Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 20 November 2024 | 12.58 WIB

Sejarah Hari Pria Internasional 19 November, dari Pandangan Sinis terhadap Komunisme hingga Hari Ulang Tahun Ayah sebagai Teladan Maskulinitas Positif

Ilustrasi hari pria internasional. (pexels.com) - Image

Ilustrasi hari pria internasional. (pexels.com)

JawaPos.com–Secara umum, orang-orang mengetahui hari perempuan sedunia, tetapi jarang sekali orang-orang yang mengetahui hari pria internasional pada 19 November. Hari pria internasional menjadi bukti bahwa dunia juga menghargai kaum pria sebagai seorang manusia yang memiliki Ham dan kedudukan yang sama di mata hukum.

Hari pria internasional pada 19 November setiap tahun bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan pria sekaligus merayakan kontribusi sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Peringatan juga menyoroti dampak positif dari kaum pria kepada masyarakat dan menginspirasi mereka agar menjadi panutan.

Secara historis, hari pria internasional bermula dari seorang intelektual Trinidad dan Tobago bernama Jerome Tuluck Singh yang ingin memperingati ulang tahun ayahnya pada 1999, dilansir dari inclusiveemployers.com. Namun, hari pria internasional memiliki sejarah yang panjang. Sejarawan Jerome Tuluck Singh adalah puncak dari proses panjang dari upaya mewujudkan hari pria internasional.

Pada 1968, seorang jurnalis Amerika Serikat (AS) bernama John P. Harris menulis sebuah editorial yang menyoroti kurangnya keseimbangan dalam sistem Soviet yang mempromosikan hari perempuan internasional untuk kaum buruh perempuan, dilansir dari nationaltoday.com, pada Senin (18/11).

Haris memandang Soviet gagal menciptakan kesetaraan karena gagal memberikan penghargaan yang sama untuk kaum laki-laki. Harris menyatakan bahwa meski dia setuju bahwa harus ada hari untuk merayakan perempuan, peringatan tersebut merupakan simbol dari kekurangan sistem komunis.

Pada awal 1990-an, Thomas Oaster, direktur dari Missouri for Men's Studies, mengundang berbagai organisasi di AS, Australia, dan Malta untuk menyelenggarakan acara hari pria internasional sederhana selama Februari. Oaster berhasil menyelenggarakan acara tersebut selama dua tahun. Namun, upaya yang dilakukannya pada 1995 mulai kurang diminati.

Oaster putus asa sehingga menghentikan rencana untuk melanjutkan acara tersebut. Australia mengikutinya, menjadikan Malta sebagai satu-satunya negara yang meneruskan tradisi tersebut.

Baru pada 1999 di Trinidad dan Tobago, Jerome Tuluck Singh menghidupkan kembali peringatan tersebut. Sejarawan dari University of the West Indies menyadari bahwa meski ada hari untuk para ayah, tetapi tidak ada hari untuk para pria yang tidak memiliki anak atau para pria muda.

Tuluck Singh memahami pentingnya panutan atau teladan pria yang positif, karena ayahnya telah menjadi teladan yang baik baginya. Dia memilih 19 November merupakan hari ulang tahun ayahnya sebagai hari Pria internasional. Selain itu, hari tersebut juga merupakan hari sepak bola lokal yang telah menyatukan negaranya demi berlaga di ajang Piala Dunia.

Sejak saat itu, hari pria internasional telah berfungsi untuk mempromosikan aspek-aspek positif dari identitas pria berdasarkan premis bahwa pria merespons lebih konstruktif terhadap panutan yang positif daripada stereotip gender yang negatif. Hari ini tidak dimaksudkan untuk menyaingi Hari Perempuan Internasional, tetapi untuk menyoroti pentingnya kesehatan fisik dan mental serta maskulinitas pria yang positif. Pada hari pria internasional ini setiap pria didesak untuk mengusung kesetaraan gender dan menolong orang lain sebagai bentuk konkret dari maskulinitas positif.

Melansir hindustantimes.com, pada Senin (18/11) bahwa hari pria internasional bermakna merayakan dampak positif pria terhadap sosial sekaligus menekankan kesejahteraan mereka. Hari ini menyediakan platform untuk mendiskusikan isu-isu penting seperti kesehatan mental, menantang stereotip, dan mempromosikan kesetaraan gender.

Dengan menyoroti pentingnya panutan positif dari pria dan mengatasi tekanan sosial, hari ini mendorong dialog terbuka dan menumbuhkan sistem dukungan untuk pria. Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan dunia yang lebih inklusif dan penuh kasih sayang yang menghargai kontribusi dan kebahagiaan setiap orang.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore