Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 9 Mei 2025 | 01.46 WIB

Mengejar Gengsi: 8 Langkah Kelas Menengah Meniru Gaya Hidup Kelas Atas yang Bisa Menjadi Bumerang

Ilustrasi orang kelas menengah yang meniru gaya orang kelas atas. (Freepik) - Image

Ilustrasi orang kelas menengah yang meniru gaya orang kelas atas. (Freepik)

JawaPos.Com - Di balik kilau media sosial yang menampilkan liburan mewah, mobil terbaru, hingga makan malam di restoran berbintang, banyak orang dari kalangan kelas menengah yang merasa terdorong untuk tampil serupa.

Dorongan ini bukan semata-mata karena kebutuhan, melainkan karena tekanan sosial dan keinginan untuk dianggap ‘berkelas’.

Tak jarang, demi mempertahankan citra yang tampak sukses dan mapan, banyak keluarga kelas menengah yang secara sadar mengambil keputusan finansial yang jauh di luar kemampuan mereka.

Mereka mengejar simbol-simbol kekayaan seperti rumah besar, sekolah mahal untuk anak, atau tas branded, meskipun kenyataannya penghasilan bulanan tidak benar-benar mendukung gaya hidup tersebut.

Dilansir dari News Reports, inilah delapan langkah yang sering diambil oleh kelas menengah dalam upaya meniru gaya hidup kelas atas, yang jika tidak disadari, justru bisa menjadi bumerang dan menjebak mereka dalam tekanan keuangan yang panjang.

1. Berburu Barang Mewah Bermerek Demi Gengsi

Salah satu ciri paling mencolok dari upaya meniru gaya hidup kelas atas adalah kecenderungan untuk membeli barang bermerek, mulai dari tas, sepatu, hingga aksesori fesyen.

Barang-barang ini sering kali dibeli bukan karena kebutuhan atau kualitas, tapi karena labelnya.

Bahkan banyak yang rela mengambil cicilan panjang hanya untuk bisa mengenakan logo mewah yang diasosiasikan dengan status tinggi.

Gaya hidup ini menciptakan ilusi kemakmuran, tetapi di baliknya, sering kali tersembunyi beban utang yang menumpuk dan tabungan yang kosong.

2. Tinggal di Rumah yang Terlalu Besar untuk Ukuran Nyaman

Memiliki rumah besar memang terdengar seperti pencapaian, tetapi ketika cicilan bulanan memakan sebagian besar penghasilan, kenyamanan justru menjadi ilusi.

Banyak keluarga kelas menengah tergoda membeli properti yang terlalu mewah demi tampak sukses, tanpa menghitung biaya perawatan, pajak, dan utilitas yang meningkat drastis.

Alih-alih memberikan stabilitas, rumah besar yang tidak seimbang dengan pendapatan bisa menjadi sumber stres, bahkan memicu ketegangan keluarga akibat tekanan finansial yang semakin berat.

3. Memaksakan Anak Masuk Sekolah Mahal yang Belum Tentu Perlu

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore