seseorang yang tidak lebih bijak dari pendahulunya. (Magnific)
Kita memiliki teknologi yang jauh lebih canggih. Kita dapat mengakses hampir seluruh pengetahuan manusia hanya dengan beberapa sentuhan di layar. Kita dapat mengetahui apa yang sedang terjadi di belahan dunia lain dalam hitungan detik. Kita memahami banyak hal tentang alam semesta, otak, kesehatan, komunikasi, dan perilaku manusia yang tidak diketahui oleh manusia berabad-abad lalu.
Karena itu, muncul sebuah anggapan yang terasa sangat masuk akal: jika pengetahuan kita bertambah, bukankah seharusnya kita juga menjadi lebih bijaksana?
Belum tentu.
Pengetahuan dan kebijaksanaan bukanlah hal yang sama.
Kita bisa mengetahui lebih banyak tetapi tetap mengambil keputusan yang buruk. Kita bisa memiliki akses terhadap ribuan penelitian tetapi tetap terjebak dalam prasangka. Kita bisa memahami sejarah tetapi mengulangi kesalahan yang sama. Bahkan, semakin banyak informasi yang kita miliki terkadang justru membuat kita semakin pandai membenarkan keputusan yang sebenarnya keliru.
Psikologi memberikan alasan yang menarik untuk memahami mengapa hal tersebut terjadi.
Mungkin kita memang lebih maju dalam banyak aspek. Kita memiliki alat yang lebih baik, sistem yang lebih kompleks, dan pengetahuan yang lebih luas. Namun, otak yang mengambil keputusan masih membawa banyak mekanisme psikologis yang pada dasarnya sama dengan manusia ribuan tahun lalu.
Kita masih takut ditolak.
Kita masih ingin diakui.
Kita masih mudah mengikuti kelompok.
Kita masih mencari pembenaran atas keyakinan sendiri.
Kita masih terlalu percaya diri.
Dan kita masih sering menilai masa lalu dengan cara yang tidak sepenuhnya adil.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (8/10), terdapat enam alasan mengapa kemajuan peradaban tidak otomatis membuat kita lebih bijaksana daripada para pendahulu kita.
1. Kita Mengira Pengetahuan yang Lebih Banyak Berarti Kebijaksanaan yang Lebih Tinggi
Kesalahan pertama adalah menyamakan informasi, pengetahuan, dan kebijaksanaan.
Ketiganya berbeda.
Informasi adalah sesuatu yang kita ketahui.
Pengetahuan adalah kemampuan untuk memahami dan menghubungkan informasi.
Sementara kebijaksanaan berkaitan dengan kemampuan menggunakan pengetahuan secara tepat—terutama ketika menghadapi ketidakpastian, konflik kepentingan, emosi, dan konsekuensi jangka panjang.
Seseorang dapat mengetahui bahwa kemarahan sering membuat keputusan menjadi buruk, tetapi tetap mengambil keputusan ketika sedang marah.
Seseorang dapat mengetahui bahwa terlalu banyak menggunakan media sosial dapat memengaruhi perhatian, tetapi tetap menghabiskan berjam-jam setiap hari di dalamnya.
Seseorang dapat mengetahui bahwa manusia memiliki bias kognitif, tetapi tetap yakin bahwa dirinya relatif bebas dari bias tersebut.
Inilah salah satu paradoks psikologi manusia:
Kita dapat mengetahui kelemahan manusia tanpa menyadari bahwa kita sendiri sedang mengalaminya.
Pengetahuan memberikan kemungkinan untuk menjadi lebih bijaksana, tetapi tidak menjamin kebijaksanaan.
Bayangkan manusia dari masa lalu yang hidup tanpa internet. Mereka mungkin tidak memahami mekanisme neurologis stres seperti yang kita pahami sekarang. Mereka mungkin tidak mengetahui istilah seperti cognitive bias, confirmation bias, atau decision fatigue.
Namun, bukan berarti mereka tidak memahami prinsip-prinsip kehidupan.
Seorang petani yang hidup ratusan tahun lalu mungkin tidak memahami ilmu psikologi modern, tetapi ia bisa memahami bahwa kesabaran diperlukan ketika menunggu musim panen.
Seorang ibu pada abad sebelumnya mungkin tidak mengetahui teori perkembangan anak, tetapi ia memahami bahwa anak membutuhkan perhatian, keamanan, dan kasih sayang.
Seorang filsuf kuno mungkin tidak memiliki pemindaian otak, tetapi ia bisa mengajukan pertanyaan yang sampai sekarang masih kita hadapi:
Apa yang sebenarnya membuat kehidupan menjadi baik?
Ini menunjukkan bahwa kemajuan pengetahuan tidak identik dengan kemajuan kebijaksanaan.
Bahkan, teknologi modern dapat memberikan kita kemampuan yang jauh lebih besar untuk bertindak tanpa memberikan kemampuan yang sama besarnya untuk menentukan kapan kita seharusnya bertindak.
Kita dapat berkomunikasi dengan seseorang di sisi lain dunia dalam hitungan detik. Tetapi apakah kita menjadi lebih baik dalam memahami orang tersebut?
Kita dapat menghasilkan informasi dalam jumlah luar biasa. Tetapi apakah kita menjadi lebih baik dalam membedakan mana yang penting dan mana yang tidak?
Kita dapat menghitung sesuatu dengan sangat cepat. Tetapi apakah kita lebih baik dalam menentukan apa yang layak dihitung?
Di sinilah perbedaan antara kecerdasan dan kebijaksanaan menjadi penting.
Kecerdasan membantu kita menemukan cara. Kebijaksanaan membantu kita menentukan apakah cara tersebut layak digunakan.
2. Otak Kita Masih Menggunakan Mekanisme Psikologis yang Sangat Tua
Ada kecenderungan untuk menganggap manusia modern sebagai makhluk yang secara psikologis sangat berbeda dari manusia masa lalu.
Padahal, sebagian besar perubahan terbesar terjadi pada lingkungan kita, bukan pada mekanisme dasar psikologi manusia.
Kita sekarang tinggal di kota besar, menggunakan komputer, membawa smartphone, bekerja dalam organisasi kompleks, dan hidup dalam ekonomi global.
Namun otak kita tetap harus menghadapi persoalan yang secara fundamental tidak terlalu berbeda:
Apakah saya aman?
Apakah kelompok saya menerima saya?
Siapa yang bisa saya percaya?
Siapa yang menjadi ancaman?
Apakah saya memiliki status?
Apakah sumber daya saya cukup?
Apakah saya akan ditolak?
Bagaimana saya mendapatkan apa yang saya inginkan?
Masalahnya, mekanisme yang dulu membantu manusia bertahan hidup tidak selalu cocok dengan dunia modern.
Manusia memiliki kecenderungan untuk memperhatikan ancaman. Dahulu, sensitivitas terhadap ancaman dapat membantu seseorang bertahan hidup.
Sekarang, mekanisme yang sama dapat membuat seseorang terus-menerus membaca berita negatif, mengkhawatirkan komentar orang lain, atau menganggap perbedaan pendapat sebagai ancaman terhadap identitas dirinya.
Dahulu, mengikuti kelompok mungkin sangat penting untuk bertahan hidup.
Sekarang, mekanisme tersebut dapat muncul dalam bentuk groupthink, fanatisme kelompok, polarisasi politik, konflik identitas, atau kecenderungan menganggap orang di luar kelompok sebagai kurang baik.
Dahulu, reputasi dalam kelompok kecil sangat penting.
Sekarang, reputasi dapat dipertaruhkan di hadapan ribuan atau jutaan orang melalui internet.
Teknologinya berubah.
Mesin psikologisnya tidak berubah secepat itu.
Ini menjelaskan sesuatu yang sering membingungkan kita.
Mengapa manusia yang memiliki pendidikan tinggi masih bisa melakukan tindakan irasional?
Mengapa masyarakat modern yang memiliki akses terhadap begitu banyak informasi masih bisa mengalami kepanikan massal?
Mengapa orang yang memahami statistik masih bisa mengambil keputusan berdasarkan intuisi yang keliru?
Karena pendidikan tidak menghapus seluruh mekanisme dasar otak.
Kita bukan manusia baru yang lahir di era modern.
Kita adalah manusia dengan otak yang berkembang dalam kondisi jauh lebih tua, kemudian ditempatkan dalam lingkungan yang berubah sangat cepat.
Dan terkadang lingkungan modern justru membuat kelemahan psikologis kita bekerja dalam skala yang jauh lebih besar.
3. Kita Terjebak dalam Bias "Presentisme": Menganggap Masa Kini Lebih Pintar daripada Masa Lalu
Salah satu kesalahan terbesar ketika membandingkan diri dengan para pendahulu adalah kita melihat masa lalu dari posisi kita sekarang.
Kita tahu apa yang terjadi setelahnya.
Mereka tidak.
Ini menciptakan ilusi bahwa pilihan kita hari ini lebih masuk akal daripada pilihan mereka di masa lalu.
Misalnya, kita mungkin melihat keputusan politik, sosial, atau ekonomi dari masa lalu dan bertanya:
"Bagaimana mungkin mereka tidak menyadari bahwa keputusan itu akan berakhir buruk?"
Jawabannya sederhana:
Karena mereka tidak memiliki informasi yang kita miliki sekarang.
Kita melihat sejarah dengan hindsight.
Kita mengetahui hasil akhirnya.
Kita mengetahui kesalahan yang terjadi.
Kita mengetahui siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Kita mengetahui teknologi mana yang akhirnya berhasil dan mana yang gagal.
Tetapi manusia pada masa tersebut harus mengambil keputusan dalam kondisi ketidakpastian.
Secara psikologis, manusia sangat mudah mengalami hindsight bias—setelah mengetahui hasil sebuah peristiwa, kita cenderung merasa bahwa hasil tersebut sebenarnya sudah dapat diprediksi sejak awal.
Padahal belum tentu.
Bayangkan seseorang melihat investasi yang gagal setelah mengetahui seluruh hasilnya. Sangat mudah berkata:
"Jelas sekali investasi itu akan gagal."
Namun sebelum kegagalan terjadi, situasinya mungkin jauh lebih ambigu.
Hal yang sama berlaku pada sejarah.
Kita sering membandingkan ketidakpastian masa lalu dengan pengetahuan masa kini.
Itu bukan perbandingan yang adil.
Para pendahulu kita tidak bodoh hanya karena mereka tidak mengetahui sesuatu yang baru ditemukan berabad-abad kemudian.
Sebaliknya, kita juga tidak otomatis bijaksana hanya karena kita mengetahui sesuatu yang mereka tidak ketahui.
Generasi berikutnya mungkin akan melihat banyak keputusan kita hari ini dan berkata:
"Bagaimana mungkin mereka tidak menyadari bahwa itu adalah kesalahan?"
Dan mungkin kita akan terlihat sama membingungkannya dengan manusia masa lalu yang sekarang kita nilai.
4. Kita Terlalu Mudah Menganggap Diri Sendiri Rasional
Salah satu temuan penting dalam psikologi adalah bahwa manusia sering kali memiliki gambaran yang terlalu positif tentang kemampuan berpikirnya sendiri.
Kita cenderung merasa bahwa keputusan kita dibuat berdasarkan pertimbangan yang objektif.
Padahal sering kali prosesnya tidak sesederhana itu.
Manusia memiliki berbagai bias kognitif.
Salah satunya adalah confirmation bias, yaitu kecenderungan untuk lebih memperhatikan informasi yang mendukung keyakinan kita dan mengabaikan atau meremehkan informasi yang bertentangan dengannya.
Misalnya, seseorang sudah percaya bahwa kelompok tertentu buruk.
Ia kemudian menemukan satu berita negatif tentang kelompok tersebut.
Berita itu dianggap sebagai bukti.
Tetapi ketika menemukan seratus contoh yang bertentangan dengan keyakinannya, contoh tersebut mungkin dianggap sebagai pengecualian.
Orang lain melakukan hal yang sama dengan keyakinan yang berlawanan.
Yang menarik adalah kedua pihak dapat merasa bahwa mereka sedang "berpikir secara objektif."
Inilah bagian yang membuat bias psikologis begitu berbahaya.
Bias tidak selalu terasa seperti kesalahan.
Bias terasa seperti kewajaran.
Kita jarang berpikir:
"Saya sedang mengalami confirmation bias."
Kita lebih mungkin berpikir:
"Saya hanya melihat fakta."
Masalah serupa terjadi pada overconfidence.
Manusia sering kali memiliki tingkat keyakinan yang lebih tinggi daripada akurasi sebenarnya dari penilaiannya.
Kita dapat sangat yakin bahwa kita memahami seseorang.
Kita dapat sangat yakin bahwa keputusan kita benar.
Kita dapat sangat yakin bahwa kita akan bertindak dengan baik jika berada dalam situasi tertentu.
Namun ketika situasi nyata datang, emosi, tekanan sosial, kepentingan pribadi, dan ketakutan dapat mengubah perilaku kita.
Karena itu, salah satu tanda kebijaksanaan bukanlah keyakinan yang sangat tinggi.
Justru sebaliknya.
Orang yang bijaksana biasanya mampu mengatakan:
"Saya mungkin salah."
Kalimat sederhana itu menunjukkan sesuatu yang sangat penting: kesadaran terhadap keterbatasan diri.
Dan kesadaran semacam ini mungkin jauh lebih penting daripada sekadar memiliki lebih banyak informasi.
5. Teknologi Memberi Kita Kekuatan Lebih Besar, Bukan Otomatis Pengendalian Diri yang Lebih Baik
Ada perbedaan besar antara kemampuan melakukan sesuatu dan kemampuan mengendalikan keinginan untuk melakukannya.
Teknologi modern telah meningkatkan kemampuan manusia secara luar biasa.
Kita dapat membuat keputusan dengan cepat.
Kita dapat menyebarkan informasi kepada jutaan orang.
Kita dapat menghasilkan gambar, video, tulisan, dan suara dengan teknologi yang sebelumnya tidak terbayangkan.
Kita dapat mengakses hiburan tanpa batas.
Namun semakin besar kemampuan yang kita miliki, semakin penting kemampuan untuk mengendalikan diri.
Sayangnya, pengendalian diri tidak otomatis berkembang secepat teknologi.
Ini menciptakan situasi yang unik.
Manusia modern memiliki akses terhadap stimulasi yang jauh lebih besar daripada manusia pada masa lalu.
Kita dapat terus menerima notifikasi.
Terus menonton.
Terus berbelanja.
Terus membaca berita.
Terus mencari validasi.
Terus membandingkan diri.
Terus mengejar hal baru.
Lingkungan seperti ini dapat mengeksploitasi kecenderungan psikologis kita terhadap penghargaan cepat.
Kita sering mengetahui bahwa sesuatu tidak baik untuk kita, tetapi tetap melakukannya karena manfaatnya terasa sekarang sementara kerugiannya terasa nanti.
Inilah salah satu bentuk konflik antara keinginan jangka pendek dan kepentingan jangka panjang.
Manusia masa lalu juga mengalami konflik yang sama.
Bedanya, manusia modern memiliki jauh lebih banyak alat untuk memuaskan keinginan tersebut.
Kita bisa mengatakan bahwa peradaban memberi manusia mesin yang semakin kuat, tetapi tidak menjamin bahwa manusia yang mengemudikannya menjadi semakin bijaksana.
Sebuah pisau yang lebih tajam tidak membuat pemiliknya lebih bijaksana.
Sebuah mobil yang lebih cepat tidak membuat pengemudinya lebih dewasa.
Teknologi yang lebih kuat juga tidak secara otomatis membuat penggunanya lebih bijaksana.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan:
"Seberapa canggih teknologi kita?"
Melainkan:
"Apakah kedewasaan psikologis kita berkembang sebanding dengan kekuatan yang kita miliki?"
Pertanyaan tersebut jauh lebih sulit dijawab.
6. Kita Sering Mengira Perubahan Zaman Berarti Perubahan Sifat Dasar Manusia
Alasan terakhir mungkin yang paling mendalam.
Kita sering menganggap bahwa setiap generasi menjadi lebih baik hanya karena generasi tersebut datang setelah generasi sebelumnya.
Tetapi sejarah tidak bekerja seperti itu.
Generasi baru mewarisi keberhasilan sekaligus kelemahan generasi sebelumnya.
Kita mendapatkan teknologi yang mereka bangun.
Kita mendapatkan institusi yang mereka bentuk.
Kita mendapatkan bahasa, budaya, ilmu pengetahuan, dan sistem sosial yang berkembang selama ratusan bahkan ribuan tahun.
Namun kita juga mewarisi bias, konflik, ketakutan, keserakahan, kebutuhan akan status, dan kecenderungan terhadap konflik kelompok.
Kita tidak memulai dari nol.
Kita berdiri di atas hasil kerja manusia sebelumnya.
Karena itu, sangat mungkin bahwa kita lebih mampu daripada mereka tanpa menjadi lebih bijaksana daripada mereka.
Kita bisa melakukan sesuatu yang mereka tidak bisa lakukan.
Tetapi kemampuan bukanlah kebijaksanaan.
Seorang manusia modern mungkin dapat melakukan perjalanan ke luar angkasa.
Tetapi ia masih bisa iri kepada tetangganya.
Kita dapat berbicara dengan seseorang yang berada ribuan kilometer jauhnya.
Tetapi kita masih bisa gagal mendengarkan pasangan sendiri.
Kita dapat mempelajari sejarah ribuan tahun.
Tetapi kita masih bisa membenci seseorang hanya karena mereka berasal dari kelompok yang berbeda.
Kita dapat mempelajari psikologi.
Tetapi kita masih bisa tertipu oleh ego sendiri.
Dengan kata lain, peradaban berkembang lebih cepat daripada karakter manusia.
Dan mungkin memang demikian sifat perkembangan manusia.
Kita membangun dunia baru menggunakan otak yang memiliki banyak mekanisme lama.
Jadi, Apakah Kita Benar-Benar Tidak Lebih Bijaksana daripada Para Pendahulu?
Jawabannya tidak sesederhana "ya" atau "tidak."
Kita memang mengalami kemajuan luar biasa.
Dalam banyak bidang, manusia modern memiliki pengetahuan yang jauh lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya.
Kita memahami penyakit dengan lebih baik.
Kita memahami otak dengan lebih baik.
Kita memiliki ilmu pengetahuan yang lebih sistematis.
Kita memiliki teknologi yang dapat mengurangi penderitaan dan meningkatkan kualitas hidup.
Dalam pengertian tertentu, tentu saja kita telah belajar.
Tetapi kemajuan kolektif tidak sama dengan kebijaksanaan individual.
Kita tidak boleh jatuh ke dalam dua ekstrem.
Ekstrem pertama adalah menganggap manusia masa lalu bodoh dan manusia modern selalu lebih pintar.
Ekstrem kedua adalah menganggap semua yang lama pasti lebih bijaksana.
Keduanya keliru.
Para pendahulu kita memiliki banyak keterbatasan yang nyata. Mereka juga melakukan kekejaman, kesalahan, diskriminasi, perang, dan keputusan yang buruk.
Tetapi mereka juga memiliki wawasan yang sering kali masih relevan.
Mereka memahami pentingnya kesabaran.
Mereka memahami konsekuensi dari kesombongan.
Mereka memahami bahwa manusia membutuhkan komunitas.
Mereka memahami bahwa kehidupan tidak selalu dapat dikendalikan.
Mereka memahami bahwa keinginan manusia tidak pernah benar-benar selesai.
Dan mungkin yang paling penting, mereka memahami sesuatu yang sering kita lupakan:
manusia tidak berubah sebanyak yang kita kira.
Kebijaksanaan Mungkin Dimulai dari Mengakui Bahwa Kita Tidak Istimewa
Ada paradoks yang menarik di sini.
Semakin banyak kita belajar tentang psikologi manusia, semakin jelas bahwa manusia bukan makhluk yang sepenuhnya rasional.
Kita mudah dipengaruhi.
Kita memiliki bias.
Kita mencari pembenaran.
Kita takut kehilangan.
Kita membutuhkan penerimaan.
Kita mudah mengikuti kelompok.
Kita sering terlalu percaya diri.
Dan kita cenderung menganggap keputusan kita sendiri lebih masuk akal daripada keputusan orang lain.
Menyadari hal ini bukan alasan untuk menjadi pesimis.
Justru sebaliknya.
Kesadaran terhadap keterbatasan diri dapat menjadi awal kebijaksanaan.
Orang yang menyadari bahwa dirinya bisa salah akan lebih mungkin mendengarkan.
Orang yang memahami biasnya akan lebih berhati-hati ketika mengambil keputusan.
Orang yang memahami keterbatasan pengetahuannya akan lebih terbuka terhadap perspektif lain.
Orang yang mengetahui bahwa emosinya dapat memengaruhi keputusan akan lebih berhati-hati ketika sedang marah atau takut.
Dengan kata lain, kebijaksanaan bukan berarti tidak memiliki bias.
Kebijaksanaan berarti semakin mampu mengenali bahwa kita memilikinya.
Bukan berarti tidak pernah salah.
Tetapi mampu memperbaiki kesalahan.
Bukan berarti mengetahui semua jawaban.
Tetapi tahu kapan kita tidak tahu.
Bukan berarti lebih unggul daripada manusia sebelumnya.
Tetapi mampu belajar dari mereka tanpa menganggap diri kita lebih tinggi.
Penutup: Kita Mungkin Lebih Maju, tetapi Belum Tentu Lebih Bijaksana
Kemajuan manusia adalah sesuatu yang luar biasa.
Namun kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan, dan peradaban tidak otomatis mengubah sifat dasar psikologi manusia.
Kita masih memiliki otak yang sama-sama mencari keamanan, status, penerimaan, dan penghargaan.
Kita masih rentan terhadap bias.
Kita masih mudah tertipu oleh keyakinan sendiri.
Kita masih dapat membuat keputusan buruk ketika emosi mengambil alih.
Dan kita masih memiliki kecenderungan untuk melihat generasi sebelumnya sebagai kurang cerdas karena mereka tidak mengetahui apa yang sekarang kita ketahui.
Mungkin karena itu, salah satu kesalahan terbesar manusia modern adalah menganggap "lebih baru" berarti "lebih bijaksana."
Padahal kebijaksanaan tidak ditentukan oleh tahun kelahiran.
Ia tidak otomatis muncul karena seseorang memiliki akses internet, pendidikan tinggi, atau teknologi terbaru.
Kebijaksanaan muncul dari kemampuan untuk melihat keterbatasan diri, mempertimbangkan konsekuensi, menahan dorongan sesaat, menerima ketidakpastian, memahami perspektif orang lain, dan belajar dari pengalaman.
Dan mungkin, setelah memahami psikologi manusia, kita justru memiliki alasan untuk menjadi sedikit lebih rendah hati.
Sebab ketika kita melihat kesalahan para pendahulu kita, kita seharusnya tidak hanya bertanya:
"Mengapa mereka bisa sebodoh itu?"
Kita juga perlu bertanya:
"Kesalahan apa yang sedang kita lakukan hari ini yang kelak akan terlihat sama jelasnya bagi manusia di masa depan?"
Pertanyaan kedua jauh lebih sulit.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fulham vs Hull City: The Tigers Berpeluang Menang Tipis di Craven Cottage
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah
Prediksi Skor Lille vs Brest di Liga Prancis: Verdonk Starter, Les Dogues Berjaya di Pierre Mauroy
Prediksi Susunan Pemain Real Betis vs Barcelona: Yamal dan Adeyemi Jadi Andalan
Prediksi Skor Hamburger SV vs Stuttgart: Die Roten Siap Pesta Gol di Volksparkstadion
Prediksi Skor Espanyol vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Los Rojiblancos Pertahankan Laju Positif
Prediksi Skor PSGC Ciamis vs PSIS Semarang di Pegadaian Championship: Tuan Rumah Hadapi Ujian Berat
Prediksi Susunan Pemain AS Roma vs Genoa: Santiago Castro Siap Jadi Andalan
Prediksi Skor Semen Padang vs PSMS di Championship: Kabau Sirah Bidik Kemenangan Kandang Perdana
Prediksi RANS Nusantara vs Persela Lamongan: Laskar Joko Tingkir Berburu Kemenangan di Malang

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022