
seseorang yang tetap bahagia dan gembira seiring bertambahnya usia (Magnific/jcomp)
JawaPos.com - Banyak orang beranggapan bahwa kebahagiaan akan menurun seiring bertambahnya usia. Namun berbagai temuan dalam psikologi justru menunjukkan hal yang berlawanan: banyak orang yang justru menjadi lebih tenang, lebih puas, dan lebih stabil secara emosional ketika mereka bertambah tua.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan meningkatnya regulasi emosi, berkurangnya kebutuhan akan validasi sosial, serta kemampuan yang lebih baik dalam memilih apa yang benar-benar penting dalam hidup.
Namun ada satu pola menarik yang sering muncul pada orang-orang yang tetap bahagia di usia lanjut: mereka bukan hanya “menambahkan” kebiasaan baik, tetapi juga “meninggalkan” kebiasaan tertentu yang menguras energi mental.
Dilansir dari Expert Editor, terdapat sembilan kebiasaan yang menurut psikologi sering ditinggalkan oleh orang-orang yang tetap bahagia seiring bertambahnya usia.
1. Terlalu Peduli pada Penilaian Orang Lain
Di usia muda, banyak orang menghabiskan energi besar untuk memikirkan bagaimana mereka terlihat di mata orang lain—apakah cukup sukses, cukup menarik, atau cukup “benar”.
Seiring waktu, orang yang lebih bahagia belajar bahwa penilaian orang lain sering kali tidak konsisten dan tidak sepenuhnya bisa dikendalikan. Mereka mulai menggeser fokus dari “apa kata orang” menjadi “apa yang sesuai dengan nilai pribadi”.
Bukan berarti mereka tidak peduli sama sekali, tetapi mereka tidak lagi menjadikan validasi eksternal sebagai pusat identitas diri.
2. Membandingkan Diri Secara Berlebihan
Perbandingan sosial adalah salah satu sumber ketidakbahagiaan yang paling umum. Media sosial memperparah kecenderungan ini, membuat orang merasa tertinggal dalam hal karier, hubungan, atau gaya hidup.
Orang yang lebih bahagia di usia matang cenderung mengurangi kebiasaan ini. Mereka mulai memahami bahwa setiap orang memiliki garis waktu dan konteks hidup yang berbeda.
Alih-alih bertanya “kenapa hidup saya tidak seperti mereka?”, mereka lebih sering bertanya “apakah hidup saya bergerak ke arah yang saya inginkan?”
3. Menyimpan Dendam Terlalu Lama
Psikologi menunjukkan bahwa menyimpan dendam berkepanjangan dapat meningkatkan stres kronis dan menurunkan kesejahteraan emosional.
Orang yang lebih dewasa secara emosional biasanya belajar bahwa memaafkan bukan berarti membenarkan perilaku orang lain, melainkan melepaskan beban psikologis dari diri sendiri.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Al-Hilal vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: The Blue Waves Amankan 3 Poin di Kandang!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Profil Matheus Lagoa! Legenda dan Kapten Anapolis, Puzzle Terakhir Persebaya Surabaya
Prediksi Skor West Ham vs Wolverhampton, Kemenangan Perdana atau Lanjutkan Tren Positif
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
Breaking News! Persebaya Surabaya Rekrut Kapten Anapolis FC Matheus Lagoa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
