Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 Oktober 2026 | 03.49 WIB

3 Dampak Anak yang Dibesarkan Ibu dengan Trauma Masa Kecil, Akan Terbawa hingga Dewasa!

Ilustrasi orang tua dan anak (magnific)

 

 
JawaPos.com - Masa kanak-kanak merupakan periode ketika seseorang belajar memahami dunia, membangun rasa aman, mengenali emosi, sekaligus membentuk gambaran awal tentang hubungan dengan orang lain. 
 
Karena itu, pengalaman yang terjadi di rumah dapat meninggalkan pengaruh panjang, terutama ketika orang tua sendiri masih membawa luka emosional yang belum terselesaikan.

Seorang ibu yang memiliki trauma masa kecil bukan berarti otomatis menjadi ibu yang buruk. 

Banyak orang tua dengan pengalaman sulit tetap mampu memberikan kasih sayang, perlindungan, dan pengasuhan yang sehat. 

Namun, ketika luka masa lalu tidak pernah diproses dan kemudian memengaruhi cara seseorang merespons konflik, ketakutan, kedekatan, atau kebutuhan emosional anak, pola tersebut dapat ikut dirasakan oleh anak.

Dirangkum dari laman YourTango, artikel ini akan membahas trauma masa kecil yang belum sembuh, trauma dumping dari orang tua kepada anak, serta bagaimana pengalaman tersebut dapat memengaruhi hubungan dan kehidupan seseorang ketika dewasa. 

Artikel YourTango menjelaskan bahwa, beban emosional orang tua yang dibagikan kepada anak dapat memengaruhi harga diri, cara berhubungan dengan orang lain, dan cara menghadapi persoalan ketika dewasa.

Berikut tiga hal yang mungkin terbawa hingga dewasa.

1. Sulit Merasa Aman dan Selalu Waspada terhadap Perubahan Suasana

Salah satu dampak yang mungkin muncul pada anak yang tumbuh dalam lingkungan emosional yang tidak konsisten adalah kecenderungan untuk terus membaca suasana di sekitarnya.

Anak dapat belajar memperhatikan ekspresi wajah, intonasi suara, gerakan tubuh, bahkan perubahan kecil dalam perilaku orang tua untuk mengetahui apakah situasi sedang aman atau justru berpotensi menimbulkan konflik.

Jika pola tersebut berlangsung terus-menerus, kewaspadaan itu dapat terbawa sampai dewasa. Seseorang mungkin menjadi sangat peka terhadap perubahan sikap pasangan, teman, atasan, atau anggota keluarga.

Pesan yang biasanya dianggap biasa saja dapat dipikirkan berulang kali karena otak sudah terbiasa mencari tanda-tanda bahwa sesuatu sedang tidak beres.

YourTango menjelaskan bahwa trauma masa kecil dapat memengaruhi respons seseorang terhadap ancaman dan membuat pengalaman masa lalu ikut memengaruhi cara seseorang membaca situasi pada masa sekarang.

Namun, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa setiap orang yang tumbuh dalam keluarga dengan trauma pasti mengalami kondisi tersebut.

Respons manusia sangat beragam dan dipengaruhi banyak faktor, termasuk dukungan sosial, lingkungan, pengalaman setelah masa kanak-kanak, serta kesempatan untuk mendapatkan bantuan.

Ketika seseorang menyadari bahwa dirinya selalu bersiap menghadapi masalah bahkan ketika situasi sebenarnya aman, kesadaran tersebut dapat menjadi langkah awal untuk memahami pola yang terbentuk sejak lama.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore