Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 September 2026 | 04.17 WIB

Merasa Kurang Bahagia Akhir-Akhir Ini? Mungkin Kamu Melewatkan 7 Hal Sederhana Menurut Psikologi

seseorang yang kurang merasa bahagia. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Ada masa ketika hidup sebenarnya baik-baik saja, tetapi entah mengapa kita tetap merasa kurang bahagia.
 
Tidak sedang menghadapi masalah besar. Tidak sedang mengalami sesuatu yang benar-benar buruk. Rutinitas berjalan seperti biasa. Pekerjaan masih ada, orang-orang yang disayangi masih berada di sekitar kita, dan kebutuhan sehari-hari pun mungkin masih terpenuhi.

Namun, ada sesuatu yang terasa hilang.

Kita bangun tidur tanpa benar-benar bersemangat. Menjalani hari sekadar karena memang harus dijalani. Menyelesaikan pekerjaan, membuka media sosial, menonton sesuatu, makan, tidur, lalu mengulangi semuanya lagi keesokan harinya.

Kadang kita bahkan tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya salah.

Kita hanya merasa, "Aku kok akhir-akhir ini nggak sebahagia dulu, ya?"

Menariknya, psikologi menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari perubahan besar dalam hidup. Sering kali, kondisi psikologis kita dipengaruhi oleh hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten: bagaimana kita berhubungan dengan orang lain, bagaimana kita memperlakukan tubuh, bagaimana kita menghabiskan perhatian, dan apakah kehidupan sehari-hari kita masih memberikan rasa bermakna.

Mungkin bukan hidupmu yang sepenuhnya bermasalah.

Mungkin ada beberapa kebutuhan sederhana yang belakangan ini terabaikan.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (7/9), terdapat tujuh hal yang mungkin sedang kamu lewatkan.

1. Kamu Mungkin Terlalu Lama Sendirian Tanpa Benar-Benar Terhubung dengan Orang Lain

Ada perbedaan antara sendirian dan merasa kesepian.

Kita bisa menghabiskan waktu sendirian dan merasa sangat tenang. Sebaliknya, kita juga bisa berada di tengah banyak orang tetapi tetap merasa tidak benar-benar terhubung dengan siapa pun.

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kita membutuhkan hubungan yang membuat kita merasa dilihat, didengar, diterima, dan memiliki tempat.

Masalahnya, kehidupan modern membuat hubungan sosial sering berubah menjadi sesuatu yang dangkal.

Kita berkomunikasi sepanjang hari melalui pesan singkat, memberikan reaksi pada unggahan orang lain, melihat kehidupan teman melalui media sosial, tetapi jarang benar-benar duduk dan berbicara dari hati ke hati.

Kita tahu apa yang sedang dilakukan banyak orang.

Tetapi belum tentu tahu bagaimana keadaan mereka sebenarnya.

Dan belum tentu ada orang yang tahu bagaimana keadaan kita.

Padahal, percakapan sederhana bisa memiliki dampak psikologis yang jauh lebih besar daripada yang kita sadari.

Tidak harus selalu membicarakan masalah.

Kadang cukup mengirim pesan kepada seorang teman:

"Gimana kabarmu akhir-akhir ini?"

Atau mengajak seseorang minum kopi.

Berjalan bersama.

Makan malam tanpa sibuk memainkan ponsel.

Menelepon orang tua.

Bercanda dengan saudara.

Atau sekadar duduk bersama seseorang tanpa merasa harus melakukan sesuatu yang produktif.

Kebahagiaan tidak selalu membutuhkan lebih banyak orang dalam hidup kita.

Terkadang kita hanya membutuhkan hubungan yang lebih nyata dengan beberapa orang yang sudah ada.

2. Kamu Mungkin Terlalu Jarang Melakukan Sesuatu Hanya Karena Menyenangkan

Coba pikirkan kehidupanmu beberapa minggu terakhir.

Berapa banyak hal yang kamu lakukan karena memang kamu ingin melakukannya?

Dan berapa banyak yang kamu lakukan karena merasa harus?

Bangun untuk bekerja.

Bekerja untuk mendapatkan penghasilan.

Mengurus pekerjaan rumah.

Menyelesaikan kewajiban.

Membalas pesan.

Mengurus berbagai tanggung jawab.

Kemudian ketika semua selesai, kita biasanya terlalu lelah untuk melakukan sesuatu yang benar-benar kita sukai.

Akhirnya, waktu luang diisi dengan aktivitas yang paling mudah: menggulir media sosial, menonton video pendek, atau berbaring sambil menatap layar.

Masalahnya, istirahat dan kesenangan bukanlah hal yang sama.

Tubuh memang sedang tidak bekerja, tetapi pikiran belum tentu mendapatkan pengalaman yang benar-benar menyenangkan atau memulihkan.

Dalam psikologi, aktivitas yang memberi kita rasa senang, keterlibatan, dan kepuasan dapat menjadi bagian penting dari kesejahteraan psikologis.

Dan aktivitas itu tidak harus mahal.

Mungkin kamu suka membaca buku.

Memasak.

Menggambar.

Bermain musik.

Bersepeda.

Merawat tanaman.

Berjalan sore.

Menulis.

Memotret.

Mendengarkan album favorit.

Atau sekadar pergi ke tempat yang membuatmu merasa nyaman.

Tidak semua hal harus menghasilkan uang.

Tidak semua hobi harus menjadi bisnis.

Tidak semua waktu harus digunakan untuk meningkatkan diri.

Ada hal-hal yang boleh dilakukan hanya karena membuatmu merasa hidup.

Jika seluruh hidupmu hanya dipenuhi kewajiban, jangan heran jika kamu mulai kehilangan rasa antusias.

3. Kamu Mungkin Kurang Bergerak daripada yang Dibutuhkan Tubuhmu

Ketika merasa tidak bahagia, kita sering langsung mencari solusi di kepala.

"Kenapa aku begini?"

"Apa yang salah dengan hidupku?"

"Kenapa aku kehilangan motivasi?"

Padahal terkadang tubuh juga membutuhkan perhatian.

Aktivitas fisik berkaitan dengan berbagai aspek kesehatan mental, termasuk suasana hati dan pengelolaan stres.

Dan kabar baiknya, kamu tidak harus langsung menjadi orang yang rajin pergi ke gym.

Berjalan kaki beberapa menit.

Naik tangga.

Melakukan peregangan.

Bersepeda.

Bersih-bersih rumah.

Bermain bersama anak.

Pergi keluar untuk membeli sesuatu dengan berjalan kaki.

Semua itu tetap merupakan bentuk gerakan.

Sering kali kita membayangkan olahraga harus dilakukan dengan intensitas tinggi agar berarti.

Padahal yang lebih penting adalah menemukan cara bergerak yang realistis dan bisa dilakukan secara konsisten.

Cobalah satu kebiasaan sederhana:

Jangan langsung mengambil ponsel ketika merasa lelah atau bosan. Berjalanlah selama 10–20 menit terlebih dahulu.

Rasakan udara.

Perhatikan lingkungan sekitar.

Biarkan tubuh bergerak.

Tidak semua masalah akan hilang setelah berjalan kaki.

Tetapi terkadang, setelah tubuh bergerak, pikiran tidak terasa seberat sebelumnya.

4. Kamu Mungkin Terlalu Sering Membandingkan Kehidupanmu dengan Kehidupan Orang Lain

Ini salah satu hal yang paling mudah tidak kita sadari.

Kita melihat orang lain mendapatkan pekerjaan baru.

Menikah.

Membeli rumah.

Pergi berlibur.

Memulai bisnis.

Mendapatkan penghargaan.

Menjalani kehidupan yang terlihat menyenangkan.

Lalu kita melihat kehidupan sendiri dan berpikir:

"Kenapa hidupku belum seperti itu?"

Masalahnya, media sosial membuat kita terus-menerus melihat hasil akhir kehidupan orang lain, sementara kita menjalani kehidupan kita dari balik layar.

Kita melihat keberhasilan mereka.

Tetapi tidak melihat kegagalan mereka.

Kita melihat foto liburan.

Tidak melihat tekanan finansialnya.

Kita melihat pencapaian.

Tidak melihat berapa tahun perjuangan yang mendahuluinya.

Kita melihat senyuman.

Tidak mengetahui apa yang terjadi sebelum dan sesudah kamera dinyalakan.

