Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 Januari 2025 | 22.30 WIB

Orang yang Pura-pura Kaya di Media Sosial Tapi Sangat Terpuruk di Kehidupan Nyata, Kerap Menunjukkan 7 Tanda Ini

4 sisi psikologi orang yang pamer di media sosial (LinkedIn) - Image

4 sisi psikologi orang yang pamer di media sosial (LinkedIn)

JawaPos.com - Media sosial adalah salah satu hal yang akrab dengan setiap orang di era digital ini. Mereka menyajikan konten hiburan, wadah untuk bebas berekspresi, dan ajang untuk mempromosikan bisnis.

Meskipun banyak hal positif yang kita dapatkan dari media sosial, tapi membuat kita terlena akan kenyamanan itu. Terutama bagi mereka yang sengaja mencari pengakuan dari orang lain atas pencapaiannya.

Mungkin sah-sah saja jika pencapaian tersebut memang nyata adanya, tapi lebih parahnya mereka menampilkan itu semua di media sosial dengan pura-pura.

Pertunjukan mewah ini biasanya bukan mencerminkan status keuangan yang sebenarnya, melainkan cara untuk mencari validasi dan kekaguman dari pengikut media sosial.

2. Selalu berlibur eksotik

Bepergian itu mahal, terutama ke lokasi asing dan eksotik. Tapi mereka yang pura-pura kaya di media sosial sering kali memamerkan liburan “mewah”. Seperti foto bersantai di tepi kolam renang, bermain ski di resor pegunungan eksklusif, atau bersantap dengan pemandangan spektakuler

Tapi, kenyataannya mungkin berbeda. Gambar-gambar ini mungkin berasal dari perjalanan satu kali yang diambil bertahun-tahun yang lalu, atau bahkan gambar yang bukan miliknya. Ini adalah kasus klasik dari mentalitas 'berpura-pura sampai kamu berhasil'.

3. Postingan mereka kurang mendalam secara pribadi

Mengingat gaya hidup mewah yang mereka gambarkan, media sosial pasti dipenuhi dengan pengalaman pribadi dan cerita di balik petualangan hidupnya.

Anehnya, postingan mereka sering kali kurang memiliki sentuhan pribadi. Kamu akan menemukan gambar restoran kelas atas, barang dagangan bermerek, dan lokasi eksotis, tetapi sangat sedikit postingan tentang kehidupan, pemikiran, atau perasaan pribadi.

Kurangnya kedalaman pribadi ini karena fokus mereka adalah menampilkan gambaran kekayaan dan kesuksesan daripada berbagi momen nyata dalam kehidupan. Mereka mungkin saja takut bahwa berbagi terlalu banyak tentang kehidupan nyata akan menghancurkan reputasi yang telah mereka bangun dengan hati-hati.

4. Selalu mencari validasi melalui suka dan komentar

Semua orang senang mendapatkan suka dan komentar di postingan media sosial mereka, ini adalah bentuk validasi yang kita semua hargai. Tapi, bagi individu yang pura-pura kaya, suka dan komentar ini bisa berarti lebih banyak lagi.

Harga diri mereka sering kali dikaitkan dengan jumlah suka atau komentar yang didapatkan, bahkan sering memeriksanya dari waktu ke waktu. Ketika tidak mendapatkan itu semua, maka akan kesal dan badmood.

5. Jarang membicarakan pekerjaan atau kariernya

Banyak di antara kita yang sering membagikan kabar terbaru tentang pekerjaan atau karier kita di media sosial, baik suka maupun duka, promosi, dan tantangannya. Itu adalah bagian dari hidup yang kita banggakan dan ingin dibagikan kepada orang lain.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore