Kebiasaan orang tangguh yang bangkit pasca alami kemunduran menurut psikologi. (Freepik/ benzoix)
JawaPos.com – Mengalami kemunduran dalam hidup adalah hal yang tak terhindarkan, tetapi bagaimana seseorang meresponsnya menentukan seberapa cepat mereka bisa bangkit kembali.
Orang yang tangguh tidak hanya mampu menghadapi kegagalan, tetapi juga menjadikannya sebagai batu loncatan untuk tumbuh lebih kuat. Menurut psikologi, ada kebiasaan tertentu yang mereka terapkan untuk melewati masa sulit dan kembali melangkah dengan lebih percaya diri.
Dilansir dari geediting.com pada Kamis (13/2), diterangkan bahwa terdapat tujuh kebiasaan orang tangguh yang bangkit kembali lebih kuat setelah mengalami kemunduran menurut psikologi.
Perbedaan mencolok antara orang yang tangguh dan mereka yang kesulitan bangkit adalah penerimaan. Ketika menghadapi situasi yang tidak berjalan sesuai harapan, energi sering terkuras habis karena melawan realitas yang ada.
Para psikolog menyebut ini sebagai penerimaan radikal - sebuah konsep dimana kita mengakui situasi apa adanya tanpa berusaha mengubah atau melawannya.
Cara praktis untuk mempraktikkannya adalah dengan mengajukan pertanyaan pada diri sendiri: “Apakah ada hal yang realistis bisa kulakukan sekarang?” Jika jawabannya tidak, lebih baik melepaskan dan mengarahkan energi pada hal yang bisa membuat kita bergerak maju.
Saat menghadapi kegagalan, orang yang tangguh mental tidak melihatnya sebagai akhir perjalanan, melainkan batu loncatan untuk maju. Mereka memiliki pola pikir berkembang yang dikembangkan psikolog Carol Dweck - dimana tantangan dilihat sebagai hal menarik, bukan mengancam.
Alih-alih berpikir “Saya akan memperlihatkan kelemahan”, mereka berkata “Wow, ini kesempatan untuk berkembang”. Perspektif ini mengubah kegagalan menjadi pelajaran berharga yang bisa diambil hikmahnya untuk perbaikan di masa depan.
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa koneksi sosial yang kuat adalah salah satu prediktor terbesar dari ketangguhan mental. Mereka yang memiliki dukungan dari teman, keluarga, atau mentor terbukti lebih cepat pulih dari kemunduran dan mengalami tekanan emosional yang lebih sedikit.
Ketangguhan bukan berarti harus menangani semuanya sendiri, justru tentang mengetahui kapan harus bersandar pada orang lain. Saat menghadapi masa sulit, jangan mengisolasi diri - reach out pada orang yang kamu percaya.
Dr. Kristin Neff, pakar welas asih diri, menemukan bahwa individu yang memperlakukan diri dengan kebaikan saat menghadapi kesulitan justru lebih tangguh. Studi menunjukkan mereka yang mempraktikkan self-compassion setelah kegagalan lebih termotivasi untuk memperbaiki diri dan tidak terpaku pada kesalahan.

Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Haiti: Danilo Ingin Selecao Kuasai Permainan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Jadwal Moto3 Ceko 2026! Veda Ega Pratama P14 dan Langsung Lolos Q2
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
