Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Oktober 2026 | 15.25 WIB

7 Perilaku agar Kamu Lebih Aman dalam Hubungan Romantis Menurut Psikologi

seseorang yang merasa aman dalam sebuah hubungan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Hubungan romantis yang sehat bukan berarti hubungan tanpa konflik, tanpa rasa cemburu, atau tanpa ketakutan akan kehilangan.


Justru, orang yang merasa aman dalam hubungan tetap bisa merasa takut, kecewa, marah, atau membutuhkan kepastian. Perbedaannya terletak pada bagaimana mereka merespons emosi tersebut.

Ketika merasa diabaikan, misalnya, seseorang yang belum merasa aman mungkin langsung menarik diri, menguji pasangannya, mengirim pesan berkali-kali, atau berpura-pura tidak peduli.

Sementara itu, orang yang lebih aman cenderung mampu berhenti sejenak dan berkata dalam dirinya:

“Aku sedang merasa tidak aman. Perasaanku valid, tetapi aku tidak harus langsung bertindak berdasarkan rasa takut ini.”

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (3/10), dalam psikologi hubungan, rasa aman bukan sekadar sesuatu yang diberikan oleh pasangan. Ia juga berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mengelola emosi, berkomunikasi secara terbuka, mempertahankan batasan, dan mempercayai dirinya sendiri.

Jika kamu ingin menjadi pribadi yang lebih aman dalam hubungan romantis, berikut tujuh perilaku yang bisa mulai dilatih.

1. Katakan apa yang kamu butuhkan, bukan membuat pasangan menebaknya

Salah satu kebiasaan yang sering membuat hubungan menjadi tidak aman adalah komunikasi tidak langsung.

Misalnya, kamu sebenarnya ingin diperhatikan, tetapi tidak mengatakannya. Kamu kemudian menjadi dingin agar pasangan menyadari bahwa ada sesuatu yang salah.

Atau kamu kecewa karena pasangan jarang menghubungi, tetapi bukannya menjelaskan perasaanmu, kamu justru berkata:

“Nggak apa-apa.”

Padahal sebenarnya sangat apa-apa.

Masalahnya, pasangan bukan pembaca pikiran.

Semakin sering kebutuhan emosional disampaikan melalui kode, sindiran, silent treatment, atau “tes” terhadap pasangan, semakin besar kemungkinan terjadi kesalahpahaman.

Orang yang lebih aman dalam hubungan biasanya belajar menyampaikan kebutuhan secara lebih langsung.

Bukan:

“Kamu sekarang sudah nggak peduli lagi sama aku.”

Melainkan:

“Aku merasa lebih dekat denganmu ketika kita punya waktu untuk ngobrol. Akhir-akhir ini aku merasa kita jarang punya waktu bersama, dan aku ingin mencari cara supaya kita bisa lebih terhubung lagi.”

Perbedaannya cukup besar.

Kalimat pertama menyerang karakter pasangan. Kalimat kedua menjelaskan perasaan, kebutuhan, dan keinginan untuk mencari solusi.

Mengapa ini penting?

Dalam hubungan yang sehat, kebutuhan bukan sesuatu yang memalukan.

Kamu boleh membutuhkan perhatian.

Kamu boleh membutuhkan kejelasan.

Kamu boleh ingin mendapatkan waktu berkualitas.

Kamu juga boleh mengatakan ketika ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman.

Menjadi aman bukan berarti menjadi seseorang yang “tidak membutuhkan apa pun”.

Menjadi aman berarti mampu mengakui kebutuhan tanpa memaksa orang lain bertanggung jawab sepenuhnya atas emosimu.

2. Belajar menenangkan diri sebelum bereaksi

Bayangkan pasanganmu belum membalas pesan selama beberapa jam.

Pikiranmu mulai berjalan:

“Dia berubah.”

“Mungkin dia sudah bosan.”

“Jangan-jangan ada orang lain.”

“Kenapa cuma membalas aku seperti ini?”

Dalam beberapa menit, kecemasan bisa berubah menjadi dorongan untuk melakukan sesuatu.

Mengirim pesan lagi.

Menghapus pesan sebelumnya.

Memeriksa status online.

Membuat unggahan yang sengaja ditujukan kepadanya.

Atau justru tiba-tiba menjadi dingin ketika akhirnya dia membalas.

Di sinilah kemampuan regulasi emosi menjadi penting.

Perasaanmu memang nyata, tetapi interpretasi pertama yang muncul di kepalamu belum tentu merupakan fakta.

Cobalah membuat jarak antara:

apa yang kamu rasakan

dan

apa yang sebenarnya kamu ketahui.

Misalnya:

“Aku merasa takut ditinggalkan.”

berbeda dengan:

“Dia pasti akan meninggalkanku.”

Yang pertama adalah emosi.

Yang kedua adalah kesimpulan.

Kamu boleh merasakan kecemasan tanpa langsung mempercayai semua cerita yang dibuat oleh kecemasan tersebut.

Cobalah aturan sederhana ini:

Ketika emosimu sedang sangat tinggi, jangan langsung mengambil keputusan besar tentang hubungan.

Tarik napas.

Berjalan sebentar.

Tulis apa yang kamu rasakan.

Berikan waktu kepada dirimu.

Kemudian tanyakan:

“Apa yang benar-benar terjadi, dan apa yang sedang aku takutkan?”

Pertanyaan sederhana ini dapat membantumu memisahkan fakta dari asumsi.

3. Jangan menggunakan “tes cinta” untuk mendapatkan kepastian

Ini adalah perilaku yang sering tidak disadari.

Kamu ingin tahu apakah pasanganmu benar-benar peduli.

Lalu kamu mulai menguji.

“Kalau kamu sayang aku, kamu pasti tahu aku kenapa.”

Atau:

“Aku sengaja nggak menghubunginya untuk melihat apakah dia akan mencari aku.”

Atau:

“Aku bilang mau putus untuk melihat apakah dia akan mempertahankan hubungan ini.”

Masalahnya, hubungan yang sehat tidak dibangun melalui serangkaian ujian tersembunyi.

Ketika seseorang terus-menerus menguji pasangan, hubungan akhirnya berubah menjadi arena pembuktian.

Pasangan tidak lagi hanya menjalani hubungan.

Mereka harus terus membuktikan bahwa mereka cukup mencintai, cukup peduli, cukup perhatian, dan cukup setia.

Dalam jangka panjang, pola seperti ini dapat melelahkan kedua pihak.

Jika kamu membutuhkan kepastian, mintalah kepastian.

Jika kamu membutuhkan perhatian, katakan bahwa kamu membutuhkan perhatian.

Jika kamu takut kehilangan pasangan, bicarakan ketakutan tersebut.

Meminta sesuatu secara langsung memang terasa lebih rentan.

Namun justru kerentanan yang jujur sering kali lebih sehat daripada manipulasi yang dibungkus sebagai “tes cinta”.

4. Pertahankan kehidupanmu sendiri di luar hubungan

Hubungan romantis seharusnya menjadi bagian penting dalam kehidupanmu, tetapi tidak harus menjadi seluruh kehidupanmu.

Ini adalah salah satu aspek penting dari rasa aman.

Ketika seluruh identitas seseorang bergantung pada hubungan, ancaman kecil dalam hubungan bisa terasa seperti ancaman terhadap seluruh kehidupannya.

Pasangan sedang sibuk?

Dunia terasa runtuh.

Pasangan ingin menghabiskan waktu sendiri?

Muncul perasaan ditolak.

Pasangan memiliki teman dekat?

Muncul rasa terancam.

Sebaliknya, seseorang yang tetap memiliki kehidupan pribadi biasanya mempunyai lebih banyak sumber daya emosional.

Ia masih memiliki teman.

Masih memiliki pekerjaan atau studi.

Masih memiliki hobi.

Masih memiliki tujuan pribadi.

Masih memiliki waktu untuk dirinya sendiri.

Ini bukan berarti kamu harus menjadi “cuek” atau tidak membutuhkan pasangan.

Justru hubungan yang sehat memungkinkan dua orang dekat tanpa kehilangan individualitas masing-masing.

Kamu bisa mencintai seseorang sekaligus tetap menjadi dirimu sendiri.

Kamu bisa menikmati kebersamaan sekaligus menikmati waktu sendirian.

Kamu bisa mengatakan:

“Aku sayang kamu, tetapi kehidupanku tidak berhenti ketika kamu sedang tidak bersamaku.”

Itulah salah satu bentuk kemandirian emosional.

5. Belajar percaya tanpa mengabaikan realitas

Ada kesalahpahaman bahwa menjadi pasangan yang aman berarti harus selalu percaya.

Tidak sepenuhnya begitu.

Kepercayaan bukan berarti menutup mata terhadap perilaku pasangan.

Kepercayaan yang sehat dibangun dari pengalaman yang konsisten: kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab, dan kesesuaian antara perkataan dengan tindakan.

Karena itu, menjadi lebih aman bukan berarti mengatakan:

“Aku tidak boleh cemburu.”

Atau:

“Aku harus percaya sepenuhnya apa pun yang terjadi.”

Yang lebih sehat adalah belajar membedakan antara ketakutan internal dan masalah nyata dalam hubungan.

Misalnya, pasangan terlambat membalas pesan sekali karena sedang bekerja.

Itu belum tentu berarti ada masalah.

Tetapi jika seseorang berkali-kali berbohong, menyembunyikan sesuatu, melanggar kesepakatan hubungan, atau membuatmu merasa harus terus-menerus meragukan realitasmu sendiri, persoalannya bukan sekadar “kamu terlalu insecure”.

Dalam hubungan yang sehat, rasa aman tidak dibangun dengan memaksa diri untuk mempercayai sesuatu yang bertentangan dengan bukti.

Rasa aman juga berarti mempercayai kemampuanmu sendiri untuk menghadapi kenyataan.

Jika pasangan ternyata mengecewakanmu, kamu tahu bahwa kamu mampu menghadapinya.

Jika hubungan berakhir, kamu tahu bahwa hidupmu tetap memiliki nilai.

Ini bentuk kepercayaan yang lebih dalam:

bukan hanya percaya kepada pasangan, tetapi juga percaya kepada dirimu sendiri.

6. Berani membicarakan konflik tanpa mengubahnya menjadi perang

Konflik adalah bagian normal dari hubungan.

Dua manusia dengan latar belakang, kebutuhan, kebiasaan, dan cara berpikir yang berbeda hampir pasti akan mengalami ketidaksepakatan.

Yang membedakan hubungan sehat dan tidak sehat bukan semata-mata ada atau tidaknya konflik.

Salah satu hal penting adalah bagaimana konflik tersebut ditangani.

Orang yang lebih aman tidak harus selalu tenang.

Mereka juga bisa marah.

Mereka juga bisa kecewa.

Namun mereka berusaha tidak menjadikan konflik sebagai kesempatan untuk menghukum pasangan.

Contohnya:

Daripada mengatakan:

“Kamu memang selalu egois.”

Lebih konstruktif mengatakan:

“Ketika keputusan itu dibuat tanpa membicarakannya denganku, aku merasa tidak dilibatkan.”

Daripada:

“Terserah kamu!”

Bisa mengatakan:

“Aku sedang terlalu emosional untuk membicarakan ini dengan baik. Aku ingin menenangkan diri dulu, lalu kita lanjutkan pembicaraan nanti.”

Perhatikan perbedaannya.

Jeda bukan berarti menghilang.

Ada perbedaan antara:

“Aku butuh waktu satu jam untuk menenangkan diri. Setelah itu kita bicara lagi.”

dan:

“Aku tidak akan bicara denganmu sampai kamu menyerah.”

Yang pertama adalah regulasi emosi.

Yang kedua dapat menjadi bentuk penghukuman atau penghindaran.

Orang yang aman tidak berusaha memenangkan setiap pertengkaran.

Mereka berusaha memahami masalah dan mencari cara untuk memperbaikinya.

7. Berhenti mengorbankan batasan demi mempertahankan hubungan

Ini mungkin terdengar paradoks.

Bukankah menjadi pasangan yang aman berarti fleksibel dan memahami?

Ya.

Tetapi memahami pasangan bukan berarti menghapus diri sendiri.

Ada orang yang begitu takut kehilangan hubungan sehingga mereka menerima hampir semuanya.

Mereka mengatakan “iya” ketika sebenarnya ingin mengatakan “tidak”.

Mereka menoleransi perilaku yang melukai mereka.

Mereka mengabaikan kebutuhan sendiri.

Mereka takut mengungkapkan ketidaksetujuan karena khawatir pasangan akan pergi.

Pada akhirnya, hubungan mungkin tetap bertahan, tetapi diri mereka perlahan menghilang di dalamnya.

Padahal rasa aman juga muncul ketika seseorang mengetahui:

“Aku boleh mencintai seseorang tanpa harus mengkhianati diriku sendiri.”

Batasan bukan ancaman.

Batasan adalah informasi mengenai apa yang dapat dan tidak dapat kamu terima.

Misalnya:

“Aku bersedia membicarakan masalah ini, tetapi aku tidak ingin melanjutkan percakapan jika kita saling menghina.”

Atau:

“Aku menghargai kebutuhanmu untuk memiliki waktu sendiri. Aku juga membutuhkan waktu pribadi untuk diriku.”

Atau:

“Aku ingin hubungan ini berjalan, tetapi aku tidak bisa terus berada dalam situasi yang membuatku merasa tidak dihargai.”

Batasan yang sehat bukan tentang mengendalikan pasangan.

Batasan adalah tentang menentukan bagaimana kamu akan menjaga dirimu sendiri.

Pada akhirnya, menjadi “aman” bukan berarti tidak pernah merasa insecure

Ini bagian yang sering dilupakan.

Banyak orang membaca tentang attachment, regulasi emosi, atau hubungan sehat kemudian berpikir:

“Kalau aku masih cemburu, berarti aku belum secure.”

Tidak sesederhana itu.

Kamu bisa menjadi orang yang relatif aman dan tetap merasa cemburu.

Kamu bisa percaya kepada pasangan dan tetap takut kehilangan.

Kamu bisa mandiri dan tetap ingin dipeluk.

Kamu bisa memiliki batasan dan tetap takut hubunganmu berakhir.

Emosi bukanlah kegagalan.

Yang lebih penting adalah bagaimana kamu memperlakukan emosi tersebut.

Kamu merasa takut, tetapi tidak langsung menuduh.

Kamu merasa cemburu, tetapi tidak otomatis mengontrol.

Kamu merasa membutuhkan pasangan, tetapi tidak kehilangan dirimu sendiri.

Kamu kecewa, tetapi masih mampu berbicara.

Kamu marah, tetapi tidak sengaja menghancurkan hubungan.

Kamu takut ditinggalkan, tetapi tidak meninggalkan dirimu sendiri hanya untuk membuat seseorang tetap tinggal.

Itulah inti dari rasa aman.

Tujuh perilaku yang bisa mulai kamu latih

Jika ingin menjadikannya lebih praktis, ingat tujuh hal berikut:

1. Komunikasikan kebutuhan secara langsung.
Jangan berharap pasangan selalu bisa membaca pikiranmu.

2. Beri jeda antara emosi dan tindakan.
Tidak semua ketakutan harus segera direspons.

3. Berhenti melakukan tes cinta.
Mintalah kepastian daripada menciptakan ujian tersembunyi.

4. Pertahankan kehidupanmu sendiri.
Cinta tidak mengharuskanmu kehilangan identitas.

5. Percaya tanpa mengabaikan kenyataan.
Kepercayaan harus berjalan bersama kemampuan melihat perilaku secara objektif.

6. Hadapi konflik dengan komunikasi, bukan hukuman.
Masalah dalam hubungan tidak selalu harus berubah menjadi perang.

7. Pertahankan batasan.
Mencintai seseorang tidak berarti harus meninggalkan dirimu sendiri.

Pada akhirnya, menjadi orang yang lebih aman dalam hubungan bukan tentang menjadi pasangan yang tidak pernah membuat kesalahan.

Ini tentang menjadi seseorang yang semakin mampu mengatakan:

“Aku bisa mencintaimu tanpa kehilangan diriku. Aku bisa membutuhkanmu tanpa bergantung sepenuhnya padamu. Aku bisa merasa takut tanpa membiarkan rasa takut mengendalikan tindakanku. Dan ketika hubungan menghadapi masalah, aku cukup percaya pada diriku sendiri untuk menghadapinya dengan jujur.”

Itulah jenis keamanan emosional yang tidak hanya membuat hubungan terasa lebih sehat, tetapi juga membuat seseorang memiliki hubungan yang lebih baik dengan dirinya sendiri.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore