
seseorang yang menjadi anak baik dalam keluarga. (Freepik/freepik)
JawaPos.com - Dalam banyak keluarga, ada satu peran yang sering dianggap “ideal”: anak baik. Ia patuh, tidak membantah, tidak merepotkan, dan sering menjadi kebanggaan orang tua. Di sisi lain, ada juga “anak kesayangan” yang lebih dimaklumi, lebih diperhatikan, atau bahkan lebih dimanjakan.
Sekilas, menjadi anak baik tampak seperti posisi yang menguntungkan. Namun menurut perspektif psikologi perkembangan, peran ini sering membawa beban emosional yang tidak terlihat—dan justru terbawa hingga dewasa.
Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (25/3), terdapat 9 hal yang diam-diam dibawa oleh “anak baik” hingga dewasa, yang sering kali tidak pernah benar-benar dipahami oleh anak kesayangan dalam keluarga.
1. Kecenderungan Memendam Emosi
Sejak kecil, anak baik belajar bahwa menjadi “baik” berarti tidak marah, tidak mengeluh, dan tidak menyusahkan. Akibatnya, mereka terbiasa menekan emosi negatif.
Saat dewasa, hal ini bisa berubah menjadi:
Sulit mengekspresikan perasaan
Menahan marah hingga meledak
Merasa tidak nyaman saat konflik
Sementara itu, anak kesayangan sering lebih bebas mengekspresikan emosi—dan tidak memahami kenapa saudara mereka terlihat “dingin” atau tertutup.
2. Rasa Bersalah yang Berlebihan
Anak baik sering dikondisikan untuk menjaga harmoni keluarga. Mereka merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain.
Dampaknya:
Mudah merasa bersalah meski tidak salah
Sulit berkata “tidak”
Mengorbankan diri sendiri demi orang lain
Hal ini sering tidak dipahami oleh anak kesayangan yang terbiasa menjadi prioritas, bukan penjaga keseimbangan.
3. Takut Mengecewakan Orang Lain
Anak baik tumbuh dengan identitas: “aku dicintai karena aku tidak mengecewakan.”
Akibatnya:
Perfeksionisme
Overthinking sebelum mengambil keputusan
Takut gagal secara berlebihan
Bagi anak kesayangan, kegagalan mungkin tidak terasa mengancam hubungan dengan orang tua—berbeda dengan anak baik.
4. Kesulitan Mengenali Kebutuhan Diri Sendiri
Karena terlalu fokus memenuhi harapan orang lain, anak baik sering kehilangan koneksi dengan dirinya sendiri.
Saat dewasa:
Bingung menentukan keinginan pribadi
Tidak tahu apa yang sebenarnya membuatnya bahagia
Terbiasa mengikuti, bukan memilih
Ini membuat mereka terlihat “pasif”, padahal sebenarnya mereka hanya tidak terbiasa didengarkan.
5. Kebiasaan Menjadi “People Pleaser”
Anak baik sering tumbuh menjadi seseorang yang selalu ingin menyenangkan orang lain.
Ciri-cirinya:
Menghindari konflik
Mengiyakan sesuatu meski tidak ingin
Mengutamakan kenyamanan orang lain dibanding diri sendiri
Sementara anak kesayangan lebih terbiasa menjadi pusat perhatian, anak baik justru menjadi penyesuai.
6. Beban Tanggung Jawab yang Tidak Terlihat
Dalam banyak keluarga, anak baik sering “diandalkan” tanpa disadari:
Menjadi penengah konflik
Menjadi contoh bagi saudara lain
Memikul ekspektasi tinggi
Namun beban ini jarang diakui secara eksplisit. Mereka terlihat kuat—padahal lelah.
Anak kesayangan sering tidak menyadari bahwa ada distribusi peran yang tidak seimbang sejak awal.
7. Kesulitan Menerima Diri Apa Adanya
Karena terbiasa dinilai dari perilaku “baik”, anak baik sering merasa:
“Aku berharga hanya jika aku memenuhi ekspektasi.”
Akibatnya:
Self-worth bergantung pada validasi eksternal
Sulit menerima kekurangan
Takut menunjukkan sisi “tidak sempurna”
Berbeda dengan anak kesayangan yang sering merasa dicintai tanpa syarat.
8. Hubungan Dewasa yang Tidak Seimbang
Saat dewasa, pola masa kecil sering terbawa ke hubungan:
Menjadi pasangan yang terlalu memberi
Menarik pasangan yang dominan atau bergantung
Sulit menetapkan batasan (boundaries)
Ini bukan kebetulan, melainkan pola yang terbentuk sejak kecil.
9. Kerinduan untuk Didengar, Bukan Hanya Diandalkan
Di balik semua “kebaikan”, ada kebutuhan sederhana yang sering tidak terpenuhi:
ingin didengar, dipahami, dan diterima apa adanya.
Anak baik sering tumbuh dengan perasaan:
“Aku harus kuat”
“Aku tidak boleh merepotkan”
“Perasaanku tidak sepenting orang lain”
Sementara anak kesayangan mungkin tidak pernah merasakan kekosongan ini karena sejak awal sudah mendapatkan ruang emosional.
Penutup
Menjadi “anak baik” bukanlah kesalahan. Itu adalah bentuk adaptasi terhadap lingkungan keluarga. Namun, ketika peran itu menjadi satu-satunya identitas, ia bisa berubah menjadi beban yang tidak terlihat.
Memahami dinamika ini bukan untuk menyalahkan siapa pun—melainkan untuk membuka kesadaran bahwa setiap anak dalam keluarga memiliki pengalaman emosional yang berbeda.
Dan bagi mereka yang tumbuh sebagai anak baik, perjalanan dewasa sering kali adalah tentang belajar:
Mengakui perasaan sendiri
Menetapkan batasan

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
