
Ilustrasi seseorang mendengarkan musik yang tidak disuka.
JawaPos.com - Siapa sangka kalau kebiasaan dengerin musik yang nggak kamu suka bisa bikin berat badan melonjak? Sebuah studi terbaru mengungkapkan fakta unik bahwa selera musik seseorang ternyata punya hubungan erat dengan seberapa banyak gula yang mereka konsumsi setiap hari.
Banyak orang biasanya sangat sensitif dan defensif kalau sudah membahas soal daftar putar musik (playlist) andalan mereka. Ada yang suka lagu pop ceria, ada juga yang lebih nyaman dengan musik alternatif yang gelap dan intens. Kita semua punya standar masing-masing tentang musik yang bagus, tapi mendengarkan lagu yang dibenci ternyata bisa memberikan efek yang cukup signifikan pada otak.
Fenomena unik ini erat kaitannya dengan bagaimana otak kita merespons kenyamanan, perubahan suasana hati, dan pelepasan hormon dopamin secara instan. Musik yang buruk terbukti bisa bikin stres, dan secara tidak sadar tubuh kita bakal mencari pelarian instan untuk memperbaiki mood tersebut.
Menariknya, kecenderungan memilih camilan manis ini tetap terjadi bahkan ketika seseorang dihadapkan pada pilihan makanan lain yang jauh lebih sehat. Dilansir dari YourTango, efek psikologis dari suara yang mengganggu di sekitar kita memang punya andil besar dalam memengaruhi keputusan harian, termasuk dalam urusan memilih menu makanan.
Para peneliti di Austria baru-baru ini melakukan sebuah eksperimen mendalam yang hasilnya telah resmi diterbitkan dalam jurnal ilmu pangan ternama, Appetite. Penelitian yang dipimpin oleh Jonas Potthoff dan Anne Schienle ini bertujuan untuk melihat bagaimana jenis musik memengaruhi keinginan makan seseorang.
Tim peneliti ingin menguji apakah musik yang disukai versus yang tidak disukai yang dipilih sendiri mempengaruhi keinginan untuk makan, perhatian visual terhadap makanan dengan kandungan gula yang berbeda, dan pilihan makanan selanjutnya dalam konteks prasmanan. Eksperimen ini dirancang sedemikian rupa untuk melihat reaksi spontan dari para peserta.
Dalam prosesnya, sebanyak 106 peserta dengan usia rata-rata 25 tahun diminta untuk berpuasa selama beberapa jam terlebih dahulu sebelum pengujian dimulai. Setelah itu, mereka dibagi menjadi tiga kelompok terpisah, yaitu kelompok yang mendengarkan musik kesukaan, kelompok musik yang dibenci, dan kelompok tanpa musik sama sekali.
Selanjutnya, panitia menyajikan sembilan item berbeda yang terdiri dari tiga jenis permen kenyal tinggi gula, tiga jenis buah segar rendah gula, dan tiga benda non-makanan seperti kelereng dan bola tenis. Melalui metode ini, peneliti bisa melihat langsung ke mana arah kecenderungan minat para peserta setelah telinga mereka distimulasi oleh audio tertentu.
Sebelum dan sesudah eksperimen berjalan, setiap individu wajib menyelesaikan penilaian terhadap keadaan afektif mereka dan keinginan umum mereka untuk makan sebelum dan sesudah percobaan. Mereka juga diminta memberikan nilai pada setiap item yang disajikan dan dibebaskan untuk mengambil benda apa saja yang mereka inginkan sebagai hadiah.

Analisis Prediksi Bursa Inggris vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Albiceleste Sudah Teruji hingga 120 MenitÂ
Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
Alasan Mengapa Jude Bellingham Menampar Pemain Argentina Setelah Inggris Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Rekor Pertemuan Lengkap Argentina vs Spanyol, Mencari Juara Sejati di Final Piala Dunia 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Menteri PU Dody Hanggodo Ungkap 10.000 Pegawai Terindikasi Judol dan Masalah Absensi
Kompak Turun, Berikut Daftar Harga Terbaru BBM Pertamina hingga Shell
Profil Valentin Barco! Pemain Argentina Ditempeleng Jude Bellingham Usai Inggris Tersingkir di Semifinal Piala Dunia 2026
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Vicky Prasetyo Menunggu Detak Jantung Janin Sebelum Nikahi Fangfang Secara Siri
