
seseorang yang jarang dikunjungi oleh anak-anaknya. (Freepik/The Yuri Arcurs Collection)
JawaPos.com - Banyak orang tua merasa bingung dan terluka ketika anak-anak mereka yang sudah dewasa semakin jarang berkunjung, jarang menelepon, atau hanya datang saat ada keperluan tertentu. Pertanyaan yang sering muncul adalah, “Apakah aku gagal sebagai orang tua?” atau “Mengapa anakku berubah?”
Psikologi menunjukkan bahwa jaraknya hubungan orang tua dan anak dewasa sering kali bukan karena kurangnya cinta, melainkan karena dinamika emosional yang terbentuk secara perlahan dan tanpa disadari. Beberapa perilaku orang tua—yang sebenarnya diniatkan baik—justru dapat membuat anak merasa tidak nyaman untuk pulang atau berlama-lama.
Dilansir dari Geediting, terdapat 7 perilaku yang secara psikologis dapat membuat anak dewasa menjauh, agar hubungan bisa diperbaiki dengan lebih sadar dan dewasa.
1. Terlalu Sering Mengkritik, Meski Dibungkus “Nasihat”
Dalam pandangan orang tua, komentar seperti “Harusnya kamu bisa lebih baik” atau “Dulu seumuran kamu, Ayah/Ibu sudah…” terdengar sebagai bentuk kepedulian. Namun bagi anak dewasa, kritik yang terus-menerus bisa terasa melelahkan secara emosional.
Psikologi menyebut ini sebagai evaluative communication, di mana seseorang merasa dinilai, bukan diterima. Jika setiap kunjungan diakhiri dengan rasa kurang, anak akan cenderung menghindari situasi tersebut demi menjaga kesehatan mentalnya.
2. Sulit Menghormati Batasan Pribadi Anak
Anak yang sudah dewasa membutuhkan ruang otonomi: cara hidup, pilihan pasangan, pola asuh, hingga keputusan karier. Ketika orang tua terus mencampuri dengan alasan “lebih tahu”, anak bisa merasa tidak dipercaya.
Menurut psikologi relasional, pelanggaran batas (boundary violation) adalah salah satu penyebab utama renggangnya hubungan keluarga. Anak mungkin tetap mencintai orang tuanya, tetapi memilih menjaga jarak agar tidak terus-menerus merasa dikontrol.
3. Selalu Mengungkit Masa Lalu
Mengingat kenangan memang manusiawi. Namun ketika orang tua sering mengungkit kesalahan lama, pengorbanan yang telah dilakukan, atau luka masa lalu, anak dewasa bisa merasa terjebak dalam identitas lama yang tidak lagi mencerminkan dirinya sekarang.
Psikologi perkembangan menekankan bahwa manusia butuh pengakuan atas pertumbuhan. Jika anak merasa terus diperlakukan sebagai “anak kecil yang salah”, kunjungan ke rumah orang tua bisa terasa seperti kembali ke masa yang tidak ingin diulang.
4. Menunjukkan Sikap Pasif-Agresif
Kalimat seperti “Ya sudah, Ibu sendirian saja” atau “Tidak apa-apa kok, sudah biasa” sering terdengar sepele. Namun secara psikologis, ini adalah bentuk emosional manipulatif tidak sadar yang memicu rasa bersalah.
Anak dewasa yang sering merasa bersalah setelah berkunjung justru akan memilih menjauh untuk melindungi diri. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena lelah secara emosional.
5. Tidak Pernah Benar-Benar Mendengarkan
Banyak orang tua mendengar untuk merespons, bukan untuk memahami. Saat anak bercerita, responsnya sering langsung berupa solusi, nasihat, atau pembandingan.
Psikologi komunikasi menyebut bahwa active listening adalah kunci kedekatan emosional. Ketika anak merasa suaranya tidak benar-benar didengar, rumah orang tua bukan lagi tempat aman untuk berbagi—melainkan tempat untuk diam.
6. Mengharapkan Anak Mengisi Kekosongan Emosional Orang Tua
Kesepian, kehilangan pasangan, atau perubahan fase hidup bisa membuat orang tua tanpa sadar menggantungkan kebahagiaan pada anak. Harapan agar anak sering datang, menemani, atau selalu ada bisa terasa seperti beban emosional.
Menurut psikologi keluarga, peran terbalik (role reversal) ini membuat anak merasa bertanggung jawab atas emosi orang tua—sesuatu yang berat dan tidak sehat dalam hubungan dewasa.
7. Sulit Mengakui Kesalahan dan Meminta Maaf
Banyak orang tua dibesarkan dengan keyakinan bahwa orang tua harus selalu benar. Namun bagi anak dewasa, ketidakmampuan orang tua untuk mengakui kesalahan menciptakan jarak emosional.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Swiss vs Slovenia di Liga Nations UEFA: La Nati Menang Besar di Thermoplan Arena
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Prediksi Skor Islandia vs Bulgaria di Liga Nations UEFA: Strákarnir okkar Tundukkan Tim Tamu
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Skor Belarus vs San Marino di Liga Nations UEFA: Belyya Kryly Pesta Gol
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Susunan Pemain Spanyol vs Ceko: De la Fuente dan Denia seperti Bermain Catur
Prediksi Finlandia vs Albania di UEFA Nations League: Duel Ketat Dua Tim Belum Kebobolan
Prediksi Skor Azerbaijan vs Lituania di Liga Nations UEFA: Milli Komanda Diprediksi Kembali Tertahan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022