
Inisiator pesta gay Jarot Pahala Andrias Ferdianto di Polrestabes Surabaya
JawaPos.com - Terbongkarnya pesta gay di Surabaya pada Minggu dini hari (30/4), membuat aktifitas penyuka sesame jenis menjadi sorotan masyarakat. Apalagi, diketahui kalau inisiator pesta tersebut, Jarot Pahala Andrias Ferdianto sudah beberapa kali menggelar pesta serupa di Surabaya. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Sylvia Kurniawati Ngonde menilai pesta gay tersebut dari perspektif antropologi dan psikologi komunitas.
Menurutnya, hal tersebut bisa terjadi karena lingkungan yang terlalu cuek. "Kontrol sosial lemah. Seharusnya seluruh elemen masyarakat harus peduli, tapi bukan berarti kepo sok ingin tahu," tuturnya kepada JawaPos.com, Selasa malam (2/5).
Sok ingin tahu maksudnya, bisa berarti masyarakat pura-pura peduli. Mereka mendekati gay hanya untuk kepentingan menggosip, dan menyebarluaskan berita-berita yang tidak benar. Hal itu justru akan menyudutkan orang-orang berkepribadian homoseksual, lesbian, maupun transgender.
Sylvi, sapaannya, melanjutkan, gay butuh didengar. Mereka yang berkumpul itu merasa punya kesamaan nasib. Itu juga sesuai dengan pengakuan Jarot Pahala Andrias Ferdianto, sang penggagas gay party itu. "Kalau mereka tidak diberi ruang jadinya malah akan sembunyi-sembunyi seperti itu," tambah perempuan berusia 47 tahun tersebut.
Negara punya peran penting untuk mewujudkan hal itu. Pemerintah harus bisa memediasi keinginan mereka. Pada dasarnya mereka masih bagian dari warga negara Indonesia. LGBT punya hak yang sama.
Meskipun demikian, Sylvi juga menyadari bahwa hidup di Indonesia tetap ada norma dan kultur Timur. Hal itu juga tidak bisa diubah. Jalan tengahnya adalah dengan memberikan batasan-batasan terhadap LGBT. "Mereka (LGBT) tetap harus diberi edukasi, mulai kesehatan, pergaulan, berada di tengah masyarakat, ketrampilan, tidak boleh mengajak untuk jadi seperti mereka. Asal jangan dilarang. Semakin dilarang mereka semakin cari cara untuk melakukan hal-hal negatif," sebutnya.
Untuk konkretnya, Sylvi menegaskan Pemerintah Kota Surabaya bisa mengambil tindakan. Misalnya saja dengan memanfaatkan taman-taman yang tersebar di Kota Pahlawan.
LGBT tidak harus dibuatkan taman sendiri, tapi mereka cukup diberi tempat untuk berkomunikasi. "Nanti di sana ada LSM, akademisi yang mendampingi. Mereka butuh didengar," ujar perempuan lulusan pasca sarjana Antropologi Universitas Indonesia dan Psikologi Komunitas & Pembangunan Universitas Airlangga tersebut.
Terhadap 14 orang yang tertangkap basah tersebut, Sylvi menekankan pentingnya perhatian. Terlebih, lima orang diantara mereka dinyatakan positif HIV. Jangan sampai, mereka justru diabaikan.
Pemerintah harus bisa memberikan perhatian.Misalnya saja dengan memberikan informasi soal asuransi maupun BPJS. "Mendapat akses kesehatan adalah hak mereka. Menderita HIV bukan berarti mereka dikarantina atau diisolasi," tegasnya. (did/JPG)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Prediksi Skor Kosta Rika vs Haiti di CONCACAF: Les Grenadiers Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Israel: The Green Army Diunggulkan Menang
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Deltras FC vs Persiba: Leonard Tupamahu Hafal Gaya Main Tamu
Prediksi Skor Siprus vs Latvia di Liga Nations UEFA: I Galanolefki Menang Tipis di Neo GSP
Prediksi Susunan Pemain Yunani vs Jerman: Klopp Butuh Sentuhan Wirtz
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022