
Cuplikan adegan film The Odyssey karya Christopher Nolan / Foto: (Film Colossus)
JawaPos.com — The Odyssey yang kini tengah tayang di bioskop merupakan film terbaru garapan sutradara Christopher Nolan. Sutradara asal Inggris itu kembali memanfaatkan layar lebar bukan sekadar untuk menceritakan sebuah kisah, tetapi juga mengajak penonton mempertanyakan kondisi dunia saat ini.
Lewat adaptasi epik Yunani The Odyssey, sutradara peraih Oscar itu menafsirkan ulang perjalanan Odysseus menjadi refleksi mengenai kepercayaan, keramahtamahan, perang, hingga tanggung jawab antargenerasi terhadap masa depan peradaban.
Alih-alih hanya mengisahkan perjalanan pulang Odysseus seusai Perang Troya, Nolan menjadikan perjalanan itu sebagai ruang perenungan atas rasa bersalah seorang pemimpin yang meyakini bahwa tindakannyalah yang memicu keruntuhan tatanan dunia.
Tema tersebut kemudian berkembang menjadi kritik terhadap kegagalan generasi tua dalam mewariskan dunia yang lebih baik kepada penerusnya. Dilansir dari Film Colossus, Minggu (26/7/2026), inti tematik film ini bertumpu pada Hukum Zeus (Zeus’s Law) atau xenia, yakni hukum budaya Yunani Kuno mengenai penghormatan antara tuan rumah dan tamu.
Bagi masyarakat Yunani saat itu, siapa pun yang datang sebagai orang asing harus diperlakukan dengan baik karena para dewa dapat menyamar sebagai pengembara untuk menguji manusia.
Dari konsep inilah Nolan mengembangkan kritik terhadap rasa bersalah, kepemimpinan, hingga masa depan peradaban yang kemudian menghubungkan The Odyssey dengan dua film Nolan sebelumnya, Tenet dan Oppenheimer, dalam sebuah benang merah yang disebut sebagai Posterity Trilogy.
Zeus’s Law dan Penyesalan atas Tipu Daya Kuda Troya
Pemaknaan itu mencapai puncaknya ketika Odysseus mengakui kepada Penelope bahwa taktik tipu daya Kuda Troya telah menghancurkan hukum tersebut.
Dalam salah satu dialog terpenting film, ia berkata, “Kami meninggalkan hadiah, persembahan damai, yang mereka terima ke dalam rumah mereka. Kami melanggar segala sesuatu yang paling suci di antara manusia. Kami mengubah peperangan menjadi perburuan.”
Pengakuan itu menegaskan bahwa kemenangan Yunani diraih dengan mengkhianati kepercayaan lawan sehingga, menurut Odysseus, dunia setelah Perang Troya tidak lagi sama.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Swiss vs Slovenia di Liga Nations UEFA: La Nati Menang Besar di Thermoplan Arena
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Prediksi Skor Islandia vs Bulgaria di Liga Nations UEFA: Strákarnir okkar Tundukkan Tim Tamu
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Skor Belarus vs San Marino di Liga Nations UEFA: Belyya Kryly Pesta Gol
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Susunan Pemain Spanyol vs Ceko: De la Fuente dan Denia seperti Bermain Catur
Prediksi Finlandia vs Albania di UEFA Nations League: Duel Ketat Dua Tim Belum Kebobolan
Prediksi Skor Azerbaijan vs Lituania di Liga Nations UEFA: Milli Komanda Diprediksi Kembali Tertahan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022