang kuat dan langgeng membutuhkan usaha dan perhatian dari kedua belah pihak. 
 
Kebiasaan kecil yang tampak sepele dapat merusak fondasi hubungan jika dibiarkan berkembang tanpa disadari. 
 
Penting bagi pasangan untuk tetap waspada terhadap kebiasaan-kebiasaan ini, berkomunikasi dengan jujur, dan selalu berusaha menjaga hubungan tetap sehat dan harmonis. 
 
Mengambil langkah-langkah untuk menjaga keterhubungan emosional dan fisik adalah kunci agar hubungan tetap kokoh dan bahagia.
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore