Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 9 Januari 2025 | 21.10 WIB

Pria Ternyata Lebih Susah untuk Move On Daripada Wanita, Begini Penjelasannya Menurut Penelitian Psikologi Terbaru

Ilustrasi lelaki sedih karena gagal move on. (Pexels) - Image

Ilustrasi lelaki sedih karena gagal move on. (Pexels)

JawaPos - Laki juga manusia, punya rasa punya hati. Kalimat ini mungkin sering kalian dengar, hanya saja kata laki biasanya diganti dengan rocker. Kalimat tersebut tampaknya dibenarkan oleh penelitian psikologi yang berjudul “Romantic Relationships Matter More to Men than to Women”.

Pada penelitian yang terbit di jurnal Behavioral and Brain Science tersebut, ditemukan fakta bahwa laki-laki cenderung lebih bergantung dan butuh hubungan romantis ketimbang wanita.

Selain itu, saat hubungan tersebut berakhir, laki-laki cenderung lebih sulit untuk mengatasinya atau lebih susah move on ketimbang wanita. Apa iya? Kenapa bisa begitu?

Penemuan ini memang sedikit mengejutkan kita, karena selama ini kita terbiasa untuk menilai wanita sebagai seseorang yang menganggap hubungan romantis sebagai sesuatu yang sangat penting. 

Semantara itu, pria kerap kali dianggap sebagai sosok yang tidak emosional dan terkadang menganggap hubungan romantis sebagai hal remeh.

Mungkin memang benar bahwa wanita suka dengan hal yang berkaitan dengan percintaan, namun, laki-laki ternyata  lebih butuh hubungan percintaan, dan bahkan mereka cenderung lebih susah untuk move on ketimbang wanita. Begini penjelasannya.

Mengapa Laki-laki Lebih Butuh Hubungan Romantis?

Menurut penelitian yang dilakukan Iris Wahring, Jeffry Simpson, dan Paul van Lange, konstruksi sosial yang berlaku di masyarakat memiliki pengaruh kuat terhadap terjadinya hal ini.

Dalam masyarakat, wanita cenderung memiliki support sosial dan emosional yang lebih baik. Orang-orang sekitar jauh lebih bisa menerima kerentanan emosional yang diekspresikan oleh seorang wanita ketimbang pria.

Hal ini terjadi karena anggapan populer di masyarakat menilai bahwa wanita adalah makhluk yang lemah lembut, dan sensitif. Jadi wajar saja jika mereka mengekspresikan diri saat sedih atau sedang rentan secara psikologis.

Semantara itu, laki-laki sering kali dianggap sebagai seseorang yang kuat, tidak mudah sedih, dan bisa melalui segalanya sendiri. Bahkan jika seorang lelaki mengekspresikan kegalauan atau kerentanan yang dialami, mereka sering kali dianggap lemah oleh orang-orang sekitar.

Hal ini kemudian membuat laki-laki menjadi cenderung lebih tidak terbuka, dan suka memendam apa yang sedang dirasakan atau dialami.

Konstruksi semacam inilah yang kemudian membuat laki-laki menjadi sangat bergantung kepada pasangan romantisnya. Laki-laki heteroseksual cenderung menganggap dan menjadikan pasangan mereka sebagai safe space atau tempat aman bagi mereka untuk mengekspresikan kerentanan emosi yang dialaminya.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore