
Ilustrasi lelaki sedih karena gagal move on. (Pexels)
JawaPos - Laki juga manusia, punya rasa punya hati. Kalimat ini mungkin sering kalian dengar, hanya saja kata laki biasanya diganti dengan rocker. Kalimat tersebut tampaknya dibenarkan oleh penelitian psikologi yang berjudul “Romantic Relationships Matter More to Men than to Women”.
Pada penelitian yang terbit di jurnal Behavioral and Brain Science tersebut, ditemukan fakta bahwa laki-laki cenderung lebih bergantung dan butuh hubungan romantis ketimbang wanita.
Selain itu, saat hubungan tersebut berakhir, laki-laki cenderung lebih sulit untuk mengatasinya atau lebih susah move on ketimbang wanita. Apa iya? Kenapa bisa begitu?
Baca Juga: Real Madrid vs Real Mallorca: Duel Sengit Klub Kerajaan di Semifinal Piala Super Spanyol 2025
Penemuan ini memang sedikit mengejutkan kita, karena selama ini kita terbiasa untuk menilai wanita sebagai seseorang yang menganggap hubungan romantis sebagai sesuatu yang sangat penting.
Semantara itu, pria kerap kali dianggap sebagai sosok yang tidak emosional dan terkadang menganggap hubungan romantis sebagai hal remeh.
Mungkin memang benar bahwa wanita suka dengan hal yang berkaitan dengan percintaan, namun, laki-laki ternyata lebih butuh hubungan percintaan, dan bahkan mereka cenderung lebih susah untuk move on ketimbang wanita. Begini penjelasannya.
Mengapa Laki-laki Lebih Butuh Hubungan Romantis?
Menurut penelitian yang dilakukan Iris Wahring, Jeffry Simpson, dan Paul van Lange, konstruksi sosial yang berlaku di masyarakat memiliki pengaruh kuat terhadap terjadinya hal ini.
Dalam masyarakat, wanita cenderung memiliki support sosial dan emosional yang lebih baik. Orang-orang sekitar jauh lebih bisa menerima kerentanan emosional yang diekspresikan oleh seorang wanita ketimbang pria.
Hal ini terjadi karena anggapan populer di masyarakat menilai bahwa wanita adalah makhluk yang lemah lembut, dan sensitif. Jadi wajar saja jika mereka mengekspresikan diri saat sedih atau sedang rentan secara psikologis.
Semantara itu, laki-laki sering kali dianggap sebagai seseorang yang kuat, tidak mudah sedih, dan bisa melalui segalanya sendiri. Bahkan jika seorang lelaki mengekspresikan kegalauan atau kerentanan yang dialami, mereka sering kali dianggap lemah oleh orang-orang sekitar.
Hal ini kemudian membuat laki-laki menjadi cenderung lebih tidak terbuka, dan suka memendam apa yang sedang dirasakan atau dialami.
Konstruksi semacam inilah yang kemudian membuat laki-laki menjadi sangat bergantung kepada pasangan romantisnya. Laki-laki heteroseksual cenderung menganggap dan menjadikan pasangan mereka sebagai safe space atau tempat aman bagi mereka untuk mengekspresikan kerentanan emosi yang dialaminya.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
