seseorang yang tidak dianggap sahabat oleh temannya. (Magnific)
Pertanyaan seperti ini biasanya muncul bukan tanpa alasan.
Mungkin kamu selalu berusaha hadir ketika mereka membutuhkanmu. Kamu mendengarkan cerita mereka, mengingat hal-hal kecil tentang kehidupan mereka, ikut bahagia ketika mereka mendapatkan sesuatu yang baik, dan bahkan rela mengorbankan waktu atau tenaga ketika mereka sedang mengalami masalah.
Namun, ketika kamu sendiri membutuhkan mereka, situasinya terasa berbeda.
Pesanmu sering tidak dibalas. Ceritamu hanya didengarkan sekadarnya. Ketika kamu mengajak bertemu, selalu ada alasan. Bahkan terkadang kamu melihat mereka begitu dekat dengan orang lain, sementara kamu merasa hanya menjadi seseorang yang ada ketika dibutuhkan.
Di titik itu, muncul sebuah kesadaran yang mungkin terasa menyakitkan:
Jangan-jangan selama ini hanya kamu yang menganggap hubungan tersebut sebagai sebuah persahabatan yang dekat.
Dalam psikologi, kedekatan dalam hubungan sosial tidak hanya ditentukan oleh seberapa lama seseorang mengenal kita. Hubungan yang sehat biasanya melibatkan unsur timbal balik, rasa aman, perhatian, kepercayaan, dan kemauan kedua belah pihak untuk mempertahankan hubungan tersebut.
Karena itu, seseorang bisa saja sudah bertahun-tahun berada di lingkaran pertemananmu, tetapi belum tentu memiliki tingkat kedekatan emosional yang sama seperti yang kamu rasakan.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (17/10), terdapat beberapa tanda yang mungkin perlu kamu perhatikan.
1. Kamu selalu menjadi orang yang memulai komunikasi
Coba berhenti sejenak dan perhatikan pola komunikasi kalian.
Siapa yang biasanya mengirim pesan lebih dulu?
Siapa yang mengajak bertemu?
Siapa yang bertanya, "Kamu baik-baik saja?"
Siapa yang berusaha menjaga percakapan tetap berjalan?
Jika hampir selalu kamu yang melakukan semuanya, mungkin ada ketidakseimbangan dalam hubungan tersebut.
Bukan berarti setiap teman harus selalu menghubungi kita terlebih dahulu. Setiap orang tentu memiliki kesibukan, masalah pribadi, pekerjaan, keluarga, dan kehidupan masing-masing.
Tetapi jika pola tersebut terjadi terus-menerus selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, hal itu bisa menjadi sesuatu yang patut diperhatikan.
Persahabatan yang dekat biasanya tidak hanya bertahan karena satu orang terus-menerus menghidupkannya.
Ada usaha dari kedua belah pihak.
Teman yang menganggapmu penting mungkin tidak selalu bisa membalas pesan dengan cepat. Mereka juga mungkin tidak selalu bisa datang ketika kamu mengajak bertemu.
Namun, biasanya tetap ada tanda bahwa mereka ingin mempertahankan hubungan tersebut.
Misalnya, mereka kembali menghubungimu setelah sibuk.
Mereka berkata, "Maaf kemarin aku nggak sempat balas."
Atau mereka sendiri yang suatu hari bertanya, "Kapan kita ketemu lagi?"
Hal kecil seperti ini menunjukkan adanya reciprocity, atau timbal balik dalam hubungan.
Sebaliknya, jika kamu berhenti menghubungi mereka dan hubungan tersebut langsung menghilang begitu saja, mungkin selama ini kamu memang menjadi pihak yang paling banyak menjaga hubungan tersebut tetap hidup.
Dan terkadang, hal ini baru terlihat ketika kamu berhenti berusaha.
Bukan untuk menguji mereka.
Bukan juga untuk membuat mereka merasa bersalah.
Melainkan untuk melihat realitas hubungan tanpa terus-menerus menutupinya dengan usaha sepihak.
2. Mereka datang ketika membutuhkan sesuatu, tetapi menghilang ketika kamu membutuhkan mereka
Ini merupakan salah satu tanda yang paling mudah terasa.
Ketika mereka sedang memiliki masalah, kamu menjadi salah satu orang pertama yang dicari.
Mereka menelepon.
Mereka bercerita panjang.
Mereka meminta pendapat.
Mereka meminta bantuan.
Dan karena kamu menganggap mereka sebagai sahabat, kamu berusaha hadir.
Kamu mendengarkan tanpa menghakimi.
Kamu mencoba memberikan solusi.
Bahkan terkadang kamu mengorbankan waktu untuk membantu mereka.
Tetapi ketika situasinya berbalik dan kamu membutuhkan tempat untuk bercerita, mereka tiba-tiba sulit ditemukan.
Pesanmu dibalas singkat.
Cerita seriusmu dianggap sepele.
Atau mereka justru mengalihkan pembicaraan kembali kepada masalah mereka sendiri.
Jika hal tersebut terjadi sesekali, tentu belum tentu berarti apa-apa. Semua orang memiliki kapasitas emosional yang berbeda.
Tetapi jika pola tersebut konsisten, kamu mungkin perlu bertanya kepada diri sendiri:
Apakah hubungan ini benar-benar saling mendukung, atau aku hanya menjadi tempat mereka datang ketika membutuhkan sesuatu?
Dalam hubungan yang sehat, dukungan tidak selalu harus 50:50 setiap saat.
Ada masa ketika salah satu orang membutuhkan lebih banyak dukungan daripada yang lain.
Namun dalam jangka panjang, seharusnya terdapat rasa saling peduli.
Kamu tidak seharusnya selalu menjadi "tempat bersandar" sementara kamu sendiri tidak pernah memiliki tempat untuk bersandar.
Persahabatan bukanlah hubungan antara satu orang yang selalu memberi dan satu orang yang selalu menerima.
3. Kamu merasa dekat dengan mereka, tetapi mereka tidak benar-benar mengenal dirimu
Ini tanda yang cukup halus.
Kamu mungkin mengetahui banyak hal tentang mereka.
Kamu tahu masalah keluarganya.
Kamu tahu siapa orang yang sedang mereka sukai.
Kamu tahu apa yang mereka takutkan.
Kamu tahu impian mereka.
Kamu bahkan mungkin tahu cerita masa lalu yang tidak diketahui banyak orang.
Tetapi ketika kamu mencoba memikirkan seberapa banyak mereka mengetahui tentang dirimu, jawabannya ternyata jauh lebih sedikit.
Mereka mungkin tidak tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan.
Mereka tidak tahu hal-hal yang membuatmu khawatir.
Mereka tidak mengetahui apa yang sedang kamu perjuangkan.
Bahkan ketika kamu sedang mengalami sesuatu yang berat, mereka mungkin tidak menyadarinya karena selama ini hubungan kalian lebih banyak berpusat pada kehidupan mereka.
Di sinilah kita bisa membedakan antara sering berinteraksi dan benar-benar memiliki kedekatan emosional.
Dua orang bisa sangat sering bercanda, pergi bersama, bermain game bersama, makan bersama, atau menghabiskan banyak waktu di tempat yang sama.
Namun frekuensi interaksi tidak selalu sama dengan kedalaman hubungan.
Kedekatan emosional biasanya berkembang ketika kedua orang merasa cukup aman untuk saling terbuka, mendengarkan, memahami, dan menghargai kerentanan satu sama lain.
Jadi, jangan hanya bertanya:
"Seberapa sering kami bertemu?"
Cobalah bertanya:
"Seberapa jauh kami benar-benar mengenal satu sama lain?"
Jawabannya bisa memberikan gambaran yang jauh lebih jujur.
4. Kamu selalu berusaha mendapatkan tempat di dalam kelompok mereka
Pernah merasa harus berusaha keras agar dianggap sebagai bagian dari sebuah kelompok?
Kamu mungkin melihat teman-temanmu sering pergi bersama.
Mereka membuat rencana.
Mereka bercanda mengenai sesuatu yang hanya mereka pahami.
Mereka memiliki grup percakapan sendiri.
Sementara kamu sering mengetahui sesuatu setelah semuanya terjadi.
Kadang kamu diajak.
Kadang tidak.
Dan ketika tidak diajak, kamu mencoba meyakinkan diri sendiri:
"Mungkin mereka lupa."
"Mungkin memang kebetulan."
"Mungkin mereka sedang ingin pergi dengan orang lain."
Satu kejadian tentu tidak berarti apa-apa.
Tetapi jika kamu berkali-kali merasa seperti orang yang harus "meminta tempat" dalam sebuah pertemanan, mungkin ada sesuatu yang perlu kamu evaluasi.
Dalam hubungan pertemanan yang sehat, kamu tidak seharusnya terus-menerus merasa harus membuktikan bahwa kamu layak berada di sana.
Kamu tidak perlu selalu menjadi orang yang paling lucu.
Tidak perlu selalu mentraktir.
Tidak perlu selalu membantu.
Tidak perlu selalu mengikuti keinginan kelompok.
Dan tidak perlu mengubah kepribadian hanya agar diterima.
Teman yang benar-benar nyaman dengan keberadaanmu biasanya membuatmu merasa bahwa kehadiranmu memang diinginkan, bukan sekadar ditoleransi.
Perasaan diterima ini sangat penting.
Karena salah satu hal yang membuat persahabatan terasa aman adalah adanya keyakinan bahwa kita tidak harus terus-menerus "memenangkan kembali" tempat kita di dalam hubungan tersebut.
5. Kamu lebih sering merasa kesepian ketika bersama mereka daripada ketika sendirian
Ini mungkin tanda yang paling dalam.
Bayangkan kamu sedang duduk bersama beberapa orang yang selama ini kamu sebut sebagai teman.
Kalian tertawa.
Bercanda.
Makan bersama.
Mengobrol.
Secara fisik kamu tidak sendirian.
Tetapi di dalam hati, kamu merasa sangat sendirian.
Kamu merasa tidak benar-benar dipahami.
Tidak didengarkan.
Tidak dianggap.
Atau mungkin kamu merasa harus berpura-pura menjadi versi tertentu dari dirimu agar bisa diterima.
Jika perasaan seperti ini terus muncul, jangan langsung menyalahkan dirimu sendiri.
Kesepian tidak selalu berarti tidak memiliki orang di sekitar.
Seseorang bisa memiliki banyak kenalan tetapi tetap merasa kesepian secara emosional.
Sebaliknya, seseorang bisa memiliki hanya satu atau dua teman tetapi merasa sangat dipahami dan diterima.
Itulah sebabnya jumlah teman tidak selalu menunjukkan kualitas hubungan sosial seseorang.
Kadang masalahnya bukan karena kamu terlalu sensitif.
Bisa jadi memang ada kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi dalam hubungan tersebut.
Dan semakin kamu berharap bahwa orang-orang tersebut akan memberikan kedekatan yang sama seperti yang kamu berikan, semakin besar pula rasa kecewa yang muncul.
Tetapi Apakah Ini Berarti Mereka Bukan Temanmu?
Tidak selalu.
Ini bagian yang sangat penting.
Kelima tanda di atas bukan alat untuk menentukan secara pasti apakah seseorang adalah teman sejati atau bukan.
Psikologi tidak sesederhana daftar tanda yang bisa digunakan untuk memberi label pada seseorang.
Orang memiliki gaya komunikasi berbeda.
Ada orang yang sangat aktif menghubungi teman.
Ada pula yang jarang mengirim pesan tetapi tetap sangat peduli.
Ada orang yang mudah menunjukkan perhatian.
Ada pula yang lebih sulit mengekspresikan emosi tetapi akan hadir ketika benar-benar dibutuhkan.
Karena itu, jangan mengambil kesimpulan hanya berdasarkan satu kejadian.
Yang lebih penting adalah pola yang berulang.
Apakah kamu terus-menerus merasa tidak dihargai?
Apakah usaha dalam hubungan selalu datang darimu?
Apakah kamu merasa hanya dicari ketika dibutuhkan?
Apakah kamu merasa tidak bisa menjadi dirimu sendiri?
Apakah hubungan tersebut membuatmu merasa lebih sendirian?
Jika jawabannya berkali-kali "iya", mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali ekspektasimu terhadap hubungan tersebut.
Mungkin Masalahnya Bukan Mereka, tetapi Ekspektasimu
Ada satu kemungkinan lain yang juga perlu dipertimbangkan.
Bisa jadi mereka memang menganggapmu teman.
Hanya saja, kamu menganggap hubungan itu jauh lebih dekat daripada mereka.
Ini bukan berarti salah satu pihak jahat.
Kadang dua orang memiliki definisi berbeda tentang persahabatan.
Bagi kamu, sahabat adalah seseorang yang harus selalu hadir.
Bagi mereka, sahabat mungkin adalah seseorang yang tetap dianggap dekat meskipun jarang berkomunikasi.
Bagi kamu, tidak diundang ke sebuah acara terasa seperti penolakan.
Bagi mereka, mungkin itu hanya sebuah acara kecil dengan beberapa orang tertentu.
Karena itulah komunikasi menjadi penting.
Daripada terus menebak-nebak isi kepala orang lain, terkadang lebih sehat untuk memperhatikan perilaku mereka sekaligus membicarakan apa yang kamu rasakan.
Jangan Mengemis Kedekatan
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan ketika merasa tidak dianggap adalah berusaha semakin keras.
Kamu mengirim lebih banyak pesan.
Mengajak bertemu lebih sering.
Memberikan lebih banyak bantuan.
Mencoba menjadi lebih menyenangkan.
Mencoba membuat dirimu lebih berguna.
Dengan harapan akhirnya mereka akan melihat nilai dirimu dan memperlakukanmu seperti sahabat.
Tetapi hubungan yang sehat seharusnya tidak membutuhkanmu untuk terus-menerus membuktikan bahwa kamu pantas dicintai atau dihargai.
Jika seseorang hanya dekat denganmu ketika kamu terus memberikan sesuatu, mungkin yang mereka sukai bukan kedekatan dengan dirimu, melainkan manfaat yang mereka dapatkan dari hubungan tersebut.
Kamu tidak perlu mengejar semua orang.
Kamu juga tidak perlu memaksa setiap hubungan untuk bertahan.
Ada kalanya melepaskan ekspektasi justru membuat kita lebih tenang.
Berhenti Mengejar, Bukan Berarti Membenci
Jika kamu mulai menyadari bahwa sebuah pertemanan tidak seimbang, kamu tidak harus langsung memutus hubungan.
Tidak semua hubungan harus berakhir dengan pertengkaran.
Tidak perlu pula membuat pengumuman bahwa kamu kecewa.
Terkadang cukup dengan menyesuaikan ekspektasi.
Jika sebelumnya kamu menganggap seseorang sebagai sahabat terdekat, mungkin sekarang kamu bisa melihatnya sebagai teman biasa.
Tetap baik.
Tetap menghargai.
Tetapi tidak lagi menggantungkan kebutuhan emosionalmu sepenuhnya kepada mereka.
Ini bukan tindakan balas dendam.
Ini adalah bentuk menjaga diri.
Kamu boleh menerima bahwa seseorang mungkin tetap menjadi bagian dari hidupmu, tetapi tidak harus menjadi bagian paling dalam dari hidupmu.
Pada Akhirnya, Persahabatan Seharusnya Terasa Aman
Persahabatan yang sehat bukan berarti tidak pernah mengecewakan.
Teman yang baik juga bisa lupa membalas pesan.
Mereka bisa sibuk.
Mereka bisa melakukan kesalahan.
Mereka bisa memiliki kehidupan yang tidak selalu berpusat pada kita.
Namun secara keseluruhan, hubungan tersebut seharusnya membuat kita merasa dihargai.
Ada rasa aman untuk menjadi diri sendiri.
Ada ruang untuk berbicara.
Ada kemauan untuk mendengarkan.
Ada usaha dari kedua belah pihak.
Dan yang paling penting, kita tidak terus-menerus merasa harus bertanya:
"Apakah sebenarnya aku dianggap sebagai teman?"
Jika sebuah hubungan membuatmu terus mempertanyakan nilai dirimu, mungkin masalahnya bukan pada seberapa layak dirimu menjadi teman.
Mungkin kamu hanya sedang memberikan kedalaman yang sama kepada seseorang yang tidak berada di tempat emosional yang sama.
Dan itu memang menyakitkan.
Tetapi menyadarinya bukan berarti kamu gagal dalam persahabatan.
Justru sebaliknya.
Kesadaran tersebut bisa menjadi kesempatan untuk berhenti mengejar hubungan yang tidak seimbang dan mulai memberikan ruang kepada orang-orang yang benar-benar menghargai keberadaanmu.
Karena pada akhirnya, kamu tidak membutuhkan banyak orang yang sekadar mengenal namamu.
Kamu membutuhkan beberapa orang yang membuatmu merasa:
"Aku tidak perlu menjadi orang lain agar aku tetap diterima di sini."
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Monza vs Cagliari di Liga Italia: Tim Tamu Punya Catatan Impresif di Laga Tandang
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Coventry City: Menang Tipis, De Zerbi Akhiri Tren Buruk
Prediksi Skor Trabzonspor Vs Besiktas di Liga Turki: Salah Cs Punya Rekor Kandang Impresif
UU Ketenagakerjaan Batasi PKWT Maksimal 4 Tahun, Said Iqbal: Kalau Ciptaker Sembarangan
Prediksi Skor Getafe vs Rayo Vallecano: Emil Audero Bantu El Rayo Perpanjang Kutukan 10 Laga!
Persebaya Berangkat ke Makassar Besok! Tavares Siap Tantang Mantan Tim PSM
Prediksi Skor Al Fayha vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: Ivan Toney Siap Menggila di Al Majma’ah
Prediksi Skor Parma vs Torino: Kans Il Toro Tundukkan Tuan Rumah di Stadio Ennio Tardini!
Prediksi Tottenham vs Coventry: Spurs Belum Menang dalam Enam Laga, Coventry Percaya Diri
Prediksi Skor Monza vs Cagliari: Rossoblù Menang Tipis, Rekor Berusia 61 Tahun Terancam Pecah!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022