Perbandingan seperti ini bisa membuat kita kehilangan kemampuan untuk menghargai apa yang sebenarnya sudah kita miliki.

Karena standar kebahagiaan terus bergerak.

Kemarin kita ingin memiliki apa yang kita punya sekarang.

Setelah mendapatkannya, kita melihat orang lain yang memiliki sesuatu yang lebih besar.

Lalu kita merasa tertinggal lagi.

Bukan berarti kamu harus berhenti menggunakan media sosial sama sekali.

Tetapi mungkin kamu perlu sesekali bertanya:

"Setelah melihat kehidupan orang ini, apakah aku merasa terinspirasi atau justru merasa hidupku tidak cukup?"

Jika sesuatu terus-menerus membuatmu merasa kurang, mungkin yang perlu diubah bukan hidupmu.

Mungkin yang perlu diubah adalah seberapa sering kamu membandingkannya.

5. Kamu Mungkin Kurang Memperhatikan Hal-Hal Kecil yang Sebenarnya Sudah Baik

Ada kecenderungan psikologis manusia untuk lebih mudah memperhatikan hal yang salah daripada hal yang berjalan baik.

Satu komentar negatif bisa lebih lama teringat daripada sepuluh pujian.

Satu kegagalan bisa terasa lebih besar daripada banyak keberhasilan kecil.

Karena itu, hidup yang sebenarnya cukup baik pun bisa terasa buruk ketika perhatian kita terus-menerus diarahkan pada kekurangan.

Di sinilah kebiasaan sederhana seperti gratitude atau rasa syukur bisa membantu.

Bukan berarti kita harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Bukan pula berarti masalah harus diabaikan.

Rasa syukur lebih sederhana dari itu.

Ia adalah kemampuan untuk menyadari bahwa di tengah hal-hal yang belum sempurna, masih ada sesuatu yang layak dihargai.

Misalnya:

Hari ini kamu bisa makan dengan tenang.

Ada seseorang yang membalas pesanmu.

Tubuhmu masih membawamu menjalani hari.

Kamu memiliki tempat untuk pulang.

Ada musik yang kamu sukai.

Ada makanan sederhana yang membuatmu nyaman.

Ada seseorang yang pernah membuatmu tertawa.

Ada kesempatan untuk memulai lagi besok.

Hal-hal tersebut mungkin terlihat kecil.

Tetapi kehidupan pada dasarnya memang tersusun dari banyak hal kecil.

Kebahagiaan tidak selalu berupa satu peristiwa besar yang membuat kita berkata,

"Akhirnya aku bahagia."

Sering kali kebahagiaan muncul sebagai kumpulan momen kecil yang kita sadari dan hargai.

6. Kamu Mungkin Terlalu Sibuk Mengejar Masa Depan Sampai Tidak Sempat Menjalani Hari Ini

Ada orang yang selalu berpikir:

"Nanti kalau sudah punya uang lebih banyak, aku akan bahagia."

"Nanti kalau karierku sudah stabil, aku akan tenang."

"Nanti kalau sudah menikah, hidup akan lebih lengkap."

"Nanti kalau sudah mencapai target ini, aku akan menikmati hidup."

Tidak ada yang salah dengan memiliki tujuan.

Masalahnya muncul ketika seluruh kebahagiaan kita ditunda sampai tujuan tercapai.

Karena setelah satu tujuan tercapai, biasanya muncul tujuan berikutnya.

Kita mengejar angka berikutnya.

Jabatan berikutnya.

Rumah berikutnya.

Target berikutnya.

Dan tanpa sadar, hidup berubah menjadi rangkaian "nanti".

Padahal kehidupan nyata hanya terjadi sekarang.

Kamu tidak harus berhenti memiliki ambisi.

Kamu hanya perlu belajar menikmati proses sambil tetap bergerak menuju tujuan.

Minum kopi tanpa membuka laptop.

Makan tanpa terburu-buru.

Berbicara dengan orang yang kamu sayangi tanpa mengecek notifikasi.

Menikmati perjalanan, bukan hanya memikirkan tujuan.

Merasakan matahari pagi.

Mendengarkan lagu sampai selesai.

Tertawa ketika ada sesuatu yang lucu.

Hal-hal sederhana seperti itu mungkin tidak mengubah masa depanmu.

Tetapi mereka membuat hari ini terasa seperti kehidupan, bukan sekadar ruang tunggu menuju kehidupan yang sebenarnya.

7. Kamu Mungkin Sudah Lama Tidak Bertanya: "Apa yang Sebenarnya Penting Bagiku?"

Ini mungkin yang paling dalam.

Kadang kita tidak merasa bahagia bukan karena hidup kita buruk.

Kita hanya sedang menjalani kehidupan yang semakin jauh dari apa yang sebenarnya kita anggap penting.

Kita mengejar sesuatu karena semua orang mengejarnya.

Mengambil pekerjaan karena terlihat bagus.

Mengejar status karena dianggap sukses.

Membeli sesuatu karena orang lain memilikinya.

Mengikuti standar yang sebenarnya tidak pernah kita pilih sendiri.

Lalu suatu hari kita berhenti dan bertanya:

"Kenapa aku melakukan semua ini?"

Pertanyaan tersebut bisa terasa menakutkan.

Tetapi juga bisa menjadi awal dari perubahan.

Cobalah bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang sebenarnya penting bagiku?

Orang seperti apa yang ingin aku menjadi?

Hubungan seperti apa yang ingin aku bangun?

Apa yang membuatku merasa hidup?

Apa yang ingin aku lakukan meskipun tidak ada yang memberi pujian?

Jika uang dan penilaian orang lain bukan masalah, bagaimana aku ingin menjalani hari-hariku?

Jawabannya mungkin tidak langsung muncul.

Tidak apa-apa.

Mencari makna hidup bukan pekerjaan satu malam.

Tetapi semakin kita mengenali nilai-nilai yang benar-benar penting bagi diri sendiri, semakin mudah kita menentukan mana yang perlu dikejar dan mana yang sebenarnya tidak perlu.

Karena hidup yang terlihat sukses dari luar belum tentu terasa bermakna dari dalam.

Jadi, Apa yang Harus Kamu Lakukan Sekarang?

Tidak perlu mengubah seluruh hidupmu.

Jangan membuat daftar 25 kebiasaan baru lalu merasa gagal karena tidak mampu menjalankannya.

Mulailah dari sesuatu yang kecil.

Hari ini, mungkin kamu bisa:

Menghubungi satu orang yang sudah lama tidak kamu ajak bicara.
Berjalan kaki selama 15 menit.
Menjauh dari media sosial selama beberapa jam.
Melakukan satu aktivitas yang benar-benar kamu sukai.
Menuliskan tiga hal sederhana yang masih kamu syukuri.
Makan dengan tenang tanpa melihat layar.
Tidur lebih cukup malam ini.
Atau duduk sebentar dan bertanya, "Sebenarnya, apa yang sedang aku butuhkan?"

Kamu tidak harus langsung merasa bahagia.

Tujuannya bukan memaksa diri untuk selalu positif.

Kebahagiaan bukan kondisi permanen yang harus kita rasakan setiap saat.

Ada hari ketika kita sedih.

Ada hari ketika kita kecewa.

Ada hari ketika kita lelah.

Dan semua itu bagian normal dari menjadi manusia.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika rasa hampa, sedih, atau kehilangan minat berlangsung lama dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Dalam kondisi seperti itu, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental bisa menjadi langkah yang bijaksana—bukan karena kamu lemah, tetapi karena kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Pada akhirnya, mungkin kamu tidak membutuhkan kehidupan yang benar-benar baru.

Mungkin kamu hanya perlu kembali memperhatikan beberapa hal sederhana yang selama ini terlewatkan.

Lebih banyak terhubung.

Lebih banyak bergerak.

Lebih sedikit membandingkan.

Lebih sering menikmati.

Lebih sadar terhadap hal-hal kecil.

Lebih hadir di hari ini.

Dan lebih jujur tentang apa yang sebenarnya penting bagimu.

Karena terkadang, kebahagiaan tidak hilang begitu saja.

Kita hanya terlalu sibuk mengejarnya di tempat yang jauh, sampai lupa bahwa sebagian kecilnya mungkin sudah ada di kehidupan kita sendiri.***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore