seseorang yang memiliki Main Character Energy. (Magnific)
Pada satu sisi, hal tersebut sebenarnya tidak selalu buruk.
Memiliki kesadaran bahwa hidup kita adalah tanggung jawab kita sendiri dapat mendorong seseorang menjadi lebih mandiri, berani mengambil peluang, dan tidak terus-menerus hidup berdasarkan ekspektasi orang lain. Dalam kadar tertentu, “main character energy” bahkan dapat berkaitan dengan self-efficacy, yaitu keyakinan bahwa diri sendiri mampu menghadapi tantangan dan memengaruhi hasil dalam hidup.
Masalah muncul ketika gagasan “aku adalah tokoh utama” berubah menjadi “semua orang seharusnya berperan sesuai ceritaku.”
Di titik tersebut, rasa percaya diri dapat berubah menjadi egosentrisme, kemandirian menjadi ketidakpedulian, dan keyakinan terhadap diri sendiri berubah menjadi kebutuhan untuk selalu menjadi pusat perhatian.
Psikologi membantu kita melihat bahwa perilaku seperti ini tidak sesederhana “orang tersebut terlalu percaya diri”. Ada sejumlah mekanisme psikologis yang dapat membuat seseorang terjebak dalam pola tersebut.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (6/10), terdapat tujuh alasan mengapa “main character energy” yang tidak seimbang dapat menjadi masalah, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang-orang di sekitarnya.
1. Merasa Dunia Berputar di Sekitar Dirinya
Salah satu masalah utama dari “main character energy” adalah kecenderungan melihat pengalaman pribadi sebagai pusat dari segala sesuatu.
Orang dengan pola seperti ini mungkin secara tidak sadar menganggap bahwa keputusan, perasaan, masalah, atau pencapaiannya memiliki arti yang jauh lebih besar dibandingkan kenyataannya.
Misalnya, ketika seseorang tidak membalas pesannya, ia langsung berpikir:
“Dia sengaja mengabaikanku.”
Ketika teman membatalkan janji:
“Berarti aku tidak dianggap penting.”
Ketika seseorang mendapatkan promosi:
“Dia melakukan itu untuk mengalahkanku.”
Padahal, bisa saja orang lain sedang sibuk, memiliki masalah sendiri, atau bahkan tidak memikirkan situasi tersebut secara mendalam.
Dalam psikologi sosial, manusia memang memiliki kecenderungan alami untuk menjadikan dirinya sebagai titik referensi ketika memahami dunia. Salah satu konsep yang berkaitan dengan hal ini adalah egocentric bias, yaitu kecenderungan menilai situasi dari sudut pandang diri sendiri dan terkadang melebih-lebihkan seberapa besar perspektif kita dipahami atau diperhatikan orang lain.
Masalahnya, jika kecenderungan ini terlalu kuat, seseorang dapat mengalami kesulitan memahami bahwa orang lain juga memiliki “dunia” mereka sendiri.
Teman bukan karakter pendukung.
Pasangan bukan pemeran tambahan.
Rekan kerja bukan figuran.
Mereka adalah manusia dengan kebutuhan, ketakutan, ambisi, dan masalah mereka sendiri.
Dampaknya bagi dirinya
Orang yang terlalu melihat dirinya sebagai pusat kehidupan dapat menjadi lebih mudah tersinggung karena banyak kejadian dianggap memiliki hubungan personal dengannya.
Ia juga bisa merasa:
tidak dihargai,
diabaikan,
diremehkan,
disingkirkan,
atau tidak mendapatkan perhatian yang “seharusnya”.
Padahal, sebagian besar orang sebenarnya sedang sibuk menjalani hidup mereka masing-masing.
Dampaknya bagi orang lain
Berinteraksi dengan seseorang yang terus-menerus menjadikan dirinya pusat pembicaraan bisa melelahkan.
Percakapan berubah menjadi:
“Aku…”
“Aku juga pernah…”
“Kalau aku…”
“Menurutku…”
“Aku lebih…”
Pada akhirnya, orang lain merasa tidak benar-benar didengarkan.
Menjadi tokoh utama dalam hidup sendiri bukan berarti harus menjadi pusat kehidupan semua orang.
2. Kepercayaan Diri Bisa Berubah Menjadi Kebutuhan Akan Validasi
Ada paradoks menarik dalam “main character energy”.
Dari luar, seseorang mungkin terlihat sangat percaya diri.
Ia memposting kehidupannya, berani menunjukkan pencapaian, menggunakan gaya yang mencolok, atau terlihat tidak peduli terhadap komentar orang lain.
Namun, penampilan percaya diri tidak selalu berarti seseorang memiliki rasa aman terhadap dirinya sendiri.
Terkadang, seseorang justru sangat membutuhkan validasi eksternal.
Di sinilah perbedaan antara self-esteem yang sehat dan kebutuhan akan pengakuan menjadi penting.
Orang dengan kepercayaan diri yang relatif sehat dapat berpikir:
“Aku menyukai apa yang kulakukan. Orang lain menyukainya atau tidak, itu bukan satu-satunya ukuran nilai diriku.”
Sebaliknya, seseorang yang sangat bergantung pada validasi mungkin berpikir:
“Kalau orang lain tidak menganggapku keren, berarti ada sesuatu yang salah dengan diriku.”
Akibatnya, “main character energy” berubah menjadi semacam pertunjukan.
Ia perlu terlihat sukses.
Perlu terlihat menarik.
Perlu terlihat bahagia.
Perlu terlihat berbeda.
Perlu terlihat lebih maju dibandingkan orang lain.
Media sosial dapat memperkuat siklus tersebut karena menyediakan metrik yang sangat konkret: jumlah likes, komentar, followers, views, dan respons sosial lainnya.
Ketika mendapatkan respons positif, seseorang merasa lebih berharga.
Ketika respons menurun, harga dirinya ikut turun.
Ini dapat menciptakan pola:
Tampil → mendapat validasi → merasa berharga → membutuhkan validasi lagi → tampil lebih keras.
Masalahnya, kepuasan tersebut biasanya bersifat sementara.
Semakin seseorang menggantungkan harga dirinya pada reaksi orang lain, semakin besar kebutuhan untuk mempertahankan citra tertentu.
Pada akhirnya, kehidupan nyata dapat berubah menjadi panggung.
3. Sulit Menerima Kritik karena Kritik Terasa seperti Serangan terhadap Identitas
Orang yang memiliki “main character energy” kuat kadang membangun narasi tertentu tentang dirinya.
Misalnya:
“Aku adalah orang yang selalu tahu apa yang terbaik untuk diriku.”
atau:
“Aku berbeda dari kebanyakan orang.”
atau:
“Aku tidak membutuhkan pendapat siapa pun.”
Narasi semacam itu bisa memberikan rasa identitas yang kuat.
Namun, semakin identitas seseorang bergantung pada narasi tersebut, semakin sulit menerima informasi yang bertentangan dengannya.
Misalnya seseorang menganggap dirinya sebagai orang yang sangat mandiri.
Kemudian temannya mengatakan:
“Menurutku kamu sebenarnya terlalu sulit meminta bantuan.”
Alih-alih mempertimbangkannya, ia langsung menjawab:
“Aku memang mandiri. Kamu saja yang tidak mengerti.”
Ini berkaitan dengan konsep psikologis seperti defensive processing dan self-serving bias, ketika seseorang cenderung memproses informasi dengan cara yang melindungi gambaran positif tentang dirinya.
Kritik kemudian tidak lagi dipandang sebagai informasi.
Kritik terasa seperti ancaman.
Dan ketika identitas terasa terancam, seseorang dapat merespons dengan:
menyangkal,
menyalahkan orang lain,
marah,
meremehkan kritik,
mencari pembenaran,
atau memutus hubungan dengan orang yang mengkritiknya.
Ironisnya, hal ini justru dapat menghambat perkembangan diri.
Seseorang tidak dapat memperbaiki sesuatu yang tidak mau ia lihat.
Kritik yang sehat sebenarnya dapat menjadi cermin
Tidak semua kritik benar.
Namun, orang yang sehat secara psikologis biasanya mampu mengatakan:
“Aku tidak setuju dengan semuanya, tetapi mungkin ada bagian yang perlu kupikirkan.”
Kemampuan tersebut merupakan bagian dari psychological flexibility.
Sebaliknya, “main character energy” yang terlalu ekstrem dapat membuat seseorang merasa bahwa karena ia adalah tokoh utama dalam ceritanya, maka versinya tentang cerita tersebut pasti paling benar.
Padahal, menjadi tokoh utama tidak berarti menjadi narator yang selalu tidak bisa salah.
4. Empati Bisa Menurun karena Orang Lain Dipandang sebagai “Karakter Pendukung”
Salah satu bahaya terbesar dari pola pikir ini adalah berkurangnya kemampuan melihat orang lain sebagai individu yang setara.
Jika seseorang terus memandang hidup seperti film tentang dirinya sendiri, orang-orang di sekitarnya dapat tanpa sadar diberi peran:
teman yang selalu mendukung,
pasangan yang selalu memahami,
keluarga yang harus mengerti,
rekan kerja yang membantu,
atau orang yang menjadi sumber validasi.
Masalah terjadi ketika “karakter pendukung” tersebut mulai bertindak di luar skenario.
Teman mengatakan tidak.
Pasangan memiliki kebutuhan sendiri.
Orang tua memberikan batasan.
Rekan kerja tidak setuju.
Kemudian orang tersebut merasa kecewa:
“Kok mereka berubah?”
Padahal, mungkin bukan mereka yang berubah.
Mungkin ekspektasi terhadap mereka yang tidak realistis.
Psikologi menempatkan empathy sebagai kemampuan penting untuk memahami pengalaman dan perspektif orang lain.
Empati tidak berarti selalu setuju dengan orang lain.
Empati berarti mampu berhenti sejenak dan berpikir:
“Kalau aku berada di posisinya, bagaimana situasinya mungkin terasa?”
Tanpa kemampuan tersebut, seseorang dapat menjadi sangat fokus pada kebutuhan emosional dirinya sendiri.
Dalam hubungan, ini dapat menghasilkan pola yang tidak seimbang.
Satu orang terus berbicara.
Satu orang terus meminta pengertian.
Satu orang terus menuntut dukungan.
Tetapi ketika pasangannya membutuhkan hal yang sama, ia tidak hadir.
Lama-kelamaan hubungan seperti itu menjadi melelahkan.
Karena hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang menjadi tokoh utama.
Hubungan sehat adalah tentang dua manusia yang sama-sama memiliki ruang untuk menjadi tokoh utama dalam hidup masing-masing.
5. Membandingkan Diri dengan Orang Lain Bisa Menjadi Kebiasaan
“Main character energy” juga dapat menjadi sangat dekat dengan budaya perbandingan sosial.
Jika seseorang terus-menerus melihat kehidupannya sebagai sebuah cerita, ia mungkin mulai membandingkan “plot” hidupnya dengan orang lain.
Temannya menikah lebih dulu.
Orang lain membeli rumah.
Teman kuliah mendapatkan pekerjaan bagus.
Seseorang memiliki tubuh yang dianggap lebih ideal.
Orang lain bepergian ke luar negeri.
Kemudian muncul pikiran:
“Kenapa hidupku belum seperti itu?”
Media sosial membuat masalah ini semakin rumit.
Kita biasanya melihat highlight reel kehidupan orang lain, tetapi membandingkannya dengan kehidupan kita yang kita lihat secara lengkap.
Kita mengetahui kegagalan kita sendiri.
Kita mengetahui kecemasan kita.
Kita mengetahui masalah keluarga.
Kita mengetahui kondisi keuangan.
Kita mengetahui hari-hari ketika kita tidak produktif.
Sementara dari kehidupan orang lain, kita sering hanya melihat versi yang sudah dikurasi.
Akibatnya, perbandingan menjadi tidak seimbang.
Konsep social comparison dalam psikologi menjelaskan bagaimana manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain untuk mendapatkan informasi mengenai posisi atau kemampuan dirinya.
Perbandingan ke atas (upward comparison) dapat menjadi motivasi.
Namun, jika terlalu sering dan terlalu personal, perbandingan dapat memicu:
iri,
rasa tidak cukup,
kecemasan,
rendah diri,
frustrasi,
dan ketidakpuasan hidup.
Ironisnya, seseorang yang terlihat sangat percaya diri di media sosial bisa saja sebenarnya terus-menerus bertanya:
“Apakah aku sudah cukup hebat?”
Jadi, “main character energy” tidak selalu berarti seseorang benar-benar merasa unggul.
Kadang-kadang justru sebaliknya.
Ia harus terus membuktikan bahwa dirinya istimewa karena jauh di dalam dirinya, ia belum merasa cukup.
6. Hubungan Sosial Bisa Rusak karena Semuanya Terasa Harus Mengikuti “Cerita” Dirinya
Bayangkan seseorang yang memiliki rencana besar.
Ia ingin pindah kota.
Ingin membangun bisnis.
Ingin mengejar karier tertentu.
Ingin menjalani gaya hidup tertentu.
Semua itu sebenarnya sah.
Masalah muncul ketika ia menganggap orang-orang di sekitarnya wajib mendukung alur tersebut.
Ketika seseorang tidak setuju, ia menganggapnya sebagai penghambat.
Ketika pasangan memiliki kebutuhan berbeda, ia dianggap tidak suportif.
Ketika teman memberikan kritik, ia dianggap iri.
Ketika keluarga memberikan kekhawatiran, mereka dianggap tidak memahami visi.
Pola ini dapat membuat seseorang kehilangan hubungan yang sebenarnya berharga.
Dalam psikologi hubungan, konflik sering kali bukan hanya disebabkan oleh perbedaan kebutuhan, tetapi juga oleh cara seseorang menginterpretasikan perilaku pihak lain.
Jika setiap perbedaan dianggap sebagai ancaman terhadap identitas atau tujuan pribadi, konflik akan menjadi jauh lebih mudah terjadi.
Misalnya:
Situasi: teman tidak bisa datang ke acara penting.
Interpretasi pertama:
“Dia sedang sibuk. Sayang sekali, tapi aku mengerti.”
Interpretasi kedua:
“Dia tidak menghargai aku.”
Interpretasi ketiga:
“Dia sebenarnya tidak pernah benar-benar mendukungku.”
Situasinya sama.
Namun, interpretasinya berbeda.
Dan interpretasi tersebut memengaruhi emosi serta perilaku berikutnya.
Orang yang terus merasa dirinya sebagai pusat cerita mungkin lebih mudah memilih interpretasi yang bersifat personal.
Akibatnya, masalah kecil dapat berkembang menjadi konflik besar.
Pada akhirnya, ia mungkin bertanya:
“Kenapa orang-orang selalu meninggalkanku?”
Padahal, sebagian hubungan mungkin rusak bukan karena orang lain tidak peduli, tetapi karena mereka terus-menerus merasa harus memenuhi peran tertentu dalam kehidupan orang tersebut.
7. “Aku Harus Menjadi Istimewa” Bisa Membuat Hidup Terasa seperti Perlombaan
Ini mungkin salah satu masalah yang paling tidak terlihat.
Ketika seseorang terlalu menginternalisasi konsep bahwa dirinya adalah “main character”, ia dapat merasa bahwa hidupnya harus memiliki cerita yang luar biasa.
Ia harus sukses.
Harus unik.
Harus punya passion.
Harus punya transformasi.
Harus terlihat berkembang.
Harus punya kisah inspiratif.
Harus melakukan sesuatu yang berbeda.
Padahal, kehidupan manusia tidak selalu dramatis.
Ada masa ketika hidup hanya berjalan biasa-biasa saja.
Ada pekerjaan yang membosankan.
Ada hari ketika kita tidak produktif.
Ada periode ketika kita belum tahu apa yang kita inginkan.
Ada kegagalan yang tidak memiliki makna besar.
Dan itu normal.
Masalah muncul ketika seseorang merasa bahwa kehidupan yang “biasa” berarti kehidupan yang gagal.
Ia kemudian terus mengejar pengalaman baru, pencapaian baru, atau identitas baru agar merasa bahwa hidupnya memiliki cerita yang menarik.
Dalam jangka panjang, hal tersebut dapat membuat seseorang kesulitan merasa puas.
Selalu ada sesuatu yang harus dikejar.
Selalu ada versi diri yang harus ditingkatkan.
Selalu ada pencapaian berikutnya.
Bukannya menikmati kehidupan, seseorang justru terus mengedit kehidupannya agar terlihat seperti cerita yang menarik.
Padahal hidup tidak harus selalu sinematik
Tidak semua momen harus menjadi konten.
Tidak semua perjalanan harus menjadi transformasi.
Tidak semua kesulitan harus berubah menjadi kisah inspiratif.
Dan tidak semua orang harus menjadi “luar biasa”.
Ada nilai dalam kehidupan yang sederhana.
Hubungan yang stabil.
Rutinitas yang sehat.
Pekerjaan yang cukup.
Pertemanan yang tenang.
Hari yang biasa-biasa saja tetapi damai.
Kehidupan tidak kehilangan makna hanya karena tidak terlihat seperti film.
Jadi, Apakah “Main Character Energy” Selalu Buruk?
Tidak.
Ini bagian penting yang sering hilang dalam pembahasan mengenai tren psikologi populer.
Memiliki “main character energy” dalam arti merasa memiliki kendali atas hidup sendiri sebenarnya bisa menjadi sesuatu yang positif.
Ada beberapa aspek yang sehat, misalnya:
berani mengambil keputusan,
memiliki tujuan,
tidak terlalu bergantung pada opini orang lain,
mampu menetapkan batasan,
percaya terhadap kemampuan diri,
berani mencoba hal baru,
dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap hidup sendiri.
Masalahnya bukan pada kalimat:
“Aku adalah tokoh utama dalam hidupku.”
Masalah muncul ketika kalimat tersebut berubah menjadi:
“Karena aku tokoh utama, maka semua orang harus mengikuti ceritaku.”
Perbedaannya sangat besar.
Versi pertama menunjukkan agency.
Versi kedua menunjukkan entitlement.
Versi pertama mengatakan:
“Aku bertanggung jawab atas hidupku.”
Versi kedua mengatakan:
“Orang lain bertanggung jawab membuat hidupku sesuai keinginanku.”
Versi pertama dapat membantu pertumbuhan.
Versi kedua dapat merusak hubungan.
Bagaimana Menjaga “Main Character Energy” Tetap Sehat?
Kuncinya bukan membuang rasa percaya diri.
Justru, kita perlu menggabungkan rasa percaya diri dengan humility, empathy, dan self-awareness.
Beberapa pertanyaan sederhana dapat membantu.
1. “Apakah aku sedang membangun hidupku atau sedang membuktikan sesuatu kepada orang lain?”
Pertanyaan ini membantu membedakan motivasi intrinsik dari kebutuhan akan validasi.
2. “Apakah aku benar-benar mendengarkan orang lain?”
Bukan sekadar menunggu giliran berbicara.
3. “Apakah aku bisa menerima bahwa aku mungkin salah?”
Kemampuan mengatakan “aku salah” merupakan salah satu bentuk kekuatan psikologis, bukan kelemahan.
4. “Apakah aku menghargai batasan orang lain?”
Orang lain memiliki hak untuk mengatakan tidak.
5. “Apakah aku menganggap semua kejadian sebagai sesuatu yang personal?”
Tidak semua hal berkaitan dengan kita.
Kadang orang tidak membalas pesan karena sibuk.
Kadang seseorang tidak menyukai ide kita karena memang memiliki perspektif berbeda.
Kadang seseorang pergi bukan karena kita tidak cukup baik.
6. “Apakah aku bisa bahagia ketika orang lain berhasil?”
Ini merupakan latihan penting.
Kesuksesan orang lain tidak otomatis mengurangi nilai diri kita.
7. “Kalau tidak ada yang melihat, apakah aku masih menginginkan kehidupan ini?”
Pertanyaan ini sangat kuat.
Jika jawabannya “ya”, kemungkinan besar kita sedang membangun kehidupan untuk diri sendiri.
Jika jawabannya “tidak”, mungkin ada sebagian tujuan yang sebenarnya didorong oleh kebutuhan untuk terlihat sukses.
Menjadi Tokoh Utama Tanpa Menjadikan Orang Lain Figuran
Pada akhirnya, konsep “main character energy” bisa dibaca dengan dua cara.
Cara pertama adalah:
“Aku memiliki kendali atas hidupku.”
Ini sehat.
Cara kedua adalah:
“Aku adalah pusat kehidupan semua orang.”
Ini bisa menjadi masalah.
Kita memang perlu menjadi tokoh utama dalam kehidupan sendiri. Kita perlu mengambil keputusan, menentukan arah, menetapkan batasan, dan bertanggung jawab terhadap pilihan kita.
Namun, orang lain juga merupakan tokoh utama dalam kehidupan mereka.
Teman kita punya ceritanya sendiri.
Pasangan kita punya impiannya sendiri.
Orang tua kita memiliki ketakutannya sendiri.
Rekan kerja kita memiliki masalah yang mungkin tidak pernah kita lihat.
Orang asing yang kita temui juga sedang menjalani kehidupan yang sama kompleksnya dengan kehidupan kita.
Kesadaran tersebut justru dapat membuat kita lebih matang secara psikologis.
Karena kedewasaan bukan hanya kemampuan berkata:
“Aku tahu siapa diriku.”
Tetapi juga kemampuan berkata:
“Aku tahu siapa diriku, dan aku tetap mampu memberikan ruang bagi orang lain untuk menjadi dirinya sendiri.”
Jadi, tidak ada yang salah dengan memiliki energi tokoh utama.
Silakan menjadi tokoh utama.
Kejar impianmu.
Bangun kehidupan yang kamu inginkan.
Ambil keputusanmu sendiri.
Namun, jangan lupa satu hal:
Dalam kehidupan nyata, tidak ada pemeran figuran.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Susunan Pemain Prancis vs Belgia: Zidane Ingin Menang di Stade de France
Prediksi Skor Kosta Rika vs Haiti di CONCACAF: Les Grenadiers Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Skotlandia vs Slovenia di UEFA Nations League: Duel Sengit Rawan Imbang
Prediksi Skor Siprus vs Latvia di Liga Nations UEFA: I Galanolefki Menang Tipis di Neo GSP
Koordinator BEM UI Diserang OTK di Tebet Jaksel, Sempat Diancam Bunuh
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Kazakhstan vs Kepulauan Faroe: Duel Tim Papan Bawah Sulit Diprediksi
Prediksi Skor Luksemburg vs Bulgaria di UEFA Nations League: The Lions Jemawa Bisa Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022