seseorang yang merasa aman bersama pasangan. (Magnific)
Seseorang bisa merasa senang bersamamu. Bisa tertawa bersamamu. Bisa menikmati kencan, perjalanan, percakapan panjang, bahkan memiliki banyak kesamaan denganmu. Namun, semua itu belum tentu berarti dia merasa aman secara emosional bersamamu.
Keamanan emosional adalah sesuatu yang lebih mendasar.
Ketika seseorang merasa aman secara emosional, dia tidak terus-menerus merasa harus menjaga dirinya agar tidak ditolak. Dia tidak merasa harus selalu terlihat kuat. Dia tidak takut bahwa setiap kesalahan kecil akan membuat pasangannya pergi. Dia juga tidak merasa harus menyembunyikan sisi dirinya yang paling rapuh.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (17/10), dalam psikologi hubungan, rasa aman sering berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menjadi dirinya sendiri, mengungkapkan kebutuhan, menunjukkan kerentanan, dan menghadapi konflik tanpa merasa hubungan tersebut selalu berada di ambang kehancuran.
Menariknya, tanda-tandanya sering kali tidak terlihat dalam momen-momen romantis.
Justru, rasa aman paling jelas terlihat dari perilaku seseorang ketika dia sedang lelah, kecewa, bingung, melakukan kesalahan, atau sedang menghadapi masalah.
Jika kamu melihat beberapa tanda berikut pada pasanganmu, bisa jadi dia telah membangun sebuah keyakinan penting dalam dirinya:
"Aku bisa menjadi diriku sendiri ketika bersamanya."
Dan bagi banyak orang, itu adalah salah satu bentuk cinta yang paling dalam.
1. Dia Tidak Takut Menunjukkan Sisi Rapuhnya Kepadamu
Salah satu tanda paling kuat bahwa seseorang merasa aman secara emosional adalah ketika dia mulai berani menunjukkan sisi dirinya yang tidak sempurna.
Dia mungkin menceritakan sesuatu yang membuatnya malu.
Dia bisa mengakui bahwa dirinya sedang takut.
Dia tidak selalu menyembunyikan ketika sedang sedih.
Bahkan mungkin ada saat-saat ketika dia berkata, "Aku sebenarnya nggak tahu harus bagaimana," atau "Aku sedang merasa sangat kacau."
Perhatikan bahwa kerentanan bukan hanya tentang menangis.
Kerentanan juga bisa berbentuk pengakuan sederhana seperti:
"Aku takut mengecewakanmu."
"Aku sebenarnya merasa tidak cukup baik."
"Aku sedang butuh ditemani."
"Aku nggak tahu kenapa hari ini aku sensitif."
Ketika seseorang berani mengatakan hal-hal seperti itu, biasanya dia tidak sedang berusaha terlihat lemah.
Sebaliknya, dia sedang menunjukkan bahwa dia percaya kamu tidak akan menggunakan kelemahannya untuk menyerangnya di kemudian hari.
Inilah salah satu fondasi keamanan emosional.
Seseorang merasa bahwa ketika dia membuka dirinya, dia tidak akan dipermalukan, diremehkan, atau dihukum.
Mengapa ini penting?
Karena hubungan yang sehat bukan hubungan di mana dua orang selalu terlihat kuat.
Hubungan yang sehat justru memungkinkan dua orang untuk bergantian menjadi kuat dan lemah.
Hari ini mungkin kamu yang menguatkan dia.
Besok mungkin dia yang menguatkanmu.
Tidak ada tuntutan bahwa salah satu harus selalu menjadi "orang yang paling kuat".
Ketika pasanganmu mulai menunjukkan sisi yang selama ini jarang dia tunjukkan kepada orang lain, jangan buru-buru menganggapnya sebagai kelemahan.
Bisa jadi itu adalah bentuk kepercayaan.
Dia sedang mengatakan tanpa kata-kata:
"Aku percaya kamu tidak akan meninggalkanku hanya karena kamu melihat sisi diriku yang tidak sempurna."
2. Dia Bisa Mengatakan "Tidak" Tanpa Takut Kehilanganmu
Ini adalah tanda yang sering disalahpahami.
Banyak orang mengira pasangan yang sangat mencintai akan selalu berkata "iya".
Padahal, dalam hubungan yang sehat, seseorang seharusnya tetap memiliki ruang untuk berkata "tidak".
Dia bisa mengatakan:
"Aku nggak mau pergi malam ini."
"Aku butuh waktu sendiri."
"Aku kurang nyaman dengan hal itu."
"Aku punya pendapat yang berbeda."
"Aku belum siap."
Dan yang menarik adalah dia tidak perlu meminta maaf secara berlebihan hanya karena memiliki batasan.
Mengapa?
Karena dia merasa hubungan kalian cukup kuat untuk bertahan menghadapi perbedaan.
Seseorang yang merasa aman secara emosional biasanya tidak merasa bahwa setiap penolakan kecil akan membuat pasangannya marah atau pergi.
Dia memahami bahwa mengatakan "tidak" terhadap sesuatu bukan berarti mengatakan "tidak" terhadap hubungan.
Ini sangat penting.
Sebab hubungan yang sehat membutuhkan batasan, bukan pengorbanan tanpa batas.
Ketika seseorang merasa aman, dia dapat mempertahankan identitas dan kebutuhannya tanpa merasa harus memilih antara "menjadi dirinya sendiri" atau "mempertahankan pasangan".
Dan jika pasanganmu mulai berani memiliki batasan yang sehat, jangan langsung menganggapnya sebagai tanda bahwa dia semakin jauh.
Bisa jadi justru sebaliknya.
Dia merasa cukup aman untuk menjadi jujur.
3. Dia Tidak Takut Membicarakan Hal yang Sulit
Ada pasangan yang terlihat baik-baik saja karena tidak pernah bertengkar.
Namun, tidak bertengkar bukan selalu berarti hubungan tersebut sehat.
Kadang-kadang seseorang tidak mengungkapkan masalah karena takut konsekuensinya.
Dia memilih diam.
Menelan kekecewaan.
Berpura-pura tidak apa-apa.
Bukan karena semuanya baik-baik saja, tetapi karena dia merasa tidak aman untuk membicarakannya.
Sebaliknya, seseorang yang merasa aman secara emosional justru cenderung lebih mampu mengatakan:
"Aku kecewa dengan kejadian tadi."
"Aku merasa tidak didengarkan."
"Aku kurang nyaman ketika kamu melakukan itu."
"Aku ingin kita membicarakan masalah ini."
Perhatikan sesuatu yang penting:
Keamanan emosional bukan berarti tidak ada konflik.
Keamanan emosional berarti seseorang percaya bahwa konflik bisa dibicarakan tanpa otomatis menghancurkan hubungan.
Dia tidak perlu menyembunyikan masalah sampai semuanya menumpuk.
Dia juga tidak harus mengubah setiap konflik menjadi peperangan.
Ada ruang untuk mengatakan, "Kita sedang tidak sepakat, tetapi kita masih satu tim."
Dalam psikologi hubungan, kemampuan untuk menghadapi konflik secara konstruktif sangat penting karena konflik merupakan bagian yang hampir tidak terhindarkan dari hubungan jangka panjang.
Yang membedakan hubungan yang sehat bukan ketiadaan masalah, melainkan bagaimana dua orang menghadapi masalah tersebut.
4. Dia Tidak Terlalu Sibuk Menjaga Citra di Depanmu
Ada perbedaan antara ingin memberikan kesan baik dan merasa harus selalu tampil sempurna.
Pada tahap awal hubungan, hampir semua orang cenderung menunjukkan versi terbaik dirinya.
Rambut ditata.
Pakaian dipilih dengan hati-hati.
Kata-kata dipikirkan.
Kebiasaan buruk disembunyikan.
Tetapi seiring hubungan menjadi lebih aman, seseorang biasanya mulai memperlihatkan dirinya yang lebih autentik.
Dia bisa datang dengan pakaian sederhana.
Dia bisa tertawa tanpa memikirkan apakah tawanya terdengar aneh.
Dia bisa melakukan hal-hal kecil yang biasanya hanya dilakukan ketika seseorang merasa benar-benar nyaman.
Dia tidak terlalu khawatir jika kamu melihat dirinya sedang lelah, berantakan, atau tidak dalam kondisi terbaik.
Bahkan terkadang dia bisa melakukan sesuatu yang konyol di depanmu tanpa rasa malu berlebihan.
Ini bukan berarti dia berhenti menghargai penampilan atau berhenti berusaha.
Maksudnya adalah dia tidak lagi merasa bahwa cinta harus selalu "diperoleh" dengan performa sempurna.
Ada keyakinan yang mulai tumbuh:
"Aku tidak harus menjadi versi terbaikku setiap saat agar tetap dicintai."
Dan itu adalah bentuk keamanan yang sangat dalam.
5. Dia Bisa Meminta Apa yang Dia Butuhkan
Ini mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya cukup sulit bagi banyak orang.
Tidak semua orang tumbuh dengan kemampuan untuk mengungkapkan kebutuhannya.
Sebagian orang terbiasa memendam.
Sebagian takut dianggap merepotkan.
Sebagian lainnya takut jika meminta terlalu banyak, pasangannya akan merasa terbebani.
Karena itu, ketika pasanganmu mulai bisa mengatakan apa yang dia butuhkan secara langsung, itu dapat menjadi tanda bahwa dia merasa cukup aman bersamamu.
Misalnya:
"Aku cuma butuh kamu dengarkan, nggak perlu kasih solusi."
"Aku ingin dipeluk."
"Aku ingin kita punya waktu berdua."
"Aku sedang butuh sedikit ruang."
"Aku ingin kamu memberi tahu aku kalau rencana berubah."
Kemampuan untuk mengungkapkan kebutuhan membuat hubungan menjadi lebih jelas.
Daripada berharap pasangannya bisa membaca pikiran, seseorang yang aman secara emosional belajar mengatakan apa yang sebenarnya dia perlukan.
Dan di sinilah komunikasi menjadi jauh lebih sehat.
Dia tidak harus membuatmu menebak.
Dia tidak harus menguji cintamu melalui permainan.
Dia tidak perlu sengaja menjauh hanya untuk melihat apakah kamu akan mengejarnya.
Dia dapat mengatakan apa yang dia butuhkan.
Karena dia percaya bahwa kebutuhannya layak didengar.
6. Dia Bisa Menjadi Dirinya Sendiri Tanpa Terus-Menerus Mencari Persetujuanmu
Ini adalah salah satu tanda yang sangat halus.
Pasangan yang merasa aman tidak selalu membutuhkan validasi darimu untuk setiap keputusan kecil.
Dia tetap menghargai pendapatmu.
Dia tetap mempertimbangkan perasaanmu.
Namun, dia tidak kehilangan dirinya sendiri.
Dia masih memiliki teman.
Masih memiliki minat pribadi.
Masih punya kegiatan yang dia sukai.
Masih memiliki pendapat sendiri.
Dan terkadang, dia bahkan bisa mengambil keputusan yang berbeda darimu tanpa merasa hubungan kalian terancam.
Ini menunjukkan bahwa kedekatan tidak selalu berarti kehilangan individualitas.
Dalam hubungan yang sehat, dua orang dapat saling terhubung tanpa harus menjadi satu orang yang sama.
Kamu tetap menjadi dirimu.
Dia tetap menjadi dirinya.
Tetapi kalian memilih untuk berjalan bersama.
Itulah perbedaan antara kedekatan yang sehat dan ketergantungan yang tidak sehat.
Seseorang yang merasa aman tidak harus terus-menerus bertanya:
"Apakah kamu masih mencintaiku?"
"Apakah kamu marah?"
"Apakah aku cukup baik?"
"Apakah kamu akan meninggalkanku?"
Tentu, sesekali rasa tidak aman tetap bisa muncul. Manusia tidak selalu tenang.
Namun, jika secara umum dia memiliki keyakinan bahwa hubungan kalian stabil, dia akan lebih bebas menjadi dirinya sendiri.
7. Dia Tidak Merasa Harus Berpura-pura Bahwa Semuanya Baik-Baik Saja
Ini mungkin tanda yang paling dalam.
Ketika seseorang benar-benar merasa aman secara emosional, dia tidak harus selalu terlihat bahagia di depanmu.
Dia bisa berkata:
"Hari ini aku sedang nggak baik-baik saja."
"Aku lagi capek."
"Aku sedang banyak pikiran."
"Aku nggak tahu kenapa, tapi hari ini rasanya berat."
Dan dia tidak merasa harus segera menyembunyikan emosinya hanya agar suasana tetap menyenangkan.
Dia tahu bahwa kamu mungkin tidak selalu bisa memperbaiki masalahnya.
Tetapi dia percaya bahwa kamu bisa hadir.
Kadang-kadang, yang dibutuhkan seseorang bukan solusi.
Bukan nasihat.
Bukan kalimat motivasi.
Hanya seseorang yang berkata:
"Aku di sini."
Keamanan emosional sering kali tumbuh dari pengalaman-pengalaman kecil seperti itu.
Ketika seseorang berkali-kali mengalami bahwa emosinya didengar, batasannya dihormati, kesalahannya tidak digunakan sebagai senjata, dan kerentanannya tidak dipermalukan, perlahan-lahan terbentuk rasa percaya.
Bukan kepercayaan yang muncul karena janji.
Tetapi kepercayaan yang muncul karena pengalaman.
Namun Ada Satu Hal yang Sering Dilupakan
Melihat tujuh tanda di atas bukan berarti hubunganmu otomatis sempurna.
Seseorang bisa merasa aman sekaligus tetap memiliki rasa takut.
Bisa nyaman tetapi masih memiliki luka masa lalu.
Bisa percaya kepadamu tetapi sesekali mengalami kecemasan.
Manusia tidak sesederhana sebuah daftar tanda.
Karena itu, jangan gunakan tujuh tanda ini untuk "menguji" pasanganmu.
Jangan berpikir:
"Kalau dia tidak melakukan ini, berarti dia tidak mencintaiku."
Tidak sesederhana itu.
Setiap orang memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan rasa aman.
Ada orang yang sangat terbuka secara verbal.
Ada yang lebih menunjukkan kepercayaan melalui tindakan.
Ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk terbuka karena pengalaman masa lalu.
Ada juga orang yang memang memiliki gaya komunikasi yang lebih tenang dan tertutup.
Yang paling penting bukan mencocokkan pasanganmu dengan sebuah daftar.
Yang lebih penting adalah memperhatikan arah hubungan kalian.
Apakah dia semakin bebas menjadi dirinya sendiri?
Apakah komunikasi kalian semakin jujur?
Apakah konflik semakin bisa dibicarakan?
Apakah kalian semakin mampu mengatakan kebutuhan masing-masing?
Apakah kalian bisa berbeda pendapat tanpa saling menghancurkan?
Jika jawabannya semakin sering "ya", kemungkinan besar hubungan kalian sedang bergerak ke arah yang lebih aman.
Keamanan Emosional Tidak Dibangun dalam Satu Malam
Keamanan emosional bukan sesuatu yang bisa kamu minta dari seseorang.
Ia dibangun perlahan.
Melalui konsistensi.
Melalui cara kamu merespons ketika pasanganmu melakukan kesalahan.
Melalui cara kamu mendengarkan ketika dia sedang sedih.
Melalui cara kamu berbicara ketika sedang marah.
Melalui apakah kamu menghormati batasannya.
Melalui apakah kamu menepati kata-katamu.
Dan yang tidak kalah penting, melalui apakah dia merasa aman untuk mengatakan kebenaran kepadamu.
Karena pada akhirnya, seseorang tidak merasa aman hanya karena kamu mengatakan:
"Kamu bisa percaya kepadaku."
Dia merasa aman setelah berkali-kali mengalami bahwa memang benar begitu.
Ketika dia menangis dan kamu tidak mengejeknya.
Ketika dia berbeda pendapat dan kamu tidak mengancam meninggalkannya.
Ketika dia berkata "tidak" dan kamu tetap menghormatinya.
Ketika dia melakukan kesalahan dan kamu tidak menjadikannya senjata untuk memenangkan pertengkaran.
Ketika dia bercerita tentang ketakutannya dan kamu tidak menggunakan cerita itu untuk menyakitinya di kemudian hari.
Dari situlah keamanan emosional tumbuh.
Mungkin Cinta yang Paling Dalam Bukan Ketika Seseorang Selalu Membutuhkanmu
Ada anggapan bahwa semakin seseorang membutuhkan kita, semakin besar cintanya.
Padahal, hubungan yang matang justru bisa terlihat berbeda.
Pasanganmu mungkin tidak selalu membutuhkanmu untuk menyelesaikan masalahnya.
Dia mungkin mampu berdiri sendiri.
Dia mungkin memiliki kehidupannya sendiri.
Dia mungkin tetap baik-baik saja ketika kamu sedang tidak ada.
Tetapi dia tetap memilih untuk kembali kepadamu.
Bukan karena dia tidak bisa hidup tanpamu.
Melainkan karena hidup bersamamu terasa lebih aman, lebih hangat, dan lebih bermakna.
Itulah salah satu bentuk cinta yang paling dewasa.
Bukan:
"Aku tidak bisa hidup tanpamu."
Tetapi:
"Aku bisa berdiri sendiri, tetapi aku merasa aman menjadi diriku sendiri ketika bersamamu."
Dan mungkin, itulah yang sebenarnya dicari banyak orang dalam sebuah hubungan.
Bukan seseorang yang sempurna.
Bukan seseorang yang selalu tahu harus berkata apa.
Bukan seseorang yang tidak pernah melakukan kesalahan.
Melainkan seseorang yang membuat kita merasa bahwa kita tidak perlu terus-menerus memakai topeng.
Kita bisa tertawa.
Kita bisa diam.
Kita bisa menangis.
Kita bisa berbeda pendapat.
Kita bisa berkata "tidak".
Kita bisa mengakui ketakutan.
Kita bisa mengatakan, "Aku membutuhkanmu."
Dan setelah semua itu, hubungan tersebut masih terasa cukup kuat untuk bertahan.
Jika pasanganmu menunjukkan banyak dari tujuh tanda tadi, mungkin ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar rasa nyaman.
Mungkin dia merasa aman bersamamu.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fulham vs Hull City: The Tigers Berpeluang Menang Tipis di Craven Cottage
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah
Prediksi Skor Lille vs Brest di Liga Prancis: Verdonk Starter, Les Dogues Berjaya di Pierre Mauroy
Prediksi Susunan Pemain Real Betis vs Barcelona: Yamal dan Adeyemi Jadi Andalan
Prediksi Skor Hamburger SV vs Stuttgart: Die Roten Siap Pesta Gol di Volksparkstadion
Prediksi Skor Espanyol vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Los Rojiblancos Pertahankan Laju Positif
Prediksi Skor PSGC Ciamis vs PSIS Semarang di Pegadaian Championship: Tuan Rumah Hadapi Ujian Berat
Prediksi Susunan Pemain AS Roma vs Genoa: Santiago Castro Siap Jadi Andalan
Prediksi Skor Semen Padang vs PSMS di Championship: Kabau Sirah Bidik Kemenangan Kandang Perdana
Prediksi RANS Nusantara vs Persela Lamongan: Laskar Joko Tingkir Berburu Kemenangan di Malang

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022