Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 7 Oktober 2026 | 05.36 WIB

Benarkah Self-Care Membuat Manusia Makin Individualis? Ini yang Perlu Dipahami 

Ilustrasi seseorang. (Pixels) - Image

Ilustrasi seseorang. (Pixels)

 
JawaPos.com - Self-care atau upaya merawat diri semakin banyak dibicarakan terutama di tengah meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan mental. Namun, ketika ajakan untuk mengutamakan diri sendiri semakin sering muncul di media sosial, muncul pertanyaan mengenai batas antara menjaga diri dan menjadi terlalu berpusat pada diri sendiri. 
 
Secara sederhana, self-care dapat dipahami sebagai berbagai tindakan yang dilakukan seseorang untuk menjaga kesejahteraan fisik maupun psikologis. Bentuknya dapat berupa beristirahat, menetapkan batasan dalam hubungan, melakukan aktivitas yang menyenangkan, hingga mengambil waktu untuk diri sendiri. 
 
Namun, praktik tersebut tidak selalu berarti seseorang harus menjauh dari orang lain. Menjaga diri juga dapat dilakukan dengan tetap membangun komunikasi, menyelesaikan konflik, dan mempertahankan hubungan yang sehat. 
 
 
Ketika Self-Care Dipahami Secara Berlebihan 
 
Di media sosial, konsep self-care kerap disampaikan melalui kalimat singkat seperti "pilih dirimu sendiri", "jangan memaksakan hubungan" atau "tinggalkan hal yang mengganggu ketenanganmu". Pesan tersebut dapat membantu seseorang mengenali batas pribadi. 
 
Namun, jika dikonsumsi tanpa konteks, pesan serupa berpotensi membuat persoalan hubungan dipahami secara terlalu sederhana. Konflik, perbedaan pendapat atau ketidaknyamanan tidak selalu berarti seseorang harus segera menjauh. 
 
Fenomena tersebut berkaitan dengan cara media sosial membentuk lingkungan informasi pengguna. Meski demikian, algoritma bukan satu-satunya faktor yang menentukan cara seseorang berpikir. 
 
Dari Self-Care ke Hyper-Individualism 
 
Dalam konteks ini, istilah hyper-individualism dapat digunakan untuk menggambarkan kecenderungan ketika kepentingan, kebutuhan, dan pengalaman pribadi ditempatkan sangat dominan dalam kehidupan sosial. 
 
Kecenderungan tersebut berbeda dengan self-care. Seseorang tetap dapat mengutamakan kesejahteraan dirinya tanpa mengabaikan kebutuhan orang lain. 
 
 
Misalnya, menetapkan batas terhadap hubungan yang tidak sehat merupakan bentuk menjaga diri. Namun, menganggap setiap perbedaan sebagai alasan untuk menghindari komunikasi atau kompromi merupakan persoalan yang berbeda. 
 
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan apakah self-care membuat seseorang menjadi individualis, melainkan bagaimana konsep tersebut dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
 
Meningkatnya perhatian terhadap self-care dan self-love bukan sesuatu yang perlu dipandang sebagai masalah. Keduanya dapat menjadi bagian dari upaya seseorang menjaga kesejahteraan diri. 
 
Yang perlu diperhatikan adalah batasnya. Merawat diri tidak selalu berarti mengutamakan diri sendiri dalam setiap keadaan, sebagaimana menjaga hubungan juga tidak berarti mengabaikan kebutuhan pribadi. 
 
Pada akhirnya, self-care dapat berjalan bersama dengan kepedulian terhadap orang lain. Menetapkan batas, mengatakan tidak, dan mengambil waktu untuk diri sendiri dapat dilakukan tanpa kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi, berempati, dan berkompromi. 
Editor: Bintang Pradewo
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore