Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 13 Februari 2025 | 21.41 WIB

7 Kebiasaan Orang Tangguh yang Bangkit Kembali Lebih Kuat Pasca Alami Kemunduran Menurut Psikologi

Kebiasaan orang tangguh yang bangkit pasca alami kemunduran menurut psikologi. (Freepik/ benzoix)

 

JawaPos.com – Mengalami kemunduran dalam hidup adalah hal yang tak terhindarkan, tetapi bagaimana seseorang meresponsnya menentukan seberapa cepat mereka bisa bangkit kembali.

Orang yang tangguh tidak hanya mampu menghadapi kegagalan, tetapi juga menjadikannya sebagai batu loncatan untuk tumbuh lebih kuat. Menurut psikologi, ada kebiasaan tertentu yang mereka terapkan untuk melewati masa sulit dan kembali melangkah dengan lebih percaya diri.

Dilansir dari geediting.com pada Kamis (13/2), diterangkan bahwa terdapat tujuh kebiasaan orang tangguh yang bangkit kembali lebih kuat setelah mengalami kemunduran menurut psikologi.

  1. Menerima apa yang tidak bisa dikendalikan

Perbedaan mencolok antara orang yang tangguh dan mereka yang kesulitan bangkit adalah penerimaan. Ketika menghadapi situasi yang tidak berjalan sesuai harapan, energi sering terkuras habis karena melawan realitas yang ada.

Para psikolog menyebut ini sebagai penerimaan radikal - sebuah konsep dimana kita mengakui situasi apa adanya tanpa berusaha mengubah atau melawannya.

Cara praktis untuk mempraktikkannya adalah dengan mengajukan pertanyaan pada diri sendiri: “Apakah ada hal yang realistis bisa kulakukan sekarang?” Jika jawabannya tidak, lebih baik melepaskan dan mengarahkan energi pada hal yang bisa membuat kita bergerak maju.

  1. Mengubah perspektif kegagalan menjadi kesempatan berkembang

Saat menghadapi kegagalan, orang yang tangguh mental tidak melihatnya sebagai akhir perjalanan, melainkan batu loncatan untuk maju. Mereka memiliki pola pikir berkembang yang dikembangkan psikolog Carol Dweck - dimana tantangan dilihat sebagai hal menarik, bukan mengancam.

Alih-alih berpikir “Saya akan memperlihatkan kelemahan”, mereka berkata “Wow, ini kesempatan untuk berkembang”. Perspektif ini mengubah kegagalan menjadi pelajaran berharga yang bisa diambil hikmahnya untuk perbaikan di masa depan.

  1. Mengandalkan sistem dukungan

Penelitian psikologi menunjukkan bahwa koneksi sosial yang kuat adalah salah satu prediktor terbesar dari ketangguhan mental. Mereka yang memiliki dukungan dari teman, keluarga, atau mentor terbukti lebih cepat pulih dari kemunduran dan mengalami tekanan emosional yang lebih sedikit.

Ketangguhan bukan berarti harus menangani semuanya sendiri, justru tentang mengetahui kapan harus bersandar pada orang lain. Saat menghadapi masa sulit, jangan mengisolasi diri - reach out pada orang yang kamu percaya.

  1. Mengembangkan kasih sayang pada diri sendiri

Dr. Kristin Neff, pakar welas asih diri, menemukan bahwa individu yang memperlakukan diri dengan kebaikan saat menghadapi kesulitan justru lebih tangguh. Studi menunjukkan mereka yang mempraktikkan self-compassion setelah kegagalan lebih termotivasi untuk memperbaiki diri dan tidak terpaku pada kesalahan.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore