Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 9 Oktober 2026 | 02.19 WIB

7 Alasan Orang Tua Tetap Bersikap Baik kepada Anak yang Berperilaku Kasar Menurut Psikologi

seseorang yang bersikap kepada anaknya. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak tidak selalu sederhana.

Ada kalanya seorang anak bersikap kasar, membentak, mengabaikan nasihat, bahkan memperlakukan orang tuanya dengan cara yang menyakitkan. Namun, yang sering membuat banyak orang heran adalah: mengapa orang tua tetap memperlakukannya dengan baik?

Mengapa mereka masih memasakkan makanan, menanyakan kabar, membantu ketika anak membutuhkan sesuatu, atau bahkan memaafkan setelah disakiti?

Bagi orang yang melihat dari luar, sikap tersebut terkadang tampak tidak masuk akal. Seolah-olah orang tua terlalu sabar atau membiarkan dirinya diperlakukan semena-mena.

Namun, dari sudut pandang psikologi, hubungan orang tua dan anak memiliki ikatan emosional yang sangat kompleks. Kebaikan orang tua tidak selalu berarti mereka tidak terluka. Seseorang dapat merasa kecewa, marah, dan sedih terhadap perilaku anaknya, tetapi pada saat yang sama tetap memiliki rasa sayang yang sangat kuat.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (8/10), terdapat beberapa alasan psikologis yang dapat menjelaskan mengapa orang tua masih bersikap baik kepada anak meskipun anak tersebut berperilaku kasar.

1. Kasih Sayang Orang Tua Tidak Selalu Bergantung pada Perilaku Anak

Salah satu alasan terbesar adalah karena kasih sayang orang tua sering kali tidak bekerja seperti hubungan sosial biasa.

Dalam banyak hubungan, seseorang mungkin berpikir:

"Kalau kamu memperlakukanku dengan buruk, aku juga tidak akan memperlakukanmu dengan baik."

Namun dalam hubungan orang tua dan anak, terutama ketika ikatan emosionalnya kuat, mekanisme tersebut tidak selalu berlaku.

Orang tua mungkin mengetahui bahwa anaknya sedang bersikap kasar, tetapi mereka tetap melihat anak tersebut sebagai seseorang yang mereka cintai dan ingin lindungi.

Mereka dapat memisahkan antara "perilaku anak saya buruk" dan "anak saya adalah orang yang buruk."

Perbedaan ini sangat penting.

Seorang ibu atau ayah mungkin marah ketika anaknya membentak. Mereka mungkin kecewa ketika anak tidak menghargai usaha mereka. Tetapi di dalam hati, mereka tetap berharap anaknya suatu hari berubah.

Karena itu, kebaikan yang diberikan bukan selalu tanda bahwa mereka menyetujui perilaku kasar tersebut.

Bisa jadi mereka justru sedang mengatakan melalui tindakan:

"Saya tidak suka cara kamu memperlakukan saya, tetapi saya tetap menyayangimu."

Kasih sayang seperti ini membuat sebagian orang tua tetap memberikan perhatian meskipun mereka sedang terluka.

Namun, perlu dipahami bahwa mencintai anak tidak berarti orang tua harus menerima semua perilaku anak. Orang tua tetap memiliki hak untuk menetapkan batasan dan menolak perlakuan yang tidak pantas.

2. Orang Tua Sering Melihat Anak sebagai Bagian dari Dirinya

Hubungan emosional antara orang tua dan anak biasanya dibangun selama bertahun-tahun.

Sejak anak masih kecil, orang tua menghabiskan banyak waktu untuk merawat, melindungi, mendidik, dan mendampingi mereka.

Karena pengalaman tersebut sangat panjang, anak bukan sekadar "orang lain" bagi orang tua.

Anak telah menjadi bagian penting dari kehidupan, identitas keluarga, dan perjalanan emosional mereka.

Inilah sebabnya perilaku kasar dari anak dapat terasa sangat menyakitkan.

Jika orang asing mengatakan sesuatu yang menyakitkan, seseorang mungkin dapat mengabaikannya.

Tetapi jika kalimat yang sama datang dari anak sendiri, dampaknya bisa jauh lebih dalam.

Pada saat yang sama, kedekatan emosional tersebut juga membuat orang tua sulit untuk berhenti menyayangi anak hanya karena perilakunya berubah.

Mereka mungkin berpikir:

"Dia memang sedang berubah. Tapi bagaimana pun juga, dia tetap anak saya."

Ikatan yang terbentuk selama bertahun-tahun tidak mudah hilang hanya karena beberapa konflik.

Bahkan ketika hubungan sedang buruk, ingatan tentang masa ketika anak masih kecil, membutuhkan mereka, dan bergantung kepada mereka dapat membuat rasa sayang tersebut tetap bertahan.

3. Orang Tua Berharap Anak Akan Berubah

Harapan merupakan salah satu alasan mengapa seseorang tetap bertahan dalam hubungan yang sulit.

Orang tua mungkin tidak menyukai perilaku anaknya sekarang, tetapi mereka percaya bahwa keadaan tersebut tidak akan berlangsung selamanya.

Mereka mungkin berpikir:

"Mungkin dia sedang banyak masalah."

"Mungkin suatu hari dia akan sadar."

"Mungkin ketika sudah dewasa, dia akan memahami pengorbanan orang tuanya."

Harapan seperti ini dapat membuat orang tua tetap memberikan kesempatan.

Mereka mungkin memilih untuk tidak membalas kekasaran dengan kekasaran karena tidak ingin hubungan semakin rusak.

Dalam psikologi, manusia cenderung mempertahankan hubungan yang dianggap memiliki nilai emosional tinggi. Apalagi jika masih ada kemungkinan hubungan tersebut menjadi lebih baik.

Karena itu, ketika seorang anak sedang berada dalam fase sulit, orang tua mungkin memilih untuk tetap menunjukkan kebaikan sambil menunggu perubahan.

Tetapi sekali lagi, berharap anak berubah tidak berarti orang tua harus terus-menerus membiarkan dirinya disakiti.

Harapan yang sehat tetap dapat berjalan bersama dengan batasan yang sehat.

4. Orang Tua Mengingat Masa Kecil Anaknya

Ada sesuatu yang sering tidak terlihat ketika orang dewasa melihat konflik antara orang tua dan anak: orang tua memiliki sejarah panjang bersama anaknya.

Bagi seorang anak yang sudah dewasa, orang tua mungkin hanya melihat dirinya sebagai seseorang yang sudah besar, memiliki pekerjaan, pasangan, kehidupan sendiri, dan mampu mengambil keputusan.

Namun bagi orang tua, di dalam ingatan mereka masih ada gambaran tentang anak yang dulu mereka gendong, mereka antar sekolah, mereka rawat ketika sakit, dan mereka temani ketika takut.

Kenangan tersebut dapat membuat emosi orang tua menjadi sangat kompleks.

Ketika anak bersikap kasar, mereka mungkin merasa:

"Saya tidak mengenali anak saya yang sekarang."

Tetapi pada saat yang sama, mereka masih mengingat anak kecil yang dulu sangat dekat dengan mereka.

Memori emosional semacam itu dapat memperkuat rasa kasih sayang.

Itulah sebabnya seorang ibu atau ayah terkadang masih berkata, "Hati-hati di jalan," kepada anak yang baru saja membentaknya.

Bukan karena mereka tidak merasa sakit.

Melainkan karena naluri untuk memperhatikan anak sudah menjadi bagian yang sangat dalam dari kehidupan mereka.

5. Mereka Tidak Ingin Membalas Keburukan dengan Keburukan

Tidak semua orang tua memilih membalas perilaku kasar dengan kemarahan.

Sebagian justru berpikir bahwa jika mereka ikut berteriak, menghina, atau mempermalukan anak, masalah hanya akan menjadi semakin besar.

Mereka memilih untuk tetap tenang karena ingin menghentikan siklus konflik.

Dalam hubungan keluarga, konflik dapat berkembang menjadi pola:

anak kasar → orang tua marah → anak semakin defensif → orang tua semakin marah → hubungan semakin jauh.

Sebagian orang tua berusaha memutus pola tersebut dengan tidak membalas secara emosional.

Mereka mungkin tetap berbicara dengan lembut, menyediakan makanan, atau memberikan bantuan karena mereka tidak ingin konflik menghancurkan hubungan sepenuhnya.

Sikap ini dapat menjadi bentuk pengendalian diri.

Namun, ada perbedaan antara tidak membalas kekasaran dan membiarkan kekasaran terus terjadi.

Orang tua tetap dapat memilih untuk tidak membalas sambil berkata:

"Saya tetap menyayangimu, tetapi saya tidak bisa menerima cara kamu berbicara kepada saya."

Justru batasan seperti itu dapat menjadi bentuk hubungan yang lebih sehat.

6. Mereka Takut Kehilangan Hubungan dengan Anak

Bagi sebagian orang tua, konflik dengan anak dapat menimbulkan ketakutan yang sangat besar: bagaimana jika anak benar-benar pergi?

Ketakutan tersebut bisa membuat mereka lebih memilih mengalah.

Mereka mungkin takut jika terlalu keras, anak akan menjauh.

Takut jika terlalu banyak menuntut, anak tidak mau pulang.

Takut jika mengatakan sesuatu yang salah, hubungan akan putus.

Akhirnya, mereka memilih untuk tetap bersikap baik meskipun sebenarnya hati mereka terluka.

Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat membuat orang tua terlalu banyak memendam perasaan.

Mereka mungkin mengatakan:

"Tidak apa-apa."

Padahal sebenarnya tidak baik-baik saja.

Mereka mungkin tersenyum ketika anak datang, meskipun sebelumnya mereka menangis karena perkataan anak.

Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa kebaikan tidak selalu berarti seseorang tidak mengalami luka emosional.

Kadang-kadang, seseorang bersikap baik karena hubungan tersebut terlalu berharga untuk mereka kehilangan.

7. Mereka Ingin Tetap Menjadi Tempat Pulang bagi Anaknya

Ada orang tua yang memiliki prinsip:

"Seberapa pun buruk hubungan kami, kalau anak saya membutuhkan saya, saya akan tetap ada."

Ini merupakan bentuk kasih sayang yang sangat kuat.

Mereka ingin anak mengetahui bahwa ketika hidup menjadi sulit, masih ada rumah yang bisa didatangi.

Masih ada seseorang yang akan mengangkat telepon.

Masih ada seseorang yang bertanya apakah mereka sudah makan.

Masih ada seseorang yang bersedia membantu ketika keadaan benar-benar buruk.

Bagi orang tua seperti ini, bersikap baik bukan berarti mereka lupa bahwa anak pernah menyakiti mereka.

Mereka hanya tidak ingin satu kesalahan atau satu fase buruk menentukan seluruh hubungan mereka dengan anak.

Namun, menjadi tempat pulang bukan berarti harus menjadi tempat seseorang bebas melakukan apa saja.

Orang tua tetap berhak mengatakan:

"Kamu boleh pulang, tetapi kamu harus menghormati saya."

"Saya akan membantu kamu, tetapi saya tidak akan membiarkan kamu memperlakukan saya dengan kasar."

Kasih sayang dan batasan sebenarnya dapat berjalan bersama.

Kebaikan Orang Tua Tidak Selalu Berarti Mereka Tidak Terluka

Ada satu hal penting yang sering terlupakan.

Ketika orang tua tetap baik kepada anak yang kasar, kita mungkin menganggap mereka tidak merasa sakit.

Padahal bisa jadi justru sebaliknya.

Mereka mungkin sangat terluka.

Hanya saja, mereka memilih untuk tidak menunjukkan semuanya.

Ada orang tua yang menangis ketika sendirian.

Ada yang terus memikirkan perkataan anak sebelum tidur.

Ada yang bertanya-tanya apakah mereka telah gagal mendidik anak.

Ada pula yang merasa sedih karena hubungan yang dulu begitu dekat kini menjadi penuh konflik.

Jadi, jangan mengartikan kebaikan sebagai tanda bahwa tidak ada luka.

Kadang-kadang, kebaikan adalah cara seseorang mempertahankan hubungan meskipun hatinya sedang terluka.

Tetapi Anak Juga Perlu Memahami Batas Kesabaran Orang Tua

Memahami alasan psikologis mengapa orang tua tetap baik bukan berarti perilaku kasar dapat dibenarkan.

Orang tua juga manusia.

Mereka bisa lelah.

Mereka bisa kecewa.

Mereka bisa merasa tidak dihargai.

Dan mereka juga memiliki batas emosional.

Seorang anak mungkin merasa bahwa karena orang tuanya selalu memaafkan, maka tidak ada masalah jika terus bersikap kasar.

Padahal setiap perkataan dan tindakan dapat meninggalkan bekas.

Permintaan maaf mungkin dapat diberikan, tetapi luka emosional tidak selalu langsung hilang.

Karena itu, jika seseorang menyadari bahwa dirinya selama ini sering membentak, meremehkan, atau memperlakukan orang tuanya dengan buruk, tidak ada salahnya berhenti sejenak dan bertanya:

"Bagaimana perasaan mereka setelah saya mengatakan itu?"

"Apakah saya memperlakukan mereka seperti saya ingin diperlakukan?"

"Kalau suatu hari mereka tidak lagi ada, apakah saya akan menyesali cara saya memperlakukan mereka?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk membuat seseorang merasa bersalah, melainkan untuk membantu melihat hubungan dari sudut pandang yang lebih luas.

Penutup

Mengapa orang tua masih bersikap baik kepada anak yang berperilaku kasar?

Karena kasih sayang orang tua sering kali jauh lebih kompleks daripada sekadar hubungan timbal balik.

Mereka mungkin masih mencintai anaknya.

Mereka berharap anaknya berubah.

Mereka mengingat masa kecil anaknya.

Mereka tidak ingin membalas keburukan dengan keburukan.

Mereka takut kehilangan hubungan.

Dan mungkin, jauh di dalam hati, mereka hanya ingin anaknya tahu bahwa pintu untuk pulang masih terbuka.

Namun, kasih sayang bukan berarti tidak memiliki batas.

Orang tua boleh mencintai anaknya sekaligus mengatakan bahwa perilaku tertentu tidak dapat diterima. Mereka boleh memaafkan tanpa harus membiarkan diri terus disakiti.

Pada akhirnya, hubungan orang tua dan anak yang sehat bukan tentang siapa yang selalu benar atau siapa yang harus selalu mengalah.

Hubungan yang sehat adalah ketika kedua pihak mampu belajar memahami, menghargai, meminta maaf, memperbaiki kesalahan, dan membangun batasan yang lebih baik.

Sebab terkadang, orang tua tetap bersikap baik bukan karena mereka tidak merasakan luka.

Mereka hanya memilih untuk tidak membiarkan luka tersebut mengalahkan rasa sayang mereka.
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore